Kamis, 16 Januari 2014

Don’t Judge a Book by Its Cover

Sore ini langit sore nampak mendung, rasanya mata ini sudah tidak mau membuka dengan jelas. Udara yang dingin membuat rasa kantuk ini harus segera di salurkan hasratnya. Saya memiliki kebiasaan tidur siang, dan hal ini membuat saya merasa pusing jika tidak tidur siang. Dan perlu diketahui bahwa kebiasaan tidur siang yang saya alami bukan lah tidur siang seperti anak-anak kecil yang menghabiskan waktu berjam-jam. Saya hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit, biasanya hanya tiduran di atas kasur hingga mata sudah mulai sayu, kemudian sebelum jauh menuju ke alam tidur yang lebih nyenyak, biasanya akan terbangun dan kemudian badan menjadi segar kembali.

Dalam keadaan mata sayu terdengar suara getaran dari Handphone. Kemudian saya buka, ternyata ada pesan singkat dari teman saya yang mengajak untuk membeli jersey bola. Dan saya menyanggupi untuk menemaninya sekalian liat-liat jika ada yang cocok ikut membeli juga. Teman saya fans Liverpool dan bisa dipastikan ia akan membeli jersey Liverpool dan saya goners atau fans arsenal. Meski berbeda dia liverpoldian dan saya gooners tidak jarang saya mengajak dia untuk nobar atau nonton bareng pas arsenal maen. Bisa dibilang kami bukan fans fanatic, namun suka sama bola dan seneng maen futsal juga, dan itu hanya sebagai hiburan saja.

Singkat cerita, jersey dicari sudah ketemu, kami langsung mencari makan di deket kampus. Awalnya bingung mau makan apa, kemudian tanpa melalui sidang isbat layaknya menentukan awal ramadhan dan awal bulan syawal kami memutuskan untuk makan di sate Madura. Sate Madura tentunya yang jual juga orang Madura asli, bukan KW atau bajakan.

Sate kami lahab dengan segera hingga habis dan hanya meninggalkan tusuk-tusuk sate beserta piring kotor. Kemudian saya membayar ke bapak penjualnya. Dan pas saya nanya “Berapa semuanya Pak, sate dua porsi dan minumnya the panas sama esteh?” Bapak penjual sate itu menjawab “semuanya total 25 ribu, Mas” dengan mata melotot disertai dengan nada layaknya preman pasar. Iya kata orang orang Madura orangnya galak-galak dan keras. Namun itu sebenarnya hanya penilaian yang terlalu cepat tanpa melaui sebuah pengenalan apalagi pemahaman, serta melihat kesehariannya.

Orang-orang begitu cepat menilai bahwa orang Madura adalah orang yang galak dan keras, saya yakin bahwa itu adalah pandangan yang salah kaprah. Orang begitu cepat mengambil kesimpulan tentang orang Madura, padahal hanya ketemu sekali. Dan kesimpulan itu meluas sehingga orang Madura dicap sebagai orang yang keras dan galak.

Sepertinya pelajaran tentang pepatah asing “Don’t jugde a book by its cover” (mohon dimaklumi jika ada kesalahan dalam penulisan bahasa inggrisnya J). Sama persis yang saya alami pada waktu ketemu dengan pedagang sate asli orang Madura, awalnya saya menganggap bahwa beliau adalah orang yang galak dan keras namun hal itu langsung dibantah oleh teman saya. Orang Madura memang berbeda dengan orang jawa yang biasanya malu-malu atau besar rasa “pekewuhnya”, sedangkan orang Madura biasanya bersikap terbuka. Orang Madura juga orang yang terkenal dengan pekerja kerasnya karena banyak orang Madura yang merantau ke daerah lain dan dapat survive meski hidup diperantauan.

