Kamis, 30 Mei 2013

IBU, . . .

Jika ditanya siapa orang yang pertama kali memberikan kasih sayang yang tulus dan tanpa mengharap imbalan apapun, bisa dipastikan di adalah seorang wanita yang sangat kuat, lho kenapa kuat? Ibu kan seoarng wanita, bukankah wanita adalah makhluk yang lemah? Jangan salah dulu, ibu memang seorang wanita namun di makhluk yang sangat kuat lebih kuat dari super hero seperti di tivi-tivi, bayangkan superhero mana yang kuat membawa calon anaknya kemana-mana hingga Sembilan bulan lamanya, superhero mana yang rela hidup sederhana demi anaknya, agar mendapatkan fasilitas terbaik. Eh tapi ngomong-ngomong soal superhero mungkin superhero yang terkuat adalah saras 008 ama cat women, kok bisa?? ya k an mereka adalah wanita tangguh yang side jobnya jadi superhero jadi bisa dikatakan mereka adalah superheronya super hero, halah ribet banget bahasanya, hehehehe
Kembali lagi ke masalah ibu, saya tidak akan jelaskan prestasi ibu saya apa aja hingga saya sangat hormat dan sebagai salah satu idola yang patut saya contoh terutama sikapnya yang sederhana dan pemikirannya yang sangat sederhana juga, karena tidak ada satupun sertifikat yang pernah didapatkan ibu saya, jadi dimaklumi saja jika saya tidak bisa menjelaskan satu-persatu prestasi ibu saya, eh tapi satu ding prestasi ibu saya yang sangat saya ingat, bukan berupa sertifikat tapi, namun berupa anak manusia yang dikandungnya selama Sembilan lebih sekian hari (mungkin) dan merawatnya dengan tulus hingga segede ini, dan itu saya sendiri, sebuah prestasi yang sangat besar karena telah melahirkan saya dengan selamat, (meski kadang saya juga dianggap sebagai musibah karena telah melahirkan saya, hehehehe, nggak lah)
Saya akan menceritakan sedikit (ingat ya cuma dikit aja, jadi kalo kurang nggak boleh nambah) pengalaman betapa tegarnya ibu saya dalam menghadapi ujian, ujian hidup tentunya bukan ujian akhir semester, karena cukup anaknya saja yang mengalami ujian akhir semester. Saya akui ibu saya adalah orang yang tidak cerdas karena mungkin pada saat itu keadaan ekonomi keluarga dalam keadaan susah sehingga dari keempat bersaudara hanya Om saya yang melanjutkan pendidikan hingga lulus sarjana, dan itu konon katanya sempat jadi trending topic satu kelurahan, karena pada saat itu sangat jarang orang tua yang mau menyekolahkan anaknya hingga bangku kuliah, dan itu terjadi karena Om saya dibantu oleh kakak-kakaknya termasuk, Pak dhe, Bulek dan mungkin ibu saya juga. Btw ini kenapa malah ngomongin keluarga besar saya, haduh eror ini, oke kemblai lagi ke Ibu, sampai mana tadi? Oh iya sampai ibu saya bukanlah seorang yang cerdas dalam artian pendidikan yang pernah ditempuh. Meski pendidikan yang ditempuh hanya sampai S1 yaitu SD, iya saya tidak bercanda bahwa ibu saya hanya lulusan SD, mungkin sebagian dari kalian akan tertawa, masak cuma lulusan SD. Tapi jangan salah sekarang kita coba kembali ke zaman orde lama atau orde baru atau bahkan sebelum itu, pendidikan sangat jarang, tidak seperti saat ini banyak sekolah-sekolah baik negeri atau luar negeri (baca swasta) jadi bisa lulus SD sudah banyak bersyukur karena orang tua masih peduli dengan pendidikan ditengah hidup yang bisa dikatakan serba pas-pasan (pas lagi butuh, pas nggak ada), dan kejadian ini sempat membuat saya berpikir *sok mikir sih lebih tepatnya* kalo dulu lulusan SD udah menjadi sesuatu yang wajar terus jaman anak cucu saya mungkin lulusan sarjana nasibya akan sama seperti lulusan SD jaman dulu dan saya menemukan rumus baru dalam hal ini Lulusan SD jaman dulu = lulusan Sarjana yang akan datang (Mesti nggak nyambung, tepok tangan kalian sangat berarti bagi saya, hahahaha)
Sekarang sedikit serius Ibu saya lulusan SD namun saya sangat bangga kepada beliau mengapa? Karena lulusan SD secara pemikiran mungkin sangat jauh berbeda dengan lulusan S1, S2 atau S3 esnya dikit aja soalnya lagi pilek *keplak*. Saya akui saya sekarang memang sedang kuliah namun dari segi pengalaman saya jauh dari beliau (ibu) mengapa? Wajarlah faktor umur juga uda beda jauh dan beda generasi juga, tapi setidaknya saya sedikit lebih maju saya masih kenal facebook dan twitter tapi ibu saya kenalnya masih surat-menyurat (tapi surat tanah ding, hahaha).
