Sabtu, 08 Juni 2013

Partner Hidup

Dalam hidup ini setiap manusia pasti membutuhkan seorang teman.  Seperti yang telah kita ketahui manusia adalah makhluk social yang artinya manusia tidak dapat hidup sendiri, untuk itu manusia membutuhkan teman atau partner hidup. Dalam memilih teman hidup kita boleh pilih-pilih, misalnya kita pilih saja teman-teman yang baik-baik saja. Karena dalam pergaulan ini teman sangat berpengaruh terhadap perkembangan kita terutama dalam berperilaku.  Ada seseorang yang namanya saya lupa berpendapat  bahwa teman kita adalah refleksi atau cerminan dari kita. Jadi jika kita ingin mengetahui seperti apa perilaku seseorang, kita bisa melihat dengan siapa saja ia bergaul.
 Dalam masalah pergaulan ini saya jadi mengingat tentang hadist Nabi yang kurang lebihnya berbunyi begini, jika kita bergaul dengan orang yang jualan minyak wangi minimal kita akan mencium bau wanginya. Dalam hadist itu menjelaskan bahwa dalam bergaul hendaknya kita bergaul dengan orang-orang yang baik. Bergaul dengan orang-orang yang baik bukan berarti kita harus membeda-bedakan dalam bergaul sehingga kita hanya bergaul dengan orang-orang seagama saja atau bergaul dengan orang-orang kaya saja. Kata "baik” disini berkaitan dengan tindakan yang tidak melanggar akidah. Jadi kita boleh bergaul dengan siapa saja asalkan tidak melanggar akidah baik itu orang miskin, kaya, atau beda agama sekalipun.
Partner hidup bukan saja berkaitan dengan teman bermain ataupun teman kerja. Ada yang lebih menarik lagi dari sekedar teman bergaul maupun rekan kerja, yaitu partner hidup yang lebih intim lagi, ia adalah jodoh. Jodoh atau partner hidup yang seperti apa, yang akan menemani baik suka maupun duka dalam menempuh lika-likunya hidup ini. Tidak munafik jika seseorang menginginkan jodoh yang baik, sholeh, sholehah, serta berbakti kepada suami ataupun istri. Namun pertanyaannya adalah apakah jodoh yang kalian inginkan yaitu orang yang memiliki sifat  baik, berbakti pada pasangan, jujur dan setia, ada pada diri anda? Mari kita renungkan bersama.
Bicara tentang mecari partner hidup atau memilih pasangan hidup saya langsung teringat dengan kisah seseorang yang sudah mapan secara ekonomi dan sudah siap menikah namun sampai sekarang belum juga mendapatkan jodoh yang sesuai dengan keinginannya, kalaupun ada yang sesuai itupun lamarannya ditolak. Dalam masa pencarian partner hidup atau pasangan hidup seorang laki-laki tersebut mengalami suatu puncak kegalauanya dan hampir putus asa. Lelaki tersebut merasa bahwa apa yang telah diusahan belum juga membuahkan hasil padahal dalam karirnya apa yang diraihnya sesuai dengan target. Namun untuk masalah jodoh ia merasa gagal. Targetnya ialah menikah disuianya yang ke 25 dan sekarang usianya adalah 27 tahun. Dua tahun masa pencariannya belum mendapatkan jawaban meski ada jawaban berupa penolakan. Laki-laki tersebut mendapat rekomendasi dari temannya untuk menemui salah satu ustad yang diyakini dapat mencarikan jodoh untuknya. Dengan penuh kegalauan laki-laki tersebut mencoba menemui ustad tersebut dengan pikiran bahwa ustad tersebut akan mencarikan jodoh yang tepat untuknya.
Pagi-pagi, kebetulan saat itu hari minggu dan ia libur sehingga ia merasa ini saat yang tepat untuk mencari alamat ustad tersebut. Tidak begitu sulit untuk mencari alamat ustad  tersebut, mengingat ustad tersebut sudah terkenal didaerahnya dan memiliki pondok pesantren yang sangat modern serta memiliki banyak santri. Begitu sampai rumah kediaman pak ustad tersebut diambut dengan hangat oleh ustad tersebut. Akan tetapi ustad tersebut nampak agak terburu-buru, dengan ramah laki-laki tersebut bertanya kepada pak ustad, “Mohon maaf pak, sepertinya anda sangat terburu-buru?” kemudian ustad tersebut menjawab “ mohon maaf mas, hari ini saya akan mengisi dalam kegiatan rutin ahad pagi, karena setiap minggu pesantren ini mengadakan pengajian bersama untuk umum. Dengan sedikit agak kecewa laki-laki tersebut merasa bahwa usaha yang dilakukan dari pagi ini sia-sia, namun demikian laki-laki tersebut malah diajak oleh pak ustad untuk mengikuti kajiannya. Tanpa pikir panjang laki –laki tersebut meng-iya-kan ajakan ustad tersebut dengan harapan setelah mengisi kajian ia dapat bertemu lagi dengan ustad tersebut.
