Rabu, 24 Desember 2014

Welcome The Jungle

Welcome The Jungle!

Sebenarnya aku sudah lama ingin menulis catatan ini, namun rutinitas yang semakin hari justru semakin banyak menyita waktuku, jadi baru kali ini aku sempat menuliskannya. Semoga saja tulisan ini mampu mengisi blog pribadiku yang sudah lama tidak aku jamah.

Kini sudah hampir satu bulan aku di wisuda. Meski aku sidang bulan agustus, namun aku baru diwisuda dan resmi menyandang gelar ke-sarjanaanku pada tanggal 6 Desember 2014 yang lalu. Bisa dibilang selama bulan agustus hingga desember aku bisa disebut dengan pengangguran, namun aku tidak pernah merasakan diriku sebagai pengangguran, karena banyak hal yang bisa aku lakukan untuk menikmati masa luangku, jalan-jalan misalnya J  

Wisuda hanya sebagai sebuah ceremonial, bukanlah akhir dari proses belajar, namun justru setelah wisuda lah aku merasakan, bahwa aku tak lebih hanya seorang manusia yang di lepas begitu saja ke dalam hutan rimba, aku tidak tahu apa yang akan terjadi dalam hutan rimba tersebut, apa yang akan aku hadapi, bagaimana aku harus bersikap dengan kondisi yang sebelumnya tak pernah aku duga.

Diwisuda dan resmi menyandang gelar kesarjanaan bukan berarti itu adalah hal yang mudah bagi kita untuk mendapatkan pekerjaan, karena persaingan di dunia pekerjaan kini malah menjadi semakin lebar, bukan hanya yang dari satu universitas lagi, namun kita harus bersaing dengan lulusan universitas lain. Mungkin aku menjadi salah satu orang yang beruntung, aku sudah diterima pekerjaan meski saat itu aku belum resmi di wisuda. Dan tahukah kalian apa yang terjadi dan apa yang harus aku lakukan di pekerjaan baruku? Sebagai freshgraduate dan baru pertama kali masuk di dunia kerja, seperti yang aku katakan di atas, bahwa aku seperti manusia yang yang di masukan ke dalam hutan rimba, aku tidak tahu apa yang akan terjadi, dan apa yang akan aku lakukan dan bagaimana aku harus bersikap dengan keadaa-keadaan yang sebelumnya tak pernah aku temui, bahkan tak pernah aku pelajari di bangku kuliah. Hanya berbekal pengalaman magang di dunia kerja yang hanya sebulan, namun hal itu setidaknya sedikit membuka celah untuk mengetahui sedikit hal tentang dunia kerja yang sekarang aku tekuni.

Jujur aku tidak tahu apa-apa, maka dari awal saat proses interview aku begitu polosnya mengatakan, bahwa dunia kerja adalah hal yang baru bagiku, jadi aku ingin belajar sedikit demi sedikit, namun tak munafik jika aku juga menginginkan bayaran atas apa yang aku kerjakan. bisa dibilang di samping aku belajar namun aku juga di bayar atau istilah kerennya On the Job Training.

Sebagai orang yang baru belajar, aku harus sabar tentang apa pekerjaan yang aku jalani. Aku harus belajar secara mandiri dengan banyak sharing dengan senior-senior di perusahaan, dan belajar tentang apa tugas dan tanggung jawab saya baik melalui internet maupun berdiskusi dengan rekan kerja. Selain itu aku juga harus pandai-pandai juga menyesuaikan dengan lingkungan baruku.

Satu minggu pertama aku hanya sekedar orientasi dengan lapangan, menyesuaian dengan kondisi lapangan, dan baru satu minggu kemudian aku mulai berkenalan dan masuk ke dalam lokasi produksi, karena pekerjaanku sangat berberhubungan dengan karyawan (personalia) sehinga ketika ada masalah para karyawan produksi tahu kepada siapa ia kan bertemu. Dan baru setelah 2 minggu tersebut, aku memberanikan diri untuk dilepas berkerja mandiri. Dan selama berkerja itu juga aku terus belajar tentang pekerjaan yang aku jalani ini.  

Semoga hal ini menjadi hal yang baik bagiku, menjadikan diriku terus belajar banyak hal. Kalo ada pepatah yang mengatakan “sambil menyelam minum air”, mungkin bagiku adalah “sambil belajar cari uang jajan”,


Boyolali, 24 Desember 2014
Read more ...

Minggu, 07 Desember 2014

Pazzel Kehidupan

Berbicara tentang hidup, hidup ini adalah kumpulan harapan-harapan. Seperti halnya permainanan pazzel, hidup terdiri dari pecahan-pecahan harapan yang ketika digabungkan menjadi satu akan menjadi sebuah bentuk tertentu, itulah yang di namakan dengan tujuam hidup. Setiap orang memiliki bentuk atau tujuan hidup yang berbeda-beda. Dan mungkin ada juga beberapa orang di dunia ini masih bingung, atau tidak tahu, bentuk akhir dari pazzel kehidupan apa yang ingin ia bentuk.

Harapana-harapan itu lah yang akan menjadikan kita bersemangat dalam menjalani hidup yang penuh ketidakpastian ini. Namun perlu diketahui bahwa apakah harapan-harapan yang ingin kita capai hingga mencapai bentuk yang kita inginkan, bentuk yang menjadi tujuan hidup kita dapat tercapai? Tentu saja tidak semua apa yang kita inginkan dapat tercapai dengan begitu mudah, semua perjuangan yang kita lakukan terkadang harus terbayar dengan kegagalan.

Jika semua harapan-harapan yang menjadi pecahan pazzel kehidupan kita tidak semua tercapai, kemudian bukankah hasil akhir dari pazzel itu akan nampak tak beraturan? Tentu saja tidak demikian, karena di saat seperti itulah Tuhan mulai ikut campur agar pazzel kehidupan yang tak beraturan itu menjadi rapi dan  nampak jauh lebih indah dari pazzel kehidupan yang sudah kita rencanakan. Tentu hanya orang-orang yag selalu melibatkan Tuhan dalam hidupnya lah yang menyadari hal ini.


Sedangkan kamu? Maaf aku sengaja memasukan dirimu sebagai bagian dari pazzel kehidupanku. Entah apa yang akan terjadi kelak. Aku hanya bisa terus berdoa dan segera mengupayakannya. Jika suatu hari nanti satu persatu apa yang menjadi pazzel dalam kehidupanku telah tersusun, mau kah engkau melengkapi pazzel kehidupanku agar menjadi sempurna? 
Read more ...

Selasa, 25 November 2014

Anxiety disorder

Anxiety disorder. Awalnya aku tak tahu dengan kata itu, kata yang nampak asing bagiku kala itu. Namun semenjak aku kuliah di psikologi, kata itu menjadi semakin familiar di telingaku. Tak perlulah aku mengutip pendapat dari beberapa ahli untuk menjelaskan apa yang disebut dengan anxiety disorder. Jika kalian merasa butuh tahu, silakan memanfaatkan kepintaran google. Anxiety disorder dalam bahasa Indonesia berarti gangguan kecemasan, atau orang-orang sering menyebutnya panic atau perasaan was-was bahwa sesuatu yang tidak diinginkan akan terjadi pada dirinya, sesuatu yang dimaksud adalah hal-hal yang buruk akan menimpa dirinya.

Saya juga tidak akan berpendapat banyak hal mengenai anxiety disorder atau gangguan kecemasan ini, saya bukanlah seorang ahli, awalnya aku hanya sekedar mengenal sebatas teori hafalan yang aku hafalkan ketika akan ujian. Namun semenjak aku mulai mengerjakan skripsi, dan kecemasan sebagai salah satu tema yang ingin aku angkat, membuatku semakin rajin mencari referensi mengenai kecemasan dan seluk beluknya.

