Selasa, 17 Desember 2013

Bukan Rejeki

Cerita kali ini masih berkaitan dengan cerita sebelumnya yaitu “fanatic” yaitu saat saya menonton pertama kali talk show mata najwa. Menjadi pengalaman pertama karena biasanya saya hanya menonton di televisi tiap hari rabu jam 21.30 di metro tv.

Cerita ini berawal ketika saya sudah terbebas dari antrian panjang, sekitar hamper sejam saya mengantri masuk. Kemudian saya mengambil fasilitas yang diberikan oleh panitia seperti t-shirt, snack dan secangkir kopi dari pihak sponsor, terus saya mulai masuk auditorium, dan pas saya masuk ternyata didalam sudah terasa penuh, kemudian saya mencari tempat duduk.  Awalnya saya dapat tempat duduk dilantai satu ditengah namun agak belakang kemudian saya merasa tidak nyaman dan melihat kanan-kiri, ternyata lantai dua masih ada bangku yang kosong kemudian naik ke lantai dua.

Setelah masuk lantai dua kemudian saya dapat tempat duduk disebelah cewek yang kebetulan masih kosong. Pada saat saya mau duduk tepat di kursi saya ada kertas yang terlilit isolasi dan saya pikir itu adalah sampah, kemudian tanpa pikir panjang saya langsung membuangnya begitu saja.

Kemudian acara sudah dibuka oleh mahasiswa sebelum acara inti mata najwa on stage benar-benar dibuka oleh host Najwa Shihab. Singkat cerita ada pengumuman bahwa akan ada doorprise dari salah satu pihak sponsor berupa uang cash senilai 50rb, jika menemukan selembar kertas dibawah kursi. Melihat itu sontak membuat saya merasa agak ngeblank, busyet itu kan yang kukira sampah, dan udah aku buang kemana tadi? Dalam hati berkata kampret tau gitu aku simpen. Tapi apa hendak dikata nasi telah menjadi bubur, tapi nasi telah menjadi bubur enak, masih bisa dimakan, lha ini? Cuma bisa diratapi dan disesali L.

Selama acara meski acaranya sangat bagus namun sesekali pikiranku masih tertuju pada kertas yang kukira sampah dan ternyata itu adalah doorprise senilai 50rb, pikirku sayang banget uang 50rb dibuang begitu saja, bisa buat makan enak itu, dan bukan hanya bisa menyesal.

Namun dibalik penyesalan itu semua ada pelajaran yang dapat diambil dalam kisah yang saya alami ini, bahwa rejeki itu ditangan Tuhan, dan saya yakin bahwa uang 50rb itu bukan rejeki saya namun kebetulan mampir saja dan tidak menjadi milik saya, (namanya juga bukan rejeki). Dan disini saya belajar untuk menerima apa yang terjadi meski ada penyesalan. Rejeki datangnya dari Allah sedangkan manusia hanya bisa berdoa dan berusaha.

Masih ngomongin rejeki, selang beberapa hari kemudian, waktu saya dan teman saya main-main ke tempat perbelanjaan mau beli sepatu, kebetulan sepatu saya sudah minta pensiun. Rencananya sih mau beli sepatu yang harganya maksimal 100rb maklum duit tinggal sedikit namun harus dibagi-bagi dengan kebutuhan lainnya. Maklum demi tanggal tua yang lebih baik J

Sebelum ketempat sepatu saya dan teman saya membeli kebutuhan anak kos seperti sabun, sikat gigi odol dan lain-lain lah, setelah itu saya menuju ke tempat sepatu dan teman saya mencari kebutuhannya sendiri. Di tempat sepatu saya mengahbiskan waktu yang cukup lama karena harus milih yang sesuai meski sebenarnya saya sudah tertarik pada salah satu model namun saya harus memilih sepatu yang lebih sesuai lagi (sesuai modelnya, warnanya, ukurannya, dan yang terakhir dan ini yang paling krusial adalah harganyaJ).

Pada saat masih bingung pilih sepatu tiba-tiba saya melihat salah satu kakak tingkat saya dan saya menyapanya, kemudian apa yang terjadi? Mereka ternyata adalah makhluk yang dikirim Tuhan untuk menyampaikan rejeki kepada saya, hehehe (lebay). Karena kakak tingkat tersebut adalah orang yang sering menawari job buat ngetes psikologi dan kadang saya juga diajak. Nah pada saat itu dia sekaligus ngasih gaji selama saya ikut ngetes dengannya, hahaha dan duitnya lumayan lah, hehehe dan akhirnya saya dapat membeli sepatu yang saya inginkan karena ada suntikan ekonomi tadi , hehehe J (owh iya sepatu yang saya beli adalah sepatu yang sudah sudah dari awal tertarik dengan modelnya, ukurannya, warnanya namun cuma satu yang nggak sesuai, harganya!, namun akhirnya kebeli juga J)

Cerita saat saya ketemu dengan kakak tingkat saya kemudian ia mamberi gaji saya selama saya ikut ngetes dengannya itu adalah rejeki yang diatur oleh Tuhan, betapa tidak karena pertemuan ini tidak direncakanan namun ini sudah menjadi ketentuan Allah. Saya dipertemukan secara tidak sengaja di tempat sepatu serta kebetulan pula ia juga mau memberi gajiku selama ikut ngetes dengannya. Dan saya yakin bahwa yang namanya sudah rejeki itu nggak bakal kemana, namun kalo yang namanya bukan rejeki, meski sudah ditangan seperti kertas doorprise yang sudah saya pegang namun malah saya buang ketempat sampah juga nggak bakal jadi milik kita. Sebagai penutup Wassalamu alaikum wr wb (mendadak alim, diawal nggak pake salam tapi pas diakhir pake salam)


Read more ...

Fanatik


Sabtu 14 desember 2013, dikampusku ada sebuah acara yang sangat bagus. Iya acara mata najwa yang sering nongol di metro tv setiap hari rabu jam 21.30. Dan pada metro tv on campus kali kampusku sebagai kampus yang terakhir dikunjungi. Jauh-jauh hari sudah banyak peserta yang sangat antusias, termasuk saya sendiri J. Pada metro tv on campus ini ada sekitar 3 acara yang diselenggerakan yaitu open mic, pelatihan jurnalistis, dan talk show mata najwa on stage. Dari ketiga acara tersebut hanya mata najwa yang membuat saya sangat antusias. Acara mata najwa adalah sebuah acara yang bagus tidak heran pihak metro tv menjadi talk show mata najwa on stage sebagai acara penutup dengan jumlah peserta sekitar tujuh ribu peserta sehingga diluar auditorium juga disulap sedemikian rupa hingga mampu untuk menampung jumlah peserta.

Iseng-iseng saya mengirim email untuk mendaftar sebagai peserta, dan Alhamdulillah email saya dibalas dan nomor tiket saya masih dalam seratus pertama sehingga berhak mendapatkan fasilitas yang diberikan oleh panitia.

Pagi menjelang siang, saya melihat pengumunan di fans pagenya metro tv on campus yaitu mocuns2013, ada pengumunan bahwa open gates pukul 12.00 dan registrasi dibuka sekitar pukul 11.00. dan saya baru niat mau dateng sekitar jam 10.30.  Padahal saya sebenarnya sedikit malas untuk dateng ke acaranya karena saya sudah dapat informasi bahwa pesertanya sudah bejubel sangat banyak. Saya sarapan (maklum saya tidak mainstream yang dibela-belain tidak sarapan demi dateng diawal) kemudian langsung ke auditorium kampus.

