Selasa, 23 Juli 2013

Puisi

Puisi ini sebenarnya pernah saya posting di blog lama saya, namun sekedar untuk merefresh lagi saya reblog lagi. Puisi tentang “tangisan kerinduan” saya reblog lagi sebegai nostalgia saya dengan teman lama saya karena bagaimana pun juga dia sampai sekarang masih tetap menjadi teman saya, iya sampai kapanpun, tidak peduli apakah ia masih menganggap teman atau tidak, masih ingat saya atau tidak.

Dan perlu diketahui bahwa teks asli (udah kaya teks proklamasi aja) masih terpasang di kamar kos saya.  Saya berusaha untuk menuliskan dalam blog ini dengan font yang sama dengan aslinya.


“Tangisan Kerinduan”
Indahnya Waktu Bersamamu
Tapi Kini Hanyalah Sebuah Mimpi
Dibenakku Masih Ada Dirimu
Kau Takkan Pernah Tergantikan DIhati Ini                                 

Sekarang Aku Hanya Sendirian
Bersama Kenangan-kenangan Manismu
Tak Dapat Kutahan Tangis Ini
Tangis Rindukan Cintamu Kembali

Kini Hanyalah Sedih Yang Kurasakan
Dan Rasanya Aku Ingin Menangis
Saat Teringat Kata-kata Itu
Aku Hanya Ingin Kembali
Kembali Mengisi Hatimu Kasih
(C.r.z.p.p)

Puisi tersebut dibuat oleh seseorang, lebih tepatnya pada kelas dua SMA yang lalu, kebetulan Orang yang membuat puisi tersebut beda sekolah akan tetapi kami sering berpapasan dijalan. Bisa dibilang yang membuat puisi tersebut adalah seseorang yang pernah dekat denganku, meski sekarang dia sudah jauh meninggalkanku dengan banyak pertanyaan, dan pertanyaan-pertanyaan itu sangat membuatku tak nyaman dan sukar untuk melupakannya. Tidak ada yang salah dalam perjalananku dengannya karena dengan begini aku dan dia mungkin bisa menjadikan pelajaran dan menambah kita menjadi orang yang lebih dewasa.
Emang harus aku akui awalnya aku tidak terima dengan keputusannya, namun jika dipikir-pikir banyak hikmahnya juga dari kejadian itu. Saya berusa mengambil positif dari kejadian itu. Saya kadang berpikir mungkin ini jalan Tuhan agar aku sadar bahwa pada dsarnya kita tidak bisa bersatu karena suatu alasan yang mendasar, yaitu perbedaan agama. Membangun hubungan yang serius mungkin itu hanya sebuah lelucon mengingat usiaku dengannya pada saat itu baru sekitar 17 tahun. 
Bukan bermaksud untuk mengingat kembali saat-saat bersamamu, akan tetapi setidaknya aku pernah belajar banyak hal padamu tentang bagaimana aku bisa memahami orang lain, bagaimana aku harus bersikap dengan orang lain, seta banyak hal yang kau berikan kepadaku.
Sekarang dia sudah bahagia dengan pilihannya, dan aku hanya bisa berdoa agar dirimu selelu diberi kesehatan dan semoga apa yang kamu cita-citakan dapat  tercapai.


“Dari Sahabat Untuk mu “C “(^o^)v