Awalnya aku hanya sekedar baca-baca, kutip sana kutip sini untuk menambah kajian teori dalam skripsiku, namun aku justru menyadari bahwa diriku adalah salah satu penderita gangguan kecemasan. Entah aku masih tergolong mengalami kecemasan rendah, sedang, tinggi, atau bahkan sudah masuk dalam level panic. Namun dari beberapa gejala yang aku alami mungkin aku masih tergolong kecemasan sedang. Mungkin!

Aku kini sadar bahwa diriku adalah seorang yang mengalami kecemasan, terkadang ada sesuatu yang mengganjal dalam pikiranku mmbuatku tak mampu lagi bekerja secara optimal, jadi tidak heran jika aku akan mengalami stress jika dalam satu waktu harus menyelesaikan beberapa beberapa pekerjaan dalam waktu yang mendesak. Sebagai mahasiswa psikologi seharusnya aku mampu mengatasi permasalahan ini. aku menyadari bahwa diriku mengalami kecemasan, namun aku tak tahu harus bagaimana dan harus berbuat apa agar aku bisa lepas dari kecemasan ini. Ibarat sebuah penyakit aku tahu bahwa aku menderita flu, namun aku tak tahu harus berbuat apa dan bagaimaan aku harus menjaga agar aku bisa sembuh.Terkadang aku merasakan keringat dingin ketika harus bertemu dengan banyak orang, dada ini terasa sesak, dan seringkali pikiranku juga tak menentu, sering diliputi rasa gelisah.

Mungki di luar sana ada juga yang mengalami hal yang sama dengan apa yag aku alami. Merasakan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi pada diri kita, namun pada akhirnya apa yang kita takutkan tak benar-benar terjadi. Bukan apa yang ada di luar sana yang membuat kita takut tapi pikiran-pikran kita terhadap dunia luar lah yang terlalu berlebihan. Aku masih tahap belajar untuk tidak memikirkan hal-hal yang sebenarnya tak perlu di pikirkan,meski terkadang harus menjadi orang yang sangat cuek dengan dunia luar.

Sebenanrnya kecemasan bisa juga menjadi hal yang positif jika tidak terlalu berlebihan, karena dengan begitu kita akan menjadi semakin berhati-hati dalam segala hal, meneyelesaikan pekerjaan dengan teliti, dan segera menyelesaikan pekerjaan mana yang harus segera di selesaikan agar tidak semakin menumpuk dan hanya akan membuat situasi menjadi kacau.

Aku juga merasa geli dengan diriku sendiri, aku mengangkat tema tentang kecemasan dalam skripsiku, namun sebelum sidang aku ternyata juga mengalami kecemasan, bukan pas sidang aku merasa cemas, namun justru hari-hari sebelum sidang aku merasakan cemas, berpikiran bahwa hal-hal buruk akan terjadi pada proses sidang skripsi saya. Meski pada akhirnya ketakutan-ketakutan pada diriku juga tidak benar-benar terjadi dan proses sidang bisa dibilang lancer.

Mungkin dengan menghadapi situasi-situasi yang membuat kita cemas, akan bisa membantu mengatasi kecemasan yang kita alami, karena dengan begitu kita akan banyak belajar merespon hal-hal yang awalnya membuat kita merasa cemas. Dan selanjutnya kita tidak akan cemas lagi jika menghadapi situasi yang sama, yang awalnya membuat kita merasa cemas.

Kecemasan itu terkadang juga dibutuhkan namun jika terlalu cemas juga tidak baik bagi kita, pahami diri kita, apa yang membuat kita cemas, dan cobalah untuk berani menghadapi situasi yang membuat kita cemas.


Sekian
Read more ...

Senin, 24 November 2014

SKRIPSI

SKRIPSI, mahasiswa strata 1 pasti akan menemui tugas suci itu, karena mau tidak mau hanya untuk sekedar menaruh gelar kesarjanaan tepat di belakang nama, skripsi harus (segera) diselesaikan. Entah mengapa skripsi yang (hanya) berupa kumpulan lembaran kertas yang berisi karya ilmiah itu begitu menyita banyak waktu, tenaga dan pikiran. Padahal untuk mengerjakan tugas-tugas setiap mata kuliah mahasiswa mampu menyelesaikan dalam semalam. Namun kenapa untuk menyelesaiakan skripsi butuh waktu yang cukup lama, saya sendiri menyelesaikan skripsi hampir satu tahun lebih. Dan Alhamdulillah aku sudah bisa mengakhiri masa-masa itu, masa dimana aku harus rela berjam-jam duduk di depan layar komputer untuk menyelesaikan proposal. Masa dimana aku harus rela di PHP berulang kali karena kesibukan dosen yang tak bisa diduga. Masa dimana aku harus menjadi orang yang sangat sensitive ketika ada orang yang dengan songonnya mengatakan “bagaimana skripsimu?” Dan baru setelah aku menyelesaikan skripsi aku baru berani menuliskan tuisan tentang skripsi ini. Bagi kalian yang masih berjuang untuk lulus, jangan pernah patah semangat. hahahaha

Skripsi, prosesmu tak sesimpel dengan namamu, makhluk yang tak bernyawa ini malah menjadi seperti monster yang tak kasat mata, tumbuh di dalam diri setiap mahasiswa tingkat akhir. Kata skripsi yang awalnya nampak biasa-biasa saja, namun bias berubah kata yang sangat sensitive didengar di telinga. Kata skripsi sudah menjadi seperti sebuah sensor yang ketika kata itu muncul, maka itu sama dengan tombol sensitive itu sudah on, apa yang terjadi? Mau marah tidak enak sama temen sendiri, dan jurus terakhirnya adalah mengalihkan topic pembicaraan atau diam seribu bahasa. Namun demikian skripsi juga dirindukan (beberapa) mahasiswa yang sudah ingin segera menyelesaikan skripsi dengan harapan bias segera lulus. Tidak sedikit pula yang masih bingung dengan tema apa yang akan diambil untuk tugas suci bernama skripsi itu.

Saya belajar banyak hal mengenai proses skripsi, karena banyak sekali pelajaran tentang hidup ini yang tidak bisa didapatkan hanya melalui kelas-kelas mata kuliah, meski saya kuliah di psikologi, namun semua masalah yang aku pelajari di kelas masih di dominasi oleh teori-teori, padahal studi mengenai fenomena-fenomena social di sekitar kita sangat menarik untuk di ulas melalui sudut padangan keilmuwan psikologi.

Proses skripsi mengajarkanku bahwa terkadang segala sesuatu berjalan tidak sesuai rencana, target lulus yang sering mundur karena ada kendala dengan skripsi misalnya. Skripsi adalah sebuah perjuangan yang berawal dari diri sendiri, banyak kendala yang sebenarnya muncul bukan dari dosen pembimbing, namun justru berasal dari dalam diri sendiri. Ketika rasa malas yang tak berkesudahan, kendala dalam proses skripsi yang tidak segera di selesaikan dan malah menghindari dengan segala aktifitas yang membuat skripsi semakin kabur dan enggan untuk segea di selesaikan.

Harus aku akui, diriku juga seperti mahasiswa tingkat akhirnya, ada kalanya aku menjadi bersemangat, hingga merelakan sedikit jam tidur bekurang untuk menyelesaikan proposal agar segera bisa maju ke dosen pembimbing, namun terkadang juga aku menjadi tak peduli lagi dengan skripsi, karena masih banyak di luar sana aktifitas yang lebih menyenangkan daripada duduk berlama-lama di depan layar komputer dan menatap ms word untuk mengerjakan skripsi. Kebiasaan menulis blog juga membuatku sedikit susah untuk memulai menulis kata demi kata dalam skripsiku, maklum lah blogku bukan berisi tulisan-tulisan ilmiah, karena  saya terbiasa menulis dengan gaya freewriting.