Sesampai dikampus, saya langsung parkir dan melihat antrian peserta yang sangat banyak. Pada waktu saya datang sekitar pukul 10.45, panjang antrian sudah sekitar 200 meter belum lagi antrian yang OTS atau on the spot. Berhubung saya warga Negara yang baik (halah) saya langsung masuk antrian dengan tidak curang menyelinap kedepan meski ada teman saya yang sudah didepan. Saya tetap antri karena bagaimana pun juga tetap saling menghargai sesama pengantri.

Ada pemandangan yang aneh, aneh bukan karena pemandangan semacam penampakan atau yang lainya yang berbau mistis, tapi untuk kali pertama saya mau antri demi sesuatu yang hanya kesukaan semata, dan biasanya saya malas untuk hal-hal semacam ini. Kemudian saya jadi berpikir apa ini sebenarnya yang dialami oleh remaja-remaja ABG yang lagi ngefans sama artis tertentu semacam girlband atau boyband korea atau artis lainnya, sehingga mereka rela mengeluarkan uang lebih bahkan rela bangun pagi-pagi terus dibela-belain tidak sarapan biar datang lebih awal. Dan sampai saya menulis ini saya masih berpikir apa yang sebenarnya mereka alami? Apa motif mereka?

Dan perlu diketahui pada saat acara MOCUNS2013 talk show mata najwa on stage open gate jam 12.00. Pada saat antrian masih panjang terdengar adzan dhuhur, apa yang terjadi? tak ada satupun (yang aku lihat) tergerak hatinya untuk meningalkan antrian kemudian menuju masjid mendirikan sholat (termasuk saya sendiri J). Yang ada hanya suara-suara kecil yang mengatakan sholatnya nanti saja pas uda dapet kursi, atau sholatnya dijamak sekalian ama sholat ashar, bahkan ada juga yang berpikir untuk hari ini sholatnya libur, bagi perempuan bisa saja mereka libur kemudian bagi cowok? (belum baligh mungkin bisa juga ding J).

Meski ada sedikit dalam hati saya untuk menjamak saja sholat dhuhur tapi alhamdulillah Tuhan telah mengirim malaikatnya kepada saya (wuidih PD banget) dengan menyuruh salah satu teman saya mengajak untuk sholat di mushola di gedung rektorat.

Sampai di mushola yang kecil itu ada banyak manusia yang ingat kepada Tuhannya, mushola ampe tidak muat dan harus sholat secara bergantian, bahkan ada yang sholat dibagian lobi rektorat yang kebetulan lantainya  bersih. Setelah itu saya langsung menuju ke auditorium lagi untuk melihat mata najwa on stage.

Acaranya sangat meriah dan suasana didalam sangat ramai karena hampir semua peserta sangat antusian mendenganrkan tokok-tokoh nasional yang sedang berbicara dan sangat menginspirasi.

Dalam hal ini saya berpikir kepada mereka yang sangat fanatic kepada artis idolanya, apapun mereka lakukan demi melihat idolanya performance secara live. Mereka sangat antusias dunia akherat, kenapa antusias dunia akherat? Bayangkan bukan hanya waktu saja yang mereka korbankan, bukan hanya uang jajan saja yang mereka korbankan tapi ibadah yang sejatinya adalah hal yang wajib bagi kita, bisa terkalahkan hanya ingin antri masuk pas mau lihat artis idolanya (sama persis yang saya alami). Tidak sampai disitu barangkali ada yang berani meninggalkan ibadahnya demi ikut antri dan nonton artis idolanya (mungkinJ). Namun demikian pemandangan dimushola rektorat sudah memberikan gambaran kepada saya bahwa masih ada orang-orang yang tetap menjalankan ibadahnya meski dalam kondisi tempat ibadah atau musholanya terlalu sesak bahkan ada yang memanfaatkan lobi untuk sholat.

Akhir cerita ini bagi mereka yang fanatic kepada artis idolanya coba anda pikirkan lagi apa motif anda menjadi fanatic, dan apa untungnya bagi anda? Jika itu hanya masalah suka atau tidak suka tetap gunakan logika anda, karena menurut saya orang yang fanatic sudah mengesampingkan logikanya, mereka sampai histeris cuma mau ketemu artis idolanya, itu kenapa???  Tapi itu hak anda. Dan sebagai penutup jadilah fans yang bijak J.
Suasana antrian saat open gates mata najwa on satge UNS

   


Read more ...

Jumat, 13 Desember 2013

Eyang “google”

Eyang  “google”
Beberapa hari yang lalu dunia selebritis dihebohkan dengan fenomena eyang subur. Ayang subur menjadi terkenal  seiring dengan sering diberitakanya di infotainment atau info selebriti gitu lah (duh, ketahuan suka nonton infotainment J). Sebenarnya siapa sih eyang subur? Dari pengamatan kaca mata saya, seyang subur mungkin sejenis para normal, dukun, atau “orang pintar”. Eyang subur menjadi terkenal karena kebanyakan dari kliennya adalah berasal dari kalangan selebriti jadi wajar lah kalo eyang subur juga ikut pengen terkenal, hehehehe. Kasus eyang subur mencuat setelah salah satu yang mengaku muridnya merasa tertipu atau merasa bahwa eyang subur penyebar aliran sesat. Kemudian terus mencuat hingga orang-orang yang pernah menjadi klien eyang subur semua tampil dimedia dan ikut terkenal juga, nggak perlu disebutin siapa saja orangnya, saya juga nggak peduli soalnya.

Eyang subur menjadi bahan pembicaraan bahkan selama beberapa minggu menjadi berita popular mungkin dalam bahawa twitter menjadi Trending topic. Tapi kenapa eyang subur yang menjadi terkenal sih? Menurut saya eyang subur tidak ada artinya bagi saya dan bagi kalangan mahasiswa mungkin, dibandingkan dengan jasa-jasa yang diberikan “eyang saya”. “Eyang saya” bukan lah sok tahu yang tahu segala permasalahan orang, namun jika ditanyakan pasti ada solusi yang diberikan. Bagi mahasiswa yang ingin mengerjakan tugas bahkan sampai skripsinya pun datang kepadanya dan kebanyakan dari mereka merasa tertolong. Kemudian timbul pertanyaan siapa sebenarnya eyang yang saya maksud? Iya, dia adalah “eyang google”, siapa yang tidak pernah mengenalnya? Pasti diantara kalian hingga saat ini masih sering menggunakan jasanya bukan? Kecuali kalau diantara kalian ada yang hidup dizaman purbakala dan hingga saat ini masih hidup dan belum menjadi situs J.  
Google adalah suatu mesin pencarian, tentu saja dengan bantuan koneksi internet. Apa saja dapat dicari via google dari konten paling baik yang berbau agama sampai konten yang paling jorok sekalipun semacam pornografi bisa dicari, hebat kan? Yang belum aku coba yaitu mencari jodoh via google, kira-kira bisa nggak ya? Mungkin kalo ada begitu populasi jomblo semacam aku ini akan berkurang dan menjadi populasi yang langka, dan mungkin disitulah era dimana jomblo akan dicari banyak orang (semogaJ). Kenapa ini lama-lama menjadi semacam curcol? Hehehe

