Kamis, 10 Januari 2013

Belajar Ikhlas


                Ikhlas adalah sesuatu yang sangat mudah diucapkan akan tetapi sulit untuk dilakukan. Namun demikian, sulit bukan berarti tidak bisa, karena segala sesuatu itu pasti ada prosesnya. Dan ketahuilah bahwa ikhlas berawal dari ketidak ikhlasan.
                Orang pada awalnya merasa bahwa apa yang telah ia lakukan seperti ada seuatu yang mengganjal, dan menganggap apa yang dirasakan adalah suatu ketidak ikhlasan, padahal itu hanya belum biasa, sekali lagi itu hanyalh belum biasa. Seperti mau ketemu calon mertua pada awalnya kita merasa grogi namun apa kita berhenti begitu saja hanya karena grogi? Tidak juga kan, kita hanyalah belum terbiasa. setelah beberapa lama kemudian akan menjadi terbiasa dan bisa bersikap biasa terhadap calon mertua atau bahkan sudah menjadi mertua.
                Sebagai contoh misalnya waktu kecil apa yang kita harapkan puasa di bulan ramadhan sebulan penuh? Atau apa yang kalian harapkan jika kita bisa menjaga sholat lima waktu kita?  Apakah kita melaksanakan sholat lima waktu karena takut dosa dan masuk neraka? Apakah kita berpuasa sebulan penuh karena takut dosa, dan mengharapkan pahala dari Allah? Saya yakin tidak, karena pada awalnya mungkin kita menjaga sholat lima waktu kita hanya karena ingin ditambah uang jajannya oleh ibu kita, dan kita melaksanakan puasa ramadhan sebulan penuh hanya karena ingin dibelikan baju baru buat lebaran bukan? sekali lagi ingat waktu kita masih kecil pasti semua ibadah yang kita lakukan bukan semata-mata Karena Allah bukan? sekarang coba kita lihat diri kita ? Semakin bertambah dewasa apa yang terjadi? Apa yang kita lakukan semasa kecil beribadah hanya mengharapkan imbalan dari orang tua kini berubah kita menjadi lebih ikhlas dan beribadah hanya semata-mata karena Allah.
                Begitu juga dengan ikhlas pada awalnya mungkin kita tidak ikhlas dalam menerima keadaan, akan tetapi semakin lama seiring dengan berjalannya waktu, kita menjadi ikhlas bukan? dan itulah yang dinamakan proses menuju keikhlasan. Sekarang bagaimana dengan ikhlas dalam bersedekah dan dalam berbagi? Mungkin pada awalnya kita sangat tidak rela mengeluarkan sesuatu kepada orang lain dan saya yakin itu hanya awalnya saja, setelah dilakukan berulang kali apa yang terjadi? semua menjadi biasa dan menjadi lebih ihklas, kenapa bisa menjadi ikhlas? sekali lagi itu hanyalah masalah waktu.
                Bicara soal ikhlas, saya jadi teringat dengan salah satu celotehan salah satu teman saya, kebetulan saya lupa namanya siapa (maklum teman saya kan banyak), dia pernah ngomong kurang lebihnya begini “Ikhlas itu emang gampang diomongin tapi sulit untuk dilakukan, belajarlah dari filosofis orang yang lagi boker (Baca : BAB), ketika kita megeluarkan seuatu, jangankan melihat, mencium baunya pun kita tak mau”. Mohon maaf sedikit jorok tapi begitulah keadaannya. Namun saya pikir filosofis itu benar juga, ikhlas dalam artian memberi, ketika kita sudah memberikan sesuatu kepada orang lain kita tidak boleh pamrih dan apalagi selalu mengungkit-ngungkitnya, seperti kata orang bijak jika tangan kanan memberi maka jangan sampai tangan kiri mengetahuinya.
                Sekali lagi sudah saatnya kita bersama-sama untuk belajar lebih ikhlas, meski emang pada awalnya kita masih merasa ragu atau kurang ikhlas namun demikian tetaplah berusaha menerima keadaan dan tetaplah memberi serta berbagi meski pada awalnya tidak ikhlas, karena sekali lagi keikhlasan itu berawal dari ketidakikhlasan semua itu ada prosesnya. Bersabar dalam berproses untuk mencapai level keikhlasan. Mari kita sama-sama belajar.

(Oleh Riki Sholikin twitter @Rickyyy_23)