Sujud syukur akhrnya aku bisa mengakhiri masa-masa skripsi, di tengah rasa malas yang terus menghampiri, di tengahh kegiatan-kegiatan lain yang jauh lebih menyenangkan, serta di tengah pekerjaan sambilan yang bisa menghasilkan pundi-pundi uang jajan. Lulus kuliah bukan berarti perjuangan sudah selesai, di depan masih ada hal yang lebih besar untuk aku hadapi, tentu saja mencari pekerjaan. Beginilah mahasiswa, ketika belum lulus sering galau karena skripsi tak kunjung selesai sedangkan teman-teman seangkatan sudah banyak yang bekerja, ada juga yang sudah menikah. Dan setelah lulus malah bingung karena pengalaman yang minim membuat kami fresh graduate susah mencari pekerjaan.

Mengeluh bukanlah solusi, terus berusaha dengan melakukan yang terbaik adalah jalan yang harus ditempuh. Semoga kami para sarjana baru (mau) di wisuda terus bisa survive di tengah tuntutan segera menikah, eh maksudnya di tengah tuntutan untuk segera mendapatkan penghasilan sendiri, sehingga bisa buat modal untuk menikah. Hahahaha ujung-ujungnya nikah juga J

Salam



Read more ...

Sabtu, 22 November 2014

Diam-diam Mendoakan

Kepada yang diam-diam mendoakan
Teruslah berdoa untuk orang yang kalian cintai, meski hingga detik ini dia belum sadar, bahwa ada seseorang di luar sana yang mencintainya dengan tulus. Teruslah berdoa untuk kesehatannya, untuk keselamatannya, untuk kelancaran rizkinya dan solusi atas segala permasalahan yang sedang ia alami

Kepada yang diam-diam mendoakan
Teruslah berdoa untuk orang yang kalian cintai, dan jangan sampai ada yang tahu, kecuali dirimu sendiri dan tentu Tuhan yang maha mengetahui segala isi hati manusia, teruslah berdoa dengan suara yang lirih hingga tak ada orang di sekitarmu mendengarkan bahwa ada seseorang yang diam-diam kau doakan.

Kepada yang diam-diam mendoakan
Teruslah berdoa, meski cinta bukanlah hal yang mudah untuk di pendam.  Meski engkau tak tahu apakah pada akhirnya orang yang selama ini kau sebut dalam setiap doamu akan menjadi teman hidupmu atau tidak. Dan yakinlah tak ada yang sia-sia dengan segala doamu, Tuhan maha tahu apa yang terbaik bagimu

Kepada yang diam-diam mendoakan
Teruslah berdoa untuk dirinya yang engkau cintai, karena hanya dengan mendoakan lah segala rindu dapat terobati. Terusah berdoa untuk dirinya yang selama ini kau harapkan untuk menjadi teman hidupmu. Karena sadar atau tidak, kamu telah mampu menjaga dirimu sendiri dan orang yang kau cintai untuk tidak melakukan hal-hal yang belum pantas kalian lakukan. Teruslah berdoa dalam diammu, karena sebenarnya kamu tidak sedang menunggu (pasif), namun kamu sedang memperbaiki dirimu hingga kamu (merasa) pantas untuk menjadikannya ia sebagai kekasih yang halal untukmu.

Kepada yang diam-diam mendoakan
Teruslah berdoa untuknya yang selama ini kau cintai. Karena  cinta dalam diam bukan hanya sebatas sikap, namun juga hati yang senantiasa berdoa untuknya. Teruslah berdoa dalam sikap diammu, karena berdoa dalam diammu bukanlah sikap pengecut seorang lelaki, namun keberhasilanmu dalam mengelola bukan hanya dirimu namun juga kesabaran dan segala perasaanmu. Teruslah berdoa dalam diammu, karena berdoa dalam diam sekali lagi tidak serta merta menjadikan dirimu seolah-olah seperti seorang pengecut, namun menunjukan bahwa betapa tulusnya cintamu kepadanya, hingga dalam hal ini kau libatkan Tuhan untuk mengatur segalanya. Berdoa dalam diammu menunjukan bahwa dirimu adalah orang yang pemberani, yaitu orang yang berani menunda kenikmatan semu, dan memilih untuk bersikap diam hingga kamu siap dan menjadikan dirinya halal untukmu.

Kepada yang diam-diam mendoakan
Teruslah mencintainya dalam diammu,
Karena diammu menyimpan kebaikan,
Karena diammu menyimpan ketulusan.


Salam
Read more ...

Selasa, 18 November 2014

PUISI

            Hujan

Sinar datang membawa kehangatan
Malam datang membawa kesunyian

Sedangkan hujan?
Hujan datang dengan membawa harapan

Harapan akan adanya  kehidupan
Harapan akan adanya keindahan pelangi

Banyak yang mengharapkan kedatangannya
Tak sedikit pula yang membencinya

Tapi hujan tetap saja turun, karena masih ada yang mengharapkannya
Hujan tetap saja turun meski masih ada yang tak mengharapkannya

Itulah kenapa aku sangat suka dengan hujan,
Ia datang untuk orang yang mengharapkannya,
Tak peduli ada yang membencinya


*Puisi Hujan terinspirasi ketika aku sedang asyik membaca tulisan “Hujan” karya Kurniawan Gunadi dalam buku Hujan Matahari
Read more ...

Perahu

Jika dirimu sudah puas bermain-main. Aku akan mengajakmu. Bukan mengunjungi ke suatu tempat yang sebelumnya belum pernah kamu dan aku (Kita) kunjungi. Namun aku akan mengajakmu membuat sebuah perahu. Perahu yang tidak hanya dibuat dengan segala material yang digunakan untuk membuat perahu, tapi ada hal lain selain itu yang lebih skaral, yaitu cinta. Dengan perahu kita akan bersama-sama mengarungi samudera yang luas. Perahu yang akan membawa kita, bukan hanya pulau-pulau yang indah, namun pulau-pulau yang sebelumnya tak pernah kita pikirkan bahwa pulau itu akan kita kunjugi.

Perahu yang akan membawa kita bersama mengarungi samudera yang luas. Dan di perahu tersebut juga lah segala sesuatu akan kita hadapi bersama. Karena bukan hanya air yang tenang yang akan kita lalui bersama, namun terkadang kita dihadapkan pada angin yang besar atau badai yang tak menentu, gelombang tinggi serta teriknya matahari di kala panas. Dan di saat seperti itulah kita sedang diuji bersama. Dan kamu tak perlu takut dengan segala hal yang akan terjadi pada perahu kita, karena segala ritangan akan kita hadapi bersama.

Kamu dan aku bukan hanya akan belajar banyak dari setiap tahapan atau proses perjalanan ini. Aku juga akan selalu berusaha menjaga perahu ini, agar perahu ini tidak berlubang sekecil apapun, karena bisa jadi lubang kecil yang terus dibiarkan itulah yang semakin lama akan semakin membesar, dan bukan tidak mungkin jika perahu kita akan tenggelam. Aku tidak ingin hal itu terjadi, jadi mau kah kamu bersama-bersama menjaga perahu ini agar tidak tenggelam?

Dan perlu diketahui bahwa bukan hanya badai yang menggunjang perahu kita, bukan hanya gelombang air yang tinggi yang membuat perahu kita oling atau kehilangan keseimbangan, serta bukan karena menabrak karang yang membuat perahu kita bisa hancur. Namun keindahan-keindahan semu yang membuat mata tertutup hingga salah satu diantara kita lebih memilih meninggalkan perahu yang sudah lama kita bangun, hanya karena ego dan ambisi dengan harapan bisa mendapatkan kenyamanan dengan mengorbankan perahu yang sudah lama kita bangun bersama. Aku harap hal ini tidak akan terjadi pada perahu kita.


