Jumat, 13 Desember 2013

Eyang “google”

Eyang  “google”
Beberapa hari yang lalu dunia selebritis dihebohkan dengan fenomena eyang subur. Ayang subur menjadi terkenal  seiring dengan sering diberitakanya di infotainment atau info selebriti gitu lah (duh, ketahuan suka nonton infotainment J). Sebenarnya siapa sih eyang subur? Dari pengamatan kaca mata saya, seyang subur mungkin sejenis para normal, dukun, atau “orang pintar”. Eyang subur menjadi terkenal karena kebanyakan dari kliennya adalah berasal dari kalangan selebriti jadi wajar lah kalo eyang subur juga ikut pengen terkenal, hehehehe. Kasus eyang subur mencuat setelah salah satu yang mengaku muridnya merasa tertipu atau merasa bahwa eyang subur penyebar aliran sesat. Kemudian terus mencuat hingga orang-orang yang pernah menjadi klien eyang subur semua tampil dimedia dan ikut terkenal juga, nggak perlu disebutin siapa saja orangnya, saya juga nggak peduli soalnya.

Eyang subur menjadi bahan pembicaraan bahkan selama beberapa minggu menjadi berita popular mungkin dalam bahawa twitter menjadi Trending topic. Tapi kenapa eyang subur yang menjadi terkenal sih? Menurut saya eyang subur tidak ada artinya bagi saya dan bagi kalangan mahasiswa mungkin, dibandingkan dengan jasa-jasa yang diberikan “eyang saya”. “Eyang saya” bukan lah sok tahu yang tahu segala permasalahan orang, namun jika ditanyakan pasti ada solusi yang diberikan. Bagi mahasiswa yang ingin mengerjakan tugas bahkan sampai skripsinya pun datang kepadanya dan kebanyakan dari mereka merasa tertolong. Kemudian timbul pertanyaan siapa sebenarnya eyang yang saya maksud? Iya, dia adalah “eyang google”, siapa yang tidak pernah mengenalnya? Pasti diantara kalian hingga saat ini masih sering menggunakan jasanya bukan? Kecuali kalau diantara kalian ada yang hidup dizaman purbakala dan hingga saat ini masih hidup dan belum menjadi situs J.  
Google adalah suatu mesin pencarian, tentu saja dengan bantuan koneksi internet. Apa saja dapat dicari via google dari konten paling baik yang berbau agama sampai konten yang paling jorok sekalipun semacam pornografi bisa dicari, hebat kan? Yang belum aku coba yaitu mencari jodoh via google, kira-kira bisa nggak ya? Mungkin kalo ada begitu populasi jomblo semacam aku ini akan berkurang dan menjadi populasi yang langka, dan mungkin disitulah era dimana jomblo akan dicari banyak orang (semogaJ). Kenapa ini lama-lama menjadi semacam curcol? Hehehe

Begitu banyak jasa yang diberikan google kepada kita para mahasiswa , saat-saat kita lagi frustasi mengerjakan tugas, disaat-saat kita lagi dikejar deadline tugas hingga pada akhirnya kita hanya pake tugas orang lain yang dipost diblognya. Dan saat-saat dimana kita udah dikejar deadline karena bisa di drop out (DO) karena nggak lulus-lulus (kalo yang terkahir ini mait-amit deh, pait-pait L)

Begitu banyak jasa google bagi kita para mahasiwa, namun ada apa yang sudah kita lakukan terhadap google? Internet yang lemot kamu maki-maki ampe terkadang ampe kamu banting laptonya J, tapi berkat google banyak tugas yang kamu kerjakan secara efisien alias nyari dan copast (copy paste) dari google. Apa ini yang dinamakan keadilan? Bahkan suatu ketika saat saya berjalan-jalan diperpustakaan untuk sekedar baca-baca skripsi kakak tingkat yang udah lulus (mau bilang skripsi adek tingkat takut ketahuan kalo mahasiswa kawakan atau mahapala (mahasiswa paling lama) dan say abaca bagian awal-awal skripsi, lebih tepatnya bagian ucapan terima kasih, tidak ada satu pun yng terucap kepada google. Sungguhnya tidak tahu balas budi, ibarat orang yang paling berjasa selama perkuliahan kamu lupakan begitu saja, bahkan hanya ucapan terima kasih saja tak sudi. Sangatlah beruntung bahwa google bukanlah manusia, andaikan google adalah manusia mungkin dia sudah berkata “dasar manusia tidak tahu diuntung, sudah banyak yang aku berikan kepadamu, namun ucapan terima kasih pun tak ada… *sampai bagian terkahir yang sumpah serapah kemudian masuk kesimpulan

Namun google hanyalah mesin pencari sehingga ia tak mengenal patah hati, dongkol atau segala bentuk kejengkelan yang terdapat pada diri manusia, atau sifat ngambek layaknya ngambeknya sang pacar (kaya punya pacar aja), soalnya jika google ngambek dan udah nggak mau diajak ngumpulin tugas mungkin kita akan kembali ke zaman dulu lagi, dimana took buku masih rame, mau masuk perpustakaan harus ngantri, serta ngerjain tugas harus minimal seminggu sebelum deadline soalnya harus ngetik dan belum musim yang namanya copast. Dan lebih parah lagi jika google bunuh diri, apa yang akan terjadi jika google sampai bunuh diri cuma kecewa dengan sikap para mahasiswa yang udah nggak mau menganggapnya lagi dan dating hanya kita butuh doan (kalo ada tugas). Mungkin dunia kelam mahasiswa akan terjadi, dimana nilai mata kuliah banyak yang jeblok karena sering telat ngumpulin tugas, skripsi mandek karena sulit mencari jurnal dan refrensi. Pokoknya udah nggak kebayang bagaimana suramnya kehidupan kampus tanpa google.

Sebagai penutup, ada hikmah atau pelajaran dibalik ini semua, kita harus belajar pada google yang tetap membantu meski dia diakui kebaikannya, dan google juga tidak pernah ngambek, bukan karena dia mesin tapi karena dia sudah terbiasa membantu banyak mahasiswa. Jika dihitung mungkin sudah ribuan bahkan jutaan mahasiswa didunia sudah terbantu oleh google. Kita juga harus banyak belajar dari google, bahwa dalam membantu orang harus lah tanpa pamrih meski hanya berharap ucapan terima kasih.

Akhir kata “jadilah seperti google yang terus membantu orang meski banyak yang telah melupakan jas-jasanya”
Tulisan ini teruntuk google yang telah membantu banyak mahasiswa.


Oleh Riki Sholikin