Sabtu, 20 Juli 2013

Ada Cahaya Dirumah Sakit

Pagi itu tidak seperti pagi-pagi biasanya saya dapat bangun lebih awal dari pada biasanya. Saya bangun kurang lebih pukul setengah empat, berhubung belum memasuki sholat shubuh saya menyempatkan sholat tahajud dan saya tutup dengan sholat witir. setelah sholat witir selesai saya lohat jam baru menunjukan pukul empat lebih dan saya melihat Al quran yang tergeletak di atas meja, kemudian hati saya tergugah untuk membaca Al quran sembari menanti adzan shubuh. Lantunan ayat-ayat suci Al quran mengema di kamar kos yang hanya berukuran 3 x 3. Saya merasa hari itu adalah hari yang sangat tenang semua saya lalui tanpa ada beban.

Setelah beberapa saat terdengarlah adzan subuh saya langsung mengakhiri membaca ayat-ayat Al quran dan langsung mengambil air wudhlu lagi serta sholat fajar 2 rekaat di kos, kenapa sholat fajar dikos dan tidak sekalian di masjid? Karena saya ingat betul pada saat kajian bahwa sebaik-baiknya sholta sunah itu dirumah, sedangkan sebaik-baiknya sholat wajib adalah di masjid. Setelah sholat fajar, saya langsung bergegas ke masjid, dan seperti biasanya jamaah sholat shubuh kurang dari satu shaf dan kurang lebih hanya 6 orang.
Singkat cerita setelah saya selesai sholat shubuh saya, langsung kembali ke kos dan menonton televisi untuk mengisi kegiatan luang di pagi hari, setelah beberapa saat terdengarlah suara ringg tone dari handphone saya ternyata sms dari kakak saya, isi pesan tersebut adalah saya disuruh untuk segera pulang pagi itu juga dan tanpa memberikan alasan atau sebab mengapa saya diharuskan pulang pagi itu juga. Kemudian saya langsung telpon balik kakak saya untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi dirumah, ternyata simbah kakung saya sakit dan dirawat di RSST Klaten, setelah beberapa saat kemudian Om saya juga menelpon saya dan menyuruh pulang pada pagi itu juga, akhirnya pagi itu juga saya pulang ke rumah Om saya yang berada di boyolali dan bareng kerumash sakit bersama-sama.

Setelah sampai rumah sakit saya langsung ketempat simbah dirawat untuk memastikan apa yang sedang dialami simbah, ternyata sakitnya simbah adalah sakit mata, yang dulu-dulu dianggap hanya sebagai sakit mata biasa, ternyata mengalami pendarahan sehingga nampak simbah saya seperti nangis darah, dan ada seseorang yang bilang bahwa bola matanya lepas serta ada juga yang bilang bahwa bola matanya pecah, namun yang jelas simbah harus segera dilakukan tindakan operasi.
Jadwal operasi sudah di tentukan dan semua dari dokter dan anastesi sudah siap namun ada satu hal yang menyebabkan simbah harus ditunda operasinya yaitu kondisi tekanan darah simbah terlalu tinggi serta simbah sudah berusia tua kurang lebih 80 tahun sehingga dokter tidak berani untuk melakukan tindakan. Meski sempat ditunda Alhamdulillah operasi dapat berjalan lancar dan tinggal melakukan perawatan untuk memulihkan kondisi simbah pasca operasi.

Selama merawat simbah pasca operasi ada banyak cerita di rumah sakit, namun dari sekian cerita tersebut hanya satu yang membuat hatu saya tersentuh, yaitu waktu saya jalan-jalan disekitar rumah sakit saya melihat bahwa di rumah sakit tersebut tidak ada mushola kecil namun adanya hanya masjid yang lumayan besar namun letaknya dibelakang rumah sakit sehingga jaraknya lumayan jauh dengan ruang rawat inap. Saya melihat ada ruangan dipojok dan itu hanya ruangan kosong ada ibu-ibu yang sedang melakukan sholat. Perlu diketahui bahwa ruangan itu bukanlah smushola namun ahnya ruangan yang berada di pojokan. Saya perhatikan ruangan itu sangat jarang sekali yang melakukan sholat, kemudian saya memberanikan diri untuk meminjam sajadah untuk sholat juga. Setelah sholat akhirnya saya punya kesempatan untuk berbincang-bincang dengan beliau, bahwa beliau sedang menunggu bapaknya yang sedang sakit kulit karena alah obat atau alergi saya juga tidak begitu paham masalah penyakit. Saya perhatikan ibu tersebut sangat telaten dalam merawat bapaknya, tanpa ada rasa canggung sedikit pun, dan saya perhatikan keluarga dari ibu-ibu tersebut adalah termasuk orang yang taat beribadah, karena saya perhatikan baik itu yang nunggu maupun orang yang sakit sedikit sekali orang yang melakukan sholat dan bisa dibilang hampir semua yang ada disana tingkat kesadaran beragamanya kurang, namun ada keluarga ibu-ibu tadi yang membuat saya merasa iri dengannya. Dalam keadaan seperti itu beliau selalu sholat tepat waktu sedangkan saya juga sama-sama menunggu pasien terkadang masih menunda-nunda sholat, dan satu yang membuat saya merinding waktu saya menemui bapak dari ibu-ibu tadi yaitu yang sedang sakit, beliau melakukan sholat meski terbaring ditempat tidur, dan saya baru menemui orang seperti itu dirumah sakit pada saat itu.

Dalam hati saya sempat bertanya bahwa masih ada orang-orang yang masih tetap istiqomah menjalankan ibadah meski dalam keadaan sakit, sedangkan saya? Yang masih diberi kesehatan serta diberi nikmat sempat namun terkadang masih sering menunda-nunda sholat, sholat yang menjadi tiang agama, namun kita sering menunda-nunda sholat kita, apakah akan kokoh agama kita? Sholat yang pada dasarnya adalah kunci surga sedangkan kita masih sering menunda-nunda, apakah yang kita inginkan adalah Allah menunda-nunda kita semua masuk surga? Inilah yang harus kita semua renungkan, terkadang Allah memberikan cobaan kepada kita agar kita dapat menjadi orang yang lebih bertaqwa. Mari kita semua perbaiki sholat kita, karena sholat adalah tiang agama, sholat adalah kunci surga, dan salah satu fungsi dari sholat seperti yang disebutkan dalam Al quran bahwa sholat mampu mencegah perbuatan keji dan mungkar. Selamat menjalankan ibadah puasa dan semoga keberkahan ramadhan menghampiri kita semua.


Oleh Riki Sholikin (Twitter @Rickyyy_23)