Begitu banyak jasa yang diberikan google kepada kita para mahasiswa , saat-saat kita lagi frustasi mengerjakan tugas, disaat-saat kita lagi dikejar deadline tugas hingga pada akhirnya kita hanya pake tugas orang lain yang dipost diblognya. Dan saat-saat dimana kita udah dikejar deadline karena bisa di drop out (DO) karena nggak lulus-lulus (kalo yang terkahir ini mait-amit deh, pait-pait L)

Begitu banyak jasa google bagi kita para mahasiwa, namun ada apa yang sudah kita lakukan terhadap google? Internet yang lemot kamu maki-maki ampe terkadang ampe kamu banting laptonya J, tapi berkat google banyak tugas yang kamu kerjakan secara efisien alias nyari dan copast (copy paste) dari google. Apa ini yang dinamakan keadilan? Bahkan suatu ketika saat saya berjalan-jalan diperpustakaan untuk sekedar baca-baca skripsi kakak tingkat yang udah lulus (mau bilang skripsi adek tingkat takut ketahuan kalo mahasiswa kawakan atau mahapala (mahasiswa paling lama) dan say abaca bagian awal-awal skripsi, lebih tepatnya bagian ucapan terima kasih, tidak ada satu pun yng terucap kepada google. Sungguhnya tidak tahu balas budi, ibarat orang yang paling berjasa selama perkuliahan kamu lupakan begitu saja, bahkan hanya ucapan terima kasih saja tak sudi. Sangatlah beruntung bahwa google bukanlah manusia, andaikan google adalah manusia mungkin dia sudah berkata “dasar manusia tidak tahu diuntung, sudah banyak yang aku berikan kepadamu, namun ucapan terima kasih pun tak ada… *sampai bagian terkahir yang sumpah serapah kemudian masuk kesimpulan

Namun google hanyalah mesin pencari sehingga ia tak mengenal patah hati, dongkol atau segala bentuk kejengkelan yang terdapat pada diri manusia, atau sifat ngambek layaknya ngambeknya sang pacar (kaya punya pacar aja), soalnya jika google ngambek dan udah nggak mau diajak ngumpulin tugas mungkin kita akan kembali ke zaman dulu lagi, dimana took buku masih rame, mau masuk perpustakaan harus ngantri, serta ngerjain tugas harus minimal seminggu sebelum deadline soalnya harus ngetik dan belum musim yang namanya copast. Dan lebih parah lagi jika google bunuh diri, apa yang akan terjadi jika google sampai bunuh diri cuma kecewa dengan sikap para mahasiswa yang udah nggak mau menganggapnya lagi dan dating hanya kita butuh doan (kalo ada tugas). Mungkin dunia kelam mahasiswa akan terjadi, dimana nilai mata kuliah banyak yang jeblok karena sering telat ngumpulin tugas, skripsi mandek karena sulit mencari jurnal dan refrensi. Pokoknya udah nggak kebayang bagaimana suramnya kehidupan kampus tanpa google.

Sebagai penutup, ada hikmah atau pelajaran dibalik ini semua, kita harus belajar pada google yang tetap membantu meski dia diakui kebaikannya, dan google juga tidak pernah ngambek, bukan karena dia mesin tapi karena dia sudah terbiasa membantu banyak mahasiswa. Jika dihitung mungkin sudah ribuan bahkan jutaan mahasiswa didunia sudah terbantu oleh google. Kita juga harus banyak belajar dari google, bahwa dalam membantu orang harus lah tanpa pamrih meski hanya berharap ucapan terima kasih.

Akhir kata “jadilah seperti google yang terus membantu orang meski banyak yang telah melupakan jas-jasanya”
Tulisan ini teruntuk google yang telah membantu banyak mahasiswa.


Oleh Riki Sholikin                                                                                                      
Read more ...

“BEGUNDAL”

“BEGUNDAL”
“Begundal”. Iya kata begundal pertama kali saya dengar dari temanku yang pas mengobrol asik dengannya ia mengatakan itu. Kemudian saya berpikir sebenarnya apa arti begundal itu? Dan mengapa saya begitu asik mengatakan kata itu baik dalam kesaharian saya serta dalam status di twitter (twit-twit saya). Kemudian saya penasaran untuk mencari apak sebenarnya arti dari kata “begundal”.

Di era informasi sekarang ini mencari sesuatu sangatlah gampang tentu saja dengan memanfaatkan teknologi internet. Dalam melakukan selancar didunia maya tak mungkin saya lakukan tanpa membawa “guide” soalnya ibarat pergi jauh ke tempat yang tak dikenal bisa-bisa saya tersesat. Dan kalian tau siapa guide saya selama berselancar di dunia maya? Mungkin kebanyakan dari kalian pasti pernah menggunakannya jasanya dan dan saya yakin bahwa jasanya sudah sangat banyak terutama bagi para mahasiswa terutama saat mengerjakan tugas bahkan sampai saat mengerjakan skripsinya. Iya, guide saya ini bernama “google”. Kalian pasti tahu kan? Betapa berjasanya google bagi kalian? Hehehe J

Btw kenapa ini malah ngomongin tentang mbah google, tulisan mengenai mbah google besok lain kali aja, mari kita fokus lagi ke bahasan kali ini, yaitu “begundal”. Setelah saya browsing diinternet  ternyata begundal adalah nama sebuah band yang memuali karir dari jalanan, begundal yang menyatakan dirinya sebagai band yang bermusik tanpa kepalsuan, mungkin dalam maksudnya dalam bermusik mereka lebih suka dengan kejujuran tentang apa yang sebenarnya atau apa yang mereka ingin tuangkan dalam bermusik jadi sangat berbeda dengan band-band dibawah label yang kebanyakan dari mereka mengeluarkan album yang harus disesuaikan dengan pasar, misalnya sekarang ini lagi musim lagu galau maka lagu yang dipilih untuk diorbitkan adalah lagu-lagu galau saja. Sedangkan begundal tidak mereka bermusik sesuai dengan hatinya, sesuai dengan apa yang hendak disampaikan dalam lagu seperti mengenai kritik-kritik social yang terjadi sehari-hari. Dan jujur tulisan mengenai band begundal ini hanya menurut pandangan saya kalau ada yang tidak benar ya mohon dibenarkan heheheh J

Tak puas sampai disitu kemudian saya ingin tahu lebih jauh tentang apa sebenarnya begundal itu. Saya mencari dikamus besar bahasa Indonesia (KBBI) secara online dan saya mengetahui artinya bahwa begundal itu berarti kaki tangan penjahat sehingga dalam keseharian kata begundal identik dengan keras kepala, urakan, serta semaunya sendiri.  Mungkin secara definisi berbeda dengan pendapat kebanyakan orang, begundal yang secara definisi adalah kaki tangan penjahat dan menurut kebanyakan orang begundal adalah seseorang yang identik dengan urakan, keras kepala, dan semaunya sendiri. Kenapa bahasannya jadi membingungkan begini? Tau lah dan yang pasti sekarang saya juga jauh lebih bingung lagi, hehehe J

