Jumat, 28 Februari 2014

Bangkai Tikus


Pemandangan hamparan sawah masih bisa saya lihat di sebuah desa, desa yang jauh dari hiruk-pikuk kehidupan kota yang serba modern. Meski di desa yang kebanyakan kehidupan warganya sebagai petani tulen, bisa dibilang desa ini sudah melek teknologi. Sudah barang wajib bagi anak-anak di desa ini memegang handphone. Anak-anak di desa tersebut juga sudah melek dengan internet, facebook dan twitter sudah menjadi bahan omongan dalam kehidupan sehari-hari.

Pagi hari, saya sempatkan untuk menghirup udara pagi sembari jalan-jalan di tengah persawahan, saya melihat kiri kanan, nampak padi-padi sudah mulai berbuah, mungkin tinggal satu bulan lagi persawahan ini sudah panen raya. Nampak para petani sudah mulai keliling di area persawahan meski hanya sekedar mengaliri air ke sawahnya atau membersihkan rerumputan yang ada di sekitar sawahnya.

Semakin siang, jalanan sudah mulai rame dengan lalu-lalang, orang-orang mulai beraktifitas, ada yang pergi ke pasar, serta anak-anak yang berangkat ke sekolah. Dari lalu-lalang orang-orang yang berjalan di jalan yang letaknya berada di tengah-tengah sawah, karena jalan tersebut kiri-kanannya adalah sawah. Dari mereka yang berjalan di jalan itu, nampak mereka semua menutupi hidungnya seraya meludah, saya tahu betul bahwa bau yang mereka cium sama dengan bau yang saya rasakan, yaitu semacam bau bangkai. Bau itu adalah bau bangkai tikus, karena untuk menghindari gagal panen dari hama-hama tikus yang menyerang persawahan tersebut, sudah mulai digerakan untuk bersama-sama memberantas hama tikus, ada yang dengan cara mengasapi kemudian ditutup rapat-rapat lubang tikusnya, ada yang menggunakan racun tikus, ada juga yang menjebak dengan setrum listrik, yaitu mengaliri aliran listrik di sekitar sawah mereka.

Orang-orang di sekitar, terutama orang yang berjalan di jalanan sawah, mulai tidak nyaman dengan bau bangkai tersebut. Tidak jarang orang-orang tersebut menghujat dengan kata-kata yang seenak jidatnya, seolah-olah menyalahkan para petani yang tidak menjaga kebersihan hingga bau bangkai seperti itu. Mereka yang lewat hanya mengumpat dengan kata-kata penuh cacian, karena betapa tidak nyamannya dengan bau semacam bangkai tikus tersebut.

Dari semua orang yang lewat tadi, kebanyakan dari mereka saling mengumpat dan mengeluarkan kata cacian seakan mengutuk orang-orang yang tidak menjaga kebersihan, hingga timbul bau menyengat semacam bau bangkai. Namun hal itu tidak bagi seorang petani, para petani malah saling mengumbar senyum seakan telah memenangkan sebuah pertandinagan sepak bola. Betapa tidak, karena tujuan dari mereka membasmi tikus, ya agar tikus-tikus itu mati, agar tidak gagal panen karena serangan hama tikus. Mereka seakan tidak merasakan apa yang dirasakan oleh orang-orang yang mengumpat karena bau bangkai tikus tersebut. Para petani dengan raut wajah senyum tidak segan-segan untuk mecari bangkai tikus dan langsung menguburnya agar tidak bau bangkai lagi.

Bau bangkai adalah sebuah resiko yang dilakukan oleh para petani, karena tujuan mereka adalah membasmi tikus-tikus tersebut agar berkurang, dan tentunya banyak yang tikus yang mati dan tidak jarang sampai ada yang busuk hingga berbau bagkai. Bau bangkai bagi petani adalah tanda bahwa mereka setidaknya telah mampu mengurangi hama tikus tersebut. Sungguh ironi bukan, bangkai yang kebanyakan orang adalah sebagai sesuatu yang menjijikan karena baunya, namun apa yang mereka lakukan? mereka hanya bisa mengumpat dengan suara-suara cacian tanpa tahu mengapa bisa ada bangkai. Tidak pernah berpikir bahwa bau bangkai adalah tanda berkurangnya hama tikus yang selama ini menghantui para petani, karena para petani pernah gagal panen karena serangan hama tikus di malam hari.

Kondisi diatas adalah kondisi yang sedang di alami oleh bangsa Indonesia saat ini, ketika media-media nasional baik media elektronik maupun surat kabar lagi genjar-genjarnya memberitakan tentang banyaknya pejabat-pejabat public yang bisa dibilang adalah pejabat terhormat, namun satu persatu mulai tertangkap oleh KPK karena tindak pidana korupsi. Banyak yang mengumpat dan seraya mencaci bahwa pejabat negeri ini adalah pejabat yang korup, yang tidak pernah mempedulikan rakyat, padahal kita semua tahu tidak semua pejabat public seperti itu, karena media yang terlalu lebay serta tidak adil dalam menayangkan berita, harusnya berimbang bukan hanya korupsinya saja yang menjadi sorotan utama, tapi pejabat-pejabat yang jujur juga perlu untuk diungkap dan dipublikasikan sehingga bisa menjadi contoh. Untuk sekarang ini, menurut saya, berita di media yang tidak adil dalam menayangkan media, kasus-kasus di blow up dari pagi hingga malam, namun kejujuran dan prestasi para pejabat public tidak dipubilkasikan secara besar-besaran layaknya berita penangkapan koruptor, kecuali KPK. Berkaca dari KPK, bahwa sudah menjadi tugas dari KPK adalah menangkap koruptor-koruptor di negeri ini, sehingga bukan prestasi jika KPK menangkap koruptor, namun sudah menjadi tugasnya KPK itu ya menangkap koruptor, namun karena pemberitaan media, KPK menjadi seperti pahlawan dalam pemberantasan korupsi. Dan tidak heran jika tingkat kepercayaan public terhadap KPK sangat tinggi jika dibandingkan dengan pejabat public lainnya.

Saya tidak bermaksud untuk menyerang KPK karena saya juga ngefans berat dengan KPK terutama ketua KPK-nya. Namun lebih kepada media yang lebih focus pemberitaan mengenai pejabat yang korupsi, dari pada menayangkan pejabat-pejabat yang jujur, namun entah karena kenyataan pejabat yang jujur jauh lebih sedikit dari pejababt yang korup, sehingga pemberitaan menjadi tidak berimbang, itu Wallahu’alam.

Kembali lagi kepermasalahan penangkan koruptor, banyak dari kita jika mendengarkan kabar penangkapan koruptor adalah malah mengumpat, mencaci seraya berkata bahwa sudah tidak percaya lagi dengan pejabat public, padahal berita penangkapan koruptor oleh KPK adalah kabar gembira bagi kita seperti para petani yang mencium bangkai tikus, karena itu artinya koruptor sudah berkurang di negeri ini.

Lagi-lagi itulah mengapa peran media sangat berpengaruh dalam mengarahkan opini public, karena berita-berita yang tidak berimbang dan hanya menayangkan sisi buruknya saja tanpa di imbangi sisi baik. Sehingga yang terjadi seperti saat ini, opini public sudah mengarah pada pemerintahan yang sarat dengan korupsi, padahal jika kita lihat dengan teliti bahwa berita penangkapan korupsi hanya terjadi pada pemerintahan Presiden saat ini, meski yang terjerat korupsi kebanyakan dari partai yang mengusung Presiden saat ini.

