Selasa, 25 Desember 2012

Tuhan Bukanlah Pemain cadangan.



            Tidak terasa hari ini adalah tepat pada tanggal 25 Desember dimana umat kristiani diseluruh dunia merayakan hari natal. Dan itu berarti kurang dari seminggu lagi akan memasuki tahun baru  yaitu tahun 2013. Ada yang berbeda dengan tahun baru kali ini, karena menurut berita di media massa diseluruh dunia, persisnya awal tahun 2012 kemaren ada sebuah ramalan dari suku maya yang sangat menggemparkan dunia, bukan hanya cetar membahana seperti halnya menurut Syahrini. Menurut kalender suku maya diramalkan akan terjadi kiamat di Tanggal 21 Desember 2012 (21 12 2012). Bukan berarti saya mempercayai hal itu, karena menurut agama yang saya yakini (islam) mempercayai ramalan adalah perbuatan dosa dalam hadistnya kurang lebih berbunyi seperti  “Barang siapa yang mempercayai ramalan, maka 40 hari sholatnya tidak diterima”. Selain itu dalam kitab suci Al Quran juga tidak pernah menyebutkan kapan datangnya hari kiamat, itu berarti hanya Allah lah yang mengetahui kapan datangnya hari kiamat dan itu adalah urusanNya.
            Namun kali ini saya tidak akan membahas tentang ramalan suku maya yang jelas-jelas tidak terbukti karena hingga saat ini tidak terjadi kiamat atau berakhirnya dunia. Kali ini saya akan sedikit bercerita tentang harapan, impian atau cita-cita.
            Setiap manusia pasti memiliki suatu harapan, impian atau cita-cita. Jika ada diantara kalian yang tidak memiliki harapan, keinginan atau cita-cita, tolong dicek apa dia masih menginjak tanah atau tidak, hehehehehe. Namun demikian tidak semua tahu bagaimana mewujudkan harapan-harapan itu. Nah disini mari kita sama-sama belajar untuk mewujudkan harapan-harapan kita.
            Manusia diciptakan oleh ALLAH dengan bentuk yang paling  sempurna bagaimana pun juga keadaan anda sekarang ini. Mungkin sekarang banyak manusia yang mengeluh dengan keadaan sekarang, namun demikian berprasangka baiklah terhadap Allah karena sesuai dengan salah satu firmannya “Bahwa Aku (Allah) sesuai dengan prasangka hambanya”. Dengan begitu bagaimana pun kedaan anda sekarang, sebaiknya kita harus terus berprasangkan baik terhadap Allah dan yakin bahwa Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk hambanya, ingat salah satu nama  kebesaran Allah “Allah Maha Mengetahui”.
            Sudah sepantasnya kita sebagai manusia ciptaan tuhan, menjadikan Allah sebagai tumpuan Harapan. Bukan malah sebaliknya, yaitu ketika kita mempunyai harapan, akan tetapi malah berharap pada sesama manusia baik itu berharap pada atasan atau boss, teman, guru, serta dosen. Setelah apa yang diharapkan dari sesama manusia tidak tercapai barulah kita ingat Allah. Sebuah kesalahan besar jika kita manaruh tumpuan harapan pada manusia, ingat “berharap pada manusia mungkin masih bisa di PHP, tapi  kalau berharap pada Allah tidak mungkin di PHP deh, di kasih lebih malah iya” setuju?
            Jadi pertama yang harus kita lakukan untuk mewujudkan impian atau cita-cita kita semua adalah dengan menjadikan Allah sebagai tumpuan harapan, karena Allah bukanlah pemain cadangan. Setuju? Kemudian yang kedua adalah dengan action untuk merealisasikan impian-impian anda. Itu artinya disamping kita berdoa (Berharap pada Allah) tetapi juga usaha. Ada yang bilang doa tanpa usaha itu sia-sia, siapa bilang? Bukankah kita sebagai makhluk ciptaan Allah harus senantiasa berharap pada Allah, bukankah semua yang ada di dunia ini milik Allah? Menurut saya doa tanpa usaha bisa dikabulkan akan tetapi itu lamaaaa, makanya harusa ada usaha biar cepat terkabulnya. Jika ada yang lebih cepat kenapa kita harus memilih yang lama?
Kemudian bagaimana jika kita tidak tahu bagaimana merealisasikan impian kita? Jika tidak tahu bagaimana merealisasikan impian atau cita-cita kita, maka kita harus belajar dan bertanya pada orang yang tahu dengan cita-cita anda. Misalnya jika kita ingin menjadi seorang pedagang yang sukses maka kita harus berguru pada pedagang yang sukses jangan berguru pada petertnak. Jika orang yang akan dijadikan guru tidak mau karena merasa takut ilmunya dicuri dan takut akan merebut rejekinya direbut? Ya, cari sampai ketemu orang yang mau, karena pedagang yang sukses itu tidak cuma satu. Dan perlu diketahui tidak ada orang yang belajar terus merebut rejekinya, rejeki itu ditangan Tuhan (Baca;Allah) dan kesuksesan yang hakiki itu adalah disamping menjadikan dirinya sukses dia juga mampu menyukseskan orang lain, karena dengan begitu ia akan menjadi orang yang bermanfaat. Selain kita juga bisa membaca buku-bukunya orang yang telah terbukti sukses dalam perdagangan.
            Kemudian, bergaul dengan orang-orang yang sudah merealisasikan mimpi-mimpinya terlebih lagi sesuai dengan mimpi anda, misalnya jika kita ingin menjadi pedagang buah maka bergabunglah dengan komunitas pedagang buah, bukan hanya pedagang buah yang sukses saja melainkan dengan semua pedagang buah dan belajarlah dengannya. Dengan begitu akan banyak ilmu yang akan kamu dapatkan, termasuk dari mana pemasok buah didapatkan, bagaimana trik promosinya dll. Disamping itu kita juga akan mendapatkan relasi yang sesuai dengan bisnis anda kelak, serta hal itu kita juga  akan  menjadi termotivasi untuk segera merealisasikan mimpi-mimpi kita semua.
             Dan yang terakhir ialah ingat pelajaran dari AA Gym untuk memulai susatu yang baik itu ingat 3M, Mulai dari diri sendiri, Mulai dari hal yang kecil dan M yang terakhir ialah Mulai dari sekarang juga, bukan nanti, besok, atau lusa.
            Mari kita sama-sama mewujudkan satu persatu impian kita, tidak ada kata terlambat untuk melakukan sesuatu yang baik, . . . Sampai ketemu dengan impian-impian kita!

