Selasa, 25 Desember 2012

Nilai vs Ilmu



            Sebagai mahasiswa pasti tidak asing dengan kata SKS atau dalam istilah akademiknya diartikan sebagai Sistem Kredit Semester. Lho kenapa ada kata kredit? Seperti mau beli motor secara angsuran saja? Ya begitulah dengan sistem perkuliahan di Indonsesia  saat ini, mungkn ini juga warisan dari sang leluhur atau adobsi dari system pendidikan dari luar, saya juga kurang tahu.
            Bicara soal SKS atau Sistem kredit Semester, tidak jauh beda sama ibu-ibu yang kredit panci, jika jumlah angsurannya besar, ya kemungkinan cepet juga lunasnya, jika angsurannya kecil ya kemungkinan lama juga lunasnya, bukankah begitu calon ibu-ibu? Sama halnya dengan kuliah jika semakin besar jumlah SKS yang kita ambil tiap semesternya maka secara otomatis cepat juga lulusnya, dan sebaliknya jika semakin kecil jumlah SKS yang diambil tiap semester atau sebenarnya banyak SKS yang diambil tapi banyak ngulangnya kemungkinan semakin lama pula lulusnya, bukan begitu mahasiswa tingkat akhir?
            SKS bagi mahasiswa sering diplesetkan dengan Sistem Kebut Semalam, artinya mereka hanya belajar pada waktu mau ujian saja, tepatnya malam ujian. Disaat-saat malam ujian itulah terjadi peningkatan penjualan kopi sehingga para penjual kopi berharap setiap hari adalah malam ujian. Hehehhee. Jika tidak ada ujian mereka malah belajar yang lainnya seperti belajar memahami orang lain (baca pacaran) bagi mereka yang sudah punya pacar dan bagi yang jomblo mereka lebih asyik nongkrong atau kongkow-kongkow dengan teman seperjuangannya (kaum Jomblo) atau sekedar main game di kos.
            Pertanyaannya mengapa mereka rela tidak tidur hanya karena besok ada ujian? Ya, alasanya tidak lain adalah merela takut tidak lulus ujian Karena jika tidak lulus berarti kemungkinan besar akan mengulang mata kuliah tersebut dengan junior-juniornya, (baca Adik tingkat). Namun bagi mereka pejuang cinta sejati (kaum jomblo). Kuliah bersama adik tingkat adalah sebuah momen yang baik untuk gebet sana-gebet sini dengan modus andalan para jomblo kaum pelajar, yaitu pinjam catetan. Iya kan? Ngaku aja, . .hehehehe
            Ketika nilai dijadikan sebagai acuan sebagai standar kelulusan apa yang terjadi? Mahasiswa hanya berpikir bagaimana caranya mendapatkan nilai yang bagus dan masuk dalam zona lulus waktu ujian. Sehingga SKS versi mahasiwa (System Kebut Semalam) menjadi pilahan utamanya. Tanpa peduli apa yang akan terjadi terhadap kesehatannya baik fisik maupun psikisnya. Dan system kebut semalam ini membuat materi  yang mereka kuasai hanya bertahan pada waktu ujian saja, setelah ujian jangan ditanya, mereka kebanyakan udah lupa? Jadi tidak heran jika ada semester tua yang lupa semua pelajaran disemseter awal (termasuk yang nulis ini, hehehehe).
            Ketika kita sebagai mahasiswa hanya mengejar nilai maka apa yang akan anda dapatkan? Saya kira hanya sekedar akan itulah yang akan anda dapatkan sebagai hasil perjuangan melaui sks versi Mahasiswa (baca Sistem kebut Semalam). Berbeda halnya dengan mereka mahasiswa yang lebih mengejar ilmu, maka ilmu yang mereka dapatkan kemudian, nilai hanya sebagai efek dari ilmu tersebut. Jadi secara tidak langsung ilmu dapat, nilai juga dapat. Sekarang anda lebih memilih mana, mengejar nilai atau mengejar ilmu? Keputusan ada ditangan anda!
Kuliah sebenarnya bukanlah tempat untuk mencari nilai melainkan tempat untuk belajar banyak hal yang tidak melulu soal mata kuliah, misalnya belajar bekerja sama baik dalam mengerjakan tugas kelompok serta dalam berorganisasi. Karena dengan begitu kita sebagai mahasiswa akan menjadi orang yang peka terhadap lingkungan dan belajar bersikap dalam memahami masalah bersama. Selain itu kuliah juga sebagai tahap belajar untuk mandiri dan bertanggung jawab terutama terhadap dirinya sendiri yang tidak didapatkan selama sekolah di SMA. Sepakat? 
            Mari kita bayangkan diri kita masing-masing, sudah berapa lama anda bersekolah dari TK, SD, SMP, SMA serta sampai Perguruan Tinggi (kuliah), dan apa yang kalian banggakan selama anda sekolah? Pasti kebanyakn dari kita ialah nilai rapor selalu masuk sepuluh besar, mendapat predikat lulusan terbaik dan semua hal yang berkaitan dengan nilai bukan? Begitula system pendidikan yang ada di negeri kita tercinta ini, ketika semua diukur dari segi nilai, sehingga kebanyakan dari kita adalah pengejar nilai. 
            Tidak sepatutnya juga jika kita menyalahkan system pendidikan di negeri Indonesia tercinta ini, tapi marilah kita yang sudah terlanjur menjadi pengejar nilai mulai berubah dari sekarng, dan menjadi penegajar ilmu, tidak ada kata terlambat untuk berubah menjadi yang lebih baik. Dan selalu Ingat bahwa ketika nilai yang kalian kejar maka hanya sekedar angka yang kaliam dapatkan, berbeda halnya dengan mengejar ilmu disamping ilmu dikuasai atau yamg kita dapatkan, nilai juga kita dapatkan. Setuju?
            Sebagai penutup, Perlu diketahu disini saya bukanlah orang yang merasa benar dalam perjalanan akademiknya. Saya hanya sekedar berbagi pengalaman  dalam perjalanan akademik saya. Kemudian mengapa dalam menulis ini saya beranggapan lebih baik menjadi pengejar ilmu? karena sebenarnya saya juga seorang pengejar nilai, namun dalam perjalanan akademik saya sampai saat ini. Saya baru menyadari bahwa apa yang saya lakukan adalah sebuah kesalahan besar. Namun demikian tidak sepatutnya saya menyalahkan diri sendiri karena hal ini bukanlah akhir dari segalanya. Belajar tidak harus berada diruang segi empat sehingga pemikiran kita juga dibatasi oleh tembok segi empat. Belajar tidak mengenal usia, belajar tidak mengenal tempat. Mari kita sama-sama menjadi manusia yang terus belajar dan tetap merasa bodoh. “Karena dengan merasa bodoh kita akan terus belajar” (Steve Jobs)
(Oleh Riki Sholikin Twitter@Rickyyy_23)