Kamis, 25 Juli 2013

“Hom Pim Pah Alahium Gambreng”

Anak sedang bermain "Hom pim pah"
(Gambar diundiuh dari dipaksangeblog.blogspot.com)
“Hom Pim Pah Alahium Gambreng”
Kita semua yang pernah mengalami masa kecil khususnya kita yang lahir di tahun 90an atau bisa dibilang era sembilan puluhan. Ketika kita sedang bermain baik itu kejar-kejaran, petak umpet atau dalam bahasa jawa lebih sering disebut dengan “delikan” pasti diawal permainan akan di awali dengan “Hom pim pah alahium gambreng” dengan diikuti dengan membolak-balikan telapak tangan kemudian berhenti ketika sampai pada kata gambreng dan yang jumlahnya (telapak tangan bagian dalam atau luar) yang sedikit ia yang menang. Serta ada beberapa daerah juga yang menambahi dengan kata “Mpok Ipah pake baju rombeng”. Hom pim pah mungkin hanya sekedar tos buat menentukan siapa yang jaga atau bisa juga dikatakan untuk melakukan tos siapa yang menang dan siapa yang kalah serta yang kalah pasti jaga tentunya. Dan perlu diketahui bahwa Hom pim pah hanya bisa dilakukan ketika persertanya minimal terdiri dari tiga orang, karena jika hanya terdiri dari dua orang maka akan dilakukan “suit”. Dulu saya tidak begitu tahu apa makna dari kalimat “Hom pim pah alahium gambreng”.

Setelah saya mulai beranjak dewasa, kata “Hom pim pah alahium gambreng” sudah mulai tidak terdengar lagi, bahkan sudah sangat jarang sekali saya dengarkan di lingkungan sekitar saya, mengapa demikian? Hal itu terjadi karena sudah sangat jarang anak-anak bermain petak umpet atau kejar-kejaran, dan sekarang anak-anak lebih suka dengan permainan modern semacam play station (PS) atau mereka malah lebih asyik dengan menonton telivisi dan kebetulan untuk saat ini hampir setiap rumah memiliki telivisi sehingga tidak ada kesempatan untuk bermain dengan teman-temannya.

Setelah saya beranjak kuliah, saya diajak oleh salah satu teman saya untuk mengikuti sebuah seminar tentang permainan tradisional yang pembicaranya salah satunya adalah Zaini Alif, beliau adalah seorang peneliti permainan tradisional serta sering mengadakan kegiatan yang bertujuan untuk melestarikan permainan tradisional yang sudah mulai punah. Kemudian saya tertarik untuk mengikutinya karena saya sebelumnya juga pernah melihat seminar Zaini Alif namun hanya lewqat video dari teman saya dan saya ingin melihatnya secara langsung.

Singkat cerita pada saat seminar dimana Zaini Alif sebagai pembicaranya beliau mengawali pembicaraannya dengan kata “Hom pim pah alahium gambreng” dan itu sudah menjadi ciri khas beliau sebelum memulai untuk mengisi seminar. Mendengar kata itu (Hom Pim pah alahium gambreng) saya dan mungkin hampir semua peserta seminar langsung teringat dengan masa kecilnya dan mulai bernostalgia dengan ingatan tentang masa kecilnya. Dalam seminar itu beliau menjelaskan apa sebenarnya makna dari kalimat “Hom pim pah alahium gambreng” ternyata menurut beliau kalimat itu memiliki arti yang sangat dalam. Kata “Hom pim pah alahium gambreng” berarti  dari Tuhan kembali ke Tuhan. Itu artinya ketika seorang mulai bermain Hom pim pah sebenarnya ia dalam hatinya sudah mempunyai pilhan apakah akan meilih membuka telapak tangan atau menutup telapak tangan, serta setelah itu ia menyerahkan hasilnya kepada Tuhan, apakah akan menang atau kalah itu adalah rahasia Tuhan, karena entah mengapa pada saat bermain itu tidak ada istilah loby-meloby layaknya anggota dewan kita yang terhormat sehingga dapat mengarahkan siapa yang menang dan siapa yang kalah.