Jadi mau kah kamu bersamaku membuat sebuah perahu? Perahu yang akan membawa kita mengarungi samudera kehidupan dengan segala ketidakpastiaannya. 
Read more ...

Sabtu, 15 November 2014

PUISI

            Hujan di Musim Kemarau

Hujan di musim kemarau
Datang membawa sejuta harapan
Membasahi bumi yang sudah mulai mengering
Menyegarkan tanaman yang sudah mulai layu

Hujan di musim kemarau
Datang membawa keindahan
Bagi mereka yang rindu akan hadirnya pelangi
Yang melukiskan langit dengan aneka warna

Hujan di musim kemarau
Datang membawa kesejukan
Bagi mereka yang sudah mulai merasakan teriknya sinar
Bagi mereka yang rindu akan datangnya hujan

Hujan di musim kemarau
Yang datangnya selalu dinanti
Seperti hadirnya dirimu

Yang selalu ku nanti 
Read more ...

Rabu, 12 November 2014

Karena Setiap Perjalanan Punya Banyak Cerita

Sekali-kali aku akan melakukan suatu perjalanan seorang diri. Iya, sendirian! Ketempat yang dulunya tak pernah aku kunjungi sekalipun. Tanpa ada koneksi internet yang hanya akan mengganggu perjalananku karena aku harus sesekali mengintip sejenak apa yang sedang terjadi di media sosial melalui smartphoneku.

Pergi seorang diri bukan berarti aku merayakan kesendirianku. Bukan berarti pula aku adalah orang yang egois, yang merasa bisa hidup seorang diri tanpa orang lain. Aku masih sadar, bahkan sangat sadar bahwa sebagai manusia aku tak bisa hidup seorang diri, karena manusia adalah makhluk sosial. Aku rasa semua orang sependapat mengenai hal itu.

Perjalanan seorang diri juga bukan berarti untuk menunjukan ambisiku tentang kemandirianku yang menurut orang lain tidak masuk akal. Bukan! Tapi dengan pergi seorang diri, aku percaya, bahwa aku akan menemukan orang-orang baru yang sebelumnya aku tak mengenalinya. Aku bisa belajar banyak hal melalui orang-orang baru itu. Belajar dari orang-orang yang memiliki latar belakang yang berbeda, baik itu budaya, agama, bahasa dan sudut pandang yang berbeda pula tentunya.

Perjalanan seorang diri yang akan membawaku kepada kesadaran bahwa tak selamanya aku bisa melakukan perjalanan seorang diri. Karena bagaimana pun juga, aku akan butuh teman untuk mengisi kebosananku selama perjalanan. Seorang teman yang akan terus menjaga kesabaranku di kala aku sudah lelah menunggu. Seorang teman yang tidak hanya menemaniku selama perjalananku tapi lebih dari itu, sebagai teman dalam perjalanan hidupku.

Sepanjang perjalanan di atas kereta, 12 November 2014

Read more ...

Jumat, 07 November 2014

Marathon

Aku adalah seorang pelari marathon. Bersama beberapa pelari lainya sedang mengikuti sebuah peerlombaan, yang menurutku tak pernah aku menganggapnya sebagai perlombaan. Memulai perlombaan dengan beberapa orang yang sudah bersiap di garis star.  Dan ia, iya, ia adalah orang yang awalnya tak pernah aku rencanakan tiba-tiba saja menarik perhatianku diantara pelari-pelari lainnya

Semua bersama-sama berlari dari start, aku tahu betul, kala itu ia langsung berlari sprint ketika star baru dimulai, padahal ini adalah lari marathon, bukanlah lari sprint. Entah apa yang ada dalam pikirannya hingga ia memilih berlari jauh lebih cepat dari yang lainnya. Pikirku ia akan sampai di garis finish paling awal. Atau setidaknya lebih dulu sampai pada garis finish daripada aku. Aku tahu betul tentang kemampuanku, aku tak mungkin berlari cepat hingga berada di garis depan setelah start baru saja dimulai. Karena aku tahu, aku akan kehabisan energy dan aku sendiri malah sanksi dengan diriku apakah bisa sampai garis finish atau tidak, karena terlalu memaksakan. Aku mengikuti langkahnya dari belakang. Mungkin ia tak pernah smenyadari, bahwa ada seseorang yang dibelakangnya. Iya, ada aku yang terus mencoba berlari meski dengan langkah yang sudah tak lagi tegap,  agar bisa terus mengikuti langkah kakinya, namun langkah kakiku tak mampu  melewati atau sekedar membersamainya.

Jalur lari masih panjang, ia masih berada jauh didepanku, dan semakin lama  malah jauh dari penglihatanku. Aku pikir ia akan jauh meninggalkanku dan sampai di finish terlebih dahulu. Aku terus berlari, namun kini sudah tak ada punggungnya lagi yang mampu aku lihat ketika aku terus berlari menatap kedepan. Mencoba terus berlari dan sesekali aku harus berhenti dan hanya melangkah dengan langkah pendek serta berusaha untuk berjalan hingga garis finish. Entah kapan sampainya, karena aku sudah tak mungkin untuk menjadi orang pertama yang sampai digaris finish. Aku hanya ingin terus berlari sampai finish, meski hanya akan menjadi orang yang terakhir menyentuh garis finish. Yang terpenting bagiku adalah garis finish, karena dari awal tujuanku adalah garis finish, sedangkan menjadi orang pertama yang menyentuh garis finish sudah bukan lagi menjadi ambisiku. Dan dari awal aku juga tidak pernah menganggapnya sebagai perlombaan.

Sekian lama aku berlari, melihat kabar dan kemeriahan tentang pelari lain yang sudah sampai di garis finish. Mungkin mereka yang sudah berada di garis finish sudah duduk santai, ada yang focus pada lomba marathon selanjutnya, ada juga yang sudah lelah berlari dan masih terlalu nyaman beristirahat.  

Aku yang sudah mulai lelah berlari, dan mencoba bertahan agar bisa sampai di finish, hingga aku lalai, bahwa ia yang selalu aku lihat didepanku, malah kini tanpa kusadari malah sudah berada dibelakangku. Entah kenapa ia bisa aku lewati padahal dulu aku tahu betul bahwa kamu mampu jauh berada di depanku untuk melwati garis finish. Ingin rasanya aku tahu kenapa ia bisa tertinggal olehku. Namun lagi-lagi aku enggan untuk belari kebelakang atau sekedar memperlambat langkah. Karena ketika aku melihat ke belakang dirimu seperti sedang berhenti dan sedikit menghiraukan garis finish. Entah kenyamanan apa yang membuatnya enggan untuk melanjutkan hingga sampai finish, mungkin kakimu sudah tak kuat lagi untuk melanjutkan langkah hingga finish. Harus aku akui, aku juga pernah mengalami apa yang kau alami saat itu. Ketika berlari dan memutuskan untuk beristirahat, namun malah menjadi lena dan rasanya-rasanya garis finish yang menjadi tujuan akhir dari marathon ini seakan kabur dari penglihatan. Namun aku mencoba untuk membuka mata dan meyakinkan bahwa garis finish sudah dekat dan aku harus segera sampai entah bagaimana pun caranya, meski hanya dengan langkah yang sangat pelan, setidaknya aku berusaha untuk mendekati garis finish.