Saya rasa saya cukupkan saja tulisan kali ini, karena saya takut terlalu jauh untuk mengomentari pemerintahan saat ini, karena semua tulisan ini tidak lain hanya untuk meluapkan apa yang ada di dalam otak saya saja.

Sekian  dan mohon maaf jika ada salah kata dari saya

Terima kasih J
Read more ...

Kenapa Jumat Keramat?


Hari ini adalah hari jumat. Seperti biasa, kicauan di twitter tidak jauh dengan Jumat Berkah, jumat Mubarak. Iya, hari jumat identik dengan twit-twit fatwa jumat yang isinya tidak jauh dari kata-kata atau quotes yang berisi tentang nasehat-nasehat.

Namun jumat berkah tidak berarti bagi kaum wartawan yang senantiasa menunggu di halaman gedung KPK atau Komisi Pemberantasan Korupsi. Tentu mereka tidak menunggu untuk hal-hal yang sia-sia, melainkan menunggu jadwal pemanggilan tersangka atau tersangka yang tertunda. Kenapa tersangka yang tertunda? Karena biasanya KPK sebelum menetapkan sebagai tersangka, KPK memberi label saksi terlebih dahulu untuk memudahkan pemeriksaan agar bisa lebih kooperatif. Padahal penetapan saksi oleh KPK hanyalah sebuah modus sebelum menaikan level menjadi tersangka. Sebagai contoh misalnya, Menpora Bapak Andi Malarangeng, sebalum beliau ditetapkan sebagai tersangka beliau adalah saksi atas dugaan korupsi pembangunan wisma atlet dan gelanggan olah raga di Hambalang. Selain itu, ada sahabatnya di partai berlambang mersi, sebut saja Partai Demokrat, yaitu Anas Urbaningrum, sebelum beliau di tetapkan sebagai tersangka, beliau juga ditetapkan sebagai saksi terlebih dahulu.

Jumat keramat, adalah nama yang kini menjadi sebuah episode yang ditunggu-tunggu oleh kalangan wartawan. Kenapa namanya jumat keramat, nama jumat keramat adalah nama yang ditafsirkan oleh media karena banyak tersangka korupsi yang ditahan pada hari jumat. Entah itu karena kebetulan atau sebauh kesengajaan, namun yang jelas sudah banyak koruptor yang ditahan pada hari jumat.

Seperti yang kita ketahui bahwa hari jumat bagi kalangan muslim adalah hari rayanya hari. Artinya dalam setiap hari itu ada hari yang melibihi hari-hari lainya, yaitu hari jumat. Hari jumat bisanya umat muslim mengadakan sholat jumat, terutama bagi muslimin. Jadi tidak jarang jika hari jumat bagi kita yang masih sekolah, khusus hari jumat pulang lebih awal, biasanya jam 11.00.

Selain untuk orang yang masih sekolah, bagi kalangan pedagang atau pebisnis lainnya tidak jarang kalo hari jumat libur, seperti yang dilakukan oleh bengkel langganan saya, bengkel tersebut setiap hari jumat malah libur dan minggu malah buka.

Jumat yang seharusnya hari yang lebih mulia dari pada hari lainya, mengapa harus ada istilah jumat keramat? Sepertinya itu hanya sebuah istilah yang ditafsirkan oleh beberapa kalangan dan anehnya karena pengaruh media istilah tersebut seakan menjadi popular, terutama di media berita.

Kali ini saya akan berbicara sedikit mengenai jumat keramat dan apakah sekeramat seperti namanya? Memang ada sekelompok orang malam jumat ada salah satu yang dianggap keramat yaitu malam jumat kliwon, namun saya tidak akan membahas malam jumat kliwon yang katanya dianggap keramat itu.

Jumat keramat! Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah keramat bagi siapa? Bagi kita? Padahal telah kita ketahui semua bahwa hari jumat adalah hari rayanya hari
Bukan? Semua sekolah dipulangkan lebih awal, kantor-kantor istirahat kerja lebih awal dan lebih lama, serta ada beberapa usaha yang sengaja untuk tutup di hari jumat, itu semua untuk menghormati kita sebagai muslim karena diwajibkan untuk mendirikan sholat jumat secara berjamaah. Lantas apakah menurut kita itu keramat? Tentu saja tidak. Jumat keramat dalam konteks ini hanya diperuntukan mereka para koruptor. Sedangkan kita sebagai rakyat bukan jumat keramat lagi, melainkan jumat berkah, Karena berita tentang ditahankannya koruptor adalah berita bahagia bagi kita semua. Karena orang yang selama ini dianggap maling uang Negara dapat ditahan.

Jadi jumat keramat berlaku bagi mereka yang tersandung kasus korupsi, sedangkan rakyat? Jumat tetap menjadi jumat berkah, karena dengan adanya penangkapan koruptor oleh KPK menunjukan bahwa Indonesia sedang mengalami proses pembersihan hama dari tikus-tkus berdasi. Berita penangkapan korupsi bukanlah berita buruk, namun berita baik karena justru dengan begitu kita semua tahu bahwa koruptor adalah musuh kita semua, jadi sudah semestinya kita bahagia dengan banyaknya koruptor yang sudah tertangkap, dan ada beberapa yang sudah divonis oleh pengadilan tipikor.

Ibarat petani yang sedang meracuni tikus-tkus di sawah, sudah menjadi hal yang wajar jika banyak bau bangkai tikus di mana-mana, namun dibalik bau bangkai tersebut ada kebahagian di wajah petani, karena hal itu menandakan bahwa tikus-tikus yang menjadi musuh petani sekarang berkurang. Namun kebanyakan saat ini, orang malah banyak yang menghujat karena banyaknya bau bangkai tikus tersebut tanpa pernah berpikir bahwa bau bangkai adalah tanda bahwa tikus telah mati, dan itu artinya hama tikus telah berkurang.

Akhir catatan ini,
mari sholat jumat J


Read more ...

Kamis, 27 Februari 2014

Satu Twit Berjuta Persepsi


Beberapa tahun terakhir ini fenomena mengenai facebook mulai agak surut dengan adanya pesaing barunya untuk bidang social media. Twitter, iya itu namanya saya juga tidak tahu mengapa pendirinya menamakan social media tersebut dengan nama tersebut, tapi yang jelas keberadaan twitter sudah semakin menjadi kebutuhan bagi kalangan dari kebanyakan kita. Mengapa bisa demikian? Dunia twitter luar biasa hebatnya apa yang menjadi isu di dunia nyata dalam waktu yang cepat dapat menjadi trending topic di twitter. Jadi itu yang menjadi alasan para pengguna twitter untuk selalu membuka akun twitter mereka setiap saat ingin mengetahui apa yang sedang terjadi.

Selain karena cepatnya informasi juga dilatarbelakangi dengan adanya keinginan hiburan yang lain dari pada yang lain, mengapa lain dari pada yang lain? Karena hiburan-hiburan yang ada seperti televisi tidak lagi menjadi semenarik yang mereka harapkan. mungkin aneh juga twitter yang pada dasarnya hanya sebuah kumpulan tulisan atau ocehan dari beberapa pengguna twitter kemudian menjadi sesuatu yang menarik dan menjadi suatu hiburan bagi sebagian orang, kemudian ada pertanyaan apa sebenarnya letak kemenarikannya? Ternyata yang menjadikan twitter itu menarik adalah konten atau isi dari ocehan yang berupa twit-twit mereka, kemudian respon dari twit tersebut sehingga semaikn banyak yang merespon itu menandakan bahwa twit tersebut menarik dan menjadi trending topic.

