Selasa, 23 Juli 2013

TIKUS KECIL

Tidak seperti biasanya pagi ini saya setelah sahur langsung  tidur lagi karena malam harinya saya merasa tidur saya kurang nyenyak dan secara kuantitas mungkin hanya sekitar 2 jam, padahal paginya saya harus bangun lagi untuk santap sahur. Saya memaksakan diri saya untuk tidur lagi setelah sahur, karena pada saat itu saya sebenarnya tidak merasa ngantuk namun karena paginya saya harus mengantar simbah untuk kontrol ke dokter lagi ya kira-kira hampir membutuhkan waktu sekitar setengah hari karena harus mengantri banyak dan perjalanan juga lumayan jauh. Meski setelah sahur saya tidur lagi namun saya masih bisa bangun sekitar jam 5 pagi, sehingga saya masih diberi kesempatan untuk menjalankan ibadah sholat subuh tapi saya melewatkan sholat subuh berjamaah.

Pagi itu saya langsung mandi dan mempersiapkan segala keperluan untuk menuju ke rumah sakit di daerah klaten untuk mengantar kontrol simbah. Segala yang dibutuhkan sudah saya bawa termasuk motor juga sudah saya panasi sehingga tinggal berangkat. Perjalanan menuju kerumah sakit membutuhkan sekitar satu jam perjalanan karena saya tidak berani ngebut karena membawa simbah yang sudah tua, takutnya simbah saya malah senam jantung di jalan, hehehe

Satu jam telah berlalu dan perjalanan lumayan lancar. Setelah saya mulai masuk ke halaman rumah sakit, saya di hentikan oleh petugas parkir. Karena yang mau masuk ke rumah sakit lumayan banyak sehingga antrian lumayan banyak dan petugas parkir agak kewalahan. Sambil menunggu antrian saya mulai melihat-lihat disekita saya, dan saya melihat dikaca tempat petugas parkir mencatat nomor kendaraan ada semacam tarif parkir, yaitu parkir kendaraan roda dua Rp 1.500 dan untuk roda empat Rp 2.500 dan masih ada tarif untuk bus dan mobil box namun saya tidak begitu memperhatikan.

Melihat tarif parkir yang di patugas parkir bagian depan saya tidak begitu memperdulikan, karena tarif parkir segitu adalah tarif yang wajar karena pihak pengelola parkir berani memberikan garansi jika kehilangan akan diganti sehingga mampu membuat  pengunjung rumah sakit merasa lebih aman dengan kendaraannya.

Waktu berjalan dengan cepat, meski mendapat antrian nomor 26 untuk periksa dan konsultasi dengan dokter namun hal tersebut berjalan dengan cepat, mungkin ini hikmah dari puasa, meski lama menunggu dan terkadang rasa kantuk kerap menghampiri namun saya tidak merasa bosan karena hal ini saya lakukan untuk berbakti kepada simbah saya yang sangat sayang terhadap cucunya, termasuk saya sendiri sebagai salah satu cucunya.

Waktu menunjukan pukul 10.45 dan Alhamdulilah cuaca berawan dan agak mendung sehingga jalanan jogja solo tidak begitu panas, saya langsung mengambil motor dan bergegas untuk pulang. Setelah sampai di pintu keluar ada petugas parkir yang sedang bertugas untuk mengecek kartu parkir dan sekaligus membayar biaya parkir. Di pintu belakang agak ramai sehingga saya sesekali melihat kiri kanan untuk mengatasi rasa bosan. Ada sebuah pemandangan yang aneh yang saya lihat, saya melihat daftar biaya parkir di kaca tempat petugas parkir meminta biaya di tutup dengan plester sehingga tidak seperti pada tempat petugas parkir bagian depan yang masih terlihat jelas berapa tarif parkir untuk berbagai macam kendaraan. Saya masih ingat betul bahwa tarif untuk parkir kendaraan roda dua yaitu Rp 1.500. 