            Kali ini saya serius, saya akui beliau lulusan SD namun dengan pemikiran yang sederhana dia masih memiliki dua anak yang paling tidak dari segi pendidikan anak-anaknya harus mendapatkan pendidikan yang terbaik, sederhana namun efeknya luar biasa, saya menjadi sangat malu dengan pendidikan yang bisa dibilang tinggi (karena namanya perguruan tinggi) terkadang malah cinderung membuat masalah bukan menjadi sesuatu yang sederhana namun memandang masalah menjadi sesuatu yang rumit, namun lain halnya dengan beliau, semua pemikirannya sangat sederhana sehingga setiap masalah disikapi dengan sederhana pula, pernah suatu ketika saya sedang ngobrol-ngobrol dirumah, tepatnya bulan ramadhan dan habis sholat teraweh saya ngemil sambil bercerita dengan beliau, dan saya bertanya dengan beliau, Ibu, saya kulaih dan kakak saya juga kuliah apa kira-kira sanggup ibu membiayai kami berdua kuliah? ( owh iya meski beliau lulusan SD namun beliau masih memiliki tanggungan kedua anaknya yaitu saya dan kakak saya yang sedang kuliah juga dan hanya terpaut dua tahun) dan jawab beliau “ tugas saya kan cuma bekerja dan rejeki udah ada yang ngatur” dari jawabannya uda ketahuan kalo beliau lulusan SD bukan? Mungkin lain halnya dengan lulusan S1, S2, S3 atau eS Teler sekalian lah J. Jawabnya pasti “Tenang kamu tidak usah memikirkan biaya kuliah, biar bapak atau ibu saja yang mengurusinya kamu fokus saja ama kuliah dan jika suatu ketika kekurangan biaya kita masih bisa cari pinjaman”, dan lain sebagainya pokoknya bisa panjang lebar dengan beberapa teori-teoari yang pasti akan muntah jika mendengarkannya sampai menghabiskan waktu kuliah 3 sks, (mohon maaf jika terlalu subyektif karena bagaimana pun juga beliau adalah orang yang harus saya hormati, hehehehe, keluarga nomor satu mamen)
Dari sebuah kata yang sederhana yang berasal dari pemikiran yang sederhana pula,  namun makna dari kata tersebut menjadi sangat luar biasa, bahwa apa yang akan diterima tergantung dengan apa yang kita semua lakukan, Tuhan itu Maha Adil dan saya kira semua sepakat hal itu, sesuatu pemikiran yang sederhana itulah yang membuat beliau tidak pernah mengeluah, apa lagi menyalahkan Tuhan. Sekali lagi Tuhan tidak pernah tidur, mungkin dari segi financial beliau hanya seorang pedagang (jualan) jika dihitung dengan rata-rata penghasilan perbulan sekian rupiah dan harus digunakan untuk biaya hidup dirinya sendiri diperantauan serta harus mengirim uang tiap bulannya untuk biaya hidup kedua anaknya yang sedang kuliah serta untuk biaya kuliah, mungkin itu menjadi seseuatu yang tidak masuk akal, antara pendapatan dan pemasukan jika dilihat secara kasat maka mungkin akan minus, terus kenapa sampai saat ini masih tetap bisa menabung dan punya tabungan yang lumayan buat hidup yang akan datang? Sekali lagi Tuhan tidak pernah tidur, inilah yang dinamakan rejeki, rejeki datang dari arah manapun, asalkan kita mau berusaha, dengan apa? dengan bekerja tentunya.
            Itulah kisah yang saya alami betapa campur tangan Tuhan sangat membantu dalam mengatasi perekonomian dalam keluarga kecil ini. Dan saya berjanji kepada diri saya, bahwa saya tidak akan menyia-nyiakan beliau, saya akan terus berbakti kepada beliau dengan tenaga saya, dengan doa saya, dengan harta saya bahkan dengan jiwa saya, karena untuk melahirkan saya nyawa beliau dipertaruhkan. Dan ini sudah menjadi kewajiban saya sebagai anak, karena menurut Ustadz dalam sebuah kajiannya, saya masih ingat benar “Murka Allah tergantung murka orang tua (Ibu)” jadi barang siapa yang melukai hati perasaan seorang ibu, tidak usah nungggu siksa di akherat, didunia pasti hidupnya juga bakalan susah, karena apa? Doa ibu adalah doa yang paling ijabah.