Dalam memberikan bahasan mengenai begundal kalo menurut saya begundal tidak selalu identik dengan hal-hal yang negative menurut kebanyakan orang yang mengatakan bahwa begundal itu urakan, keras kepala dan semaunya sendiri, saya mencoba untuk mengulas dari sisi positifnya saja. Begundal menurut saya adalah kejujuran dalam hidup atau hidup dengan penuh kejujuran tanpa embel-embel kemunafikan. Saya menulis ini mungkin saya bercermin dari diri saya pribadi bahwa saya selama hidup seakan selalu hidup dengan penuh kemunafikan. Berbeda dengan begundal mereka hidup dengan penuh kejujuran, meski kelakukan atau penampilan dianggap urakan. Tapi sebenarnya mereka berusaha untuk menunjukan bahwa begitulah hidupnya, mereka menghargai cara hidup orang lain tapi mereka tidak pernah dihargai hidupnya dengan menganggap hal-hal yang ditampilkan dalam keseharian adalah sesuatu yang aneh, urakan dan diluar kebiasaan pada umumnya. Dan itulah begundal, mereka memiliki penampilan seperti itu dan berperilaku seperti itu karena mereka merasa nyaman, dan sekarang liat diri kita terkadang kita memaksa diri kita untuk melakukan sesuatu yang padahal jelas-jelas tidak sesuai dengan diri kita, apa itu namanya anda jujur dengan diri anda?


Btw kenapa ini jadi semacam pembelaan gitu ya? Dari pada pusing-pusing langsung ke penutup ajabiar cepet hehehe, sebagai penutup tulisan ini adalah mengenai mereka para begundal yang identik dengan urakan dan seenaknnya sendiri, sebenarnya itu adalah bentuk tidak adanya ruang bagi mereka untuk mengekspresikan apa yang menjadi keinginan mereka, mereka sebenarnya orang yang jujur dengan diri mereka sendiri, hidup tanpa kemunafikan, kemudian mengapa banyak yang membenci mereka? Itulah hidup terkadang orang selalu menuntut kejujuran, akan tetapi kebanyakan dari mereka juga tidak terima atau malah membenci dengan kejujuran itu. Seperti halnya begundal yang terkesan urakan, padahal mereka nyaman dengan hal itu serta mereka ingin seperti itu namun kebanyakan dari orang tidak menerima hal itu.   
Read more ...

Selasa, 01 Oktober 2013

Penjual Itu Mengajarkan saya Tentang “Kejujuran”

Sore itu tepat pukul 16.00 saya merasa tempat tidur saya ada yang mengusik, ternyata Adek keponakan saya yang masih duduk di sekolah TK mengusik saya untuk segera bangun. Hal itu membuat saya terpaksa harus bangun dan segera sholat ashar. Dalam angan saya sebenarnya masih ingin menuntaskan tidur saya, karena sedari malam saya sangat kurang tidur dan paginya harus bangun pagi untuk mengikuti pertandingan bola. Pertandingan kali ini tidak main-main karena pertandingan bola akan diadakan di lapangan besar, sudah tak terbayang betapa capeknya mengingat saya sudah jarang main dilapangan besar karena sekarang lebih suka main dilapangan futsal. Dan ternyata benar akhirnya badan saya pegel semua dan badan udah kaya mau remuk.

Sembari mengumpulkan nyawa, di tengah keadaan yang masih ngatuk saya pergi ke kamar mandi untuk mandi dan wudlu serta langsung sholat ashar karena keburu magrib. Setelah mandi ternyata semua rasa kantuk dan capek sedikit terobati serta badan jadi seger lagi, itu pertanda bahwa saya masih muda, semua rasa capek akan hilang ketika sudah mandi keramas dan sudah segar bugar lagi, hahaha

Singkat cerita ketika sudah mandi dan bingung mau ngapain saya memutuskan untuk jalan-jalan sore, tapi jalan-jalan sorenya cuma sendiri jadi lebih mirip dengan orang hilang sebenarnya, hehe. Jalan-jalan kali ini saya mengarahkan motor saya menuju ke pasar pengging, kenapa ke pasar pengging dan bukan kearah kota yang semakin sore semakin rame, karena pasar pengging setiap sore disulap menjadi area kuliner di sana banyak jajanan dan saya sekalian beli cemilan.

Setelah muter-muter nggak jelas karena bingung mau beli apa, karena banyaknya jajanan saya tertarik dengan salah satu pedagang bak pao, saya mendekati pedagang itu dan saya lihat ternyata dia tidak hanya jualan bak pao tetapi juga cemilan lainya seperti bolu, donat dan roti basah lainnya. saya mendekati etalasenya dan ternyata bak paonya hanya tinggal kurang lebih lima biji, dalam hati saya berkata “Alhamdulillah masih ada lima lumayan buat cemilan dirumah” saya langsung memesan kepada Ibu si Penjual “Bu, saya beli bak paonya ya” sambil nunjuk kearah bak pao. Dengan lembut Ibu itu menjawab “Maaf dek, Bak paonya tidak saya jual” . “Lho Buk kenapa tidak dijual? Kalo tidak dijual kenapa masih ditaruh disitu?” Sambil nunjuk etalase. saya masih heran dengan ibu penjual bak pao ini kenapa dia tidak mau menjual dagangannya kepada saya, kemudian dengan suara pelan Ibu ini menjelaskan kepada saya mengapa ia tidak mau menjual bak paonya yang masih tersisa “Ibu tidak mau menjual bukan karena apa dek, tapi dagangan ini udah dari pagi jadi sudah tidak layak lagi dijual” saya masih heran dengan Ibu ini, kemudian saya bertanya lagi “Tapi kalo dagangan Ibi habis berarti kan untungnya nambah Buk?” Ibu itu hanya tersenyum dan berkata “Untung dari mana dek? Emang saya sekarang bisa untuk dengan menjual bak pao tak layak ini, namun saya tidak jamin adek mau dating lagi kemari” sambil tersenyum dalam hati saya berkata “bener juga Ibu ini dia tidak mau membohongi pembelinya dengan menjual bak pao yang sudah tak layak jual, padahal menurut saya bak pao itu masih layak untuk dimakan karena alasan sudah dagangan dari pagi Ibu itu tidak mau menjualnya”  

Kejadian itu membuat saya teringat ketika saya membeli roti di sebuah warung yang ternyata ketika sampai dirumah rotinya jamuran, dan apa yang saya lakukan? saya tidak mau lagi dateng untuk berbelanja atau sekedar beli jajanan di warung itu lagi, kebanyak orang hanya ingin mengambil untung sesaat, yang penting hari ini untuk dagangannya laku semua, tapi tidak bagi Si penjual bak pao itu, ia menganggap yang terpenting adalah kejujuran, ia lebih mengutamakan hubungan emosional antara dirinya dengan pelanggannya dengan lebih peduli lagi dengan pelanggan-pelanggannya meski hanya sekedar tidak mau menjual dagangan yang sudah tak layak jual.

Saya merasa bahwa Ibu penjual bak pao sedang mengajari saya tentang kejujuran, meski secara kasat mata, Ibu tersebut rugi karena dagangannya tidak habis tapi menurutnya ia lebih bahagia dengan apa yang sudah ia terima selama ini, pedagang yang beitu jujur dengan pembelinya dan bisa dikatakan saya baru pertama beli diwarung tersebut, namun bagi dia saya adalah pelanggannya yang harus tetap dihormati.