Antrian semakin dekat dan sebentar lagi giliran saya untuk membayar parkir saya, namun ada yang aneh dengan petugas parkirnya yaitu petugas parkirnya menarik biaya parkir kendaraan roda dua sebesar Rp 2.000 padahal seharusnya hanya Rp 1.500. Saya agak mulai curiga dengan petugas parkirnya, kemudian pas giliran saya, saya menyakan “berapa Pak, untuk dua motor? (untuk motor saya dan motor kakak saya) Tukang parkir itu menjawab “Rp 4.000 Mas”. Kemudian sambil memberikan uang lima ribuan saya menanyakan kembali untuk mempertegas “ Empat ribu atau tiga ribu Pak?” tanpa berkata apa-apa Bapak tukang parkir memberikan kembalian kepada saya dua ribu rupiah, padahal saya sering melihat kalau tukang parkir tersebut memberlakukan tarif Rp 2.000. setelah itu saya langsung tancap gas untuk pulang.

Sesampai di rumah kakak saya bertanya kepada “berapa tarif parkir tadi? (Owh iya sebelumnya saya sudah sering bolak-bolak untuk mengantar kontrol namun untuk biaya parkir biasanya kakak saya yang bayar, dan untuk tadi siang kebetulan saya yang membayar) Saya menjawab “Saya kasih lima ribu, Sebelum saya bayar saya tanya dulu katanya empat ribu terus saya tanyakan lagi tiga ribu atau empat ribu terus dia kasih kembalian dua ribu” kemudian kakak saya menjawab “Aku biasanya kalo bayar empat ribu terus wie, tak kasih lima ribu kembalinya seribu terus” kemudian saya jawab “lha pas masuk ke rumah sakit aja, aku liat tarifnya untuk sepeda motor Cuma Rp 1.500 kok jadi kalo dua motor ya berarti Rp 3.000 lah.

Kejadian tentang tukang parkir yang menyalahgunakan profesinya sebagai penagih biaya parkir untuk meminta biaya lebih dari yang seharusnya padahal tarif hanya Rp 1.500 namun petugas parkir dengan seenaknya menarik biaya parkir kepada pengguna jasa parkir dengan menaikan sebesar lima ratus rupiah sehingga pengguna parkir harus membayar sebesar Rp 2.000. Pada dasarnya petugas parkir hanya mengambil lima ratus rupiah tiap kendaraan, namun perlu diketahui bahwa setiap harinya ada seribu lebih kendaraan yang keluar masuk, sehingga bisa kita hitung berapa ratus ribu yang akan mereka kantongi dalam sehari?
Jika kita lihat jauh ke belakang, banyak pejabat-pejabat kita yang terlibat kasus korupsi, mungkin dari pejabat itu hanya menerima suap atau sengaja menyelewengkan uang rakyat hanya sekitar 2% dari nilai proyek, namun perlu diketahui jika nilai proyek itu katakanlah 1 Triliyun, berapa 2% nya? Kurang lebih 20 Milyar bukan?

Mungkin kita selama ini terlalu menganggap sesuatu yang kecil meski itu adalah tindakan yang bisa di bilang tindakan yang melanggar hukum atau bisa dibilang korupsi kecil adalah sesuatu yang wajar, dan kita tidak mau peduli apa yang akan terjadi jika korupsi-korupsi kecil tersebut dibiarkan seperti halnya tukang parkir yang nakal dengan korupsi sebesar lima ratus rupiah kepada tiap pengguna jasa parkir.

Tukang parkir yang nakal mungkin hanyalah tikus-tikus kecil yang doyan korupsi uang recehan, namun jika dibiarkan terus menerus tikus kecil tersebut akan menjelma menjadi tikus besar bahkan menjadi tikus raksasa jika diberi jabatan serta kondisi dan situasi sangat mendukung untuk melakukan tindak korupsi. Bagaimana tidak akan menjadi tikus yang besar, sebagai tukang parkir saja yang ternyata memiliki kesempatan dan kondisi mendukung untuk melakukan tindak korupsi atau bisa dikatakan sebagai penipuan dan itu hanya bernilai lia ratus rupiah, apalagi jika ia diberi kesempatan atau amanah menjadi pejabat, bukan uang recehan lagi yang ia kumpulkan mungkin bisa jutaan atau bahkan milyaran rupiah dengan mencuru uang rakyat.