            Mengenai cerita seorang ibu, saya masih ingat betul dan cerita ini adalah kisah nyata, karena dialami oleh tetangga saya sendiri, suatu hari tepatnya hari sabtu saya pulang kerumah dan saya dapat kabar bahwa tetangga sebelah rumah saya ada seorang yang sakit karena serangatn setroke, dan kalian tahu ada hal apa yang terjadi sebelum dia terkena stroke? Begini ceritanya sebelum terkena stroke orang tua kandung dari orang tersebut, orang tuanya sudah sangat tua karena sudah menjadi buyut (kita sebut orang tua ini sebagai buyut) ingin menginap dirumah anaknya, dan karena sudah tua pada malam harinya ingin buang air kecil karena sudah tua jadi sangat susah untuk nahan kebelet, dan pada waktu akan ke kamar mandi, si buyut ini tidak bisa membuka kunci kamar sehingga buyut tersebut ngompol di dalam kamar, dan diketahuilah ama si anak tersebut, kemudian anak tersebut marah besar bahkan dengan suara yang sangat keras memarahi si buyut tersebut. Karena merasa bersalah si buyut tersebut membeli cairan buat ngepel lantai (superpel) untuk mengepel lanati tersebut, namun si anak masih marah dan tidak mau menerima superpel tersebut, karena usaha si buyut untuk menebus kesalahan dan malah dimarahi terus, Si buyut tersebut merasa sakit hati dan berkata “Kowe cilik tak gedek’e, saiki malah nglunjak mbi wong tua, aku loro ati mbi kowe, elingo jaman koe cilik sik ngrumat sopo?” dalam bahasa indonesianya artinya begini “Kamu masih kecil tak asuh hingga menjadi dewasa, tapi sekarang malah kurang ajar sama orang tua, aku sakit hati denganmu, ingat waktu kecil yang ngerawat kamu sampai sekarang siapa?”. Dan apa yang terjadi, tidak usah menunggu di alam kubur atau diakhirat, paginya setelah memarahi orang tuanya, si anak terkena serangan stroke dan harus dirawat di rumah sakit seminggu lebih. Betapa orang tua kita terutama ibu meski harus kita hormati, bahkan ibu yang jahat ataupun kafir sekalipun tugas kita tetap harus menghormatinya, menghormati bukan harus menaati semua perintahnya, hanya perintah yang baik-baik saja dan yang sesuai syariah saja yang dituruti, jika orang tua menyuruh berbuat ke-dzoliman beri nasihat saja, dan mohonkan hidayah kepada Allah agar dibukakan hatinya.
            Oke sebagai penutup mari kita coba hadirkan kembali memori-memori bersama ibu kita, betapa tulusnya dia mencintai anak-anaknya, betapa sabarnya beliau merawat kita semua dari bayi hingga saat ini, namun apa balasan kita sekarang? dan saya yakin bahwa apapun yang kita lakukan tidak sanggup untuk membayar kebaikan ibu kita, namun bukan berarti kita tidak bisa berbuat apa-apa? Ibu tetaplah Ibu jangan sampai beliau terluka dengan ucapan kita, jangan sampai beliau tersinggung dengan perbuatan kita, jangan sampai beliau tersakiti dengan sikap kita. Bagi kalian yang masih memiliki ibu kalian masih diberi kesempatan untuk berbakti, maka tunggu apa lagi, mohon maaflah terlebih dahulu kepada beliau agar semua urusan kita dimudahkan oleh Allah swt, karena bisa jadi urusan kita belum kelar karena kita masih punya dosa terhadap orang tua kita (Ibu), dan saya yakin bahwa orang tua kita atau ibu kita pasti akan memaafkan kita, setelah itu mohonlah restu kepada orang tua terutama Ibu kita agar semua diberi kelancaran, (ingat doa seorang ibu itu ijabah). Bagi kalian yang sudah tidak memiliki Ibu doakan setiap hari, mohonkan ampun atas segala dosa-dosanya setelah selesai sholat bagi yang muslim. Sekian dari sesuai janji saya bahwa ini hanya sedikit cerita saja, jadi nggak enak jika saya terusin lagi, dan yang kurang nggak boleh nambah, hehehe J
Terima kasih, semoga bermanfaat


Oleh Riki Sholikin Twitter Rickyyy_23