Sabtu, 08 Juni 2013

Partner Hidup

Dalam hidup ini setiap manusia pasti membutuhkan seorang teman.  Seperti yang telah kita ketahui manusia adalah makhluk social yang artinya manusia tidak dapat hidup sendiri, untuk itu manusia membutuhkan teman atau partner hidup. Dalam memilih teman hidup kita boleh pilih-pilih, misalnya kita pilih saja teman-teman yang baik-baik saja. Karena dalam pergaulan ini teman sangat berpengaruh terhadap perkembangan kita terutama dalam berperilaku.  Ada seseorang yang namanya saya lupa berpendapat  bahwa teman kita adalah refleksi atau cerminan dari kita. Jadi jika kita ingin mengetahui seperti apa perilaku seseorang, kita bisa melihat dengan siapa saja ia bergaul.
 Dalam masalah pergaulan ini saya jadi mengingat tentang hadist Nabi yang kurang lebihnya berbunyi begini, jika kita bergaul dengan orang yang jualan minyak wangi minimal kita akan mencium bau wanginya. Dalam hadist itu menjelaskan bahwa dalam bergaul hendaknya kita bergaul dengan orang-orang yang baik. Bergaul dengan orang-orang yang baik bukan berarti kita harus membeda-bedakan dalam bergaul sehingga kita hanya bergaul dengan orang-orang seagama saja atau bergaul dengan orang-orang kaya saja. Kata "baik” disini berkaitan dengan tindakan yang tidak melanggar akidah. Jadi kita boleh bergaul dengan siapa saja asalkan tidak melanggar akidah baik itu orang miskin, kaya, atau beda agama sekalipun.
Partner hidup bukan saja berkaitan dengan teman bermain ataupun teman kerja. Ada yang lebih menarik lagi dari sekedar teman bergaul maupun rekan kerja, yaitu partner hidup yang lebih intim lagi, ia adalah jodoh. Jodoh atau partner hidup yang seperti apa, yang akan menemani baik suka maupun duka dalam menempuh lika-likunya hidup ini. Tidak munafik jika seseorang menginginkan jodoh yang baik, sholeh, sholehah, serta berbakti kepada suami ataupun istri. Namun pertanyaannya adalah apakah jodoh yang kalian inginkan yaitu orang yang memiliki sifat  baik, berbakti pada pasangan, jujur dan setia, ada pada diri anda? Mari kita renungkan bersama.
Bicara tentang mecari partner hidup atau memilih pasangan hidup saya langsung teringat dengan kisah seseorang yang sudah mapan secara ekonomi dan sudah siap menikah namun sampai sekarang belum juga mendapatkan jodoh yang sesuai dengan keinginannya, kalaupun ada yang sesuai itupun lamarannya ditolak. Dalam masa pencarian partner hidup atau pasangan hidup seorang laki-laki tersebut mengalami suatu puncak kegalauanya dan hampir putus asa. Lelaki tersebut merasa bahwa apa yang telah diusahan belum juga membuahkan hasil padahal dalam karirnya apa yang diraihnya sesuai dengan target. Namun untuk masalah jodoh ia merasa gagal. Targetnya ialah menikah disuianya yang ke 25 dan sekarang usianya adalah 27 tahun. Dua tahun masa pencariannya belum mendapatkan jawaban meski ada jawaban berupa penolakan. Laki-laki tersebut mendapat rekomendasi dari temannya untuk menemui salah satu ustad yang diyakini dapat mencarikan jodoh untuknya. Dengan penuh kegalauan laki-laki tersebut mencoba menemui ustad tersebut dengan pikiran bahwa ustad tersebut akan mencarikan jodoh yang tepat untuknya.
