Kamis, 12 September 2013

Malu Melihat Mereka

Malu Melihat Mereka
Ada yang lain dengan hari ini, meski hari ini saya awali dengan hal-hal yang biasa saya lalui, namun ada sedikit cerita yang harus saya tulis dalam blog ini soalnya kalo tidak segera ditulis takutnya lupa, maklum mengingat usia yang tidak lagi muda.


Semula berawal dari kegiatan survey yang saya lakukan bersama sahabat saya. Saya survey berkeliling mencari mangsa (baca; responden dan seterusnya mangsa yang dimaksud adalah responden). Dalam perjalanan mencari mangsa terkadang rasa bosan sering kali menghampiri namun karena saya dan sahabat saya selalu berdua dalam mencari mengsa saya sering ngobrol yang nggak jelas untuk memecah suasana. Terkadang karena teriknya panas matahari saya selalu mengajak mampir untuk mencari minum dan karena khilaf akhirnya pesen makan juga. hahaha

Perjalanan mencari mangsa yang sangat sulit karena sedikit sekali orang yang bersedia untuk menjadi responden membuat saya merasa jenuh dan terkadang perjalanan seperti sedang piknik melihat-lihat lingkungan sekitar, mungkin hal itu juga yang membuat saya dan sahabat saya mengartikan kegiatan survey tersebut sebagai piknik.

Singkat cerita, kejadian itu berawal dari kegiatan mencari mangsa di suatu desa dan pada saat itu tertiba terdengar adzan dhuhur. Dan saat itu saya sedang berada di area persawahan, karena sudah memasuki jam dhuhur, biasanya kebanyakan para petani sudah mengakhiri pekerjaan dan mulai istirahat, makan, minum dari bekal yang dibawanya dari rumah.

Ketika beberapa petani sedang beristirahat ada yang tiduran ada juga yang pulang untuk istirahat di rumah namun ada pemandangan yang membuat saya merasa terpecut hati saya, betapa tidak dalam perjalanan itu saya dengan jelas mendengar adzan dhuhur dengan sangat jelas, namun dalam hati saya masih berkata “nanti saja sholatnya jam sholat dhuhur masih panjang” dan saya masih menunda untuk segera melakukan sholat dhuhur namun ada beberapa ibu-ibu yang saya lihat dengan jelas bahwa mereka sedang sholat di pinggir sawah, lebih tepatnya di pinggir jalan karena sawah mereka kebetulan sangat dekat dengan jalan. Mereka tidak sholat dengan mukenah seperti yang saya lihat ketika orang-orang sholat di masjid namun hanya dengan pakaian yang mereka pake dan jilbab yang biasa mereka pakai setidaknya syarat untuk melakukan sholat seperti aurat mana yang harus tertutup sudah terpenuhi. Mereka juga tidak menggunakan sajadah melainkan hanya dengan kain seadanya serta tempat mereka sujud di beri alas dengan daun pisang yaitu hanya bagian wajah pada saat sujud. Sungguh mereka bisa dibilang orang yang sangat taat, disaat seperti itu masih bisa berusaha untuk menjalankan sholat tepat waktu meski mereka sedang bekerja di sawah, lantas bagaiaman dengan kita sendiri?

Kejadian itu langsung membuat saya dan sahabat saya merasa terpecut dan sahabat saya bilang agar saya segera mencari masjid untuk sholat. Ketika mencari masjid ternyata harus muter-muter terlebih dahulu dan sampai akhirnya kami menemukan masjid yang kecil atau disebut dengan langgar. Langgar itu terletak di depan rumah warga dan dilihat dari fisik bangunannya langgar tersebut sudah berusia tua. Pada saat sampai dilanggar ternyata sudah masuk Iqomat saya dan sahabat saya segera wudhu dan ikut sholat berjamaah. Pada waktu masuk langgar ada sesuatu yang membuat saya merinding yaitu Imam sholat adalah Bapak-bapak yang sudah berusia lanjut dan dengan fisik (maaf) sudah bungkuk, jika dilihat dari fisiknya mungkin usianya sudah mencapai ratusan tahun. Hal yang membuat saya kagum meski sudah tua, dengan kondisi fisik yang sudah mulai lemah namun masih tetap menjalankan ibadah secara berjamaah.

Orang-orang yang berjamaah di langgar juga sangat ramah, saya dan sahabat saya disapa oleh warga sekitar sambil basa-basi menanyakan maksud dan tujuab saya di daerah tersebut.

Perjalanan yang membuat saya merasa bahwa saya adalah manusia yang sering lalai, padahal saya sudah tahu betul bahwa sholat berjamaah di masjid bagi laki-laki adalah suatu kewajiban jika tidak sedang dalam kondisi yang dibenarkan menurut agama. Saya juga tahu bahwa pahala sholat berjamaah dengan pahala sholat sendirian 27 berbanding 1 ( 27 : 1). Jika kita sholat sendirian selama lima waktu saja tidak mampu menyamai sekali saja sholat berjamaah.


Doakan saya agar menjadi orang yang tetap istiqomah dalam mengamalkan apa yang saya ketahui, bukan hanya menjadi ilmu hafalan dan tidak mengamalkan dalam perilaku. Rasanya malu dengan Ibu-ibu yang tetap menjalankan sholat tepat waktu meski berada di sawah, malu dengan simbah-simbah yang tetap berusaha sholat berjamaah meski tubuh sudah mulai lemah. O iya meski sudah sangat tua simbah tersebut masih memiliki pendengaran yang baik karena saya sempet ngobrol sebentar dengan beliau dan InsyaALLAH ingatan yang belum pikun karena masih ingat kewajiban.