Jumat, 16 Agustus 2013

Lain Dulu, Lain Sekarang

Lain Dulu Lain Sekarang

Dulu aku mempunyai segudang impian,
Jika aku kaya nanti aku akan berbagi dengan sesama
Aku akan rajin sembahyang,
Jangankan sholat wajib, sholat dhuha dan tahajud akan ku jalani

Tapi itu dulu. .
 Ketika aku tak punya apa-apa
Hidup masih ditanggung orang tua
Jangankan sepeda motor, sepeda onthel pun aku tak punya

Kini aku jadi orang kaya
Semua aku punya
Harta seakan melimpah ruah
Rumah dimana-mana

Dulu yang jadi impian seakan lupa
Jangankan berbagi untuk sesama, untuk orang tuapun ia lupa
Sholat hanya menjadi pengisi waktu luang
Jangankan sholat dhuha dan tahajud, sholat wajib pun sering lupa.

Puisi diatas saya buat hanya untuk mengisi waktu luang, saya iseng-iseng menulis itu semua mengalir begitu saja, bahkan tidak ada sedikit pun niatan untuk menyindir siapa pun, jika pun itu menyindir pasti itu saya yang merasa tersindir.

Hidup memang tak akan selalu diatas, maupun selalu di bawah. Ada saatnya kita yang sekarang diatas pasti akan jatuh juga kebawah, begitu juga sebaliknya ketika kita sekarang berada dibawah, kita semua percaya bahwa suatu saat ada skenario Tuhan yang membuat kita berada diatas, entah bagaimana caranya karena itu semua adalah skenario Tuhan. Skenario Tuhan adalah sebuah rahasia yang tak seorang pun yang mengetahuinya. Skenario tuhan terkadang bagi kita itu adalah sebuah musibah namun bagi Tuhan itu adalah yang terbaik bagi kita, karena Tuhan adalah sebaik-baiknya pembuat rencana.

Dari puisi tersebut saya hanya menyampaikan sedikit mengenai kondisi kehidupan yang kadang dibawah dan terkadang juga kita berada di atas, mungkin istilah roda kehidupan lebih tepat untuk memaknai itu semua. Roda terus berputar begitu juga dengan hidup bahwa hidup akan terus berjalan meski kita hanya diam, siang akan berganti dengan malam meski kita hanya tidur-tiduran serta bermalas-malasan.

Ketika berada dibawah ada banyak cita-cita panjang misalnya, mungkin dalam keadaan dibawah ini banyak sekali cita-cita yang disandarkan tentang apa yang akan kita lakukan setelah kita berada di atas. Jika suatu saat kondisi telah berubah dimana kemiskinan berubah menjadi kekayaan, kesedihan berubah menjadi kebahagiaan, kesakitan berubah menjadi kesenangan dan tangisan berubah menjadi tawaan aku akan menjadi orang yang selalu taat terhadap perintah Allah karena aku tak perlu lagi bersusah payah mencari materi, aku lebih bisa  focus dalam beribadah. Akan selalu berbagi terhadap sesama karena mungkin dulu ia sadar bahwa materi yang ia punyai hanya titipan, hidup ini akan terasa indah jika semua itu dapat terjadi, begitulah saat ia bercita-cita dalam angannya.

Roda kehidupan berputar begitu cepat, apa yang menjadi doa di dengar oleh Allah, kini ia menjadi orang yang berada, materi sudah melimpah, namun ia seakan lupa apa sebenarnya yang menjadi cita-citanya. Yang dulu katanya ia akan rajin dan focus beribadah sekan lupa dengan siapa yang memberinya kekayaan, jangankan untuk beribadah untuk tidurnya sendiri saja ia seakan mencuri-curi waktu, kini ia tenggelam dalam kesibukannya, tenggelam dalam kesibukan adalah tidak lain ketakutan akan kehidupan yang dulu yang serba kekurangan. Ia lupa kepada siapa yang memberinya kekayaan.

Dulu jika kaya akan selalu berbagi, tapi ketika kaya apa yang terjadi? Lagi-lagi ketakutan akan menjadi orang yang dulu seakan menjadi celah bagi setan untuk selalu menggodanya agar ia lalai dengan cita-citanya yang akan selalu berbagai dengan sesama. Materi yang dulu susah dicari, ketika kini bergelimang materi ia enggan untuk berbagi.

Dulu tinggalah dulu, yang ada hanyalah sekarang. Orang yang sekarang sudah lupa akan cita-cita dan keinginannya di masa lalu.mungkin ini  yang dinamakan move on. Tapi move onadalah melupakan segala masa lalu dan berusaha untuk menatap ke depan. Namun dalam cerita ini mungkin ia salah dalam memaknai kata move on. Ibadah dan segala kebaikan yang telah kita perbuat bukanlah untuk Tuhan, karena Tuhan tidak butuh itu semua, karena kita beribadah dan beramal sholeh tidak lain untuk diri kita sendiri. Sedangkan berbagi bukanlah memberi kepada orang lain apa yang kita miliki, akan tetapi berbagi disini adalah memberikan apa yang menjadi hak mereka, karena dalam agama juga mengajarkan bahwa ada sebagian dari harta kita adalah milik orang lain yang membutuhkan.