Akhirnya aku sampai pada garis finish, sedangan ia? Aku tak tahu dimana posisinya saat itu. Setelah melepas lelah, aku mencoba untuk menengoknya dan berlari ke belakang, aku hanya ingin memastikan bahwa dirinya masih berusaha untuk berlari hingga garis finish. Dan ketika aku coba untuk melihat keadaannya, sepertinya ia sedang beristirahat dan menurunkan langkah kakinya. Aku pikir ia sudah benar-benar lelah. Di saat itulah aku beranikan diriku untuk memberi semangat kepadanya dan meyakinkan bahwa ia bisa sampai garis finish.

Entah kehadiran yang kurang tepat hingga niat baikku seakan ia terjemahkan lain, padahal aku tulus untuk memberi semangat kepadanya, meski aku masih enggan untuk mengulurkan tanganku untuk menuntun hingga garis finish, karena aku tahu ia akan menghiraukan uluran tanganku. Saat aku coba mengingatkan bahwa ia harus terus berlari meski hanya dengan langkah kecil. Namun entah kenapa ia justru seakan tak pernah menghiraukanku. Iya, harus aku akui aku salah, aku tidak berusaha untuk memahami kondisinya.

Sekarang aku bukan tidak peduli lagi dengan dirinya, namun cukuplah aku memperhatikannya dari jauh. Dan sesekali memastikan bahwa dirinya masih ingin terus berlari atau berjalan hingga garis finish. Senang ketika dirinya sekarang sudah berusaha terus melangkahkan kaki hingga ke finish, karena tujuan dari perlombaan ini adalah sampai garis finish.


Sedangkan aku? Tak apalah aku hanya sebagai penonton kali ini, ikut merayakan setiap pencapaiannya, meski ia tak menyadari keberadaanku.  Itulah mengapa aku tak pernah menganggap bahwa marathon ini bukanlah sebuah perlombaan karena perlombaan hanya akan menghasilkan pemenang, yang hanya akan menumbuhkan kesombongan atas pencapaian diri, bukan kepedulian kepada sesama.
Read more ...

Rabu, 05 November 2014

Keterbatasanya adalah kelebihannya

Siang ini sepulang dari kampus, sengaja aku memilih jalan pulang yang berbeda dari biasanya. Aku lebih memilih jalan yang berputar sehingga terasa lebih jauh. Aku memang sengaja memilih jalan pulang yang lebih jauh, meski cuaca siang hari di solo lagi terik-teriknya, biarlah sesekali aku menikmati panasnya udara solo di siang hari, pikirku.

Ketika aku melintasi sebuah rel kereta api, sengaja aku menurunkan laju motorku, kulihat ada seorang laki-laki yang nampak masih muda, kira-kira seumuran dengan kakakku, sedang berjalan di tepi jalan dengan langkah yang pasti, meski ia menggunakan sebuah tongkat. Tongkat itu tidak ia gunakan untuk membantu agar tetap menjaga keseimbangan ketika sedang berjalan, namun ia gunakan untuk memastikan bahwa tidak ada sesuatu di depannya. Iya, lelaki itu oleh Allah di cabut penglihatannya. Aku tidak tahu pasti apakah itu bawaan sejak lahir atau tidak, karena aku tak sempat berhenti dan mengajaknya mengobrol banyak hal tentang dirinya.

Lelaki itu meski sudah dicabut penglihatannya oleh Allah, namun ia tetap bisa berjalan seperti halnya orang-orang pada umumnya, ia tidak menabrak pejalan kaki lainnya, tidak tersandung oleh batu atau kerikil. Dan ia juga tahu jalan pulang ketika ia sedang bepergian padahal ia pergi seorang diri. Ia juga nampak sudah tahu betul jalan mana yang akan ia lalui, meski banyak gang di  kanan kirinya.

Mungkin bagi kita yang sejak lahir diberi kenikmatan kelengkapan indera dalam tubuh kita, dan suatu ketika Allah mencabut salah satu nikmat Indera yang ada dalam tubuh kita, hal itu semacam cobaan hidup yang teramat berat bagi kita. Jangankan dicabut penglihatan kita, tiba-tiba mati lampu di malam hari saja, sudah membuat kita tak mampu berjalan dengan baik. Bagaimana jika tiba-tiba mata ini tak bisa melihat dunia dan yang ia lihat hanya gelap?

Bertemu dengan laki-laki tuna netra itu membuatku berpikir, bisa jadi bagi kita yang diberi kelengkapan indera, menganggapnya bahwa terlahir sebagai tuna netra adalah kekurangan baginya, namun pernahkah kita berpikir bahwa ia juga memiliki kelebihan yang bagi orang yang terlahir dengan mata normal seperti kita mengganggapnya sebagai kekurangan? Coba saja tutup mata kalian, kemudian berjalan lah dengan tongkat apakah kamu bisa berjalan dengan baik seperti mereka yang terlahir tuna netra? Tidak bukan? Dan ketika ada nikmat yang dicabut oleh Allah, maka di sisi lain sebenarnya Allah melebihkan nikmat yang lain. Karena mereka yang terlahir buta, mereka tidak lagi berjalan dengan mata dan kaki mereka, namun mereka berjalan dengan kaki dan beberapa indera yang oleh Allah dilebihkan fungsinya dari orang normal lainnya. Sehingga tidak jarang orang yang terlahir buta, memiliki indera penciuman yang lebih tajam, indera pendengaran yang lebih tajam, atau indera peraba yang lebih tajam dari orang-orang yang terlahir dengan kelengkapan indera seperti kita.

Mereka yang dicabut penglihatannya oleh Allah, tetap bisa hidup layaknya manusia normal, bahkan ada salah satu motivator kebetulan Ia juga terlahir tuna netra, silakan cari di google Ramaditya Adikara. Meski ia seorang tuna netra namun ia masih bisa  tetap berbagi melalui pengalaman hdupnya. Dan ia juga bisa mengoperasikan komputer dengan bantuan semacam aplikasi pada komputernya, jadi tidak heran jika ia juga mampu menulis beberapa buku.

Tuhan telah menunjukan keadilannya, mereka yang di cabut salah satu nikmatnya, maka sebenarnya ada nikmat lain yang Allah lebihkan. Jadi mash menganggap bahwa mereka yang terlahir berbeda sebagai sebuah kekurangan?


Salam 
Read more ...

Rabu, 29 Oktober 2014

Medsos

Sekali-kali aku ingin menjadi manusia yang sebenar-benarnya manusia. Bukan manusia malah menjadi budak teknologi. Teknologi yang seharusnya memudahkan segala aktifitas manusia malah seakan menjadi penghalang bagi manusia itu sendiri. Hampir setiap hari disibukan dengan dunia baru mereka. Dunia yang sebagian orang sudah mengklaim bahwa dunia baru itu miniatur dunia yang sebenarnya. Media social, itulah dunia baru itu. Meski keberadaannya dalam dunia maya, namun media social sudah sangat popular saat ini. Bahkan ketika bangun pagi, hal pertama kali yang kita lihat adalah notif-notif dalam jejaring sosial.

Pertemuan yang menjadi aktifitas utama manusia dalam bersosialisasi dengan sesama seakan tergantikan dengan adanya media sosial. Aku sendiri terkadang merasa bahwa selama ini menjadi budak dari teknologi. Dalam sebuah obrolan aku sering menyibukan diriku dengan smartphone daripada memperhatikan dan menangkap inti dari sebuah percakapan.

Pertemuan menjadi bukan hal yang dipermasalahkan dalam sebuah hubungan. Padahal adanya media sosial tak lebih hanya sebagai medium atau perantara. Apa yang ada dalam percakapan dalam sebuah media sosial tak lebih hanya sekedar teks berbalas teks. Padahal jika hal itu terjadi dalam sebuah pertemuan, setiap percakapan mengandung sisi emosional yang tak dapat ditemukan dalam percakapan teks berbalas teks melalui media sosial.