Dalam menggunakan social media seperti twitter kita harus bijak dan berusaha mungkin untuk menghilangkan sisi GR (bukan gejala Rabies lho), karena banyak twit-twit atau kicauan di twitter yang “nomention”. Jika tingkat GR kita tinggi bisa jadi menganggap twit itu menyindirnya bahkan dari orang yang tidak dikenalnya.

Selain menurunkan tingkat GR pengguna twitter juga harus kritis terhadap twit-twit orang lain dan tidak cepat terbawa dengan twit-twit yang di posting di akun twitternya. Twit yang sejatinya hanya 140 karakter dan semua orang bebas dalam menafsirkan setiap twit, dan hal itu pulalah bahwa satu twit bisa bermacam-macam tafsir, bisa dikatakan juga multi tafsir.

Dan yang terpenting dalam menggunakan social media adalah selain mengurangi tingkat GR dan tentunya sebelum ngetwit diawali dengan niat dan diakhiri dengan pilih option tweet.  


Sekian, dan mari bijak dalam menggunakan social media #halah
Read more ...

Alasan saya Tidak Merokok


Coba kalian perhatikan baik-baik iklan rokok di jalan-jalan sekarang ini. Ada sesuatu yang berbeda tidak? Iya, di bagian bawah iklan ada tulisan kurang lebih berbunyi "Peringatan merokok membunuhmu". Kenapa sekarang tulisan lebih sedikit mengancam begitu? Apa tulisan peringatan merokok sebelumnya kurang menakuti-nakuti? Dan peringatan sekarang lebih menakutkan? Saya rasa tidak, soalnya bagi perokok, merokok sekarang sudah menjadi kebutuhan. Ibarat makan, sehari tidak makan nasi akan terasa lapar. Bahkan makan akan menjadi nomor dua bagi seorang perokok berat. Tubuh mereka sudah terbiasa dengan adanya zat-zat yang terkandung di dalam rokok, yang menurut beberapa orang zat tersebut bersifat racun. Dan katanya tubuh mereka akan mengalami sesuatu yang aneh jika tidak merokok dalam sehari, lebih jelasnya tanyakan kepada seorang perokok.

Saya tidak akan mengutuk bahwa perokok adalah meracuni diri sendiri, dan saya juga bukan orang anti rokok meski saya sendiri bukanlah perokok.  Saya juga tidak pernah melarang orang di sekitar agar tidak merokok, karena menurut saya orang yang merokok bukanlah orang yang bodoh dan tidak bisa baca tulis. Peringatan tentang larangan merokok juga tertera di bungkus-bungkus rokok itu sendiri. Terus kenapa perokok tidak menghiraukan itu? Saya juga tidak tahu, tapi yang jelas larangan atau peringatan merokok adalah sesuatu yang tidak efektif atau bisa dibilang gagal dalam mengurangi jumlah perokok. 

Lantas kenapa saya tidak merokok? Saya tidak bermaksud untuk pencitraan atau apalah. Kalo saya pencitraan toh saya posting di blog saya yang tidak ada yang baca tulisan saya. Menurut saya pribadi pencitraan juga hanya dilakukan oleh orang-orang yang berkepentingan. Dan saya juga fine-fine aja jika ada orang yang melakukan pencitraan, Karena dalam pencitraan tidak ada yang dirugikan.

Kembali ke mengapa saya tidak merokok? Saya bukan seorang perokok, tapi bukan berarti saya tidak pernah merokok. Saya juga pernah merokok pada saat masih kecil, karena sekedar ingin coba-coba. Seperti halnya mencoba makan, tidak akan mengkonsumsi lagi jika ternyata makanan tersebut tidak enak di lidah saya. Begitu juga dengan rokok, ketika saya mencoba rokok, saya tidak merasakan apa yang enak dari rokok, yang saya rasakan hanya pait, serta di lidah terasa aneh. Saya masih ingat ketika saya mencoba merokok, ada yang aneh di mulut saya, hingga saya gosok gigi lagi untuk menghilangkan rasa aneh di mulut tersebut. 

Dan keinginan menjadi perokok berkurang ketika saya mengamati teman-teman saya yang merokok begitu cepat capek dan ngos-ngosan saat berolahraga. Teman-teman saya merokok cinderung mudah lelah dan nafasnya cepat lelah serta daya tahan tubuhnya juga ikut melemah, jadi terlihat mudah loyo ketika main bola bareng. Hal itu menjadikan saya semakin kuat untuk tidak merokok. 

Seperti yang saya katakan sebelumnya, saya tidak merokok namun tidak anti rokok. Banyak dari teman-teman saya yang merokok, saya tetap bersikap biasa saja ketika mereka merokok di depan saya. Saya tahu mereka menghormati saya yang tidak merokok, dan sudah semestinya saya juga menghormati mereka dengan tidak melarang merokok di dekat saya.  

Banyak orang yang bukan perokok menuntut dirinya agar perokok menghormarti dirinya yang bukan perokok, namun apakah dirinya yang bukan perokok telah menghormati orang yang merokok? Saya tidak bermaksud membela perokok, toh saya juga bukan perokok. 

Sudah waktunya kita harus bersikap dewasa, jangan menuntut orang lain menghormati hak kita sedang kita tidak pernah menghormati hak mereka. Kita tidak boleh egois, menuntut orang lain menjadi benar semua, yaitu benar hanya menurut standar hidup kita sendiri

Sebagai akhir catatan ini, sayangilah hidup ini, karena hidup cuma sekali. Dan mari hidup sehat dengan berolah raga. 

Sekian semoga bermanfaat.


Tulisan ini sebenarnya tulisan yang berada di catatan dalam facebook saya, namun catatan tersebut tidak saya publikasikan secara umum sehingga tidak bisa dibaca oleh semua orang. dan pada kesempatan hari ini saya posting di blog pribadi saya ini, harapan saya tidak lebih dari sekedar berbagi dengan tulisan-tulisan. dan semoga saya bisa tetap konsisten dalam menulis.
Read more ...

Lupa Tanggal Lahir Ibu.


Apakah diantara kalian yang masih ingat dengan tanggal lahir pacar atau gebetan kalian? Sepertinya banyak yang hafal dengan tanggal lahir pacar atau gebetan kalian. Kemudian anda juga ingat dengan tanggal lahir Ibu kalian yang melahirkan kalian ke dunia dengan mengorbankan nyawanya sendiri? Saya berharap diantara kalian tidak ada yang lupa dengan tanggal lahir Ibu kalian sendiri. Dan jika ada anak yang lupa dengan tanggal lahir ibunya sendiri dianggap sebagai durhaka dengan orangtua, maka celakalah saya. Iya, saya lupa dengan tanggal lahir Ibu saya sendiri. Ibu yang telah melahirkan saya ke dunia, Ibu yang selama ini telah membesarkan saya, Ibu yang telah mendidik saya hingga seperti ini, tapi saya sampai lupa dengan tanggal lahir ibu saya sendiri.

Kenapa saya bisa lupa dengan tanggal lahir Ibu saya sendiri? Sebelumnya jangan ada yang menganggap bahwa saya adalah anak pungut ya? Meski saya dan Ibu saya tidak pernah tes DNA, tapi saya yakin 100% bahwa saya anak kandung dari Ibu saya, dan saya tidak pernah diadopsi oleh orang lain, yakin! Saya lupa dengan tanggal lahir atau ulang tahun Ibu emang karena Ibu lahir di sebuah desa kecil, dan Mbah saya juga orang desa yang tidak pernah merayakan ulang tahun anak-anaknya, jadi wajar jika Ibunya sendiri (Mbah) lupa dengan ulang tahun anak-anaknya. Yang diingat oleh Mbah adalah wetonnya, bukan tanggal lahirnya.