Pagi-pagi, kebetulan saat itu hari minggu dan ia libur sehingga ia merasa ini saat yang tepat untuk mencari alamat ustad tersebut. Tidak begitu sulit untuk mencari alamat ustad  tersebut, mengingat ustad tersebut sudah terkenal didaerahnya dan memiliki pondok pesantren yang sangat modern serta memiliki banyak santri. Begitu sampai rumah kediaman pak ustad tersebut diambut dengan hangat oleh ustad tersebut. Akan tetapi ustad tersebut nampak agak terburu-buru, dengan ramah laki-laki tersebut bertanya kepada pak ustad, “Mohon maaf pak, sepertinya anda sangat terburu-buru?” kemudian ustad tersebut menjawab “ mohon maaf mas, hari ini saya akan mengisi dalam kegiatan rutin ahad pagi, karena setiap minggu pesantren ini mengadakan pengajian bersama untuk umum. Dengan sedikit agak kecewa laki-laki tersebut merasa bahwa usaha yang dilakukan dari pagi ini sia-sia, namun demikian laki-laki tersebut malah diajak oleh pak ustad untuk mengikuti kajiannya. Tanpa pikir panjang laki –laki tersebut meng-iya-kan ajakan ustad tersebut dengan harapan setelah mengisi kajian ia dapat bertemu lagi dengan ustad tersebut.
Kajian ahad pagi dihadiri ribuan peserta baik dari santri pondok pesantrennya pak ustad maupun dari kalangan umum beramai-rami mengikuti kajian pak ustad. Entah ini kebetulan atau memang sudah menjadi takdir ALLAH tema kajian kali ini adalah menjemput jodoh. Saya sangat tertarik dengan tema ini, dengan seksama saya mendengarkan kajian dari pak ustad hingga sampailah dalam bab menjemput jodoh. Dalam kajian ini saya merasa tersindir bahwa selama ini apa yang sudah saya lakukan adalah seseuatu yang sangat keliru. Dalam kajian ini tersebut ustad tersebut menerangkan bahwa dalam meilih jodoh itu yang terpenting adalah imannya, kemudian untuk kedua dan seterusnya ialah ketampanan atau kecantikannya, kekayaannya dll. Kemudian disela-sela kajiannya ustad tersebut menerangkan bahwa setiap manusia menginginkan jodoh yang baik akan tetapi dirinya tidak pernah berkaca apakah drirnya sudah baik untuk dijadikan pasangan hidup? Mendengar hal itu laki-laki tesebut merasa merinding seolah-olah dirinya yang disindir oleh ustad tersebut. Dalam hati laki-laki tersebut ia berkata “Saya mulai sadar kenapa teman saya menyuruh saya untuk menemui ustad ini”  dan laki-laki tersebut malah menjadi semangat mendengarkan kajian dari ustad tersebut. Kemudian ustad tersebut melanjutkan  kajiannya mengenai menjemput jodoh. Ustad tersebut menjelaskan kepada peserta kajian (jamaah) bahwa laki-laki muslim itu hanya untuk wanita muslim begitu sebaliknya wanita muslim hanya untuk laki-laki muslim serta yang baik itu hanya untuk yang baik dan yang keji itu hanya untuk yang keji. Mendengar kata-kata tersebut membuat laki-laki tesebut untuk mengintrospeksi dirinya sendiri betapa dia hanya menginginkan jodoh yang baik untuknya sedangkan dianya sendiri belum tentu baik menurut orang lain. Laki-laki tersebut langsung teringat mengapa dia pernah ditolak pinangannya oleh seorang wanita yang baik dan sholehah. Hal itu membuat laki-laki tersebut lebih semangat lagi dalam menjemput jodohnya meski jodohnya masih dirahasiakn oleh ALLAH SWT. Sebagai penutup dari kajian tersebut ustad tersebut memberi semacam tips untuk menjemput jodohnya.