Bukannya saya pelit, kemudian saya menulis ini, karena tiap kali parkir saya harus membayar Rp 2.000 padahal seharusnya saya hanya bayar Rp 1.500. Sekali lagi saya rela, bahkan sangat rela hanya sekedar merelakan uang lima ratus rupiah. Namun bukan begitu caranya, apa yang dilakukan oleh oknum tukang parkir tersebut adalah cara yang tidak baik, ia menjadi tikus-tikus kecil yang korupsi uang-uang receh, yang mungkin bagi sebagian orang uang lima ratus rupiah sudah tidak berarti lagi dimatanya. Saya hanya merasa kasihan jika uang-uang receh yang mereka kumpulkan dengan cara yang tidak baik dari pengguna jasa parkir dan uang tersebut digunakan untuk menafkai keluarganya. Perlu diketahui bahwa hal tersebut tidak dibenarkan oleh agama manapun, dan dalam agama islam telah mengajarkan bahwa doa orang yang memakan barang haram termasuk rejeki yang diperoleh dengan cara yang haram, 40 hari doanya tidak diterima.

Tak henti-hentinya saya berpikir tentang kasus korupsi yang terjadi di negeri ini, mereka orang-orang yang menghujat koruptor dengan sesuka hatinya, bahwa koruptor itu layak dihukum mati, koruptor itu biadab lebih hina dari pada tikus-tikus got, apakah orang yang menghujat para koruptor tersebut jika di hadapkan pada kondisi dan situasi dimana ia memiliki peluang untuk korupsi, apakah ia juga akan tergoda untuk korupsi? Sederhana saja, ternyata seorang tuklang parkir saja, dan saya yakin jika tukang parkir yang suka mengambil uang receh pengguna jasa parkir tersebut jika ditanyai mengenai koruptor mereka akan menghujatnya matian-matian, namun apa yang terjadi? Mereka ternyata melakukan hal yang sama dengan koruptor ketika diberi ksesempatan untuk mengambil uang yang nilainya hanya sebesar lima ratus rupiah saja, ia juga tergoda untuk mengambilnya kan?

Sudah waktunya kita bangun negera ini sebagai negara anti korupsi, kita tunjukan bahwa kita peduli bahwa kita adalah generasi muda yang peduli dengan kemajuan bangsa ini, yaitu dengan menegur tikus-tikus kecil yang doyan dengan uang recehan seperti si tukan parkir nakal. Jika kita mengetahui adanya tikus-tikus kecil disekitar kita hendaknya kita untuk menegurnya bahwa apa yang dilakukannya adalah perbuatan yang tidak dibenarkan.

Sebagai penutup perlu kita ketahui bahwa tukang parkir nakal yang saya sebut sebagai tikus kecil bukan berarti semua tukang parkir nakal, namun tikus kecil yang doyan uang recehan tersebut adalah salah oknum tukang parkir yang nakal. Dan saya yakin bahwa diluar sana masih banyak tukang parkir yang sangat jujur dan bekerja dengan ikhlas serta bisa di bilang orang yang taat, karena pada dasarnya mereka bekerja untuk mencari nafkah untuk keluarga. Namun saya juga tidak bisa memungkiri bahwa diluar sana masih banyak tikus-tikus kecil yang berkeliaran yang pelakunya adalah oknum-oknum petugas yang melakukan pungutan liar (pungli) baik di pasar-pasar, kantor-kantor kelurahan dan kecamatan serta masih banyak terjadi di instansi pemerintahan terutama untuk instansi pelayanan publik. Dan sekali lagi kita tidak boleh menilai bahwa semua pejabat pemerintah yang melakukan pungli dan saya yakin pejabat yang melakukan opungli hanya beberapa oknum saja, dan masih ada yang jujur. Tegur tikus-tikus kecil itu sebelum ia akan tumbuh menjadi besar.


Terima kasih J