Media social juga menjadi sarana yang membuat manusia berubah total dari kepribadiannya. Orang yang pemalu mendadak menjadi seorang yang pemberani dengan kata-kata makian yang berbentuk teks. Cukup dengan menambah emoticon yang pas untuk menggambarkan betapa dirinya sedang diliputi perasaan emosional.

Orang yang bajingan sekalipun bisa saja menjadi nampak alim dengan sering memposting kutipan-kutipan ayat suci, padahal kutipan ayat suci bisa dengan mudah melalui system pencarian seperti google, semudah hanya sekedar copy paste. Orang yang pendiam bisa saja menjadi seperti orang bijak dengan kata-kata mutiara penuh makna.

Semua penilaian hanya berdasarkan persepsi kita terhadap barisan teks-teks dalam postingan media sosial. Lebih parah lagi adalah ketika ada orang yang menilai seseorang hanya berdasarkan postingan-postingan dalam media sosialnya. Padahal sudah jelas bahwa kata tak memuat emosi, dan hanya berdasarkan persepsi masing-masing individu. Sedangkan persepsi itu sendiri dibentuk berdasarkan pengalaman seseorang dan pengalaman masing-masing orang berbeda-beda.

Betapa tidak mau berpikirnya ia hingga ada-ada saja kasus tentang penculikan oleh teman dalam media sosialnya. Sebegitu pentingnya jejaring sosial dalam hidupnya hingga pertemuan dengan teman-teman yang begitu nyata, terkalahkan dengan teman-teman dalam media sosial yang sejatinya tidak pernah sekalipun menjumpainya.

Media sosial begitu fenomenal saat ini. orang tidak mempunyai media social langsung dicap sebagai orang yang tak melek teknologi, padahal orang yang berkata itu bisa jadi adalah “budak teknologi”. Perlu digaris bawahi bahwa budak teknologi bukanlah orang yang menguasai teknologi, namun malah di kuasai oleh teknologi. Teknologi seperti halnya dengan sebuah pisau, ditangan koki pisau itu bisa saja menjadi peralatan yang mampu memudahkan pekerjaan sebagai koki, namun ditangan seorang pencuri, pisau malah bisa menjadi senjata untuk menakuti-nakuti selama mencuri. Semua itu tergantung dari kita sendiri.  


Pesan moralnya gunakan medsos yang wajar-wajar lah, saling mengingatkan ya, hehehehe :-)
Read more ...

Puncak Lawu


Sejenak meninggalkan berita tentang pernikahan artis yang begitu megah, entah berapa Milyar uang habis dalam hajatan itu, bahkan ditayangkan secara live oleh salah satu stasiun telivisi swasta hampir sehari penuh. Meninggalkankan sejenak euforia masyarakat Indonesia karena adanya pelantikan Presiden terpilih dalam pemilu lalu, serta sedikit mengalihkan tentang profil menteri baru yang jadi buah bibir dalam media social. Kali ini aku sedikit bercerita tentang perjalananku beberapa hari yang lalu, yang belum sempat aku bagi melalui tulisan ini. Iya, setiap perjalanan punya cerita dan aku ingin berbagi dengan kalian. Sebenarnya perjalanan ini ingin segera aku tulis, namun pikiran sedang disibukan oleh hal-hal lain yang sulit bagiku untuk duduk dan berkonsentrasi sejenak di depan laptopku dan menuliskan ke dalam blog ini. Namun kali ini aku akan mencoba berbagi dengan kalian.

Perjalananku kali ini mengarah pada gunung yang terletak di perbatasan antara Jawa tengah dan Jawa timur, yaitu antara Kab. Karang anyar dan Magetan. Iya, gunung lawu, dengan ketinggian kurang lebih 3265 MDPL. Sebenarnya aku sudah memutuskan untuk tidak ikut naik, karena ada suatu hal serta keperluan yang sedikit mendesak. Namun persis satu jam sebelum berangkat, temanku datang ke kosku karena sebelumnya ia sudah mengirim pesan singkat melalui BBM, katanya ingin minta tolong. Namun pas di kos ia malah sedikit bercerita tentang banyak hal dan setelah beberapa saat kemudian, “okey Aku ikut”. Karena persiapan yang sangat mepet aku segera berkumpul dengan teman-teman yang lain, dan perlu diketahui aku hanya membawa tas kecil, beserta kantong plastic berisi pakaian ganti, itu saja. Dan melihat hal itu, temanku langsung tertawa sedikit  meledek, karena sebelumnya ketika perjalanan menuju ke merbabu, barang bawaanku hampir setengah tas carier besar, mungkin karena pengalaman ketika naik ke merbabu, jadi aku hanya membawa apa yang benar-benar diperlukan saja.

Sebelum keberangkatan dari solo ke basecamp, kami melakukan packing dan menjelaskan bahwa perjalanan menuju lawu akan dilakukan pada malam hari melalui cemoro kandang dan turun melalui cemoro sewu, double track. Iya, jalur pendakian lawu ada dua, yaitu melalui cemoro kandang dan semoro sewu, sebenarnya letaknya berdekatan, jalan kaki tidak kurang dari lima menit, namun track yang dilalui jauh berbeda 180 derajat. Kami hanya berenam, dengan komposisi lima orang cowok dan satu orang cewek. Dan perjalanan ini adalah perjalanan kali keduaku menuju puncak gunung, setelah hampir satu bulan yang lalu berhasil sampai puncak gunung merbabu.  

Sekitar pukul 17.00 kami berangkat dari solo dengan menggunakan sepeda motor, dan sampai di basecamp kurang lebih sekitar pukul 19.00, barang-barang langsung di bawa ke basecamp cemoro kandang, sedangkan motornya di parkir di basecamp cemoro sewu, kemudian dari basecamp cemoro sewu ke cemoro kandang, kami jalan kaki, meski sudah berbeda provinsi namun karena terletak di perbatasan, jadi jalan kaki hanya memerlukan kurang lebih 5 menit. Sesampai di basecamp kami langsung sholat magrib sekaligus isya, karena di perjalanan tadi kami belum sempat sholat magrib, kemudian makan malam. Makan malam tepat sebelum naik, ternyata bukanlah hal yang tepat, apalagi makan malamnya soto dan nasi goreng yang pedas, belum ada satu jam berjalan, perut sudah terasa panas, dan hal inilah yang menjadi keluhan kami selama perjalanan, sebelum perut kami sudah benar-benar beradaptasi.

Seperti perjalanan gunung-gunung lainnya, perjalanan di malam hari membuat nafas sedikit ngos-ngosan, selain jumlah kadar oksigen yang sedikit menipis tubuh juga belum menyesuaikan dengan suhu sekitar, sehingga terkadang kami harus bersitirahat untuk mengatur nafas. Udara yang awalnya dingin, sedikit demi sedikit tidak lagi terasa dinginnya. Keringat dari tubuh juga terus bercucuran, perjalanan malam hari tidak begitu ramai, jadi sepanjang perjalanan kami jarang bertemu dengan pendaki lainnya.