Setiap manusia pasti memiliki cita-cita yang mulia seperti layaknya cerita fiksi diatas. Sebenarnya ia memiliki cita-cita yang sangat bagus, ia akan focus dalam beribadah serta slalu berbagi dengan sesama jika keadaan telah berubah. Namun setelah roda kehidupan telah berputar apa yang terjadi? Ia seakan lalai dengan apa yang menjadi cita-citanya. Ada cara pandang salah dalam memandang hidup (pada ilustrasi cerita diatas). Ia memiliki cita-cita yang begitu mulia namun secara waktu ia telat dalam mewujudkannya. Ia menunggu nanti jika sudah berubah, untuk sesuatu yang mulia sebaiknya ia bisa langsung dalam menerapkannya jangan menanti, karena setan memiliki ribuan cara untuk menggoda iman seseorang, baik itu memalui kemiskinan maupun kekayaan.

Jika dalam keadaan serba kekurangan dan kesusahan saja ia sudah menjadi orang yang rajin beribadah, apalagi ketika ia sudah menjadi orang yang meiliki segalanya, ketika dalam keadaan susah ia masih tetap berbagi, apalagi dalam keadaan harta berlimpah? Begitulah analoginya kita berbagi tidak harus menunggu mampu, kita beribadah tidak harus menunggu luang, karena dengan berbagi kita akan di mampukan oleh Allah SWT, karena dengan ibadah kepada Allah lah kita akan di longgarkan waktunya.

Semoga bermanfaat, jika tidak bermanfaat setidaknya ambil yang baik-baik saja dan buang jauh-jauh segala keburukannya.

Oleh Riki Sholikin

                                                                                                            
Read more ...

Rabu, 14 Agustus 2013

Merantau

Merantau
Awal puasa tahun ini terjadi perbedaan antara salah satu ormas islam dengan keputusan menteri agama melalui sidang isbat, namun hal itu tidak membuat saya merasa bingung mau puasa ikut siapa? Ikut salah satu ormas islam atau keputusan sidang isbat. Saya sudah memantapkan untuk puasa dahulu yaitu mengikuti salah satu ormas islam terbesar di Indonesia dan saya tidak mempermasalahkan hal itu. Karena masing-masing mempunyai dasar.

Puasa ramadhan hari demi hari dilalui tanpa pernah menghitung layaknya anak-anak kecil yang sering menghitung sudah puasa berapa hari, karena bukan puasanya yang dihitung akan tetapi kurang berapa lama lagi lebarannya. Lebaran bagi anak kecil mungkin sudah menjadi pendapatan tahunan mereka, karena sudah menjadi tradisi bahwa mereka akan mendapatkan THR dari sanak saudara.

Sebenarnya sangat gampang untuk mengetahui kapan lebaran akan tiba, bukan melalui metode hisab maupun rukyat layaknya Kementrerian Agama dan Ormas Islam dalam menentukan lebaran yaitu tanggal 1 Syawal, tetapi melaui info mudik. Karena ketika akan lebaran banyak televisi menjadikan info mudik sebagai salah satu berita utama di setiap harinya. Sehingga jika ada info mudik itu artinya sebentar lagi lebaran akan tiba J.

Info mudik diteleivisi ternyata banyak membantu bagi mereka yang akan mudik, yaitu untuk mengetahui kondisi jalan yang akan dilalui lancar atau macet, serta dimana saja jalur alternatifnya yang mungkin akan membuat perjalanan menjadi agak cepat. Lebaran bagi kebanyakan orang dijadikan sebagai momentum yang tepat untuk bertemu dengan orang tua beserta sanak saudara setelah sekian lama hidup di tanah rantau. Jadi ada yang kurang dari lebaran jika tidak diisi dengan mudik pulang ke kampung.

Mudik lebaran adalah salah satu bentuk budaya, karena dalam mudik lebaran banyak makna yang positif maka sampai saat ini mudik lebaran khususnya di Indonesia kini seakan menjadi tradisi wajib saat akan lebaran dan dijadikan momentum bertemunya keluarga besar.

