Kamis, 26 September 2013

Belajar Sampai Mati


Perjalanan kali ini saya beserta sahabat saya menuju salah satu wilayah yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan, lebih tepatnya daerah kecamatan jatipuro. Jatipuro masih termasuk wilayah karang anyar tepatnya terletak di perbatasan antara wonogiri dan sukoharjo. Jalan menuju kesana sudah bagus, jalan juga sudah bagus maklum jalan tersebut adalah jalan antar kota karang anyar-wonogiri.

Tidak ada yang berbeda dengan jatipuro namun, jatipuro nuansa pedesaan masih begitu terasa, masih banyak warga sekitar yang menjadi petani dan sehari-hari waktu mereka ia habiskan di sawah, dan tidak sedikit pula yang lebih memilih hidup merantau dan meniniggalkan tempat tinggal mereka untuk mencari kehidupan yang lebih baik.


Kehidupan yang masih nuansa pedesaan tidak hanya terletak pada mata pencaharian warganya, namun juga keramahan warga sekitar, tidak jarang jika kami mampir untuk melakukan wawancara ada saja warga yang memberi jamuan, paling tidak sekedar minuman, ada juga yang berbaik hati memberi kami jamuan snack pula. Meski kebanyakan memberikan perlakuan baik kepada kami namun tidak jarang ada yang memperlakukan kami secara sinis, hal itu masih bisa kami maklumi mengingat ketidak pahaman mereka dengan maksud dan tujuan kami dating bertamu.

Dari sekian banyak yang saya temui, ada salah satu warga yang membuat saya sedikit aneh, yaitu ketika saya melihat sosoknya yang begitu terkesan urakan, dengan rambut panjang yang tidak rapi kemudian di kucir bagian belakangnya, saya mencoba untuk menenemuinya dan kami di persilahkan. Awalnya saya hanya ingin duduk diluar dan langsung ngobrol-ngobrol dengannya namun malah dipersilahkan untuk masuk ke dalam rumah, agar bisa lebih santai katanya.  kami pun langsung masuk dan melakukan wawancara. Kemudian saya menyuruh teman saya untuk mewancarainya sedangkan saya mencari responden lain di daerah sekitar.

Setelah selesai saya kembali ketempat bapak itu dan saya melihat teman saya masih mewancarainya, saya pun ikut ngobrol bareng dengan sahabat saya dan bapak tersebut.

Singkat cerita bapak yang terkesan urakan tadi ternyata sudah memasuki usia pensiun, dan sudah bercucu, setelah ngobrol banyak barulah saya dan sahabat saya mengetahui bahwa bapak tersebut adalah seorang jurnalis, tidak saya sangka bahwa bapak ini adalah seorang jurnalis dan ketika saya tanya dimana ia belajar jurnalis ia menjawab bahwa ia belajar ilmu jurnalis dengan mengkuti pelatihan  jurnalis selama 3 bulan di jogja, setelah itu ia baru memulai tulis menulis di media baik solo pos maupun koran local lainnya.

Dia juga bercerita bahwa dirinya menganggap bahwa belajar itu tidak mengenal usia, belajar itu sampai mati, saya sangat merasakan betapa besar semangatnya untuk belajar, beliau juga mengatakan bahwa dia sangat senang menghadiri seminar-seminar yang menurutnya sangat menarik, meski dia harus membayar lebih mahal.

Kemudian beliau juga bercerita banyak mengenai perjalanan hidupnya, bahwa ia pernah mencalonkan diri sebagai calon leglisatif untuk DPRD Jawa Tengah namun ia gagal, kemudian ia juga bercerita bahwa ia adalah seorang yang haus akan ilmu, bahkan untuk memuaskan kehausan akan ilmu tersebut beliau mengatakan bahwa sehari saja ia tidak baca ia seperti orang yang kelaparan dan butuh makan, sehingga setiap harinya ia baca Koran, beliau mengatakan bahwa banyak informasi yang ia dapatkan dari membaca Koran tersebut, tidak jarang tulisan di media atau ketika ia mengirim artikel ia hanya sekedar mengkritisi berita yang sudah ada.

Ada satu hal lagi yang membuat saya heran dengan bapak yang sudah berusia 66 tahun tadi, beliau ternyata masih suka belajar, terbukti di umur yang sudah tua tersebut ia masih study S1 di iImu Komunikasi salah satu Universtias Swasta dan baru akan mengajukan skripsi. Kalau dipikir-pikir buat apa ia harus sekolah? Ijazah yang ia dapatkan juga tidak dapat untuk mengajukan kesetaraan gaji selayaknya PNS yang masih aktif, dan ia juga bercerita bahwa ia kuliah juga benar-benar kuliah, ia rajin mengikuti kuliah tidak seperti halnya kebanyakan orang yang kuliha hanya ingin ijazah dan jarang masuk. Bapak itu menyadarkan bahwa pendidikan itu yang dicari ilmunya, ia juga memberi tahu bahwa ilmu yang ia dapatkan dipraktekan dalam kehidupan sehari-sehari baik dalam tulis-menulis maupun dalam lingkungan pergaulannya.

Tidak sampai disitu saja beliau juga masih mengungkapkan keinginannya untuk kuliah lagi di Fakultas Hukum karena ia sangat tertarik dengan hukum, begitu semangatnya dalam belajar, mungkin diantara kita semua yang masih sekolah kalah semangatnya dengan bapak tersebut.   


Menurut saya ini adalah pelajaran penting, ketika kita hanya mengandalkan mata kita hanya untuk melihat apa yang nampak mungkin saya mengira bahwa Bapak tersebut tidak lebih hanya seorang preman yang urakan serta peduli apa dengan pendidikan? Namun ketika hati yang kita gunakan, serta mulut sebagai alat untuk mengetahui atau memahami Bapak tersebut barulah kita menyadari terkadang mata mata juga bisa menipu. Seperti halnya fatamorgana sebagai contoh bahwa apa yang kita lihat belumlah tentu benar, jadi jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan hanya berdasarkan apa yang kita lihat, namun yakinkan dengan hati dan mulutmu, dengan apa? Dengan bertanya tentunya, saling tukar pikiran datu sama lain, meski mulut masih berbohong namun jika apa yang kamu katakana dari hati maka kebongan akan sulit terucap, kecuali emang hati itu sudah terbiasa mengucapkan kebohongan.