Kejadian yang membuat saya sampai saat ini masih terus mengingatnya adalah ketika ada pemberitahuan dari Pak RT agar segera melakukan pembaruan Kartu Keluarga atau KK, nah saya sendiri yang mengurus ke kantor kelurahan dan ke kantor kecematan. Ketika saya mengisi formulir kebetulan nama Ibu saya dan Bulek saya belum tercantum di KK lama, sehingga saya mempunyai alternatif untuk sekalian memperbarui KK sekaligus memasukan Ibu dan Bulek ke KKnya Mbah. Kebetulan Ibu sama Bulek masih hidup serumah dengan Mbah. Ketika mengisi formulir saya bingung dengan tanggal lahir bulek dengan Ibu, kemudian saya menanyakan kepada Mbah, tapi Mbah tidak tahu, kemudian saya suruh memperkirakan umurnya dan saya karang sendiri tanggal lahirnya. Ketika memasukan ternyata terjadi kesalahan dan baru sadar ketika KK sudah jadi. Kesalahannya sangat fatal sebenarnya, namun keluarga terutama Ibu sama Bulek tidak begitu mempermasalahannya, karena bagi mereka yang penting bisa punya KTP. Dan apakah kalian tahu kesalahannya apa? Ternyata saya salah memasukan tanggal lahir dan mengakibatkan Ibu dan Bulek saling bertukar posisi, yaitu Ibu yang seharusnya anak kedua namun menjadi anak ketiga. Dan sebaliknya, Bulek yang seharusnya anak ketiga malah jadi anak kedua, sehingga terjadi pertukaran tanggal lahir. Jika hal itu dibuat sebuah sinetron, maka judul yang tepat adalah “Tanggal lahir yang tertukar”. Sebenarnya lucu juga, cuma gara-gara saya salah masukan tanggal lahir, tapi yang terjadi saya harus panggil Bu Dhe bukan Bulek lagi, hehehe.

Itulah kenapa saya lupa dengan tanggal lahir Ibu saya sendiri, jadi boro-boro mau ngucapin selamat ulang tahun kepada Ibu, ulang tahunnya kapan saja saya juga tidak tahu. Namun untungnya ada perayaan nasional yang menetapkan hari Ibu, yaitu tanggal 22 Desember, dan apakah saya juga merayakan hari Ibu dengan mengucapkan selamat dengan Ibu? Jelas tidak! Lagi-lagi tradisi dalam keluarga saya tidak ada hal-hal seperti itu kecuali sungkem ketika hari lebaran.

Perayaan hari ibu atau tanggal hari Ibu sebenarnya juga hal yang bukan wajib dilakukan, sebagai wujud kasih sayang dengan orangtua yang telah susah payah melahirkan dengan membesarkan dengan penuh kasih sayang. Dan sudah menjadi barang wajib bagi kita semua sebagai anak untuk terus menghormati beliau, dan tentu saja terus mendoakannya setiap hari.

Saya lupa dengan tanggal lahir Ibu, karena memang sedari awal saya sebelumnya tidak pernah tahu kapan tanggal lahirnya. Namun jika tanya weton mungkin Mbah saya masih hafal betul kapan weton anak-anaknya, bahkan weton cucunya termasuk saya beliau hafal betul.   

Sebagai akhir catatan, menunjukan kasih sayang dan perhatian tidak harus menunggu hari lahir atau ulang tahunnya, namun akan lebih baik jika kasih sayang dan perhatian kita terhadap orangtua bisa kita tunjukan setiap hari, untuk mendoakan orangtua saya yakin kalian setiap hari selalu menyisipkan doa untuk kedua orangtua kita. Saya juga tidak menyalahkan kepada mereka yang selalu merayakan ulang tahun Ibunya dengan perasaan suka cita, karena setiap orang punya cara sendiri-sendiri sebagai wujud kasih sayang kita kepada seseorang yang telah melahirkan kita. Dan akhir kata, bahwa Ibu tidak pernah menuntut apa-apa dari kita, karena kasih sayang Ibu adalah kasih sayang yang tulus.

            Ibu tidak pernah menuntut apa-apa dari kita, karena kasih sayang Ibu adalah kasih sayang yang tulus.
Semoga bermanfaat,


Read more ...

Musisi Jalanan


Beberapa hari ini saya lagi seneng-senengnya nonton Indonesian Idol. Meski namanya Indonesian Idol, ada kata “Indonesia”, tapi entah kenapa lagu yang dinyanyikan kebanyakan adalah lagu barat. Saya tidak akan mengomentari hal itu, karena memang bisa jadi, kiblat musik Indonesia saat ini adalah penyanyi-penyanyi barat. Lagu-lagu barat dianggap memiliki kesulitan yang jauh lebih sulit dari lagu-lagu Indonesia, mungkin hal itu juga yang membuat Indonesian Idol memperbolehkan kontestan untuk menyanyikan lagu barat. Logikanya jika menyanyikan lagu dengan tingkat kesulitan tinggi saja bisa, pasti untuk lagu yang tingkat kesulitannya mudah pasti lebih jago. Mungkin!

Dari ajang pencarian bakat tersebut, bukan panggung spekta yang saya sukai, namun lebih pada proses audisi. Banyak sekali peserta audisi yang memiliki tingkat kepercayaan dirinya yang lebih dari kemampuan vocalnya. Dan itulah yang membuat saya merasa salut dengan orang-orang seperti itu. Dari sekian banyak peserta yang mengikuti audisi, hanya satu yang membuat saya tergugah untuk menulis catatan ini. Peserta itu bukanlah peserta paling kinclong seperti Windy dan Miranti, bukan pula peserta yang ganteng dan memiliki musikalitas tinggi seperti Ubay, bukan juga penyanyi-penyanyi yang memiliki kualitas vocal yang mumpungi dan didukung dengan paras yang ganteng dan cantik pula. Peserta audisi yang saya maksud adalah peserta dari kalangan pengamen. Mungkin yang tidak mengikuti perjalanan audisi Indonesian Idol bisa cari di yuotube dengan keyword “Pujianto peserta audisi Indonesian Idol 2014”. Pujianto adalah seorang musisi jalanan (sebutan bagi seorang pengamen) dengan gaya khas bersiulnya, yang seperti orang yang tidak bersiul karena dia hanya diam tapi suara siulan berasal dari dalam mulutnya.

Pujianto adalah seorang pengamen, dan saya rasa motivasi dia ikut bukanlah untuk menjadi the next Indonesian Idol seperti peserta audisi lainnya, hal itu bisa terlihat dari raut wajahnya ketika semua juri bilang “No!”, namun tidak ada raut kekecawaan di wajahnya. Dia hanya ingin show off bahwa dia bisa bernyanyi, dan pada saat itu ia menyanyikan lagunya sendiri yang sangat meng-Indonesia. Lagu dengan iringan musik sederhana, hanya dengan gitar dan sesekali dengan siulan khasnya. Lagu yang berisi tentang gambaran Indonesia yang terdiri dari banyak pulau, suku agama namun bisa rukun sentosa.