Tidak berniat untuk pamer atau apa, saya juga pernah mengalami kejadian yang serupa. saya yang selain sebagai mahasiswa  juga sebagai penjual pulsa pernah suatu ketika teman saya yang punya hutang sama saya sudah membayar lunas hutang pulsanya kepada saya, namun suatu ketika ia bertemu kepada saya dan berniat membayar hutang lagi kepada saya. Waktu itu saya terima uangnya karena dalam pikirang saya dia masih punya hutang pulsa dengan saya, namun setelah saya liat catetannya ternyata dia sudah tidak mempunyai hutang pulsa dengan saya. Dalam waktu yang bersamaan ada bisikan setan yang menyuruh saya untuk mengambil saja uangya karena jumlahnya lumayan juga buat makan sehari toh orangnya juga nggak merasa dibohongi juga. Dan kondisi saat itu saya juga dalam keadaan dompet yang sudah mulai tipis. Ada juga sedikit keinginan untuk mengambil uang tersebut namun ada juga perasaan dosa yang menakutiku.

Setelah berpikir panjang saya putuskan untuk mengembalikan dengan teman saya dan mengatakan bahwa hutangnya yang dulu sudah lunas, karena jika saya mengambil uang yang bukan hak saya terus apa bedanya dengan koruptor itu, meski saya hanya dalam sekala kecil semacam tikus kecil.

Ada perasaan lega ketika saya mengembalikan uang tersebut, dan saya tidak bermaksud untuk memamerkan apa yang telah saya lakukan, dan saya juga tidak menganggap bahwa diri ini adalah manusia jujur, karena itu semua tidak seberapa dan saya yakin bahwa masih banyak diluar sana yang lebih dari itu, orang yang lebih mengutamakan kejujuran. Niat saya disini hanya sekedar berbagi tanpa ada unsur apapun. Mungkin ada sebagian diluar sana ada yang berkata  “sangat munafik jika saya bercerita ini tanpa unsur apa-apa atau tanpa motif apa-apa, pasti ada motif pencitraan atau pamer kebaikan” dan saya tegaskan lagi jika saya lebih munafik dari prasangka orang karena masih banyak aib-aib diri ini yang ditutup rapat oleh Allah, jika ada yang menganggap saya bohong, diri ini lebih pembohong dari prasangka manusia, karena sekali lagi banyak kebodohan, kejahatan dan kesalahan pada diri ini yang masih ditutup rapat oleh Allah. Semoga diri ini bisa tetap instrospeksi dan masih tetap bisa memperbaiki kesalahan.

Terima kasih J
Read more ...

Kamis, 26 September 2013

Belajar Sampai Mati


Perjalanan kali ini saya beserta sahabat saya menuju salah satu wilayah yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan, lebih tepatnya daerah kecamatan jatipuro. Jatipuro masih termasuk wilayah karang anyar tepatnya terletak di perbatasan antara wonogiri dan sukoharjo. Jalan menuju kesana sudah bagus, jalan juga sudah bagus maklum jalan tersebut adalah jalan antar kota karang anyar-wonogiri.

Tidak ada yang berbeda dengan jatipuro namun, jatipuro nuansa pedesaan masih begitu terasa, masih banyak warga sekitar yang menjadi petani dan sehari-hari waktu mereka ia habiskan di sawah, dan tidak sedikit pula yang lebih memilih hidup merantau dan meniniggalkan tempat tinggal mereka untuk mencari kehidupan yang lebih baik.


Kehidupan yang masih nuansa pedesaan tidak hanya terletak pada mata pencaharian warganya, namun juga keramahan warga sekitar, tidak jarang jika kami mampir untuk melakukan wawancara ada saja warga yang memberi jamuan, paling tidak sekedar minuman, ada juga yang berbaik hati memberi kami jamuan snack pula. Meski kebanyakan memberikan perlakuan baik kepada kami namun tidak jarang ada yang memperlakukan kami secara sinis, hal itu masih bisa kami maklumi mengingat ketidak pahaman mereka dengan maksud dan tujuan kami dating bertamu.

Dari sekian banyak yang saya temui, ada salah satu warga yang membuat saya sedikit aneh, yaitu ketika saya melihat sosoknya yang begitu terkesan urakan, dengan rambut panjang yang tidak rapi kemudian di kucir bagian belakangnya, saya mencoba untuk menenemuinya dan kami di persilahkan. Awalnya saya hanya ingin duduk diluar dan langsung ngobrol-ngobrol dengannya namun malah dipersilahkan untuk masuk ke dalam rumah, agar bisa lebih santai katanya.  kami pun langsung masuk dan melakukan wawancara. Kemudian saya menyuruh teman saya untuk mewancarainya sedangkan saya mencari responden lain di daerah sekitar.

Setelah selesai saya kembali ketempat bapak itu dan saya melihat teman saya masih mewancarainya, saya pun ikut ngobrol bareng dengan sahabat saya dan bapak tersebut.

Singkat cerita bapak yang terkesan urakan tadi ternyata sudah memasuki usia pensiun, dan sudah bercucu, setelah ngobrol banyak barulah saya dan sahabat saya mengetahui bahwa bapak tersebut adalah seorang jurnalis, tidak saya sangka bahwa bapak ini adalah seorang jurnalis dan ketika saya tanya dimana ia belajar jurnalis ia menjawab bahwa ia belajar ilmu jurnalis dengan mengkuti pelatihan  jurnalis selama 3 bulan di jogja, setelah itu ia baru memulai tulis menulis di media baik solo pos maupun koran local lainnya.

Dia juga bercerita bahwa dirinya menganggap bahwa belajar itu tidak mengenal usia, belajar itu sampai mati, saya sangat merasakan betapa besar semangatnya untuk belajar, beliau juga mengatakan bahwa dia sangat senang menghadiri seminar-seminar yang menurutnya sangat menarik, meski dia harus membayar lebih mahal.

Kemudian beliau juga bercerita banyak mengenai perjalanan hidupnya, bahwa ia pernah mencalonkan diri sebagai calon leglisatif untuk DPRD Jawa Tengah namun ia gagal, kemudian ia juga bercerita bahwa ia adalah seorang yang haus akan ilmu, bahkan untuk memuaskan kehausan akan ilmu tersebut beliau mengatakan bahwa sehari saja ia tidak baca ia seperti orang yang kelaparan dan butuh makan, sehingga setiap harinya ia baca Koran, beliau mengatakan bahwa banyak informasi yang ia dapatkan dari membaca Koran tersebut, tidak jarang tulisan di media atau ketika ia mengirim artikel ia hanya sekedar mengkritisi berita yang sudah ada.

