Selasa, 01 Oktober 2013

Penjual Itu Mengajarkan saya Tentang “Kejujuran”

Sore itu tepat pukul 16.00 saya merasa tempat tidur saya ada yang mengusik, ternyata Adek keponakan saya yang masih duduk di sekolah TK mengusik saya untuk segera bangun. Hal itu membuat saya terpaksa harus bangun dan segera sholat ashar. Dalam angan saya sebenarnya masih ingin menuntaskan tidur saya, karena sedari malam saya sangat kurang tidur dan paginya harus bangun pagi untuk mengikuti pertandingan bola. Pertandingan kali ini tidak main-main karena pertandingan bola akan diadakan di lapangan besar, sudah tak terbayang betapa capeknya mengingat saya sudah jarang main dilapangan besar karena sekarang lebih suka main dilapangan futsal. Dan ternyata benar akhirnya badan saya pegel semua dan badan udah kaya mau remuk.

Sembari mengumpulkan nyawa, di tengah keadaan yang masih ngatuk saya pergi ke kamar mandi untuk mandi dan wudlu serta langsung sholat ashar karena keburu magrib. Setelah mandi ternyata semua rasa kantuk dan capek sedikit terobati serta badan jadi seger lagi, itu pertanda bahwa saya masih muda, semua rasa capek akan hilang ketika sudah mandi keramas dan sudah segar bugar lagi, hahaha

Singkat cerita ketika sudah mandi dan bingung mau ngapain saya memutuskan untuk jalan-jalan sore, tapi jalan-jalan sorenya cuma sendiri jadi lebih mirip dengan orang hilang sebenarnya, hehe. Jalan-jalan kali ini saya mengarahkan motor saya menuju ke pasar pengging, kenapa ke pasar pengging dan bukan kearah kota yang semakin sore semakin rame, karena pasar pengging setiap sore disulap menjadi area kuliner di sana banyak jajanan dan saya sekalian beli cemilan.

Setelah muter-muter nggak jelas karena bingung mau beli apa, karena banyaknya jajanan saya tertarik dengan salah satu pedagang bak pao, saya mendekati pedagang itu dan saya lihat ternyata dia tidak hanya jualan bak pao tetapi juga cemilan lainya seperti bolu, donat dan roti basah lainnya. saya mendekati etalasenya dan ternyata bak paonya hanya tinggal kurang lebih lima biji, dalam hati saya berkata “Alhamdulillah masih ada lima lumayan buat cemilan dirumah” saya langsung memesan kepada Ibu si Penjual “Bu, saya beli bak paonya ya” sambil nunjuk kearah bak pao. Dengan lembut Ibu itu menjawab “Maaf dek, Bak paonya tidak saya jual” . “Lho Buk kenapa tidak dijual? Kalo tidak dijual kenapa masih ditaruh disitu?” Sambil nunjuk etalase. saya masih heran dengan ibu penjual bak pao ini kenapa dia tidak mau menjual dagangannya kepada saya, kemudian dengan suara pelan Ibu ini menjelaskan kepada saya mengapa ia tidak mau menjual bak paonya yang masih tersisa “Ibu tidak mau menjual bukan karena apa dek, tapi dagangan ini udah dari pagi jadi sudah tidak layak lagi dijual” saya masih heran dengan Ibu ini, kemudian saya bertanya lagi “Tapi kalo dagangan Ibi habis berarti kan untungnya nambah Buk?” Ibu itu hanya tersenyum dan berkata “Untung dari mana dek? Emang saya sekarang bisa untuk dengan menjual bak pao tak layak ini, namun saya tidak jamin adek mau dating lagi kemari” sambil tersenyum dalam hati saya berkata “bener juga Ibu ini dia tidak mau membohongi pembelinya dengan menjual bak pao yang sudah tak layak jual, padahal menurut saya bak pao itu masih layak untuk dimakan karena alasan sudah dagangan dari pagi Ibu itu tidak mau menjualnya”  

Kejadian itu membuat saya teringat ketika saya membeli roti di sebuah warung yang ternyata ketika sampai dirumah rotinya jamuran, dan apa yang saya lakukan? saya tidak mau lagi dateng untuk berbelanja atau sekedar beli jajanan di warung itu lagi, kebanyak orang hanya ingin mengambil untung sesaat, yang penting hari ini untuk dagangannya laku semua, tapi tidak bagi Si penjual bak pao itu, ia menganggap yang terpenting adalah kejujuran, ia lebih mengutamakan hubungan emosional antara dirinya dengan pelanggannya dengan lebih peduli lagi dengan pelanggan-pelanggannya meski hanya sekedar tidak mau menjual dagangan yang sudah tak layak jual.

Saya merasa bahwa Ibu penjual bak pao sedang mengajari saya tentang kejujuran, meski secara kasat mata, Ibu tersebut rugi karena dagangannya tidak habis tapi menurutnya ia lebih bahagia dengan apa yang sudah ia terima selama ini, pedagang yang beitu jujur dengan pembelinya dan bisa dikatakan saya baru pertama beli diwarung tersebut, namun bagi dia saya adalah pelanggannya yang harus tetap dihormati.

Tidak berniat untuk pamer atau apa, saya juga pernah mengalami kejadian yang serupa. saya yang selain sebagai mahasiswa  juga sebagai penjual pulsa pernah suatu ketika teman saya yang punya hutang sama saya sudah membayar lunas hutang pulsanya kepada saya, namun suatu ketika ia bertemu kepada saya dan berniat membayar hutang lagi kepada saya. Waktu itu saya terima uangnya karena dalam pikirang saya dia masih punya hutang pulsa dengan saya, namun setelah saya liat catetannya ternyata dia sudah tidak mempunyai hutang pulsa dengan saya. Dalam waktu yang bersamaan ada bisikan setan yang menyuruh saya untuk mengambil saja uangya karena jumlahnya lumayan juga buat makan sehari toh orangnya juga nggak merasa dibohongi juga. Dan kondisi saat itu saya juga dalam keadaan dompet yang sudah mulai tipis. Ada juga sedikit keinginan untuk mengambil uang tersebut namun ada juga perasaan dosa yang menakutiku.

Setelah berpikir panjang saya putuskan untuk mengembalikan dengan teman saya dan mengatakan bahwa hutangnya yang dulu sudah lunas, karena jika saya mengambil uang yang bukan hak saya terus apa bedanya dengan koruptor itu, meski saya hanya dalam sekala kecil semacam tikus kecil.

Ada perasaan lega ketika saya mengembalikan uang tersebut, dan saya tidak bermaksud untuk memamerkan apa yang telah saya lakukan, dan saya juga tidak menganggap bahwa diri ini adalah manusia jujur, karena itu semua tidak seberapa dan saya yakin bahwa masih banyak diluar sana yang lebih dari itu, orang yang lebih mengutamakan kejujuran. Niat saya disini hanya sekedar berbagi tanpa ada unsur apapun. Mungkin ada sebagian diluar sana ada yang berkata  “sangat munafik jika saya bercerita ini tanpa unsur apa-apa atau tanpa motif apa-apa, pasti ada motif pencitraan atau pamer kebaikan” dan saya tegaskan lagi jika saya lebih munafik dari prasangka orang karena masih banyak aib-aib diri ini yang ditutup rapat oleh Allah, jika ada yang menganggap saya bohong, diri ini lebih pembohong dari prasangka manusia, karena sekali lagi banyak kebodohan, kejahatan dan kesalahan pada diri ini yang masih ditutup rapat oleh Allah. Semoga diri ini bisa tetap instrospeksi dan masih tetap bisa memperbaiki kesalahan.

Terima kasih J