Makna Hom pim pah dari Zainin Alif mungkin menjelaskan berdasarkan kata dan cara bermainnya, dalam hal ini saya agak berbeda dalam menafsirkan mengenai makna dari permainan Hom pim pah. Saya mencoba untuk mengambil  makna dari permainan ini (Hom pim pah alahium gambreng) dalam permainannya setelah kalimat gambreng diucapkan semua bersama-sama menentukan pilihan apakah akan membuka tangan (putih) atau menutup telapak tangan (hitam) dan dalam aturannya entah itu hitam atau putih yang paling sedikit adalah pemenangnya. Hal itu menunjukan bahwa minoritas lah yang menjadi pemenangnya. Kemudian saya tarik penafsiran itu dalam kehidupan disekitar saya, di Indonesia etnis china atau tionghoa adalah kaum minoritas namun dalam etos kerjanya kebanyakan dari mereka adalah berdagang, atau setidaknya memiliki toko dari pada kerja kantoran atau ikut orang lain, mereka tetap bekerja dengan gigih karena ia sadar bahwa ia adalah kaum minoritas sehingga ia harus menunujukan kemampuannya agar ia diakui. Sehingga tidak jarang hampir diseluruh dunia orang-orang etnis tionghoa menjadi orang sukses dan bisa menguasai perekonomian dimana ia manjadi orang minoritas, meski tidak semua orang tinghoa yang merantau sukses semua, namun kebanyakan menjadi orang yang sukses.

Lebih jauh lagi saya teringat dengan hadist Nabi Muhammad SAW, saat itu saya sedang melihat film sang pencerah ada salah satu murid dari KH Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah)  menyampaikan kutipan yang di ambil dari salah satu hadist “ Islam bermula dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing. Maka berbahagialah orang yang diasingkan tersebut (HR Muslim)” . yang perlu digaris bawahi ialah kata berbahagialah orang yang diasingkan, jika kita kaitkan dengan permainan hom pim pah tadi, maka sesuai dengan aturan mainnya bahwa orang yang asing atau minoritas adalah orang yang menang (bahagia).

Kemudian ada lagi, masih berasal dari hadist Nabi SAW juga, hadistnya berbunyi “Bahwasannya Rosululloh SAW pernah bersabda bahwa sungguh umatku nanti akan menjadi 73 golongan, 1 golongan akan masuk surga dan 72 golongan akan masuk neraka, kemudian seorang sahabat bertanya siapa yang masuk surga itu ya Rosulalloh? Rosul menjawab yaitu orang-orang yang menghidupkan sunahku  dan para sahabtaku”. Sekarang kita kaitkan lagi dengan permainan hom pim pah bahwa golongan minoritas lah yang menang dimana hanya ada 1 golongan yang akan masuk surga sedangkan 72 golongan (mayoritas) termasuk golongan yang kalah (masuk neraka)

Ternyata di dalam permainan Hom Pim Pah Alahium Gambreng menyimpan banyak makna. Namun demikian dalam memahai ini kita tidak boleh sesuka hati kita, yang saya maksud golongan minoritas adalah orang yang tetap berbuat serta berakhlak baik meski ia berada di lingkungan yang buruk, dengan kata lain ia tetap menjaga akhlak baiknya, menjaga agamanya meski ia berada pada lingkungan yang penuh dengan kemaksiatan. Ingat bahwa Nabi diturunkan oleh Allah pada situasi yang berbeda-beda namun kebanyakan dari nabi diturunkan pada tempat yang penuh dengan kemaksiatan serta penuh kekafiran, sehingga sebagai orang minoritas pilihan Allah Swt ia diutus untuk merubah akhlak mereka sehingga menjadi orang-orang yang berada di jalan Allah.

Sebagai penutup meski keadaan kita sebagai orang yang minoritas asalkan kita masih dalam jalurNya (jalan Allah) maka berusahalah untuk konsisten sebagai minoritas, jika kita tidak bisa mengubah lingkungan mayoritas minimal kita tidak boleh terpengaruh oleh lingkungan mayoritas yang kebanyakan jauh dari agama. Saya tidak mengatakan bahwa semua tempat hanya menoritas lah yang baik namun itu hanya beberapa tempat saja karena pembahasan ini lebih saya tujukan pada orang yang berada di lingkungan yang mayoritas jauh pada agama. Jika diantara kita semua telah berada dalam lingkungan mayoritas memiliki ketqwaan terhadap Allah misalnya di lingkungan pesantren atau majelis ilmu (pengajian) dll patut kita syukuri karena dengan begitu kita akan lebih bisa meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita semua terhadap Allah Swt. Sekian dari saya semoga bermanfaat J

Terima kasih  

Oleh Riki Sholikin (Twitter @Rickyyy_23)