Pujianto bisa jadi hanya seorang tukang parkir dan terkadang juga mengamen, namun dia punya keberanian untuk menunjukan kepada Indonesia, bahwa karyanya layak untuk dipublikasikan, tentu dia paham bahwa Indonesian Idol akan ditayangkan di telivisi nasional. Terlepas dari sosok Pujianto yang sederhana, saya juga pernah memiliki pengalaman dengan pengamen. Pengamen atau bisa dibilang dia adalah musisi jalanan, karena ada juga artis yang sekarang sudah sering seliweran di layar kaca, dan dulunya adalah seorang pengamen, sebut saja Tegar seorang penyanyi cilik, Aris juara Indonesia Idol yang suaranya mirip Charli Setia Band. Mereka memulai karir dari jalanan, dari lampu merah perempatan, dari bus ke bus bahkan dari pasar ke pasar,  serta dari rumah ke rumah.

Musisi jalanan atau pengamen adalah mereka yang show setiap hari tanpa panggung, tanpa sorotan kamera apalagi make up. Suara mereka natural, karena ada juga pengamen yang bagus suaranya, dan yang membedakan antara pengamen dan penyanyi professional saat ini adalah, pengamen tidak pernah lipsing, dan nyanyinya eceran karena bayarnya juga recehan. Maksudnya nyanyi secara eceran adalah pengamen tidak pernah atau sangat jarang menyanyikan lagu secara full, terkadang hanya reff-nya saja.

Pernah suatu hari waktu saya sedang asyik nonton televisi di rumah yang kebetulan lagi sepi, ada suara pengamen dan berhubung tak ada uang receh, saya kasih uang satu lembar seribuan dan ketahuan oleh bulek, dan apa yang terjadi? Saya dimarahi, entah kenapa saya dimarahi hanya karena uang seribu rupiah yang saya berikan kepada pengamen. Di lain hari saya juga pernah kedatangan pengamen, waktu itu di laci sudah tersedia uang receh, kemudian saya kasih satu koin lima ratusan, dan apa yang terjadi? Tidak seperti pengamen lainnya yang akan pergi ketika sudah menerima uang, namun tidak bagi pengamen saat itu. Meski hanya lima ratus rupiah yang ia dapatkan, ia tetap menyanyikan hingga lagunya selesai. Kemudian saya amati lagi ketika dia sedang show di tetangga sebelah, ternyata sama, meski hanya uang receh yang ia dapatkan tapi tetap menyanyikan lagu sampai selesai. Mungkin dia bukanlah pengamen biasa, tapi sudah menjadi pengamen professional. Mungkin juga dia sudah menciptakan lagu sendiri meski dengan lirik dan iringan musik yang sederhana.

Sekarang coba dibandingkan dengan artis sekarang, mana mungkin mereka doyan dengan uang recehan. Namun saat show apa yang terjadi? Mereka menipu pemirsa dengan gaya yang seperti orang nyanyi padahal mereka hanya lipsing. Memang tidak semua artis atau penyanyi lipsing, terutama artis-artis senior yang sudah jatuh bangun hanya untuk nembus label rekaman ternama agar karya-karya bisa dipublikasikan ke masyarakat luas, mereka tidak mau menjatuhkan kualitas mereka dalam bermusik dengan lipsing saat show.

Pada intinya, meski dia hanya show dari jalan ke jalan, dari rumah ke rumah, dari warung ke warung dan hanya mengumpulkan uang recehan, namun mereka bernyanyi dengan kejujuran atau dengan kata lain tidak lipsing.   


Dan sebagai akhir catatan ini, semoga bermanfaat J
Read more ...

Jumat, 21 Februari 2014

Tentang Hoby “FUTSAL”


Cuaca hari sedikit tidak bersahabat, sudah dari pagi matahari seakan malu untuk menampakan sinarnya. Sejak pagi langit sudah nampak mendung, serasa akan hujan lebat sepanjang hari. Iya, beberapa hari ini lagi sering hujan, hingga luapan air menjadi sebuah bencana, terutama daerah Jakarta yang sudah menjadi langganan banjir. Di Jakarta banjir seraya lebaran, sama-sama ditunggu kedatangannya setiap tahun, namun jika hari raya ditunggu dengan penuh suka cita, tetapi tidak untuk banjir, banjir ditunggu dengan perasaan was-was.

Hingga siang seharusnya matahari sudah nampak gagah dengan sinarnya, namun sinar itu tidak kunjung nampak juga. Jemuran yang biasa kering dalam sehari, itu nampaknya tidak untuk beberapa hari ini, pakaian berhari-hari baru kering dengan bonus bau apek karena terlalu lama keringnya.

Hari ini aktifitas menjadi tidak sesemangat hari biasanya, berjam-jam saya habiskan hanya untuk berinternet dan sesekali membaca buku untuk menghabiskan waktu. Iya, hari ini full malas-malasan di dalam kamar kos. Namun saya ingat bahwa sore harinya saya harus futsal dengan teman-teman. Futsal salah satu hoby saya, sudah dari kecil saya suka bermain bola.

Futsal adalah salah satu hoby saya yang sudah menjadi bagian dari hidup saya, bahkan dalam seminggu ada jadwal khusus untuk bermain futsal, setidaknya seminggu sekali saya harus bermain futsal. Saya sebenarnya tidak jago dalam bermain futsal, namun hanya sekedar suka bermain futsal. Pernah suatu hari badan saya lagi agak kurang sehat namun ada salah satu teman saya yang mengajak futsal, dan saya menyanggupinya. Apa yang terjadi? Badan yang awalnya agak kurang sehat pas main futsal nampak sehat bugar, dan anehnya pas selesai bermain futsal badan mulai kurang sehat lagi. Hal itu sebenarnya bukan peristiwa yang aneh atau ajaib, tapi hanya masalah minat, karena ketika minat atau suka terhadap sesuatu, kita akan cinderung mengabaikan apapun yang ada, termasuk rasa sakit.

Sedikit cerita mengenai futsal, futsal dan sepak bola adalah olah raga yang hampir sama, bisa dibilang keduanya adalah adek dan kakak. Saya mengenal futsal pas kelas tiga SMA sebelumnya saya lebih suka bermain di lapangan bola. Namun pada tahun 2009 futsal mulai booming, dengan ditandai banyaknya gedung-gedung yang bermetamorfosa menjadi arena lapangan futsal.

Ada yang lucu dalam permainan futsal saya, karena seperti masa remaja yang masih labil. Dalam futsal saya juga mengalami masa-masa labil itu, dulu pertama saya bermain futsal, saya bermain sebagai kiper. Bukan karena apa, tapi dulu semua posisi sudah diisi oleh teman-teman saya yang jago dan kebetulan posisi kipper kosong, dan saya yang mengisi untuk melengkapi kompisisi pemain. Dari kiper saya mulai bermain sebagai pemain belakang, kemudian saya mencoba bermain sebagai sayap dan tidak jarang saya juga mengisi posisi striker.

Dari semua posisi futsal tersebut, namun satu yang menjadi kelemahan saya, saya tidak bisa mencetak goal, artinya obsesi saya lebih suka memberi umpan kepada striker ketimbang obsesi mencetak goal. Itu alasan mengapa saya pada waktu turnamen yang diikuti oleh kampus saya, saya lebih di tempatkan sebagai pemain belakang. Dan dalam futsal pemain belakang sekaligus sebagai playmaker. Playmaker adalah otak dari permainan sehingga harus berpikir ekstra keras untuk menghasilkan peluang yang sebisa mungkin harus efektif untuk menghasilkan poin atau goal.

