Jumat, 24 Mei 2013

(Jangan) Terima Aku Apa Adanya


                 Pagi yang cerah akan nampak lebih indah jika diawali dengan bangun pagi, buat sholat subuh tentunya, kalo bisa berjamaah biar bisa sholat sunah dua rekaat yang kalo tidak salah menurut hadist pahalanya lebih baik dari pada dunia dan seisinya. Jika tidak sempet berjamaah minimal shubuhnya jangan sampai kesiangan, malu ama matahri nanti malah dikira sholat dhuha.
                 Kehidupan sehari-hari yang sangat monoton membuat saya merasa cepat bosan dan untuk mengisi kegiatan yang sedikit membosankan ini saya memulai tulisan ini, meski hanya singkat namun tulisan ini mampulah untuk mencegah tidur lagi setelah sholat shubuh. Yah, saya akui bahwa kebisaan saya adalah sering tertidur ketika habis sholat shubuh, apalagi untuk saat ini saya sudah tidak ada lagi kuliah, maklum sekarang sudah menjadi mahasiswa tingkat akhir, jadi masih disibukan dengan tugas suci bernama skripsi. Tenang jangan langsung mangkir membaca ini bagi anda yang diberi kesempatan untuk membaca tulisan ini, saya tidak akan membahas skripsi jadi tolong lanjutin baca ya? Hehehe J
                  Baiklah, kita langsung aja ke topic, dari judulnya aja “Jangan Terima Aku Apa Adanya”. Mungkin ada beberapa termasuk anda yang sempat mambaca ini menganggap saya telah salah mengetik. Eits jangan salah, saya memang senagaja menulis itu, dan saya akan mencoba membahas hal itu karena mungkin bagi kita semua terutama yang sudah mulai beranjak dewasa dan sudah mulai tertarik dengan lawan jenis atau mungkin yang sudah mulai pacaran sering mendengar atau bahkan ada diantara kalian yang pernah mengatakan kalimat yang sangat popular “Terima Aku Apa Adanya”. Karena cinta masalah hati dan tidak menuntut apa-apa. Namun ketahuilah menurut pak Indra beliau adalah seorang konselor perkawinan menganggap bahwa kata “Terima Aku Apa Adanya” adalah kata yang terdengar sangat indah namun dalam menjalin hubungan itu adalah konsep yang sangat mematikan. Lho kenapa bisa? Bukankah kita harus menerima pasangan kita apa adanya? Dan kita juga tidak boleh menuntut apa-apa terhadap pasangan kita? Jika kalian semua ingin tahu jawabannya silakan lanjutan membaca tulisan ini. Okeee J?
                 Kenapa “terima aku apa adanya” sangat terdengar indah namun merupakan konsep yang mematikan? Perlu diketahui bahwa manusia adalah makhluk yang terus berkembang dan pastinya sebagai manusia kita harus terus belajar agar kita terus tumbuh dan berkembang bukan? Sekarang kita lihat apa makna dari konsep “terima aku apa adanya”, terima aku apa adanya itu berarti secara langsung anda memaksa pasangan anda untuk  menerima  anda sebagaimana anda sekarang ini, jika anda adalah orang yang baik, setia, perhatian dengan keluarga, sabar mampu menjadi imam keluarga, pokoknya yang pasti predikat pasangan ideal sudah melekat pada diri anda, itu tidak akan menjadi masalah jika anda mengucapkan “terima aku apa adanya” sekarang pertanyaannya untuk jaman sekarang ini apakah masih ada manusia yang sempurna dan predikat pasangan ideal? Jika adapun juga belum pasti mau dengan anda, hehehe J. Namun jika anda adalah seorang pemarah, kurang perhatian, manja  maka pasangan anda harus menerima anda seperti itu? Tentu saja tidak bukan? Sebenarnya makna dari “terima saya apa adanya” adalah menolak untuk berubah, dengan kata lain jika saya adalah seorang pemalas maka terima saya apa adanya bahwa saya adalah seorang pemalas, jika skor saya minus yang harus diterima sebagiamana adanya. Bagaimana? Masih pengen pasangan yang “terima saya apa adanya?”
                 Lantas bagiaman seharusnya? Menurut pak Indra konsep “terima saya apa adanya” adalah orang yang menolak untuk berubah, maka sebagai pasangan haruslah mencari pasangan yang mau tumbuh dan berkembang dalam arti jangan terima aku apa adanya tapi terima aku dan bimbing aku, agar aku mau tumbuh dan terus berkembang.  Kalian tahu mengapa dinosaurus bisa punah? Tidak lain karena dinosaurus tidak bisa berkembang mengikuti perubahan  yang terjadi, apakah kalian menginginkan pasangan yang “terima aku apa adanya” yang menolak untuk berubah? Bukan berarti pasangan yang menolak berubah akan punah, tidak. Namun paling tidak dia akan menjadi seseorang yang egois karena menolak untuk berubah serta kurang pergaulan tau kuper, hehehe
                 Saya berbicara hal ini bukan berarti saya adalah orang yang ahli dan sok tahu, namun saya hanya berbagi karena tulisan ini sangat terinspirasi dari suatu kajian dari Ippho Santosa dengan bintang tamunya adalah Pak Indra (konselor perkawinan) yang temanya “Rejeki yang sangat besar” dan dalam kajian tersebut intinya adalah jodoh adalah salah satu rejeki yang terbesar. Serta menyikapi fenomena pacaran pada saat ini yang sudah menjadi sebuah budaya atau tren dikalangan baik remaja maupun usia dewasa, beliau juga setuju konsep pacaran asalkan disaat yang tepat, dan saya sangat hafal kata-kata beliau “seindah-indahnya pacaran sebelum menikah, masih jauh sangat indah jika pacaran setelah menikah” artinya pacaran itu boleh, asalkan sudah ada ikatan yang sah secara agama dan Negara.
                 Sebagai penutup dari tulisan ini saya ucapkan mohon maaf yang sebesar-besarnya jika ada salah dalam penulisan sehingga dapat memicu multi tafsir dan terkesan ambigu, namun pada intinya niat saya menulis hanya ingin berbagi. Udah gitu aja. Selamat melanjutkan keponya, . . .

Oleh Riki Sholikin Twitter @Rickyyy_23