Pertama, catatlah jodoh yang seperti apa yang ingin kamu miliki, dalam hal ini bukan masalah fisik melainkan sifat-sifat apa yang anda inginkan pada calon jodoh anda, misalnya jujur, rajin, selalu sholat tepat waktu, baik hati dan sifat-sifat lainnya yang diinginkan. Kedua lakukan apa yang anda harapkan dari calon jodoh anda. Misalnya jika anda menginginkan jodoh anda adalah seseorang yang selalu sholat tepat waktu maka anda harus melakukan hal tersebut. Kemudian yang terakhir ialah jemput jodoh anda dengan Ta’aruf . mengapa ta’aruf karena dalam islam tidak mengenal istilah pacaran sebagai tahap awal dalam meminang seseorang. Namun demikian bukan berarti pacaran dilarang dalam islam, islam memperbolehkan pacaran asalkan dalam ikatan pernikahan serta komitmen untuk membina rumah tangga. Namun jika kamu sudah mampu untuk menikah namun belum mendapatkan jodoh untuk dinikahi maka disunahkan untuk berpuasa agar terlindungi dari perbuatan zina.
Mendengar kajian dari ustad tersebut laki-laki itu kemudian semakin menyadari mengapa hingga saat ini ia belum mendapatkan jodoh yang diinginkannya. Laki-laki kemudian berpikir positif mengapa ia sampai sekarang belum mendapatkan jodoh dan untuk itu ia berpuasa untuk menjaga dirinya dari perbuatan zina. Dan karena apa yang sebenarnya ingin ditanyakan tidak disangka akan menjadi tema kajian pagi tersebut setelah kajian selesai laki-laki tersebut langsung menemui pak ustad dan mengucapkan terima kasih bahwa kajian tadi sangat bermanfaat bagi dirinya untuk MOVE ON dan menjelaskan kepada ustad tersebut bahwa tujuan laki-laki tersebut menemui ustad tersebut ialah berkaitan dengan jodoh yang tak kunjung tiba. Dengan begitu laki-laki tersebut sadar bahwa jodoh ditangan Tuhan akan tetapi kita harus ambil jodoh itu dari tangan Tuhan,.Hehehehe

Sekian cerita dari saya dan terima kasih


cerita ini terinspirasi dari Pintu Rejeki Trans7 dengan tema menjemput jodoh oleh Ippho Santosa
Read more ...

Jumat, 07 Juni 2013

Kegalauan Masa Depan.

            Sebagai manusia yang terus beranjak dewasa akan selalu diikuti dengan berkembangnya pemikiran kita, meski terkadang semakin berkembangnya pemikiran kita malah membuat sesuatu yang sederhana akan nampak menjadi rumit. Kenapa bisa begitu? Ya coba aja sekarang kita ingat-ingat kembali waktu kita masih kecil dan kita sedang belajar naik sepeda, apakah kita dulu membayangkan apa yang akan terjadi jika kita terjatuh? Tentu saja tidak kan? karena pada saat kita masih kecil, kita belajar naik sepeda tidak memikirkan terlalu serius terhadap resiko apa yang akan diterima jika kita terjatuh, melainkan lebih membayangkan tentang apa yang akan terjadi jika kita telah berhasil dengan lancar mengendarai sepeda sendiri. Kita lebih membayangkan betapa senangnya ketika kita bisa bersepeda sendiri bersama teman-temannya bukan betapa sakitnya jika terjatuh saat kita sedang berlatih bersepeda. Dan itulah pemikiran kita waktu masih kecil, dimana ketakutan akan resiko terkalahkan dengan hasil apa yang akan diperoleh setelah berhasil.
