Selasa, 17 Desember 2013

Bukan Rejeki

Cerita kali ini masih berkaitan dengan cerita sebelumnya yaitu “fanatic” yaitu saat saya menonton pertama kali talk show mata najwa. Menjadi pengalaman pertama karena biasanya saya hanya menonton di televisi tiap hari rabu jam 21.30 di metro tv.

Cerita ini berawal ketika saya sudah terbebas dari antrian panjang, sekitar hamper sejam saya mengantri masuk. Kemudian saya mengambil fasilitas yang diberikan oleh panitia seperti t-shirt, snack dan secangkir kopi dari pihak sponsor, terus saya mulai masuk auditorium, dan pas saya masuk ternyata didalam sudah terasa penuh, kemudian saya mencari tempat duduk.  Awalnya saya dapat tempat duduk dilantai satu ditengah namun agak belakang kemudian saya merasa tidak nyaman dan melihat kanan-kiri, ternyata lantai dua masih ada bangku yang kosong kemudian naik ke lantai dua.

Setelah masuk lantai dua kemudian saya dapat tempat duduk disebelah cewek yang kebetulan masih kosong. Pada saat saya mau duduk tepat di kursi saya ada kertas yang terlilit isolasi dan saya pikir itu adalah sampah, kemudian tanpa pikir panjang saya langsung membuangnya begitu saja.

Kemudian acara sudah dibuka oleh mahasiswa sebelum acara inti mata najwa on stage benar-benar dibuka oleh host Najwa Shihab. Singkat cerita ada pengumuman bahwa akan ada doorprise dari salah satu pihak sponsor berupa uang cash senilai 50rb, jika menemukan selembar kertas dibawah kursi. Melihat itu sontak membuat saya merasa agak ngeblank, busyet itu kan yang kukira sampah, dan udah aku buang kemana tadi? Dalam hati berkata kampret tau gitu aku simpen. Tapi apa hendak dikata nasi telah menjadi bubur, tapi nasi telah menjadi bubur enak, masih bisa dimakan, lha ini? Cuma bisa diratapi dan disesali L.

Selama acara meski acaranya sangat bagus namun sesekali pikiranku masih tertuju pada kertas yang kukira sampah dan ternyata itu adalah doorprise senilai 50rb, pikirku sayang banget uang 50rb dibuang begitu saja, bisa buat makan enak itu, dan bukan hanya bisa menyesal.

Namun dibalik penyesalan itu semua ada pelajaran yang dapat diambil dalam kisah yang saya alami ini, bahwa rejeki itu ditangan Tuhan, dan saya yakin bahwa uang 50rb itu bukan rejeki saya namun kebetulan mampir saja dan tidak menjadi milik saya, (namanya juga bukan rejeki). Dan disini saya belajar untuk menerima apa yang terjadi meski ada penyesalan. Rejeki datangnya dari Allah sedangkan manusia hanya bisa berdoa dan berusaha.

Masih ngomongin rejeki, selang beberapa hari kemudian, waktu saya dan teman saya main-main ke tempat perbelanjaan mau beli sepatu, kebetulan sepatu saya sudah minta pensiun. Rencananya sih mau beli sepatu yang harganya maksimal 100rb maklum duit tinggal sedikit namun harus dibagi-bagi dengan kebutuhan lainnya. Maklum demi tanggal tua yang lebih baik J

Sebelum ketempat sepatu saya dan teman saya membeli kebutuhan anak kos seperti sabun, sikat gigi odol dan lain-lain lah, setelah itu saya menuju ke tempat sepatu dan teman saya mencari kebutuhannya sendiri. Di tempat sepatu saya mengahbiskan waktu yang cukup lama karena harus milih yang sesuai meski sebenarnya saya sudah tertarik pada salah satu model namun saya harus memilih sepatu yang lebih sesuai lagi (sesuai modelnya, warnanya, ukurannya, dan yang terakhir dan ini yang paling krusial adalah harganyaJ).

Pada saat masih bingung pilih sepatu tiba-tiba saya melihat salah satu kakak tingkat saya dan saya menyapanya, kemudian apa yang terjadi? Mereka ternyata adalah makhluk yang dikirim Tuhan untuk menyampaikan rejeki kepada saya, hehehe (lebay). Karena kakak tingkat tersebut adalah orang yang sering menawari job buat ngetes psikologi dan kadang saya juga diajak. Nah pada saat itu dia sekaligus ngasih gaji selama saya ikut ngetes dengannya, hahaha dan duitnya lumayan lah, hehehe dan akhirnya saya dapat membeli sepatu yang saya inginkan karena ada suntikan ekonomi tadi , hehehe J (owh iya sepatu yang saya beli adalah sepatu yang sudah sudah dari awal tertarik dengan modelnya, ukurannya, warnanya namun cuma satu yang nggak sesuai, harganya!, namun akhirnya kebeli juga J)

Cerita saat saya ketemu dengan kakak tingkat saya kemudian ia mamberi gaji saya selama saya ikut ngetes dengannya itu adalah rejeki yang diatur oleh Tuhan, betapa tidak karena pertemuan ini tidak direncakanan namun ini sudah menjadi ketentuan Allah. Saya dipertemukan secara tidak sengaja di tempat sepatu serta kebetulan pula ia juga mau memberi gajiku selama ikut ngetes dengannya. Dan saya yakin bahwa yang namanya sudah rejeki itu nggak bakal kemana, namun kalo yang namanya bukan rejeki, meski sudah ditangan seperti kertas doorprise yang sudah saya pegang namun malah saya buang ketempat sampah juga nggak bakal jadi milik kita. Sebagai penutup Wassalamu alaikum wr wb (mendadak alim, diawal nggak pake salam tapi pas diakhir pake salam)