Jumat, 07 Juni 2013

Kegalauan Masa Depan.

            Sebagai manusia yang terus beranjak dewasa akan selalu diikuti dengan berkembangnya pemikiran kita, meski terkadang semakin berkembangnya pemikiran kita malah membuat sesuatu yang sederhana akan nampak menjadi rumit. Kenapa bisa begitu? Ya coba aja sekarang kita ingat-ingat kembali waktu kita masih kecil dan kita sedang belajar naik sepeda, apakah kita dulu membayangkan apa yang akan terjadi jika kita terjatuh? Tentu saja tidak kan? karena pada saat kita masih kecil, kita belajar naik sepeda tidak memikirkan terlalu serius terhadap resiko apa yang akan diterima jika kita terjatuh, melainkan lebih membayangkan tentang apa yang akan terjadi jika kita telah berhasil dengan lancar mengendarai sepeda sendiri. Kita lebih membayangkan betapa senangnya ketika kita bisa bersepeda sendiri bersama teman-temannya bukan betapa sakitnya jika terjatuh saat kita sedang berlatih bersepeda. Dan itulah pemikiran kita waktu masih kecil, dimana ketakutan akan resiko terkalahkan dengan hasil apa yang akan diperoleh setelah berhasil.
            Sekarang setelah beranjak dewasa dimana pemikiran kita juga ikut berkembang seiring dengan bertambahnya usia, kita seolah terjebak dengan pemikiran kita sendiri, segala sesuatu yang akan kita lakukan akan melalui sebuah proses kognitif yang membuat seseorang untuk berpikir, bukan tentang hasil apa yang kita peroleh jika kita melakukan hal tersebut seperti halnya pemikiran kita sewaktu kecil namun lebih ke resiko apa yang akan terjadi, sehingga hal itu lah yang membuat kebanyakan orang takut untuk memulai sesuatu. Kenapa hal itu bisa terjadi? Mungkin dari kebanyakan orang akan menjawab bahwa hal tersebut dilakukan semata-mata sikap hati-hati kita untuk mengurangi resiko yang akan terjadi. Namun apa pemikiran mereka tentang resiko itu benar? Tentu saja ada benarnya, namun sikap mereka yang berlebihan terhadap resiko yang akan diterima jika akan melakukan sesuatu itulah yang membuat mereka lupa juga untuk berpikir tentang apa yang akan diperoleh jika apa yang akan mereka itu berhasil, mereka yang menolak untuk berpikir mengenai hasil yang akan diperolah karena mereka beralasan bahwa “menerima kesuksesan itu lebih mudah dari pada kegagalan”. Dan saya tidak akan menyalahkan pernyataan tersebut karena memang begitu, menerima kesuksesan itu lebih mudah dari pada menerima kegagalan, tapi kita juga tidak boleh memungkiri bahwa kesuksesan yang diperoleh itu adalah bagian dari proses, dan didalam proses tersebut didalamnya terdapat menyikapi kegagalan yang sedang dialami, dengan kata lain orang yang sukses itu pasti pernah mengalami kegagalan, karena bagaimana mereka bisa merasakan sukses jika mereka saja tidak pernah mengalami kegagalan? Seperti halnya waktu kita memesan paket makanan yang didalamnya sudah ada nasi, lauk dan air minumnya, paket kesuksesan itu didalamnya terdapat proses atau action, gagal dan pantang menyerah.
            Kenapa ini malah menjadi bahasa macam motivator gini ya? Tapi nggak apa-apa anggap aja kali ini saya obatnya lagi tok cer jadi pemikiran saya mulai agak bener, hehehe. Kembali ke??? (laptop) Eh bukan laptop, emang ini acaranya Tukul di Bukan Empat mata? Maksudnya kembali ke topik, semakin dewasa kita pasti kita akan mengalami suatu kegalauan, kali ini bukan galau karena pacar ya? Galau yang saya maksud adalah galau tentang masa depan, galau tentang hendak menjadi apa kita kelak, galau dengan siapa kita akan membangun rumah tangga (bagi yang masih jomblo macam saya ini J) dan kegalauan ini akan saya namakan dengan galau masa depan.
            Galau masa depan ini dapat menghasilkan energi positif karena dengan adanya galau masa depan ini  seseorang dapat memulai merencanakan sesuatu untuk masa depannya kelak serta apa saja yang perlu dilakukan saat ini untuk membuat masa depan menjadi lebih tertata. Namun kegaluan masa depan juga dapat memberikan energi yang negatif jika tidak bisa mengelola diri dengan baik, mengapa hal itu bisa terjadi? Karena dalam menyikapi kegaluan ini seseorang menganggap dirinya telah terlambat, dia baru menyadari bahwa dulu ia telah menyia-nyiakan waktunya sehingga sekarang bingung mengenai masa depannya serta bingung tentang apa yang harus dilakukan saat ini, dan inilah virus dari kegalauan yang mematikan karena orang tersebut telah menyesali masa lalunya namun tidak bisa move on dan menatap serta mulai menata kembali masa depannya, mereka juga terlalu galau dengan masa depannya akan menjadi apa kelak sehingga kegaluan tersebut malah membuat orang tersebut menjadi lupa tentang apa yang harus dilakukan hari ini. Jadi bisa dibilanhg ia adalah orang yang gagal karena sudah tau masa lalunya belum bisa berbuat apa-apa dengan masa depannya, bukan mulai lagi belajar untuk memulai menata masa depan namun terjebak dalam penyesalan akan masa lalunya dan yang lebih parah lagi ialah lupa bahwa hari ini atau sekarang ini juga ia sudah diberi kesempatan.
            Sekarang tunggu apa lagi, bagi kita yang sudah mulai belajar untuk menata masa depannya tetaplah belajar dan tingkatkan belajarnya, dan untuk yang masih bingung dengan masa depannya termasuk saya ini, mari kita belajar bersama-sama, kita masih diberi kesempatan untuk menata kembali masa depan kita. Masa depan itu tergantung dengan apa yang kita lakukan bukan hanya sekedar apa yang kita pikirkan, percuma kita hanya terlalu sibuk dengan memikirkan masa depan kita hingga lupa bahwa hari ini juga kita sudah diberi kesempatan untuk menata masa depan kita. Masa depan itu tergantung hari ini, karena hari sebentar lagi hari ini akan menjadi masa lalu, sebelum hari ini menjadi masa lalu maka lakukan yang terbaik untuk hari ini karena hari ini adalah masa depan.
“Banyak orang yang terlalu sibuk memikirnya masa depannya hingga mereka lupa apa yang harus mereka lakukan hari ini, sebelum hari ini menjadi masa lalu maka lakukan yang terbaik utuk hari karena hari ini adalah awal dari masa depanmu”


(Oleh Riki Sholikin twitter @Rickyyy_23)