(Oleh Riki Sholikin Twitter @Rickyyy_23)
              
Read more ...

Nilai vs Ilmu



            Sebagai mahasiswa pasti tidak asing dengan kata SKS atau dalam istilah akademiknya diartikan sebagai Sistem Kredit Semester. Lho kenapa ada kata kredit? Seperti mau beli motor secara angsuran saja? Ya begitulah dengan sistem perkuliahan di Indonsesia  saat ini, mungkn ini juga warisan dari sang leluhur atau adobsi dari system pendidikan dari luar, saya juga kurang tahu.
            Bicara soal SKS atau Sistem kredit Semester, tidak jauh beda sama ibu-ibu yang kredit panci, jika jumlah angsurannya besar, ya kemungkinan cepet juga lunasnya, jika angsurannya kecil ya kemungkinan lama juga lunasnya, bukankah begitu calon ibu-ibu? Sama halnya dengan kuliah jika semakin besar jumlah SKS yang kita ambil tiap semesternya maka secara otomatis cepat juga lulusnya, dan sebaliknya jika semakin kecil jumlah SKS yang diambil tiap semester atau sebenarnya banyak SKS yang diambil tapi banyak ngulangnya kemungkinan semakin lama pula lulusnya, bukan begitu mahasiswa tingkat akhir?
            SKS bagi mahasiswa sering diplesetkan dengan Sistem Kebut Semalam, artinya mereka hanya belajar pada waktu mau ujian saja, tepatnya malam ujian. Disaat-saat malam ujian itulah terjadi peningkatan penjualan kopi sehingga para penjual kopi berharap setiap hari adalah malam ujian. Hehehhee. Jika tidak ada ujian mereka malah belajar yang lainnya seperti belajar memahami orang lain (baca pacaran) bagi mereka yang sudah punya pacar dan bagi yang jomblo mereka lebih asyik nongkrong atau kongkow-kongkow dengan teman seperjuangannya (kaum Jomblo) atau sekedar main game di kos.
            Pertanyaannya mengapa mereka rela tidak tidur hanya karena besok ada ujian? Ya, alasanya tidak lain adalah merela takut tidak lulus ujian Karena jika tidak lulus berarti kemungkinan besar akan mengulang mata kuliah tersebut dengan junior-juniornya, (baca Adik tingkat). Namun bagi mereka pejuang cinta sejati (kaum jomblo). Kuliah bersama adik tingkat adalah sebuah momen yang baik untuk gebet sana-gebet sini dengan modus andalan para jomblo kaum pelajar, yaitu pinjam catetan. Iya kan? Ngaku aja, . .hehehehe
            Ketika nilai dijadikan sebagai acuan sebagai standar kelulusan apa yang terjadi? Mahasiswa hanya berpikir bagaimana caranya mendapatkan nilai yang bagus dan masuk dalam zona lulus waktu ujian. Sehingga SKS versi mahasiwa (System Kebut Semalam) menjadi pilahan utamanya. Tanpa peduli apa yang akan terjadi terhadap kesehatannya baik fisik maupun psikisnya. Dan system kebut semalam ini membuat materi  yang mereka kuasai hanya bertahan pada waktu ujian saja, setelah ujian jangan ditanya, mereka kebanyakan udah lupa? Jadi tidak heran jika ada semester tua yang lupa semua pelajaran disemseter awal (termasuk yang nulis ini, hehehehe).