Kegiatan mudik hanya dilakukan mereka yang memiliki pekerjaan diluar daerahnya atau sering disebut dengan merantau. Jika kita lihat sama-sama mengapa orang yang merantau kebanyakan dari mereka hanya mengontrak rumah dan tidak membeli rumah di tanah rantaunya? Dan tidak bisa dipungkiri juga ada sebagian orang yang membeli rumah atau membangun rumah di tanah rantaunya sehingga ia menjadi warga disana karena alasan pekerjaan, namun jika di prosentase kebanyakan orang yang merantau lebih suka mengontrak rumah dari pada membeli atau membangun rumah. Dan anehnya lagi mereka yang bekerja diperantauan sehingga dapat menabung sebagian dari penghasilannya untuk membangun rumah ditanah kelahirannya, dan setiap lebaran ia pulang atau sekarang lebih dikenal dengan istilah mudik.

Gambaran dari orang merantau yang lebih suka mengumpulkan uang untuk membangun rumah di tanah kelahirannya dari pada membeli rumah atau membangun rumah di tanah rantaunya adalah gambaran mengenai hidup sebanarnya. Apa maksud dari hidup sebenarnya? Apakah hidup kita saat ini belum benar-benar hidup? Hidup yang sebenanrnya bukanlah hidup kita saat ini yaitu hidup didunia, namun hidup sesudah mati dan hidup sesudah mati itulah hidup yang sebenarnya, karena hidup di dunia ini hanya mampir ngumbe (baca ; minum) artinya hidup didunia ini hanya sesaat, sedangkan hidup sesudah mati (akherat) itu kekal abadi apakah masuk surga atau neraka. Konsep orang merantau dalam hidup ini ialah dunia ini ibarat tanah rantau, seperti ditanah rantau kita bekerja mengumpulkan uang untuk membangun rumah ditanah kelahirannya (kampungnya), itu artinya dunia ini atau di dunia saat ini kita harus bekerja yaitu berlomba-lomba dalam kebaikan untuk membangun rumah kita, rumah yang dimaksud bukanlah rumah seperti rumah di kampung halaman, akan tetapi sebuah rumah di surga, sehingga harapan kita sesudah mati adalah kembali (mudik) dimana tempat tersebut sudah kita bangun di tanah rantau (hidup di dunia) melalui kebaikan-kebaikan yang telah kita perbuat serta segala ibadah yang ikhlas kita tujukan hanya untuk Allah SWT.
Mudik yang sebenarnya mudik adalah menikmati apa yang telah selama ini kita peroleh berupa hasil kerja keras kita didunia, ditanah rantau mereka rela untuk berhemat agar bisa memiliki tabungan dan membangun rumah di tanah halamannya, seperti yang dijelaskan diatas bahwa hidup kita didunia hanya seperti ditanah rantau siapa yang bekerja keras maka ia dapat membangun rumah atau istananya di kampung halaman, karena mereka sadar bahwa tidak selamanya mereka akan hidup ditanah rantau, ada saatnya yaitu ketika sudah mulai tua, sudah waktunya untuk menikmati hasil kerja kerasnya. Seperti hidup ini, bahwa tidak selamanya orang akan hidup terus didunia, mereka satu persatu akan kembali (meninggal) jadi mulai dari sekarang persiapkan diri kta dengan kebaikan-kebaikan dengan sesama serta selalu taat dan bertaqwa kepada Tuhan YME dengan tidak melupakan kewajiban kita sebagai umat bergama untuk selalu beribadah. Selalu beribadah bukan berarti hidup ini hanya diisi dengan sembahyang, kita tetap tidak boleh melupakan hidup di dunia ini, tapi kita juga tidak boleh menjadikan hidup didunia ini sebagian tujuan. Karena tujuan hidup kita adalah hidup sesudah mati, yaitu surga.

Kesimpulan dari artikel ini adalah hidup kita di dunia ini, layaknya kehidupan orang ditanah rantau, mereka bekerja untuk bisa kembali membangun istannya (rumah) dikampung halamannya karena mereka sadar bahwa tidak selamanya mereka akan tetap hidup ditanah rantau, begitu juga hidup ini bahwa hidup didunia ini kita gunakan ibarat tanah rantau, karena tidak selamanya orang akan kekal hidup didunia karena setiap manusia pasti akan mengalami mati, dan itu tinggal menunggu waktu tak seorang pun mengetahuinya. Ketika orang sudah menganggap bahwa dunia ini ibarat tanah rantau maka mereka akan bekerja dengan keras yaitu dengan berlomba-lomba dalam kebaikan sert bertaqwa kepada Allah swt, sehingga setelah manusia mati ia akan kembali ke istananya di surga, karena kebaikan serta ketaqwaannya terhadap Allah swt.

Artikel diatas saya tulis terinspirasi saat saya mendenagrkan kajian dari Bunda Enik Harjajanti, beliau adalah aktifis dakwah dari Aisyiyah Yogyakarta dengan tema “Mudik yang Sebenarnya”, di salah satu stasiun televisi swasta, semoga bisa di ambil manfaatnya

Terima kasih   
Read more ...