Jalur pendakian melalui cemoro kandang tidak begitu menanjak, malah cinderung landai, namun memerlukan waktu yang lebih lama, karena jalurnya hanya berputar-putar. Sesampai di pos I kami istirahat sebentar serta membuat segelas kopi yang kami bagi bersama, menikmati cemilan dan baru melanjutkan perjalanan. Jarak pos I dan II tidak begitu jauh, namun jarak antara Pos II dan POS III lah yang membuat kami sedikit kesal dan hampir frustrasi karena tak kunjung sampai. Sempat di PHP oleh pos bayangan antara POS II dan POS III, namun akhirnya kami tiba di pos III sekitar pukul 02.00 dini hari. Di pos III kami putuskan untuk mendirikan tenda, meski pada awalnya kami berencana untuk mendirikan tenda di pos IV, namun udara dingin dan rasa lelah membuat kami semua merasa mengantuk. Kami bagi tugas ada yang mendirikan tenda ada juga yang menyiapkan makanan dan minuman hangat, barulah sekitar pukul 03.00 kami tidur. Udara di pegunungan lawu memang terkenal dingin dan berembun, kami semua melepas lelah dan tidur di tenda meski masih ada hawa dingin yang menyelimuti.

Sekitar pukul 05.00 kami bangun dan sholat shubuh, namun ada yang mengganjal dalam diriku, entah karena makan malamku yang sedikit agak pedas membuat perut tak lagi bersahabat, segera aku mencari spot yang nyaman untuk menandai lokasi atau meninggalkan jejak (baca BAB). Setelah perut sudah mulai lega, aku tak kuasa lagi menahan dingin dan memutuskan untuk berada di dalam tenda dan menikmati kopi serta cemilan. Kami baru akan memulai perjalanan lagi sekitar pukul 09.00, namun karena harus sarapan dan packing lagi perjalan sempat molor, namun masih dalam batas toleransi. Dan diperkirakan kami akan sampai puncak sekitar pukul 12.00

Perjalanan kami lanjutkan, ada salah satu temanku yang sudah mulai merasakan keanehan pada kakinya, segera temanku yang satunya lagi mengganti tasnya dengan muatan yang lebih ringan. Perjalanan selangkah demi selangkah di pegunungan terkadang berjalan tepat di bibir jurang, sehingga kami harus sedikit lebih berhati-hati. Kami hanya berjalan selangkah demi selangkah tak pernah berpikir untuk berlari, namun hanya melalui langkah kecil itu kami percaya bahwa hanya dengan kesabaran dengan langkah kecil yang konsisten inilah kami dapat menaklukan lawu.

Tidak terasa perjalanan dari langkah-langkah kecil kami yang selalui beriringan, dan sesekali harus berhenti untuk mengatur nafas serta sedikit tegukan air untuk membasi tenggorokan yang sudah mulai kering. Perjalanan yang terkadang turun kabut membuat udara tidak begitu panas, hingga kami sampai di pos IV. Di pos IV kami tidak memutuskan untuk istirahat, namun langsung melanjutkan perjalanan, dan saling menyapa sesama pendaki yang sedang berkemas untuk melanjutkan perjalanan hingga puncak. Selama perjalanan menuju pos V yaitu pos terakhir sebelum puncak, nampaknya lutut kaki kanan temanku sudah tidak kuat dan merasa nyeri untuk dijadikan tumpuan. Hal ini sering terjadi pada pendaki pemula karena lutut belum terbiasa. sehingga kami menyuruhnya untuk tidak membawa beban, dan hanya membawa minum.

Setelah keluar dari pos IV rombongan kami terpecah, aku dan salah satu temanku berada paling belakang sedangkan yang lainnya sudah berada jauh di depan. Namun semua sudah kami bagi artinya setiap rombongan sudah membawa air, pikirku kami semua akan bertemu di puncak. Perjalanan menuju pos V memiliki jalur yang landai namun penuh dengan batu. Ketika kami berdua sedang berjalan, kami menemukan jalan, yang harusnya lurus, kami ambil kanan. Nampaknya jalanannya agak mendaki, kami berspekulasi potong kompas hingga pada akhirnya spekulasi yang berawal dari keraguan itu semakin ke atas menunjukan adanya tanda-tanda bahwa puncak sudah sedikit terlihat. Meski jalanan bebatuan yang sedikit menanjak, namun kami malah berhasil sampai puncak lebih dahulu dari pada rombongan yang lainnya. Sampai di puncak Hargo dumilah, aku langsung segera istirahat dan menikmati cemilan bersama angin yang sepoi-sepoi dan ada sedikit embun yang menyapu.



Satu-persatu rombongan kami sampai di puncak, namun mash ada satu yang masih tertinggal, yaitu temanku yang kakinya cidera, segera aku turun lagi menuju pos V, karena pikirku ia masih menungguku di pos V, sedangkan aku memotong kompas menuju puncak tanpa melalui pos V. Setelah berjalan turun beberapa menit dan sambil berterika memanggil-manggil namanya, akhirnya aku menemukan sedang berusaha berjalan menuju puncak, aku segera memastikan bahwa dirinya masih mampu terus berjalan. Kami pun berjalan bersama-sama menuju puncak dan berkumpul bersama di puncak lawu, hargo dumilah dengan ketinggian 3265 MDPL.

Di puncak kami juga bertemu dengan teman kami yang awalnya ingin berangkat bersama, namun karena perbedaan pendapat mengenai keberangkatan kami memutuskan untuk tetap melakukan perjalanan malam, sedangkan mereka memilih berangkat pagi. Entahlah ini sebuah kebetulan atau tidak, namun kami dipertemukan di puncak, meski kami berangkat pada waktu yang berbeda. Mungkin ini yang disebut dengan takdir, bahwa niatan awal kami yang ingin berangkat bersama batal, namun kami semua dipertemukan di puncak lawu, tempat di mana menjadi tujuan kita bersama, seperti inilah hidup terkadang berawal dari hal yang berbeda namun dapat bersatu karena kita memiliki tujuan yang sama.


Setelah hampir satu jam lebih puas menikmati pemandangan dari atas puncak lawu, kami semua turun,  kami turun melalui jalur cemoro sewu. Jalur cemoro sewu jauh berbeda dengan jalur cemoro kandang yang relative lebih landai dan track yang berupa tanah jalan setapak dengan sedikit bebatuan. Sedangkan jalur cemoro sewu jalur track didominasi jalanan bebatuan yang sedikit terjal. Selangkah demi selangkah kami terus bersabar untuk tetap berjalan, karena hari akan semakin gelap dan sesegera mungkin agar kami bisa sampai basecamp sebelum langit berubah menjadi gelap. Perjalanan kami awalnya kami pecah menjadi dua, dua orang di depan dan empat orang di belakang bersama teman kami yang sedang cidera. Namun kondisi teman kami yang kakinya mengalami kelelahan membuat perjalanan rombongan kami berempat menjadi sedikit melamban, kami semua bisa memaklumi hal itu, namun salah satu teman kami segera mengambil keputusan, di meminta aku dan seorang temanku berjalan dengan membawa air yang cukup serta ia juga meminta lampu senter karena perjalanan dimungkinkan hingga larut malam. hal ini bukan tanpa alasan, karena terlalu berhenti membuat diriku menjadi semakin kedingingan karena aku tidak kuat dingin sedangkan udara semakin malam menjadi jauh lebih dingin.

Kami pun terpecah menjadi dua lagi, aku jalan duluan dan sempat hampir kehabisan air, kemudian bertemu kawan kami dari solo juga dan meminta airnya. Sempat aku berpikiran menunggu temanku yang di belakang, karena bagaimana pun kita berangkat bersama, sampai puncak bersama, turun pun kami harus bersama, namun sambil menunggu aku menunaikan sholat dhuhur yang aku jamak dengan sholat ashar, namun temanku tak kunjung datang, hingga semakin lama tubuhku menjadi semakin kedinginan, kami pun memutuskan melanjutkan perjalanan, melalui pos demi pos hingga sekitar pukul 18.30 kami dengan langkah zombie tiba di basecamp, nampaknya kawan kami dari solo sudah beristirahat, dan teman satu rombonganku pun sudah nampak melepas lelah di basecamp.


