Rabu, 14 Agustus 2013

Merantau

Merantau
Awal puasa tahun ini terjadi perbedaan antara salah satu ormas islam dengan keputusan menteri agama melalui sidang isbat, namun hal itu tidak membuat saya merasa bingung mau puasa ikut siapa? Ikut salah satu ormas islam atau keputusan sidang isbat. Saya sudah memantapkan untuk puasa dahulu yaitu mengikuti salah satu ormas islam terbesar di Indonesia dan saya tidak mempermasalahkan hal itu. Karena masing-masing mempunyai dasar.

Puasa ramadhan hari demi hari dilalui tanpa pernah menghitung layaknya anak-anak kecil yang sering menghitung sudah puasa berapa hari, karena bukan puasanya yang dihitung akan tetapi kurang berapa lama lagi lebarannya. Lebaran bagi anak kecil mungkin sudah menjadi pendapatan tahunan mereka, karena sudah menjadi tradisi bahwa mereka akan mendapatkan THR dari sanak saudara.

Sebenarnya sangat gampang untuk mengetahui kapan lebaran akan tiba, bukan melalui metode hisab maupun rukyat layaknya Kementrerian Agama dan Ormas Islam dalam menentukan lebaran yaitu tanggal 1 Syawal, tetapi melaui info mudik. Karena ketika akan lebaran banyak televisi menjadikan info mudik sebagai salah satu berita utama di setiap harinya. Sehingga jika ada info mudik itu artinya sebentar lagi lebaran akan tiba J.

Info mudik diteleivisi ternyata banyak membantu bagi mereka yang akan mudik, yaitu untuk mengetahui kondisi jalan yang akan dilalui lancar atau macet, serta dimana saja jalur alternatifnya yang mungkin akan membuat perjalanan menjadi agak cepat. Lebaran bagi kebanyakan orang dijadikan sebagai momentum yang tepat untuk bertemu dengan orang tua beserta sanak saudara setelah sekian lama hidup di tanah rantau. Jadi ada yang kurang dari lebaran jika tidak diisi dengan mudik pulang ke kampung.

Mudik lebaran adalah salah satu bentuk budaya, karena dalam mudik lebaran banyak makna yang positif maka sampai saat ini mudik lebaran khususnya di Indonesia kini seakan menjadi tradisi wajib saat akan lebaran dan dijadikan momentum bertemunya keluarga besar.

Kegiatan mudik hanya dilakukan mereka yang memiliki pekerjaan diluar daerahnya atau sering disebut dengan merantau. Jika kita lihat sama-sama mengapa orang yang merantau kebanyakan dari mereka hanya mengontrak rumah dan tidak membeli rumah di tanah rantaunya? Dan tidak bisa dipungkiri juga ada sebagian orang yang membeli rumah atau membangun rumah di tanah rantaunya sehingga ia menjadi warga disana karena alasan pekerjaan, namun jika di prosentase kebanyakan orang yang merantau lebih suka mengontrak rumah dari pada membeli atau membangun rumah. Dan anehnya lagi mereka yang bekerja diperantauan sehingga dapat menabung sebagian dari penghasilannya untuk membangun rumah ditanah kelahirannya, dan setiap lebaran ia pulang atau sekarang lebih dikenal dengan istilah mudik.

Gambaran dari orang merantau yang lebih suka mengumpulkan uang untuk membangun rumah di tanah kelahirannya dari pada membeli rumah atau membangun rumah di tanah rantaunya adalah gambaran mengenai hidup sebanarnya. Apa maksud dari hidup sebenarnya? Apakah hidup kita saat ini belum benar-benar hidup? Hidup yang sebenanrnya bukanlah hidup kita saat ini yaitu hidup didunia, namun hidup sesudah mati dan hidup sesudah mati itulah hidup yang sebenarnya, karena hidup di dunia ini hanya mampir ngumbe (baca ; minum) artinya hidup didunia ini hanya sesaat, sedangkan hidup sesudah mati (akherat) itu kekal abadi apakah masuk surga atau neraka. Konsep orang merantau dalam hidup ini ialah dunia ini ibarat tanah rantau, seperti ditanah rantau kita bekerja mengumpulkan uang untuk membangun rumah ditanah kelahirannya (kampungnya), itu artinya dunia ini atau di dunia saat ini kita harus bekerja yaitu berlomba-lomba dalam kebaikan untuk membangun rumah kita, rumah yang dimaksud bukanlah rumah seperti rumah di kampung halaman, akan tetapi sebuah rumah di surga, sehingga harapan kita sesudah mati adalah kembali (mudik) dimana tempat tersebut sudah kita bangun di tanah rantau (hidup di dunia) melalui kebaikan-kebaikan yang telah kita perbuat serta segala ibadah yang ikhlas kita tujukan hanya untuk Allah SWT.
Mudik yang sebenarnya mudik adalah menikmati apa yang telah selama ini kita peroleh berupa hasil kerja keras kita didunia, ditanah rantau mereka rela untuk berhemat agar bisa memiliki tabungan dan membangun rumah di tanah halamannya, seperti yang dijelaskan diatas bahwa hidup kita didunia hanya seperti ditanah rantau siapa yang bekerja keras maka ia dapat membangun rumah atau istananya di kampung halaman, karena mereka sadar bahwa tidak selamanya mereka akan hidup ditanah rantau, ada saatnya yaitu ketika sudah mulai tua, sudah waktunya untuk menikmati hasil kerja kerasnya. Seperti hidup ini, bahwa tidak selamanya orang akan hidup terus didunia, mereka satu persatu akan kembali (meninggal) jadi mulai dari sekarang persiapkan diri kta dengan kebaikan-kebaikan dengan sesama serta selalu taat dan bertaqwa kepada Tuhan YME dengan tidak melupakan kewajiban kita sebagai umat bergama untuk selalu beribadah. Selalu beribadah bukan berarti hidup ini hanya diisi dengan sembahyang, kita tetap tidak boleh melupakan hidup di dunia ini, tapi kita juga tidak boleh menjadikan hidup didunia ini sebagian tujuan. Karena tujuan hidup kita adalah hidup sesudah mati, yaitu surga.

Kesimpulan dari artikel ini adalah hidup kita di dunia ini, layaknya kehidupan orang ditanah rantau, mereka bekerja untuk bisa kembali membangun istannya (rumah) dikampung halamannya karena mereka sadar bahwa tidak selamanya mereka akan tetap hidup ditanah rantau, begitu juga hidup ini bahwa hidup didunia ini kita gunakan ibarat tanah rantau, karena tidak selamanya orang akan kekal hidup didunia karena setiap manusia pasti akan mengalami mati, dan itu tinggal menunggu waktu tak seorang pun mengetahuinya. Ketika orang sudah menganggap bahwa dunia ini ibarat tanah rantau maka mereka akan bekerja dengan keras yaitu dengan berlomba-lomba dalam kebaikan sert bertaqwa kepada Allah swt, sehingga setelah manusia mati ia akan kembali ke istananya di surga, karena kebaikan serta ketaqwaannya terhadap Allah swt.

Artikel diatas saya tulis terinspirasi saat saya mendenagrkan kajian dari Bunda Enik Harjajanti, beliau adalah aktifis dakwah dari Aisyiyah Yogyakarta dengan tema “Mudik yang Sebenarnya”, di salah satu stasiun televisi swasta, semoga bisa di ambil manfaatnya

Terima kasih