Ada satu hal lagi yang membuat saya heran dengan bapak yang sudah berusia 66 tahun tadi, beliau ternyata masih suka belajar, terbukti di umur yang sudah tua tersebut ia masih study S1 di iImu Komunikasi salah satu Universtias Swasta dan baru akan mengajukan skripsi. Kalau dipikir-pikir buat apa ia harus sekolah? Ijazah yang ia dapatkan juga tidak dapat untuk mengajukan kesetaraan gaji selayaknya PNS yang masih aktif, dan ia juga bercerita bahwa ia kuliah juga benar-benar kuliah, ia rajin mengikuti kuliah tidak seperti halnya kebanyakan orang yang kuliha hanya ingin ijazah dan jarang masuk. Bapak itu menyadarkan bahwa pendidikan itu yang dicari ilmunya, ia juga memberi tahu bahwa ilmu yang ia dapatkan dipraktekan dalam kehidupan sehari-sehari baik dalam tulis-menulis maupun dalam lingkungan pergaulannya.

Tidak sampai disitu saja beliau juga masih mengungkapkan keinginannya untuk kuliah lagi di Fakultas Hukum karena ia sangat tertarik dengan hukum, begitu semangatnya dalam belajar, mungkin diantara kita semua yang masih sekolah kalah semangatnya dengan bapak tersebut.   


Menurut saya ini adalah pelajaran penting, ketika kita hanya mengandalkan mata kita hanya untuk melihat apa yang nampak mungkin saya mengira bahwa Bapak tersebut tidak lebih hanya seorang preman yang urakan serta peduli apa dengan pendidikan? Namun ketika hati yang kita gunakan, serta mulut sebagai alat untuk mengetahui atau memahami Bapak tersebut barulah kita menyadari terkadang mata mata juga bisa menipu. Seperti halnya fatamorgana sebagai contoh bahwa apa yang kita lihat belumlah tentu benar, jadi jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan hanya berdasarkan apa yang kita lihat, namun yakinkan dengan hati dan mulutmu, dengan apa? Dengan bertanya tentunya, saling tukar pikiran datu sama lain, meski mulut masih berbohong namun jika apa yang kamu katakana dari hati maka kebongan akan sulit terucap, kecuali emang hati itu sudah terbiasa mengucapkan kebohongan. 
Read more ...

Kamis, 12 September 2013

Malu Melihat Mereka

Malu Melihat Mereka
Ada yang lain dengan hari ini, meski hari ini saya awali dengan hal-hal yang biasa saya lalui, namun ada sedikit cerita yang harus saya tulis dalam blog ini soalnya kalo tidak segera ditulis takutnya lupa, maklum mengingat usia yang tidak lagi muda.


Semula berawal dari kegiatan survey yang saya lakukan bersama sahabat saya. Saya survey berkeliling mencari mangsa (baca; responden dan seterusnya mangsa yang dimaksud adalah responden). Dalam perjalanan mencari mangsa terkadang rasa bosan sering kali menghampiri namun karena saya dan sahabat saya selalu berdua dalam mencari mengsa saya sering ngobrol yang nggak jelas untuk memecah suasana. Terkadang karena teriknya panas matahari saya selalu mengajak mampir untuk mencari minum dan karena khilaf akhirnya pesen makan juga. hahaha

Perjalanan mencari mangsa yang sangat sulit karena sedikit sekali orang yang bersedia untuk menjadi responden membuat saya merasa jenuh dan terkadang perjalanan seperti sedang piknik melihat-lihat lingkungan sekitar, mungkin hal itu juga yang membuat saya dan sahabat saya mengartikan kegiatan survey tersebut sebagai piknik.

Singkat cerita, kejadian itu berawal dari kegiatan mencari mangsa di suatu desa dan pada saat itu tertiba terdengar adzan dhuhur. Dan saat itu saya sedang berada di area persawahan, karena sudah memasuki jam dhuhur, biasanya kebanyakan para petani sudah mengakhiri pekerjaan dan mulai istirahat, makan, minum dari bekal yang dibawanya dari rumah.

Ketika beberapa petani sedang beristirahat ada yang tiduran ada juga yang pulang untuk istirahat di rumah namun ada pemandangan yang membuat saya merasa terpecut hati saya, betapa tidak dalam perjalanan itu saya dengan jelas mendengar adzan dhuhur dengan sangat jelas, namun dalam hati saya masih berkata “nanti saja sholatnya jam sholat dhuhur masih panjang” dan saya masih menunda untuk segera melakukan sholat dhuhur namun ada beberapa ibu-ibu yang saya lihat dengan jelas bahwa mereka sedang sholat di pinggir sawah, lebih tepatnya di pinggir jalan karena sawah mereka kebetulan sangat dekat dengan jalan. Mereka tidak sholat dengan mukenah seperti yang saya lihat ketika orang-orang sholat di masjid namun hanya dengan pakaian yang mereka pake dan jilbab yang biasa mereka pakai setidaknya syarat untuk melakukan sholat seperti aurat mana yang harus tertutup sudah terpenuhi. Mereka juga tidak menggunakan sajadah melainkan hanya dengan kain seadanya serta tempat mereka sujud di beri alas dengan daun pisang yaitu hanya bagian wajah pada saat sujud. Sungguh mereka bisa dibilang orang yang sangat taat, disaat seperti itu masih bisa berusaha untuk menjalankan sholat tepat waktu meski mereka sedang bekerja di sawah, lantas bagaiaman dengan kita sendiri?

Kejadian itu langsung membuat saya dan sahabat saya merasa terpecut dan sahabat saya bilang agar saya segera mencari masjid untuk sholat. Ketika mencari masjid ternyata harus muter-muter terlebih dahulu dan sampai akhirnya kami menemukan masjid yang kecil atau disebut dengan langgar. Langgar itu terletak di depan rumah warga dan dilihat dari fisik bangunannya langgar tersebut sudah berusia tua. Pada saat sampai dilanggar ternyata sudah masuk Iqomat saya dan sahabat saya segera wudhu dan ikut sholat berjamaah. Pada waktu masuk langgar ada sesuatu yang membuat saya merinding yaitu Imam sholat adalah Bapak-bapak yang sudah berusia lanjut dan dengan fisik (maaf) sudah bungkuk, jika dilihat dari fisiknya mungkin usianya sudah mencapai ratusan tahun. Hal yang membuat saya kagum meski sudah tua, dengan kondisi fisik yang sudah mulai lemah namun masih tetap menjalankan ibadah secara berjamaah.

Orang-orang yang berjamaah di langgar juga sangat ramah, saya dan sahabat saya disapa oleh warga sekitar sambil basa-basi menanyakan maksud dan tujuab saya di daerah tersebut.

Perjalanan yang membuat saya merasa bahwa saya adalah manusia yang sering lalai, padahal saya sudah tahu betul bahwa sholat berjamaah di masjid bagi laki-laki adalah suatu kewajiban jika tidak sedang dalam kondisi yang dibenarkan menurut agama. Saya juga tahu bahwa pahala sholat berjamaah dengan pahala sholat sendirian 27 berbanding 1 ( 27 : 1). Jika kita sholat sendirian selama lima waktu saja tidak mampu menyamai sekali saja sholat berjamaah.


Doakan saya agar menjadi orang yang tetap istiqomah dalam mengamalkan apa yang saya ketahui, bukan hanya menjadi ilmu hafalan dan tidak mengamalkan dalam perilaku. Rasanya malu dengan Ibu-ibu yang tetap menjalankan sholat tepat waktu meski berada di sawah, malu dengan simbah-simbah yang tetap berusaha sholat berjamaah meski tubuh sudah mulai lemah. O iya meski sudah sangat tua simbah tersebut masih memiliki pendengaran yang baik karena saya sempet ngobrol sebentar dengan beliau dan InsyaALLAH ingatan yang belum pikun karena masih ingat kewajiban.
Read more ...