Kajian ahad pagi dihadiri ribuan peserta baik dari santri pondok pesantrennya pak ustad maupun dari kalangan umum beramai-rami mengikuti kajian pak ustad. Entah ini kebetulan atau memang sudah menjadi takdir ALLAH tema kajian kali ini adalah menjemput jodoh. Saya sangat tertarik dengan tema ini, dengan seksama saya mendengarkan kajian dari pak ustad hingga sampailah dalam bab menjemput jodoh. Dalam kajian ini saya merasa tersindir bahwa selama ini apa yang sudah saya lakukan adalah seseuatu yang sangat keliru. Dalam kajian ini tersebut ustad tersebut menerangkan bahwa dalam meilih jodoh itu yang terpenting adalah imannya, kemudian untuk kedua dan seterusnya ialah ketampanan atau kecantikannya, kekayaannya dll. Kemudian disela-sela kajiannya ustad tersebut menerangkan bahwa setiap manusia menginginkan jodoh yang baik akan tetapi dirinya tidak pernah berkaca apakah drirnya sudah baik untuk dijadikan pasangan hidup? Mendengar hal itu laki-laki tesebut merasa merinding seolah-olah dirinya yang disindir oleh ustad tersebut. Dalam hati laki-laki tersebut ia berkata “Saya mulai sadar kenapa teman saya menyuruh saya untuk menemui ustad ini”  dan laki-laki tersebut malah menjadi semangat mendengarkan kajian dari ustad tersebut. Kemudian ustad tersebut melanjutkan  kajiannya mengenai menjemput jodoh. Ustad tersebut menjelaskan kepada peserta kajian (jamaah) bahwa laki-laki muslim itu hanya untuk wanita muslim begitu sebaliknya wanita muslim hanya untuk laki-laki muslim serta yang baik itu hanya untuk yang baik dan yang keji itu hanya untuk yang keji. Mendengar kata-kata tersebut membuat laki-laki tesebut untuk mengintrospeksi dirinya sendiri betapa dia hanya menginginkan jodoh yang baik untuknya sedangkan dianya sendiri belum tentu baik menurut orang lain. Laki-laki tersebut langsung teringat mengapa dia pernah ditolak pinangannya oleh seorang wanita yang baik dan sholehah. Hal itu membuat laki-laki tersebut lebih semangat lagi dalam menjemput jodohnya meski jodohnya masih dirahasiakn oleh ALLAH SWT. Sebagai penutup dari kajian tersebut ustad tersebut memberi semacam tips untuk menjemput jodohnya.
Pertama, catatlah jodoh yang seperti apa yang ingin kamu miliki, dalam hal ini bukan masalah fisik melainkan sifat-sifat apa yang anda inginkan pada calon jodoh anda, misalnya jujur, rajin, selalu sholat tepat waktu, baik hati dan sifat-sifat lainnya yang diinginkan. Kedua lakukan apa yang anda harapkan dari calon jodoh anda. Misalnya jika anda menginginkan jodoh anda adalah seseorang yang selalu sholat tepat waktu maka anda harus melakukan hal tersebut. Kemudian yang terakhir ialah jemput jodoh anda dengan Ta’aruf . mengapa ta’aruf karena dalam islam tidak mengenal istilah pacaran sebagai tahap awal dalam meminang seseorang. Namun demikian bukan berarti pacaran dilarang dalam islam, islam memperbolehkan pacaran asalkan dalam ikatan pernikahan serta komitmen untuk membina rumah tangga. Namun jika kamu sudah mampu untuk menikah namun belum mendapatkan jodoh untuk dinikahi maka disunahkan untuk berpuasa agar terlindungi dari perbuatan zina.
Mendengar kajian dari ustad tersebut laki-laki itu kemudian semakin menyadari mengapa hingga saat ini ia belum mendapatkan jodoh yang diinginkannya. Laki-laki kemudian berpikir positif mengapa ia sampai sekarang belum mendapatkan jodoh dan untuk itu ia berpuasa untuk menjaga dirinya dari perbuatan zina. Dan karena apa yang sebenarnya ingin ditanyakan tidak disangka akan menjadi tema kajian pagi tersebut setelah kajian selesai laki-laki tersebut langsung menemui pak ustad dan mengucapkan terima kasih bahwa kajian tadi sangat bermanfaat bagi dirinya untuk MOVE ON dan menjelaskan kepada ustad tersebut bahwa tujuan laki-laki tersebut menemui ustad tersebut ialah berkaitan dengan jodoh yang tak kunjung tiba. Dengan begitu laki-laki tersebut sadar bahwa jodoh ditangan Tuhan akan tetapi kita harus ambil jodoh itu dari tangan Tuhan,.Hehehehe

Sekian cerita dari saya dan terima kasih


cerita ini terinspirasi dari Pintu Rejeki Trans7 dengan tema menjemput jodoh oleh Ippho Santosa