Kamis, 01 Agustus 2013

Siapa Yang Patut Dikasihani? Kita atau Mereka?

Di suatu pagi, disaat fajar menyongsong di ufuk timur, disaat orang-orang mulai bangun dari tidurnya, dan orang-orang memulai aktifitasnya masing-masing, terlihat seorang bapak loper koran yang sudah lanjut usia sedang menawarkan korannya kepada pengguna jalan yang sedang berhenti di lampu merah di sebuah perempatan jalan ibu kota. Bapak yang jalannya tertatih-tatih karena lumpuh yang dideritanya sejak kecil itu merawat anak laki-lakinya yang masih berumur 5 tahun itu sendirian, hal ini karena istrinya sudah meninggal 3 tahun lalu karena penyakit yang menggerogoti tubuhnya semakin parah karena tidak pernah di obati akibat keterbatasan biaya. Dia sekarang tidak punya tempat tinggal, dia tidur di emperan toko di dekat perempatan tiap hari. Anaknya  biasa bangun siang untuk membantu berjualan koran juga. Meskipun hidup dengan keterbatasan, bapak itu tetap berjuang untuk hidup dan mencari nafkah secara jujur dan halal tanpa meminta belas kasihan orang lain demi kelangsungan hidup dan demi menafkahi anaknya. Sungguh seorang bapak yang luar biasa. 

Tak jauh dari tempat bapak itu menjajakan koran, terlihat ada sebuah mobil mewah keluaran terbaru berhenti untuk menunggu lampu merah. Di dalam mobil itu ada 3 orang cewek dan 2 orang cowok. Dua orang cewek dan satu orang cowok sedang tidur dalam keadaan mabuk berat, sedangkan satu cowok yang menjadi sopir setengah mabuk dan satu cewek sisanya masih  sadar tapi dalam keadaan mengantuk berat. Mereka baru pulang dari clubbing semalam suntuk untuk merayakan ulang tahun salah satu dari mereka berlima. Mereka merayakannya dengan mabuk-mabukan dan pesta narkoba. Sungguh menyedihkan para remaja ini.

Tak lama kemudian bapak itu menghampiri mobil mewah tersebut untuk menawarkan korannya. Salah seorang cewek yang masih sadar melihat bapak itu dan mulai timbul rasa kasihan pada bapak itu, lalu dia berkata dalam hati, “Sungguh kasihan bapak itu, sudah lanjut usia dan lumpuh tapi tetap menjadi loper koran, meskipun jalannya tertatih-tatih seperti itu tapi dia tetap berusaha berjalan sekuat tenaga dengan bantuan tongkatnya yang mulai rapuh, sungguh kasihan aku pada bapak itu”. Lalu cewek itu memanggil bapak itu untuk membeli korannya meskipun dia sebenarnya tidak butuh koran itu, dia hanya merasa kasihan pada bapak itu.

Saat bapak itu mendekat ke mobil mewah itu, cewek itu membukakan kaca mobilnya. Sang bapak pun terkejut melihat keadaan orang-orang di dalam mobil itu. Bau alkohol dan parfum menyerbak dari dalamnya. Terlihat juga botol minuman keras dan sobekan-sobekan alumunium foil berserakan. Bapak itu merasa sangat kasihan pada remaja-remaja itu, dalam hati dia berkata, “Sungguh kasihan para remaja ini, mempunyai harta yang banyak tapi di gunakan untuk kemaksiatan, mempunyai wajah tampan dan cantik tapi di salah gunakan. Apakah orang tua mereka tahu apa yang anak-anaknya perbuat? Kenapa tidak dilarang? Atau mungkin orang tuanya tahu tapi di biarkan? Atau jangan-jangan orang tuanya juga perbuatannya seperti itu? Ya Allah sadarkanlah mereka”. Setelah cewek itu selesai membeli koran, mobil mewah itupun berangkat.

Kisah di atas hanyalah fiksi dan khayalan saya saja, tapi mungkin kisah di atas pernah terjadi. Saya mengarang cerita tersebut berdasarkan pengalaman saya yang terinspirasi oleh teman saya. Waktu itu saya sedang mengendarai sepeda motor bersama teman saya. Ketika hampir sampai ke kontrakan, teman saya melihat seorang bapak tua penjual nasi goreng. Dia berkata kepada saya, “Kasian bapak itu sudah tua masih bekerja keras, malam-malam begini masih berkeliling berjualan nasi goreng”. Lalu saya menanggapi perkataan teman saya itu, “Saya merasa kasihan juga tapi mungkin bapak itu juga kasihan pada kita seandainya bapak itu tahu kehidupan kita yang ga jelas ini, masih muda tapi ga mau bekerja dan malah senang-senang terus”.
TAMAT

Oleh Aditya Muslim (Finalis Stand Up Comedy 3, Twitter @TretanMuslim)