            Sekarang setelah beranjak dewasa dimana pemikiran kita juga ikut berkembang seiring dengan bertambahnya usia, kita seolah terjebak dengan pemikiran kita sendiri, segala sesuatu yang akan kita lakukan akan melalui sebuah proses kognitif yang membuat seseorang untuk berpikir, bukan tentang hasil apa yang kita peroleh jika kita melakukan hal tersebut seperti halnya pemikiran kita sewaktu kecil namun lebih ke resiko apa yang akan terjadi, sehingga hal itu lah yang membuat kebanyakan orang takut untuk memulai sesuatu. Kenapa hal itu bisa terjadi? Mungkin dari kebanyakan orang akan menjawab bahwa hal tersebut dilakukan semata-mata sikap hati-hati kita untuk mengurangi resiko yang akan terjadi. Namun apa pemikiran mereka tentang resiko itu benar? Tentu saja ada benarnya, namun sikap mereka yang berlebihan terhadap resiko yang akan diterima jika akan melakukan sesuatu itulah yang membuat mereka lupa juga untuk berpikir tentang apa yang akan diperoleh jika apa yang akan mereka itu berhasil, mereka yang menolak untuk berpikir mengenai hasil yang akan diperolah karena mereka beralasan bahwa “menerima kesuksesan itu lebih mudah dari pada kegagalan”. Dan saya tidak akan menyalahkan pernyataan tersebut karena memang begitu, menerima kesuksesan itu lebih mudah dari pada menerima kegagalan, tapi kita juga tidak boleh memungkiri bahwa kesuksesan yang diperoleh itu adalah bagian dari proses, dan didalam proses tersebut didalamnya terdapat menyikapi kegagalan yang sedang dialami, dengan kata lain orang yang sukses itu pasti pernah mengalami kegagalan, karena bagaimana mereka bisa merasakan sukses jika mereka saja tidak pernah mengalami kegagalan? Seperti halnya waktu kita memesan paket makanan yang didalamnya sudah ada nasi, lauk dan air minumnya, paket kesuksesan itu didalamnya terdapat proses atau action, gagal dan pantang menyerah.
            Kenapa ini malah menjadi bahasa macam motivator gini ya? Tapi nggak apa-apa anggap aja kali ini saya obatnya lagi tok cer jadi pemikiran saya mulai agak bener, hehehe. Kembali ke??? (laptop) Eh bukan laptop, emang ini acaranya Tukul di Bukan Empat mata? Maksudnya kembali ke topik, semakin dewasa kita pasti kita akan mengalami suatu kegalauan, kali ini bukan galau karena pacar ya? Galau yang saya maksud adalah galau tentang masa depan, galau tentang hendak menjadi apa kita kelak, galau dengan siapa kita akan membangun rumah tangga (bagi yang masih jomblo macam saya ini J) dan kegalauan ini akan saya namakan dengan galau masa depan.
            Galau masa depan ini dapat menghasilkan energi positif karena dengan adanya galau masa depan ini  seseorang dapat memulai merencanakan sesuatu untuk masa depannya kelak serta apa saja yang perlu dilakukan saat ini untuk membuat masa depan menjadi lebih tertata. Namun kegaluan masa depan juga dapat memberikan energi yang negatif jika tidak bisa mengelola diri dengan baik, mengapa hal itu bisa terjadi? Karena dalam menyikapi kegaluan ini seseorang menganggap dirinya telah terlambat, dia baru menyadari bahwa dulu ia telah menyia-nyiakan waktunya sehingga sekarang bingung mengenai masa depannya serta bingung tentang apa yang harus dilakukan saat ini, dan inilah virus dari kegalauan yang mematikan karena orang tersebut telah menyesali masa lalunya namun tidak bisa move on dan menatap serta mulai menata kembali masa depannya, mereka juga terlalu galau dengan masa depannya akan menjadi apa kelak sehingga kegaluan tersebut malah membuat orang tersebut menjadi lupa tentang apa yang harus dilakukan hari ini. Jadi bisa dibilanhg ia adalah orang yang gagal karena sudah tau masa lalunya belum bisa berbuat apa-apa dengan masa depannya, bukan mulai lagi belajar untuk memulai menata masa depan namun terjebak dalam penyesalan akan masa lalunya dan yang lebih parah lagi ialah lupa bahwa hari ini atau sekarang ini juga ia sudah diberi kesempatan.