Bicara soal futsal, mengapa saya menjadi seperti maniak futsal, padahal secara permainan masih sering melakukan kesalahan. Ada alasan tersendiri mengapa saya lebih tertarik futsal dari pada olah raga lainnya, seperti badminton, basket atau tenis. Alasannya satu, saya cuma bisa bermain futsal, hehe. Futsal adalah olah raga secara team, dan disitulah semua ego dihilangkan, karena di dalam futsal hanya ada nama kami buka aku. Selain itu, futsal juga membantu saya dalam mengelola emosi saya. Dulu saya akui saya sulit mengontrol emosi saya sehingga membuat permainan menjadi rusak, lho apa hubungannya emosi dengan rusaknya permainan? Begini, dalam bermian futsal kerja sama dengan sesama anggota team sangat diperlukan terutama dalam mencetak goal. Sehingga mengontrol emosi sangat diperlukan karena ketika terlalu emosi dan berambisi, tidak jarang kita tidak bisa mengambil keputusan secara tepat. Seperti ada peluang untuk shoot, namun ada lawan siap menghadang,  dan dalam waktu yang bersamaan  di salah satu sisi ada teman yang kosong siap menerima umpan matang. Jika kita emosi kita akan langsung shoot, padahal ada lawan yang siap menghadang tembakan kita. Apa yang terjadi? Gagal! Itu mengapa mengontrol emosi sangat diperlukan dalam sebuah pertandingan, lain ceritanya jika ia memutuskan untuk memberi umpan kepada teman yang kosong tadi, kemungkinan besar goal karena pada saat itu kiper sudah terkecoh. Dan saya banyak belajar dari itu, dan sebagai manusia yang jauh dari kata sempurna tidak jarang saya masih terbawa emosi, dan hasilnya? Permainan menjadi kacau dan tak berbentuk.

Futsal bagi saya juga sarana untuk sekedar ngumpul dengan teman-teman, baik itu mudah maupun tua. Karena dalam futsal tidak mengenal kasta, apalagi tata karma. Tidak jarang ada anak yang lebih muda memarahi temannya karena berbuat kesalahan padahal yang di marahi adalah orang yang lebih tua. Seperti yang saya lakukan dengan kakak saya yang sering melakukan kesalahan.

Setelah selesai futsal biasanya saya dan teman-teman juga  tidak langsung pulang, saya dan beberapa teman saya mampir dulu di sebuah angkringan tempat nongkrong sekaligus sebagai pelampiasan atas energy yang telah terkuras karena berlari-lari mengejar bola. Sambil menikmati makanan serta bercerita sana-sini dengan teman-teman menjadi suasana semakin nyaman. Setelah lelah sudah terbayarkan dengan beberapa nasi kucing dengan beberapa gorengan serta minuman panas. Kami pun terus bergegas pulang menuju kerumah masing-masing.

Tidak ada raut masalah yang terpancar dari mereka-meraka yang hoby berolahraga, karena olah raga bukan saja olah raga secara fisik, namun juga secara mental. Olah raga selain menyehatkan badan juga mampu menghilangkan stres atas permaslahan yang sedang di alami. Olah raga juga sebagai terapi untuk mengurangi tingkat stres atau tekanan sehari-hari, hal itu bisa dimungkinkan karena olah raga juga bisa digunakan sebagai media katarsis. Apa itu katarsis? Katarsis adalah semacam pelampiasan atas apa yang sedang dialaminya atau curahan energy yang tersimpan, sehingga tidak menjadi beban dalam pikiran, untuk lebih jelasnya mengenai katarsis bisa disearching di via internet melalui google, hehehe.

Sebagai penutup, berolahraga selagi sehat, berikhtiar selagi sempat, dan bersykurlah selama masih diberi nikmat.
Semoga bermanfaat.

Gambar pada saat mengikuti turnamen, saya berdiri dari kanan nomor empat




# Sebenarnya tulisan ini sudah lama nangkring di folder, namun baru sempat saya posting mengingat baru sadar kalo pernah nulis ini, hahahaha
Read more ...

Kamis, 13 Februari 2014

Puisi

Lupa kepadaNya

Hamba ini selalu lupa denganMu
Tapi kau curahkan nikmatMu kepadaku
Kau kabulkan segala doaku
Dan kau cukupkan kehidupanku

Aku tidak pernah hadirkan DiriMu dalam usahaku
Tapi Engkau berikan hasilnya padaku
Tak pernah aku bersyukur atas nikmatMu
Tapi EngKau tetap berikan NikmatMu kepadaku

Tuhan, hamba ini sering lalai PadaMu.
Aku dekat denganMu hanya ketika musibah sedang menghampiriku,
Ketika musibah itu hilang
NamaMu turut menghilang

Tuhan, hamba sungguh malu denganMu
Hamba ini malu memohon pertolonganMu
Hamba malu meminta dariMu
Pantaskah diri ini yang selalu lalai, memohon kepadaMu?

                (Sebuah puisi serta renungan dari hamba Allah yang sering lalai.)

Sebuah puisi dari hamba Allah yang selalu lalai dengan Sang Pencipta, puisi yang menggambarkan betapa manusia sering lalai, padahal segala sesuatunya telah dicukupkan oleh Allah SWT. Puisi tersebut tidak menggambarkan siapapun, akan tetapi lebih kepada pengalaman saya sendiri yang selama ini sering lalai.

Saya akui, diri ini sering lalai, namun apa yang terjadi kerika diri ini mendapat musibah? Diri ini seakan mencari pertolongan Allah. Allah yang seharuskan senantiasa ada di dalam kalbu seseorang seakan hanya sebagai senjata terakhir ketika masalah sudah teramat besar.

Manusia adalah makhluk yang “lalai” bahkan ada yang bilang bahwa “lalai” adalah kodrat dari manusia, namun apa benar lalai kepada sang Pencipta yang selalu memberi rahmat kepada kita semua? bukankah sudah menjadi kewajiban untuk selalu mengingat Allah? Lantas mengapa kita jadikan “lalai adalah kodrat manusia" sebagai alasan atas pembenaran kelalaian kita kepada Tuhan?

Renungan bagi diri ini yang selalu lalai, Hamba ini lalai, namun Allah selalu cukupkan kehidupan ini. Hamba malu memohon kepada Engkau, dalam doa hamba setelah menunaikan sholat, hanya satu doa yang selalu saya ucap, “Ya Allah Kuatkanlah Iman hamba, agar hamba selalu mengingat Engkau”. Karena seperti yang kita ketahui bahwa Allah lah yang mampu membolak-balikan hati manusia.  


Semoga kita semua bukanlah manusia yang lalai dan akan merugi di kemudian hari.

Semoga Bermanfaat 
Read more ...

Puisi

          MATA
Matamu bisa untuk melihat
Mataku juga bisa untuk melihat
Kita sama-sama bisa melihat
Tapi apa yang kamu lihat
berbeda dengan apa yang aku lihat

Kamu tidak bisa memaksaku untuk melihat sesuatu yang tidak ingin aku lihat
Dan aku juga tidak bisa memaksamu untuk melihat apa yang aku lihat
Matamu adalah milikmu,
Dan mataku adalah milikku

Jangan pernah menganggap bahwa sepasang matamu,
Mampu  mewakili ribuan pasang mata lainya.

Apa maksud puisi di atas?
Apa maksud yang terkandung dalam puisi di atas?

Biarkan logika dan perasaan Anda yang bekerja, karena pikiran dan perasaan bekerja secara subyektif. Dan saya tidak bisa memaksa Anda untuk melihat puisi itu berdasarkan kaca mata saya.
Read more ...