Jumat, 16 Agustus 2013

Lain Dulu, Lain Sekarang

Lain Dulu Lain Sekarang

Dulu aku mempunyai segudang impian,
Jika aku kaya nanti aku akan berbagi dengan sesama
Aku akan rajin sembahyang,
Jangankan sholat wajib, sholat dhuha dan tahajud akan ku jalani

Tapi itu dulu. .
 Ketika aku tak punya apa-apa
Hidup masih ditanggung orang tua
Jangankan sepeda motor, sepeda onthel pun aku tak punya

Kini aku jadi orang kaya
Semua aku punya
Harta seakan melimpah ruah
Rumah dimana-mana

Dulu yang jadi impian seakan lupa
Jangankan berbagi untuk sesama, untuk orang tuapun ia lupa
Sholat hanya menjadi pengisi waktu luang
Jangankan sholat dhuha dan tahajud, sholat wajib pun sering lupa.

Puisi diatas saya buat hanya untuk mengisi waktu luang, saya iseng-iseng menulis itu semua mengalir begitu saja, bahkan tidak ada sedikit pun niatan untuk menyindir siapa pun, jika pun itu menyindir pasti itu saya yang merasa tersindir.

Hidup memang tak akan selalu diatas, maupun selalu di bawah. Ada saatnya kita yang sekarang diatas pasti akan jatuh juga kebawah, begitu juga sebaliknya ketika kita sekarang berada dibawah, kita semua percaya bahwa suatu saat ada skenario Tuhan yang membuat kita berada diatas, entah bagaimana caranya karena itu semua adalah skenario Tuhan. Skenario Tuhan adalah sebuah rahasia yang tak seorang pun yang mengetahuinya. Skenario tuhan terkadang bagi kita itu adalah sebuah musibah namun bagi Tuhan itu adalah yang terbaik bagi kita, karena Tuhan adalah sebaik-baiknya pembuat rencana.

Dari puisi tersebut saya hanya menyampaikan sedikit mengenai kondisi kehidupan yang kadang dibawah dan terkadang juga kita berada di atas, mungkin istilah roda kehidupan lebih tepat untuk memaknai itu semua. Roda terus berputar begitu juga dengan hidup bahwa hidup akan terus berjalan meski kita hanya diam, siang akan berganti dengan malam meski kita hanya tidur-tiduran serta bermalas-malasan.

Ketika berada dibawah ada banyak cita-cita panjang misalnya, mungkin dalam keadaan dibawah ini banyak sekali cita-cita yang disandarkan tentang apa yang akan kita lakukan setelah kita berada di atas. Jika suatu saat kondisi telah berubah dimana kemiskinan berubah menjadi kekayaan, kesedihan berubah menjadi kebahagiaan, kesakitan berubah menjadi kesenangan dan tangisan berubah menjadi tawaan aku akan menjadi orang yang selalu taat terhadap perintah Allah karena aku tak perlu lagi bersusah payah mencari materi, aku lebih bisa  focus dalam beribadah. Akan selalu berbagi terhadap sesama karena mungkin dulu ia sadar bahwa materi yang ia punyai hanya titipan, hidup ini akan terasa indah jika semua itu dapat terjadi, begitulah saat ia bercita-cita dalam angannya.

Roda kehidupan berputar begitu cepat, apa yang menjadi doa di dengar oleh Allah, kini ia menjadi orang yang berada, materi sudah melimpah, namun ia seakan lupa apa sebenarnya yang menjadi cita-citanya. Yang dulu katanya ia akan rajin dan focus beribadah sekan lupa dengan siapa yang memberinya kekayaan, jangankan untuk beribadah untuk tidurnya sendiri saja ia seakan mencuri-curi waktu, kini ia tenggelam dalam kesibukannya, tenggelam dalam kesibukan adalah tidak lain ketakutan akan kehidupan yang dulu yang serba kekurangan. Ia lupa kepada siapa yang memberinya kekayaan.

Dulu jika kaya akan selalu berbagi, tapi ketika kaya apa yang terjadi? Lagi-lagi ketakutan akan menjadi orang yang dulu seakan menjadi celah bagi setan untuk selalu menggodanya agar ia lalai dengan cita-citanya yang akan selalu berbagai dengan sesama. Materi yang dulu susah dicari, ketika kini bergelimang materi ia enggan untuk berbagi.

Dulu tinggalah dulu, yang ada hanyalah sekarang. Orang yang sekarang sudah lupa akan cita-cita dan keinginannya di masa lalu.mungkin ini  yang dinamakan move on. Tapi move onadalah melupakan segala masa lalu dan berusaha untuk menatap ke depan. Namun dalam cerita ini mungkin ia salah dalam memaknai kata move on. Ibadah dan segala kebaikan yang telah kita perbuat bukanlah untuk Tuhan, karena Tuhan tidak butuh itu semua, karena kita beribadah dan beramal sholeh tidak lain untuk diri kita sendiri. Sedangkan berbagi bukanlah memberi kepada orang lain apa yang kita miliki, akan tetapi berbagi disini adalah memberikan apa yang menjadi hak mereka, karena dalam agama juga mengajarkan bahwa ada sebagian dari harta kita adalah milik orang lain yang membutuhkan.

Setiap manusia pasti memiliki cita-cita yang mulia seperti layaknya cerita fiksi diatas. Sebenarnya ia memiliki cita-cita yang sangat bagus, ia akan focus dalam beribadah serta slalu berbagi dengan sesama jika keadaan telah berubah. Namun setelah roda kehidupan telah berputar apa yang terjadi? Ia seakan lalai dengan apa yang menjadi cita-citanya. Ada cara pandang salah dalam memandang hidup (pada ilustrasi cerita diatas). Ia memiliki cita-cita yang begitu mulia namun secara waktu ia telat dalam mewujudkannya. Ia menunggu nanti jika sudah berubah, untuk sesuatu yang mulia sebaiknya ia bisa langsung dalam menerapkannya jangan menanti, karena setan memiliki ribuan cara untuk menggoda iman seseorang, baik itu memalui kemiskinan maupun kekayaan.

Jika dalam keadaan serba kekurangan dan kesusahan saja ia sudah menjadi orang yang rajin beribadah, apalagi ketika ia sudah menjadi orang yang meiliki segalanya, ketika dalam keadaan susah ia masih tetap berbagi, apalagi dalam keadaan harta berlimpah? Begitulah analoginya kita berbagi tidak harus menunggu mampu, kita beribadah tidak harus menunggu luang, karena dengan berbagi kita akan di mampukan oleh Allah SWT, karena dengan ibadah kepada Allah lah kita akan di longgarkan waktunya.

Semoga bermanfaat, jika tidak bermanfaat setidaknya ambil yang baik-baik saja dan buang jauh-jauh segala keburukannya.

Oleh Riki Sholikin

                                                                                                            
Read more ...