Meski sampai di basecamp pikiranku pun belum tenang, aku tunggu hingga pukul 20.00 namun temanku juga belum datang, aku menunggu di depan gerbang pendakian, sembari menanyakan posisi mereka pada pendaki lain yang baru sampai. Akhirnya kami mendapat informasi bahwa kawan kami yang kakinya cidera masih di atas pos I, aku dan temanku dari jogja segera menyusulnya dengan membawa motor hingga pos bayangan sebelum pos I, namun tak kunjung datang. Temanku berencana menyusulnya ke atas lagi, takut ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi pada mereka. Aku segera kembali ke basecamp mengambil tas yang berisi tentang obat-obatan yang sekiranya dibutuhkan untuk pertolongan pertama, air dan lampu senter. Namun karena lampu senter yang ada sudah habis baterainya aku membawa seadanyanya, yaitu handphone yang ada senternya dan lampu senter yang ada di powerbank. Segera aku menyusulnya, hingga pos I. di atas pos I aku berteriak memanggil-manggil naman temanku dan ada jawaban dari atas, aku segera menemuinya, dan ternyata kedua kaki temanku sudah kelelahan, hal itu yang membuat mengapa langkah mereka sangat pelan. Segera aku meminta tas carier pada temanku agar bergantian, dan temanku yang dari jogja membopong temanku yang kakinya sudah mulai lelah.

Terus berjalan meski dengan langkah pelan, bahkan sangat pelan, begitu seterusnya dan penuh dengan kesabaran kami semua sudah lengkap berkumpul di basecamp untuk beristirahat. Karena sudah tak memungkinkan untuk langsung turun ke solo, kami pun bermalam lagi di basecamp, dan paginya setelah sarapan pagi kami segera beres-beres untuk segera turun ke solo.

Perjalanan yang menyenangkan, meski tidak bisa dipungkuri bahwa rasa lelah itu pasti ada, namun semua lelah itu terbayar dengan sebuah pencapaian, bukan hanya sampai puncak yang menjadi tujuan kami, namun kebersamaan itu lah yang membuatku merasa bahwa kami adalah satu, apa yang terjadi pada salah satu dari kami adalah hal yang harus kami hadapi bersama. Senang bisa melakukan perjalanan ini dengan kalian semua, Nanda, Tomi, Aris “Python”, Ista, dan kawanku pada kloter pertama Johan, Cupa, Mahen dan satu lagi (enggak tahu namanya), meski kita tidak berangkat bersama, namun kita bisa dipertemukan di puncak. Dan melalui tulisan ini juga saya minta maaf kepada kawan kami, sekaligus adik tingkat kami (Tri Oktanto), karena tidak bisa turut melayat karena kondisi kami yang belum memungkinkan untuk segera kembali ke solo, namun percayalah ada doa kami untuk kebaikan Alm Ibumu.


Dan salam dari puncak lawu, next time kita kemana lagi guys, hahaha :-D 


Read more ...

Senin, 13 Oktober 2014

Tentang Persahabatan

Namanya juga hidup, ada pertemuan pasti ada juga perpisahan, kata yang sering kudengar ketika orang-orang terdekat kita satu persatu pergi meninggalkan kita. Bukan meninggalkan untuk selamanya, hanya berpindah saja, namun kebetulan pindahnya jauh. Bukan menjadi masalah mengapa harus ada perpisahan. Seperti halnya dalam kehidupanku, entah sudah berapa banyak teman atau sahabat dari semenjak masih kecil hingga beranjak dewasa, mereka satu persatu datang dan pergi tanpa kusadari. Seperti sebuah siklus, ketika ada teman atau sahabat yang tiba-tiba menjauh dan menghilang, di saat itulah Tuhan mengirimkan teman atau sahabat baru untuk kita. Mungkin tidak menghilang, hanya saja terbatas oleh jarak dan kepentingan. Aku sangat menghargai hal itu, mereka semua punya cita-cita, yang kebetulan berbeda satu dengan yang lainnya. Mungkin itu adalah salah satu alasan kenapa perpisahan itu harus terjadi. Berpisah untuk mengejar cita-cita untuk meraih masa depan yang mereka impikan sejak kecil.

Namun ada juga yang mampu menjalin persahabatan dari kecil dan saling bersama-sama hingga dewasa, selalu satu sekolah, satu kampus dan satu pekerjaan. Saya kira hal seperti sangat jarang terjadi, meski aku juga tidak bisa memungkiri jika persahabatan seperti itu juga ada.

Adakalanya sahabat adalah orang yang paling pengertian terhadap permasalahan yang sedang kita alami, namun adakalanya juga ia berubah menjadi makhluk yang paling menyebalkan.  Meski demikian, yang namanya sahabat pasti akan mampu memaklumi hal-hal semacam itu.

Hubungan persahabatan yang begitu akrab bukan berarti tidak ada lagi celah bagi konflik-konflik, baik itu kecil maupun besar yang menyelinap dalam hubungan persahabatan. Aku sangat yakin dalam hubungan persahabatan pasti akan ada yang namanya konflik. Jika ada yang mengatakan bahwa selama membina hubungan persahabatan bertahun-tahun tidak pernah mengalami konflik sekecil apapun, aku malah ragu dengan hubungan persahabatan mereka, apakah ia benar-benar bersahabat atau hanya sekedar berteman biasa. Karena setiap manusia itu berbeda-beda, mereka membawa kaca mata yang berbeda-beda yang ia peroleh dari perjalanan hidupnya dari kecil hingga sekarang. Belum lagi dengan masing-masing orang juga memiliki egonya masing-masing.

Di saat berkonflik itulah sebenarnya sebuah perahabatan sedang diuji. Tentang bagaimana mereka mengatasi konflik inilah yang menentukan apakah hubungan persahabatan akan bertahan lama atau tidak. Terkadang karena ego kita, kita jadi saling berselisih paham, dan menganggap pendapat kita lah yang paling benar. Belum lagi masalah-masalah kecil yang menjadikan masing-masing dari kita saling lempar kesalahan. Dan sadar atau tidak, pada saat itulah kita sebenarnya sedang belajar untuk saling terbuka terhadap permasalahan yang sedang di hadapi untuk menemukan solusi yang paling tepat.

Tidak semua masalah bisa dibagi dengan sahabat kita. Meski dengan sahabat ada hal yang tidak semua bisa di bagi dengan sahabat kita, karena masing-masing dari kita memiliki ruang privasinya masing-masing. Ada kalanya aku juga enggan untuk berbagi masalah dengan sahabat-sahabatku, bukannya aku tidak percaya dengan mereka, tapi aku hanya membatasi tentang permasalahan mana yang bisa dibagi dan permasalahan mana yang cukup aku saja yang mengetahuinya. Aku rasa sahabatku tahu akan hal itu, sehingga tak pernah menjadi soal jika adakala aku menjadi orang yang sangat tertutup.

Bersahabat dengan seseorang juga tidak harus memiliki karakter yang sama, namun bisa saja dalam hubungan persahabatan satu sama lain memeiliki karakter yang berbeda-beda. Dan karena perbedaan itulah yang akan melengkapi satu sama lain.



Bahagia rasanya selama ini aku mempunyai sahabat-sahabat seperti kalian, banyak hal yang bisa aku pelajari dari kalian. Terima kasih untuk kalian, sahabatku yang selama ini membersamaiku dalam perjalanan hidup ini. Maafkan aku jika selamanya ini aku selalu mengecewakan kalian dengan segala sikapku. Semoga persahabatan yang selama ini kita bangun, tidak hanya sebatas cerita untuk anak-anak kita, namun lebih dari itu, persahabatan yang terus berlanjut meski usia ini sudah tak lagi muda.
Read more ...