            Sekarang tunggu apa lagi, bagi kita yang sudah mulai belajar untuk menata masa depannya tetaplah belajar dan tingkatkan belajarnya, dan untuk yang masih bingung dengan masa depannya termasuk saya ini, mari kita belajar bersama-sama, kita masih diberi kesempatan untuk menata kembali masa depan kita. Masa depan itu tergantung dengan apa yang kita lakukan bukan hanya sekedar apa yang kita pikirkan, percuma kita hanya terlalu sibuk dengan memikirkan masa depan kita hingga lupa bahwa hari ini juga kita sudah diberi kesempatan untuk menata masa depan kita. Masa depan itu tergantung hari ini, karena hari sebentar lagi hari ini akan menjadi masa lalu, sebelum hari ini menjadi masa lalu maka lakukan yang terbaik untuk hari ini karena hari ini adalah masa depan.
“Banyak orang yang terlalu sibuk memikirnya masa depannya hingga mereka lupa apa yang harus mereka lakukan hari ini, sebelum hari ini menjadi masa lalu maka lakukan yang terbaik utuk hari karena hari ini adalah awal dari masa depanmu”


(Oleh Riki Sholikin twitter @Rickyyy_23)   
Read more ...

Selasa, 04 Juni 2013

Pelajaran Dari Mengejar Layang-layang Putus

Gambar diunduh dari google image
            Suatu sore hari hari, saya sudah sangat lelah karena habis muter-muter di sebuah pasar antik, lho kenapa pasar antik? Bukan pasar tradisional atau pasar buah kek, soalnya saya mau cari keris, bukan sayur atau buah. Pada penasaran kenapa saya mencari keris? Atau ada yang ngira saya adalah orang kejawen yang percaya hal-hal yang mistis? Hehehe nggak lah, insya Allah saya muslim yang taat (semoga J) meski sholat kadang nggak pernah tepat waktu saya berusaha untuk tidak meninggalkan sholat lima waktu (wajib sob). Dan saya mencari keris hanya sekedar menemani teman saya yang kebetulan dia sangat suka dengan keindahan keris, karena menurutnya dalam ukiran keris itu ada sebuah makna didalamnya. Dan saya tidak tahu apa makna yang terdapat didalam keris tersebut, namun yang terpenting buat saya adalah keris tersebut tidak dipercayai akan mendatangkan keuntungan atau menolak bala atau apalah yang mengandung unsur-unsur kemusyrikan. Jadi mungkin alasan teman saya untuk mengoleksi keris adalah alasan keindahan dari ukiran yang terdapat pada keris tersebut.
            Setelah saya selesai muter-muter nyari keris, baru lah saya mampir kesebuah pasar tepatnya dipasar gedhe (orang solo pasti mengetahuinya) saya mencari ikan untuk mengisi akurium baru saya (baru minjem lebih tepatnya, hehehe). Jadi sekarang saya memiliki teman hidup saya berupa ikan-ikan kecil yang setidaknya mampu menemani waktu saya menjalani kesendirian saya di kosan.
            Singkat cerita ketika saya akan pulang saya merasa lapar dan saya bersama teman saya memutuskan untuk mampir di sebuah warung angkringan tempat biasa saya makan atau sekedar ngemil dan wedhangan. Pas saya lagi asyik makan tiba-tiba saya dikejutkan dengan suara teriakan kegembiraan anak-anak yang sedang bermain bersama. Hal tersebut membuat saya ingin tahu, apa yang sedang dilakukan anak-anak tersebut sehingga suasana Nampak gaduh dan ramai. Setelah saya lihat ternayata anak-anak tersebut sedang mengejar layang-layang yang jatuh karena terputus. Mereka mengejar layang-layang dengan penuh semangat dan dengan antusias meski terkadang mereka tidak mendapat apa-apa karena kalah berebut dengan anak-anak yang lain.