Jumat, 07 Februari 2014

Aku tak bisa Menulis


Hari ini, adalah hari dimana aku harus memulai lagi kegiatan yang baru-baru ini aku jalani. Iya, menulis blog, blog adalah tempat bagiku untuk menampung semua apa yang ada didalam pikiranku. Blog juga tempat dimana aku biasa berbagi tentang keluh kesah, dan aku juga nggak peduli jika orang lain akan menganggapku sedang menulis diary. Diary bagiku bukan hal yang salah, lagian apa yang salah dengan diary? Namun ada hal yang membuat diriku merasa sulit untuk menuangkan apa yang ada di dalam pikiranku saat ini. Saat ini aku merasa sulit mencari ide, tentang apa yang harus saya tulis untuk mengisi blogku minggu ini. Iya, akhir-akhir ini aku baru belajar untuk konsisten menulis diblog minimal satu minggu satu tulisan. Ini adalah caraku yang saya adopsi dari cara teman dalam memulai untuk belajar menulis. Bisa dibilang program “satu minggu satu tulisan”

Hari ini pikiranku seakan jenuh untuk memulai sebuah tulisan. Setiap kalimat yang saya ketik seakan tidak mau terus bersambung menjadi sebuah bahasan yang menarik (menurut pribadi saya). Bahkan terkadang saya harus menghapus tulisan yang susah payah saya bangun hanya karena tidak ada kelanjutan dari tulisan itu.

Saya mencoba terus berpikir untuk menulis apa yang harus saya tulis, namun lagi-lagi tidak ada yang mampu saya tuangkan dalam tulisan. Saya sadar betul betapa sulitnya saat ini untuk membangun sebuah tulisan hingga menjadi paragaraf, kemudian dari paragraph-paragraf itulah akan membuat sebuah bentuk yang berisi tentang gagasan apa yang saya ingin tuangkan dalam tulisan tersebut.

Saya berpikir untuk menulis aktifitasku beberapa hari ini, namun dari aktifitasku beberapa hari ini tidak ada satupun yang menarik untuk ditulis menjadi sebuah catatan di blog. Otakpun tak mau henti-hentinya terus berpikir mengenai tema yang menarik, dan lagi-lagi tak ada membentuk sebuah paragraf.

Lagi-lagi aku menjadi bingung ingin menulis apa, kebingungan ini bisa jadi karena ambisi saya untuk menulis setiap minggunya, sehingga seakan hal ini menjadi sebuah deadline yang harus diselesaikan.

Kata-demi kata kucoba aku rangkai namun berakhir pada tombol “delete”. Hari yang tak biasa, biasanya bisa menulis mengalir seperti air yang mengalir dengan tenang, namun seakan berhenti disebuah danau yang kecil dan keruh, sehingga tak ada yang mempedulikan.

Kemudian aku terhentak sadar, tentang apa yang aku tulis hari ini, ternyata aku bisa menulis meski otak ini sedang susah mencari inspirasi. Dan hingga membentuk tulisan ini, barulah aku tersadar, bahwa tulisan tidak harus produk dari idealisme, atau produk pemikiran yang dalam mengenai suatu hal. Menulis adalah hal yang sederhana, sesederhana kita dalam berpikir. Menulis adalah bahasa otak yang terkadang tak mampu diucapkan dalam serangkaian kata. Menulis bukan hanya sekedar membuat suatu gagasan agar bisa dinikmati oleh kalangan intelektual. Tapi menulis adalah tentang apa yang dipikirkan, dirasakan, dan apa yang telah dialami kemudian dari semua pengalamanan-pengalaman tentang apa yang dipikirkan, dirasakan dan dialaminya kita tuliskan dalam bentuk kata-kata hingga mebentuk sebuah kalimat, dan dari kalimat-kalimat akan membentuk sebuah paragraf, dan hasil dari paragraph itulah akan membentuk sebuah tulisan.

Iya tulisan ini, tulisan inilah hasil dari ketidak bisaan saya dalam menulis namun malah membentuk menjadi sebuah tulisan. Entahlah apa yang sedang saya alami, namun yang pasti saya hanya mencoba untuk menuliskan semua yang saya pikirkan saat ini, saat dimana saya sedang susah mencari inspirasi untuk menulis diblog ini.

Akhir catataan, semoga selalu konsisten dengan apa yang coba kita mulai.


Oleh @Rickyyy_23
Read more ...

Senin, 03 Februari 2014

Panikku Mengalahkan Akal Sehatku


Hari yang kutunggu semakin hari semakin dekat, iya proposal skripsiku setelah sekian lama berpindah tangan ke pembimbing satuku akhirnya acc juga. Pembimbing dua sudah acc dan percaya bahwa proposalku sudah layak untuk maju sidang proposal.

Sudah lama proposalku menginap di tempat pembimbing utamaku (selanjutnya pembimbing aku disingkat dengan nama dosbing). Dosbing utamaku adalah dosen senior di kampusku, beliau sangat peduli dengan mahasiswa-mahasiswanya terutama anak bimbingannya. Karena anak bimbingannya banyak sehingga hanya sedikit yang beliau ingat. Dan aku termasuk yang terlupakan, jadi tidak heran jika proposalku sudah hampir satu bulan tidak dikoreksi. Sungguh malang nasib proposal skripsiku

Proposal yang lama kunanti hasil revisiannya, akhirnya datang juga. Hari itu (lupa hari apa) aku janjian dengan beliau dan apa hasilnya? Masih sama, proposalku saya belum dikoreksi. Hal ini wajar mengingat kesibukan beliau. Saya berusaha untuk memaklumi hal itu, hingga pada saatnya, akhirnya proposalku di acc. Iya proposalku di acc bukan karena apa, melainkan karena “kasihan”, karena kasihan? Iya karena sudah lama tidak dikoreksi hingga karena sudah lama akhirnya saya direstui untuk maju ke sidang proposal.

Proposal sudah di acc, meski karena “kasihan”. Dan setelah beberapa, hari penguji dan hari sudah ditentukan. Penantian menghadapi sidang proposal ini semakin hari menjadi semakin dekat. Dan ini menjadi kesalahan terbesar saya, saya tidak memeriksa kembali proposal saya terutama tata tulis, tata bahasa dan apakah daftra pustaka sudah lengkap apa belum. Itulah awal dari malapetaka itu, ketika saya terlalu percaya diri dengan proposalku hingga tak ada perubahan yang mendasar dalam proposalku.

Hari itu akhirnya datang juga, tepat hari rabu tanggal 22 januari 2014 pukul 09.00 pagi. Saya sengaja datang lebih pagi, agar segala sesuatu sudah siap termasuk snack, serta perlengkapan buat presentasi proposalku. Diluar sembari menunggu detik-detik pembantaian itu (lebay banget). Dalam mulutku selalu berucap “Bahwa saya sudah siap dengan kemungkinan terburuk“ itulah perkataan sembari menunggu jam ssembilan pagi. Kata itu hanyalah sebagai penenang diri yang selalu cemas dalam menghadapi masa-masa sulit ini. Padahal dalam hati saya sudah harap-harap cemas. Malam sebelum sidang proposal aku chatting dengan temanku yang sudah selesai sidang proposal dan teman yang kebetulan pengujinya sama, sembari buka-buka proposal untuk belajar presentasi.