Rabu, 14 Agustus 2013

Merantau

Merantau
Awal puasa tahun ini terjadi perbedaan antara salah satu ormas islam dengan keputusan menteri agama melalui sidang isbat, namun hal itu tidak membuat saya merasa bingung mau puasa ikut siapa? Ikut salah satu ormas islam atau keputusan sidang isbat. Saya sudah memantapkan untuk puasa dahulu yaitu mengikuti salah satu ormas islam terbesar di Indonesia dan saya tidak mempermasalahkan hal itu. Karena masing-masing mempunyai dasar.

Puasa ramadhan hari demi hari dilalui tanpa pernah menghitung layaknya anak-anak kecil yang sering menghitung sudah puasa berapa hari, karena bukan puasanya yang dihitung akan tetapi kurang berapa lama lagi lebarannya. Lebaran bagi anak kecil mungkin sudah menjadi pendapatan tahunan mereka, karena sudah menjadi tradisi bahwa mereka akan mendapatkan THR dari sanak saudara.

Sebenarnya sangat gampang untuk mengetahui kapan lebaran akan tiba, bukan melalui metode hisab maupun rukyat layaknya Kementrerian Agama dan Ormas Islam dalam menentukan lebaran yaitu tanggal 1 Syawal, tetapi melaui info mudik. Karena ketika akan lebaran banyak televisi menjadikan info mudik sebagai salah satu berita utama di setiap harinya. Sehingga jika ada info mudik itu artinya sebentar lagi lebaran akan tiba J.

Info mudik diteleivisi ternyata banyak membantu bagi mereka yang akan mudik, yaitu untuk mengetahui kondisi jalan yang akan dilalui lancar atau macet, serta dimana saja jalur alternatifnya yang mungkin akan membuat perjalanan menjadi agak cepat. Lebaran bagi kebanyakan orang dijadikan sebagai momentum yang tepat untuk bertemu dengan orang tua beserta sanak saudara setelah sekian lama hidup di tanah rantau. Jadi ada yang kurang dari lebaran jika tidak diisi dengan mudik pulang ke kampung.

Mudik lebaran adalah salah satu bentuk budaya, karena dalam mudik lebaran banyak makna yang positif maka sampai saat ini mudik lebaran khususnya di Indonesia kini seakan menjadi tradisi wajib saat akan lebaran dan dijadikan momentum bertemunya keluarga besar.

Kegiatan mudik hanya dilakukan mereka yang memiliki pekerjaan diluar daerahnya atau sering disebut dengan merantau. Jika kita lihat sama-sama mengapa orang yang merantau kebanyakan dari mereka hanya mengontrak rumah dan tidak membeli rumah di tanah rantaunya? Dan tidak bisa dipungkiri juga ada sebagian orang yang membeli rumah atau membangun rumah di tanah rantaunya sehingga ia menjadi warga disana karena alasan pekerjaan, namun jika di prosentase kebanyakan orang yang merantau lebih suka mengontrak rumah dari pada membeli atau membangun rumah. Dan anehnya lagi mereka yang bekerja diperantauan sehingga dapat menabung sebagian dari penghasilannya untuk membangun rumah ditanah kelahirannya, dan setiap lebaran ia pulang atau sekarang lebih dikenal dengan istilah mudik.

Gambaran dari orang merantau yang lebih suka mengumpulkan uang untuk membangun rumah di tanah kelahirannya dari pada membeli rumah atau membangun rumah di tanah rantaunya adalah gambaran mengenai hidup sebanarnya. Apa maksud dari hidup sebenarnya? Apakah hidup kita saat ini belum benar-benar hidup? Hidup yang sebenanrnya bukanlah hidup kita saat ini yaitu hidup didunia, namun hidup sesudah mati dan hidup sesudah mati itulah hidup yang sebenarnya, karena hidup di dunia ini hanya mampir ngumbe (baca ; minum) artinya hidup didunia ini hanya sesaat, sedangkan hidup sesudah mati (akherat) itu kekal abadi apakah masuk surga atau neraka. Konsep orang merantau dalam hidup ini ialah dunia ini ibarat tanah rantau, seperti ditanah rantau kita bekerja mengumpulkan uang untuk membangun rumah ditanah kelahirannya (kampungnya), itu artinya dunia ini atau di dunia saat ini kita harus bekerja yaitu berlomba-lomba dalam kebaikan untuk membangun rumah kita, rumah yang dimaksud bukanlah rumah seperti rumah di kampung halaman, akan tetapi sebuah rumah di surga, sehingga harapan kita sesudah mati adalah kembali (mudik) dimana tempat tersebut sudah kita bangun di tanah rantau (hidup di dunia) melalui kebaikan-kebaikan yang telah kita perbuat serta segala ibadah yang ikhlas kita tujukan hanya untuk Allah SWT.
Mudik yang sebenarnya mudik adalah menikmati apa yang telah selama ini kita peroleh berupa hasil kerja keras kita didunia, ditanah rantau mereka rela untuk berhemat agar bisa memiliki tabungan dan membangun rumah di tanah halamannya, seperti yang dijelaskan diatas bahwa hidup kita didunia hanya seperti ditanah rantau siapa yang bekerja keras maka ia dapat membangun rumah atau istananya di kampung halaman, karena mereka sadar bahwa tidak selamanya mereka akan hidup ditanah rantau, ada saatnya yaitu ketika sudah mulai tua, sudah waktunya untuk menikmati hasil kerja kerasnya. Seperti hidup ini, bahwa tidak selamanya orang akan hidup terus didunia, mereka satu persatu akan kembali (meninggal) jadi mulai dari sekarang persiapkan diri kta dengan kebaikan-kebaikan dengan sesama serta selalu taat dan bertaqwa kepada Tuhan YME dengan tidak melupakan kewajiban kita sebagai umat bergama untuk selalu beribadah. Selalu beribadah bukan berarti hidup ini hanya diisi dengan sembahyang, kita tetap tidak boleh melupakan hidup di dunia ini, tapi kita juga tidak boleh menjadikan hidup didunia ini sebagian tujuan. Karena tujuan hidup kita adalah hidup sesudah mati, yaitu surga.

Kesimpulan dari artikel ini adalah hidup kita di dunia ini, layaknya kehidupan orang ditanah rantau, mereka bekerja untuk bisa kembali membangun istannya (rumah) dikampung halamannya karena mereka sadar bahwa tidak selamanya mereka akan tetap hidup ditanah rantau, begitu juga hidup ini bahwa hidup didunia ini kita gunakan ibarat tanah rantau, karena tidak selamanya orang akan kekal hidup didunia karena setiap manusia pasti akan mengalami mati, dan itu tinggal menunggu waktu tak seorang pun mengetahuinya. Ketika orang sudah menganggap bahwa dunia ini ibarat tanah rantau maka mereka akan bekerja dengan keras yaitu dengan berlomba-lomba dalam kebaikan sert bertaqwa kepada Allah swt, sehingga setelah manusia mati ia akan kembali ke istananya di surga, karena kebaikan serta ketaqwaannya terhadap Allah swt.

Artikel diatas saya tulis terinspirasi saat saya mendenagrkan kajian dari Bunda Enik Harjajanti, beliau adalah aktifis dakwah dari Aisyiyah Yogyakarta dengan tema “Mudik yang Sebenarnya”, di salah satu stasiun televisi swasta, semoga bisa di ambil manfaatnya

Terima kasih   
Read more ...