Pernah sahabat saya bercerita mengenai orang Madura yang sangat menjunjung sopan santun. Jika orang Madura bertamu ke orang lain biasanya ia akan melepaskan alas kakinya sebelum ia masuk ke rumah, meski rumah itu tidak berlantaikan keramik, Itulah orang Madura. Dalam peradaban islam di Indonesia Madura juga merupakan tempat tinggal Kyai yang sangat dihormati di jawa khususnya. Orang menyebutnya dengan Kyai Bangkalan.

Madura adalah bagian dari Indonesia yang mempunyai nilai tradisi sendiri, dalam tulisan ini sebenarnya saya hanya ingin belajar dari pengalaman saya, waktu pertama ketemu dengan orang Madura dan langsung mengambil kesimpulan bahwa orang Madura adalah orang yang keras dan galak. Tanpa berusaha mengenal dan memahami lebih dalam lagi.

Sebagai manusia yang akan selalu berinteraksi dengan sesama manusia, perlu diketahui terkadang kita akan menemui orang-orang baru yang sebelumnya kita tidak mengenalnya. Jangan sampai kita langsung menge-judge seseorang hanya berdasarkan penampilan, intonasi berbicara dan lainnya. Kita adalah manusia yang dibekali akal untuk berpikir, dibekali mulut untuk berbicara, dibekali telinga untuk mendengarkan dan dibekali hati untuk merasakan. Kita tanpa sadar tidak melibatkan semua yang dibekali Tuhan kepada kita, sebelum terlalu cepat mengambil kesimpulan tentang seseorang. Misalnya ada orang yang bercerita bahwa si adalah orang yang nakal, urakan hanya karena penampilannya yang jauh dari kata sopan, bahkan mirip dengan gelandangan. Kemudian apa yang ia dengar tersebut menjadi standar baku dalam hidupnya tanpa berusaha memahami lebih jauh lagi dengan mulutnya untuk bertanya lebih jauh mengenai orang yang bersangkutan, tidak berusaha menggunakan hatinya untuk melihat lebih jauh jalan hidupnya.

Kemudian apa bedanya dengan makhluk lainnya, jika kita tidak pernah menggunakan apa yang dibekalkan kepada kita. Kita bukan anjing yang akan selalu menggongong ketika ada orang asing masuk kehalaman rumah majikannya, karena anjing hanya mengandalakan instingnya. Sehingga anjing itu cepat mengambil kesimpulan bahwa orang baru itu adalah orang yang hendak berbuat kejahatan seperti mencuri. Atau kita lebih baik dari anjing yang selalu mengenal orang baru disekitarnya dengan mengendus dan menghafal bau orang baru itu, sehingga pas melintas anjing tersebut tidak akan menggonggong karena merasa sudah kenal dengan baunya. Iya anjing mengendus untuk mengenal manusia.

Tulisan ini hanyalah sebagai bahan renungan bagi saya sendiri yang terlalu cepat dalam menilai seseorang. Terlalu cepat menilai seseorang karena tidak melibatkan apa yang dibekalkan Tuhan kepada manusia. Ini adalah renungan bagi saya bahwa manusia dibekali akal untuk berpikir, mata untuk melihat, mulut untuk bicara, telinga untuk mendengarkan, dan hati untuk merasakan. Sungguh sangat beruntung kita semua yang masih dibekali secara lengkap. Pernahkan kita berpikir bahwa ada diluar sana yang terlahir dengan ketidak sempurnaan, dibekali mata namun tidak bisa melihat, dibekali telinga namun tidak bisa mendengar, dibekali mulut namun tidak bisa berbicara. Renungan bagi kita semua yang dibekali Tuhan dengan Akal, mata, mulut dan telinga dan masih berfungsi secara normal apakah kita pergunakan dengan baik? Mari kita renungkan.

Setidaknya pelajaran ini membuat saya menjadi lebih bijak lagi dalam mengenal seseorang, serta terlalu cepat mengambil kesimpulan mengenai seseorang tanpa kenal lebih jauh.


Semoga bermanfaat.