            Kejadian anak-anak yang sedang mengejar layang-layang tersebut membuat saya berpikir (padahal sok mikir) anak-anak tersebut begitu antusias mengejarnya, mereka yang mendapatkan layangan putus tersebut sangat gembira dan anak-anak yang lain yang tidak mendapatkan juga tidak ada wajah dendam karena gagal serta tidak berusaha untuk merusak atau merobek layangan yang didapat oleh temannya karena merasa jengkel atau iri, serta mereka juga masih tetap berusaha mendapatkan layang-layang yang putus dengan tetap menunggu apakah ada layangan lagi yang putus. Dari situlah saya mulai merenung ternyata dalam kejadian tersebut ada sebuah pelajaran yang dapat kita ambil dalam menjalani hidup ini.
            Pelajaran yang dapat kita ambil dari kejadian tersebut diantaranya ialah pertamaialah terdapat nilai sportifitas dalam kejadian tersebut. Seorang anak yang mendapatkan layangan putus meski dia melihat ekspresi kesenangan yang berlebihan kadang sedikit memaki yang gagal mendapatkan layangan putus, namun teman-teman yang gagal mendapatkan layangan tersebut tidak merasa jengkel ataupun iri, mereka bisa menerima meski mereka juga memiliki usaha yang sama ketika merebut layangan tersebut. Dan mereka juga tidak berusaha merusak atau merobek layangan yang didapatkan oleh temannya karena merasa jengkel dan iri. Kedua adalah semangat pantang menyerah, meski mereka telah gagal mendapatkan layangan mereka tidak putus asa dan masih semangat dalam menunggu dan mengejar layang-layang yang putus. Begitulah seharusnya dalam menjalani hidup ini, meski terkadang kita gagal dalam mencapai tujuan tertentu hendaknya kita tidak boleh putus asa atau putus harapan, apalagi kita merasa iri dengan rejeki orang lain, mending sifat iri atau dengki itu buang jauh-jauh karena itu tidak sehat bagi pikiran dan kesehatan kita Sob. Kita harus menyikapi kegagalan dengan percaya bahwa suatu saat Tuhan akan percaya pada kita bahwa kita layak mendapatkan apa yang kita inginkan, mungkin kita gagal karena kita belum layak mendapatkan itu semua, ingat dalam sebuah ayat (saya lupa ayat berapa, kalo nggak salah surah Al Baqoroh) bahwa apa yang terbaik menurut kita (manusia) belum tentu baik menurut Tuhan, karena Tuhan Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi umatnya. Dan buanglah jauh-jauh prasangka buruk terhadap Tuhan.
             Ketiga, ialah mengenai kerja keras, anak-anak tersebut hanya mengingingkan layangan namun bisa kita lihat usaha yang dilakukan adalah dengan lari-lari serta balapan dengan teman-temannya, selain itu mereka juga berarti tanpa resiko mereka ada kemungkinan untuk terjatuh atau tertabrak kendaraan karena kadang mereka mengejar layangan dijalan. Ternyata hal itu mengajarkan kita bahwa jika kita ingin mendapatkan sesuatu maka kita harus kerja keras dan berusaha. Dan perlu kita ketahui bahwa anak kecil yang hanya menginginkan layangan saja perlu kerja keras apalagi kita yang menginginkan sesuatu yang lebih dari sekedar laying-layang? Apakah kita tidak malu sama anak-anak tersebut? Kita terkadang terbuai dalam lamunan atau khayalan bahwa sesuatu yang kita inginkan akan datang begitu saja tanpa melalui usaha apapun. Sudah saatnya kita bangun dari lamunan. Peristiwa anak kecil yang mengejar layang-layang tersebut seharusnya mampu memberikan isyarat kepada kita bahwa kerja keras itu harus.