Jam 09.00 tepat semua dosen baik pembimbing maupun penguji sudah terlihat dikampus, aku menjadi rada keder, rasa cemas mulai menghampiri, seakan seuatu yang buruk akan benar-benar terjadi padaku. Itulah aku, aku adalah orang yang memiliki sedikit rasa panik dibanding kebanyakan orang. Orang lain mungkin menganggap hal itu lumrah namun tidak bagiku. Saya adalah orang yang sedikit peka dengan sekitarnya sehingga untuk cuek dengan lingkungan adalah hal sulit bagiku. Ini bukanlah sebuah penyakit turunan, namun dalam psikologis bisa disebabkan oleh pola pengasuhan orang tua atau karena adanya pengalaman-pengalaman masa lalu. Bisa dikatakan aku gagal menjadi mahasiswa psikologis, karena tidak mampu mengatasi rasa cemasku sendiri, yang terkadang mampu mengalahkan akal sehatku. Sehingga saya tidak bisa berpikir secara jernih.

Presentasi berjalan lancar, kemudian barulah aku harus mendapatkan counter attack dari para penguji atau reviewer. Sebelum pertanyaan beliau ungkapkan sudah nampak wajah kekecewaan terhadap tulisanku. Beliau berkata “Tulisannya jelek baik dari segi tata bahasa maupun tata tulis” hal itu membuat saya sedikit down. Namun masih bisa saya tersenyum kecil.

Dan pada akhirnya giliran penguji dua, penguji dua yang begitu kritis telah mampu mengorek habis semua kesalahanku dalam proposal peneilitianku. Jika dalam futsal saya sudah tidak bisa defend total dan pertahanku sudah mampu rapuh serta tidak didukung dengan kipper yang jago, hasilnya kalah telak. Hal itu membuatku semakin down dan rasa cemas mulai menghampiriku dan memperparah keadaan. Saya sudah tidak bisa berpikir jernih lagi, dan satu yang membuatku menjadi tambah down, ketika beliau berkata bahwa penelitianku sebenarnya tidak layak untuk lanjut dan harus mengulang lagi. Itulah yang hingga saat ini terus mengganggu pikiranku.

Saya menjadi sangat malu serta merasa tidak enak dengan kedua dosbingku yang selama ini telah berusaha membimbingku. Kedua dosbingku adalah orang yang mampu membuatku sedikit menjadi lebih tenang, mereka sangat bijak, saya masih ingat apa yang dikatakan oleh beliau. Kurang lebih begini “Kesalahan yang terdapat dalam proposal ini, tidak seratus persen salah Riki (saya sendiri), saya turut andil dalam hal ini, karena beberapa bulan ini saya sedang sibuk”. Kata itu yang mampu sedikit menaikan morilku.

Hingga detik ini, pada saat saya menulis catatan ini saya masih merasakan cemas dan terbayang-bayang oleh suasan sidang itu. Ada seuatu yang mengganjal dalam pikiran saya, namun saya tidak tahu apa yang sebenarnya yang menjadi pikiran itu. Sahabatku selalu bilang bahwa “masa lalu adalah ilusi” namun hal itu seakan tidak berlaku pada diriku. Iya, saya akui bahwa saya tidak bisa lepas dari masa lalu. Mingkin hal ini juga yang membuat saya merasakan perasaan negatif atau kecemasan.

Kecemasan bisa dialami oleh siapapun, namun dalam menyikapi hal inilah ada perbedaan antar individu. Dalam ilmu psikologi cemas itu wajar jika dalam kadar tertentu serta tidak melebihi ambang batas. Karena cemas mampu membuat orang menjadi berhati-hati dalam segala hal. Namun cemas mampu mengalahkan akal sehat ketika rasa cemas itu sudah melebihi ambang batas serta individu tersebut tidak mampu menenangkan diri atau mengelola kecemasan tersebut.

Rasa cemasku sudah mengalahkan akal sehatku. Iya rasa cemas yang bersumber dari pengalam masa lalu yang terkadang tidak mengenakan. Akan terus menganggu pikiran kita. Padahal kita tahu bahwa masalalu tidak bisa diubah. Lantas kenapa hal itu mampu membuat kita cemas? Itulah yang sebenarnya menjadi renungan bagi diriku sendiri. Masalalu yang terkadang tidak mengenakan ini, sudah jelas-jelas tidak bisa kita ubah, namun pikiran masih merisaukan seakan-akan kita masih bisa mengulang waktu kembali.

Dari kejadian ini saya menjadi belajar, bahwa kecemasan yang selama ini aku alami sebenarnya bisa diminimalisir jika saya mau sedikit meluangkan waktu sebentar untuk merenungi apa yang sebanarnya terjadi.
            “Masa lalu bukanlah untuk disesali, masalalu adalah pengalaman bagi kita”
Setiap orang pasti memiliki masalalu, namun berbeda dalam menyikapi masa lalu itu. Ada yang menganggap masa lalu adalah pengalaman sehingga kita harus belajar dari masa lalu itu dan mengambil hikmah dari kejadian-kejadian di masalalu. Ada juga yang terbuai dengan masa lalu yang mengakibatkan seseorang terlalu menyalahkan dirinya sendiri, hingga selalu mengganggu pikirannya, padahal jika kita mau berpikir sejenak, kita semua tahu bahwa kita tidak bisa merubah masalalu.
          “Menyalahkan masalalu adalah sebuah tanda bahwa kita tidak melibatkan akal sehat, padahal jika kita mau berpikir dengan jernih kita semua tahu bahwa kita tidak bisa mengubah masalalu”
Saya jadi ingat ketika sahabat saya mengirim sebuah broadcast dai via BBM tentang salah satu saksi ketika kecelakaan mobil Tuxuci Dahlan Iskhan yang menabrak tebing hingga rusak parah dan semua pengemudinya selamat. Dalam kisah itu menggambarkan bahwa meski dalam keadaan sulit pun Beliau (Dahlan Iskhan) masih tetap tenang meski beliau sadar bahwa resiko terburuk yang ia hadapi adalah kematian.
Dalam cerita itu juga mengajarkan kepada saya pribadi bahwa dalam menghadapi segala kemungkinan yang terjadi kita harus tetap bersikap tenang, agar mampu tetap berpikir dengan akal sehat. Tidak terbayang bagaimana ceritanya jika Dahlan Iskhan dalam situasi sulit beliau malah cemas atau panik, beliau tidak akan bisa berpikir jernih hingga mengambil keputusan yang cepat dan tepat.

Akhir catatan bahwa cerita ini sekaligus menyadarkan kepada saya, bahwa kecemasan atau rasa panik yang ada pada diri saya adalah produk dari pikiran saya sendiri. Pikiran yang cinderung menyalahkan masalalu dan seakan-akan kita mampu kembali kemasa lalu kemudian memperbaiki lagi. Semoga ini bukan hanya berakhir dalam tulisan dan terus bertapa dalam blog saya ini, namun membuat saya belajar untuk menyikapi masa lalu, iya masa lalu yang sejatinya tak seorang pun mampu mengubah.

Saya juga harus sadar bahwa dengan beginilah saya harus bisa mengendalikan rasa cemasku, rasa cemas yang sudah mengalahkan akal sehatku. Terkadang untuk mengajari seseorang berenang ya dengan menceburkan orang tersebut ke kolam renang yang dalam sekalipun, karena pelatihnya tahu bahwa dia masih mampu menyelamatkannya. Sama halnya dengan kehidupan ini, Tuhan memberikan ujian kepada umatnya karena manusia masih mampu mengatasinya, walaupaun manusia merasa tidak mampu, hanya menyelamatkan satu manusia dari segala kesusahan bukan hal yang sulit bagi Allah, apalagi dengan hamba yang selalu taat beribadah kepadaNya.

Dan sebagai akhir dari akhir catatan ini,                                                                                 

KEEP SPIRIT ( ’;’)9
Read more ...