Kamis, 01 Agustus 2013

Siapa Yang Patut Dikasihani? Kita atau Mereka?

Di suatu pagi, disaat fajar menyongsong di ufuk timur, disaat orang-orang mulai bangun dari tidurnya, dan orang-orang memulai aktifitasnya masing-masing, terlihat seorang bapak loper koran yang sudah lanjut usia sedang menawarkan korannya kepada pengguna jalan yang sedang berhenti di lampu merah di sebuah perempatan jalan ibu kota. Bapak yang jalannya tertatih-tatih karena lumpuh yang dideritanya sejak kecil itu merawat anak laki-lakinya yang masih berumur 5 tahun itu sendirian, hal ini karena istrinya sudah meninggal 3 tahun lalu karena penyakit yang menggerogoti tubuhnya semakin parah karena tidak pernah di obati akibat keterbatasan biaya. Dia sekarang tidak punya tempat tinggal, dia tidur di emperan toko di dekat perempatan tiap hari. Anaknya  biasa bangun siang untuk membantu berjualan koran juga. Meskipun hidup dengan keterbatasan, bapak itu tetap berjuang untuk hidup dan mencari nafkah secara jujur dan halal tanpa meminta belas kasihan orang lain demi kelangsungan hidup dan demi menafkahi anaknya. Sungguh seorang bapak yang luar biasa. 

Tak jauh dari tempat bapak itu menjajakan koran, terlihat ada sebuah mobil mewah keluaran terbaru berhenti untuk menunggu lampu merah. Di dalam mobil itu ada 3 orang cewek dan 2 orang cowok. Dua orang cewek dan satu orang cowok sedang tidur dalam keadaan mabuk berat, sedangkan satu cowok yang menjadi sopir setengah mabuk dan satu cewek sisanya masih  sadar tapi dalam keadaan mengantuk berat. Mereka baru pulang dari clubbing semalam suntuk untuk merayakan ulang tahun salah satu dari mereka berlima. Mereka merayakannya dengan mabuk-mabukan dan pesta narkoba. Sungguh menyedihkan para remaja ini.

Tak lama kemudian bapak itu menghampiri mobil mewah tersebut untuk menawarkan korannya. Salah seorang cewek yang masih sadar melihat bapak itu dan mulai timbul rasa kasihan pada bapak itu, lalu dia berkata dalam hati, “Sungguh kasihan bapak itu, sudah lanjut usia dan lumpuh tapi tetap menjadi loper koran, meskipun jalannya tertatih-tatih seperti itu tapi dia tetap berusaha berjalan sekuat tenaga dengan bantuan tongkatnya yang mulai rapuh, sungguh kasihan aku pada bapak itu”. Lalu cewek itu memanggil bapak itu untuk membeli korannya meskipun dia sebenarnya tidak butuh koran itu, dia hanya merasa kasihan pada bapak itu.

Saat bapak itu mendekat ke mobil mewah itu, cewek itu membukakan kaca mobilnya. Sang bapak pun terkejut melihat keadaan orang-orang di dalam mobil itu. Bau alkohol dan parfum menyerbak dari dalamnya. Terlihat juga botol minuman keras dan sobekan-sobekan alumunium foil berserakan. Bapak itu merasa sangat kasihan pada remaja-remaja itu, dalam hati dia berkata, “Sungguh kasihan para remaja ini, mempunyai harta yang banyak tapi di gunakan untuk kemaksiatan, mempunyai wajah tampan dan cantik tapi di salah gunakan. Apakah orang tua mereka tahu apa yang anak-anaknya perbuat? Kenapa tidak dilarang? Atau mungkin orang tuanya tahu tapi di biarkan? Atau jangan-jangan orang tuanya juga perbuatannya seperti itu? Ya Allah sadarkanlah mereka”. Setelah cewek itu selesai membeli koran, mobil mewah itupun berangkat.

Kisah di atas hanyalah fiksi dan khayalan saya saja, tapi mungkin kisah di atas pernah terjadi. Saya mengarang cerita tersebut berdasarkan pengalaman saya yang terinspirasi oleh teman saya. Waktu itu saya sedang mengendarai sepeda motor bersama teman saya. Ketika hampir sampai ke kontrakan, teman saya melihat seorang bapak tua penjual nasi goreng. Dia berkata kepada saya, “Kasian bapak itu sudah tua masih bekerja keras, malam-malam begini masih berkeliling berjualan nasi goreng”. Lalu saya menanggapi perkataan teman saya itu, “Saya merasa kasihan juga tapi mungkin bapak itu juga kasihan pada kita seandainya bapak itu tahu kehidupan kita yang ga jelas ini, masih muda tapi ga mau bekerja dan malah senang-senang terus”.
TAMAT

Oleh Aditya Muslim (Finalis Stand Up Comedy 3, Twitter @TretanMuslim)

Read more ...