            Ketika kita sebagai mahasiswa hanya mengejar nilai maka apa yang akan anda dapatkan? Saya kira hanya sekedar akan itulah yang akan anda dapatkan sebagai hasil perjuangan melaui sks versi Mahasiswa (baca Sistem kebut Semalam). Berbeda halnya dengan mereka mahasiswa yang lebih mengejar ilmu, maka ilmu yang mereka dapatkan kemudian, nilai hanya sebagai efek dari ilmu tersebut. Jadi secara tidak langsung ilmu dapat, nilai juga dapat. Sekarang anda lebih memilih mana, mengejar nilai atau mengejar ilmu? Keputusan ada ditangan anda!
Kuliah sebenarnya bukanlah tempat untuk mencari nilai melainkan tempat untuk belajar banyak hal yang tidak melulu soal mata kuliah, misalnya belajar bekerja sama baik dalam mengerjakan tugas kelompok serta dalam berorganisasi. Karena dengan begitu kita sebagai mahasiswa akan menjadi orang yang peka terhadap lingkungan dan belajar bersikap dalam memahami masalah bersama. Selain itu kuliah juga sebagai tahap belajar untuk mandiri dan bertanggung jawab terutama terhadap dirinya sendiri yang tidak didapatkan selama sekolah di SMA. Sepakat? 
            Mari kita bayangkan diri kita masing-masing, sudah berapa lama anda bersekolah dari TK, SD, SMP, SMA serta sampai Perguruan Tinggi (kuliah), dan apa yang kalian banggakan selama anda sekolah? Pasti kebanyakn dari kita ialah nilai rapor selalu masuk sepuluh besar, mendapat predikat lulusan terbaik dan semua hal yang berkaitan dengan nilai bukan? Begitula system pendidikan yang ada di negeri kita tercinta ini, ketika semua diukur dari segi nilai, sehingga kebanyakan dari kita adalah pengejar nilai. 
            Tidak sepatutnya juga jika kita menyalahkan system pendidikan di negeri Indonesia tercinta ini, tapi marilah kita yang sudah terlanjur menjadi pengejar nilai mulai berubah dari sekarng, dan menjadi penegajar ilmu, tidak ada kata terlambat untuk berubah menjadi yang lebih baik. Dan selalu Ingat bahwa ketika nilai yang kalian kejar maka hanya sekedar angka yang kaliam dapatkan, berbeda halnya dengan mengejar ilmu disamping ilmu dikuasai atau yamg kita dapatkan, nilai juga kita dapatkan. Setuju?
            Sebagai penutup, Perlu diketahu disini saya bukanlah orang yang merasa benar dalam perjalanan akademiknya. Saya hanya sekedar berbagi pengalaman  dalam perjalanan akademik saya. Kemudian mengapa dalam menulis ini saya beranggapan lebih baik menjadi pengejar ilmu? karena sebenarnya saya juga seorang pengejar nilai, namun dalam perjalanan akademik saya sampai saat ini. Saya baru menyadari bahwa apa yang saya lakukan adalah sebuah kesalahan besar. Namun demikian tidak sepatutnya saya menyalahkan diri sendiri karena hal ini bukanlah akhir dari segalanya. Belajar tidak harus berada diruang segi empat sehingga pemikiran kita juga dibatasi oleh tembok segi empat. Belajar tidak mengenal usia, belajar tidak mengenal tempat. Mari kita sama-sama menjadi manusia yang terus belajar dan tetap merasa bodoh. “Karena dengan merasa bodoh kita akan terus belajar” (Steve Jobs)
(Oleh Riki Sholikin Twitter@Rickyyy_23)
Read more ...