            Keempat, yang keempat inilah yang membuat saya merenung, jika saya lihat gerombolan  anak-anak yang mengejar layang-layang dilihat dari segi ekonomi mereka adalah orang yang mampu, dan untuk anak-anak saat ini apalagi mereka adalah orang-orang yang tinggal diperkampungan saya yakin mereka masih punya uang untuk sekedar membeli layang-layang, soalnya uang jajan mereka perhari saja kurang lebih 5rb Cuma membeli layang-layang mungkin bisa dapet lima bahkan lebih, apalagi anak kecil kalo sudah mempunyai kemauan susah diganggu gugat. Dan orang yang mendapatkan layang-layang putus tersebut nampak bahagia. Dan hal itulah yang membuat saya tersadar, bahwa apa yang kita peroleh meski sesuatu yang kadang nilainya sangat kecil dimata orang lain namun diperoleh melalui sebuah proses kerja keras, usaha keras serta kadang harus bersaing dengan teman dekat kita namun justru hal kecil itulah yang membuat seseorang bahagia. Bisa jadi orang yang memiliki motor buntut tapi orang yang memilikinya sangat bahagia karena motor tersebut dibeli dengan jerih payah dan keringetnya  sendiri, lain halnya dengan orang yang berkendaraan model terbaru bahkan bukan cuma motor tapi mobil sekalian, mereka mungkin saja bisa bangga karena mereka bisa lebih dari pada yang teman-teman yang lainnya, namun siapa yang berani menjamin bahwa ia bahagia dengan mobil pemberian orang tuanya, nggak ada yang berani jamin kan? karena sebenarnya tidak ada yang bisa dibanggakan dari sesuatu yang diperoleh tanpa kerja keras.
            Tidak ada yang bisa dibanggakan dari sesuatu yang diperoleh tanpa kerja keras”
            Ternyata dari sekedar kejar-kejaran layangan putus banyak pelajaran yang dapat kita ambil. Ada sebuah nilai hidup dari kejadian mengejar layangan putus. Dan saya bersyukur ditengah berkembangnya permainan yang sudah mulai canggih dimana dunia computer sudah mulai berkembang termasuk dunia game. Akan tetapi permainan tradisional khususnya layang-layang masih eksis dari saya kecil hingga saya saat ini, meski lahan mereka untuk bermain sudah tidak ada namun mereka masih bisa bermain di jalan-jalan perkampungan dan terkadang layang-layang mereka tersangkut kabel listrik. Dan saya turut ternyata ada sekumpulan anak muda yang ditengah kesibukan mereka dalam menyelesaikan studinya masih peduli dengan permainan tradisional yang bisa dibilang hampir punah, komunitas tersebut adalah “Komunitas Anak Bawang” yang berada disolo, meski saya sendiri bisa dibilang tidak pernah bergabung dengan sebuah komunitas permainan tradisional tersebut secara langsung karena saya hanya tergabung dalam group di jejaring social seperti facebook dan twitternya, namun saya sangat apresiasi kepada mereka, masih muda namun mempunyai kepedulian terhadap permainan tradisional. Dan bagi kalian yang sempat membaca ini silakan gabung atau follow twitternya @AnakBawangSolo untuk tau lebih banyak atau pengen tau apa aja kegiatannya dan dimana lokasi biasanya ngumpul, hehehe (promosi terselubung).  
            Perlu kita ketahui bahwa itu hanya sekedar mengejar layang-layang putus namun banyak pelajaran yang bisa kita ambil, padahal masih banyak lagi permainan-permainan tradisional yang didalamnya memiliki nilai-nilai tentang hidup ini. Sekian pengalaman dan saya hanya berbagi, bukan berbagi duit pastinya, hehehe tetapi berbagai melaui tulisan ini, semoga bermanfaat dan selamat beraktifitas lagi.
Terima Kasih


Oleh Riki Sholikin Twitter @Rickyyy_23
Read more ...