Jumat, 28 Februari 2014

Bangkai Tikus


Pemandangan hamparan sawah masih bisa saya lihat di sebuah desa, desa yang jauh dari hiruk-pikuk kehidupan kota yang serba modern. Meski di desa yang kebanyakan kehidupan warganya sebagai petani tulen, bisa dibilang desa ini sudah melek teknologi. Sudah barang wajib bagi anak-anak di desa ini memegang handphone. Anak-anak di desa tersebut juga sudah melek dengan internet, facebook dan twitter sudah menjadi bahan omongan dalam kehidupan sehari-hari.

Pagi hari, saya sempatkan untuk menghirup udara pagi sembari jalan-jalan di tengah persawahan, saya melihat kiri kanan, nampak padi-padi sudah mulai berbuah, mungkin tinggal satu bulan lagi persawahan ini sudah panen raya. Nampak para petani sudah mulai keliling di area persawahan meski hanya sekedar mengaliri air ke sawahnya atau membersihkan rerumputan yang ada di sekitar sawahnya.

Semakin siang, jalanan sudah mulai rame dengan lalu-lalang, orang-orang mulai beraktifitas, ada yang pergi ke pasar, serta anak-anak yang berangkat ke sekolah. Dari lalu-lalang orang-orang yang berjalan di jalan yang letaknya berada di tengah-tengah sawah, karena jalan tersebut kiri-kanannya adalah sawah. Dari mereka yang berjalan di jalan itu, nampak mereka semua menutupi hidungnya seraya meludah, saya tahu betul bahwa bau yang mereka cium sama dengan bau yang saya rasakan, yaitu semacam bau bangkai. Bau itu adalah bau bangkai tikus, karena untuk menghindari gagal panen dari hama-hama tikus yang menyerang persawahan tersebut, sudah mulai digerakan untuk bersama-sama memberantas hama tikus, ada yang dengan cara mengasapi kemudian ditutup rapat-rapat lubang tikusnya, ada yang menggunakan racun tikus, ada juga yang menjebak dengan setrum listrik, yaitu mengaliri aliran listrik di sekitar sawah mereka.

Orang-orang di sekitar, terutama orang yang berjalan di jalanan sawah, mulai tidak nyaman dengan bau bangkai tersebut. Tidak jarang orang-orang tersebut menghujat dengan kata-kata yang seenak jidatnya, seolah-olah menyalahkan para petani yang tidak menjaga kebersihan hingga bau bangkai seperti itu. Mereka yang lewat hanya mengumpat dengan kata-kata penuh cacian, karena betapa tidak nyamannya dengan bau semacam bangkai tikus tersebut.

Dari semua orang yang lewat tadi, kebanyakan dari mereka saling mengumpat dan mengeluarkan kata cacian seakan mengutuk orang-orang yang tidak menjaga kebersihan, hingga timbul bau menyengat semacam bau bangkai. Namun hal itu tidak bagi seorang petani, para petani malah saling mengumbar senyum seakan telah memenangkan sebuah pertandinagan sepak bola. Betapa tidak, karena tujuan dari mereka membasmi tikus, ya agar tikus-tikus itu mati, agar tidak gagal panen karena serangan hama tikus. Mereka seakan tidak merasakan apa yang dirasakan oleh orang-orang yang mengumpat karena bau bangkai tikus tersebut. Para petani dengan raut wajah senyum tidak segan-segan untuk mecari bangkai tikus dan langsung menguburnya agar tidak bau bangkai lagi.

Bau bangkai adalah sebuah resiko yang dilakukan oleh para petani, karena tujuan mereka adalah membasmi tikus-tikus tersebut agar berkurang, dan tentunya banyak yang tikus yang mati dan tidak jarang sampai ada yang busuk hingga berbau bagkai. Bau bangkai bagi petani adalah tanda bahwa mereka setidaknya telah mampu mengurangi hama tikus tersebut. Sungguh ironi bukan, bangkai yang kebanyakan orang adalah sebagai sesuatu yang menjijikan karena baunya, namun apa yang mereka lakukan? mereka hanya bisa mengumpat dengan suara-suara cacian tanpa tahu mengapa bisa ada bangkai. Tidak pernah berpikir bahwa bau bangkai adalah tanda berkurangnya hama tikus yang selama ini menghantui para petani, karena para petani pernah gagal panen karena serangan hama tikus di malam hari.

Kondisi diatas adalah kondisi yang sedang di alami oleh bangsa Indonesia saat ini, ketika media-media nasional baik media elektronik maupun surat kabar lagi genjar-genjarnya memberitakan tentang banyaknya pejabat-pejabat public yang bisa dibilang adalah pejabat terhormat, namun satu persatu mulai tertangkap oleh KPK karena tindak pidana korupsi. Banyak yang mengumpat dan seraya mencaci bahwa pejabat negeri ini adalah pejabat yang korup, yang tidak pernah mempedulikan rakyat, padahal kita semua tahu tidak semua pejabat public seperti itu, karena media yang terlalu lebay serta tidak adil dalam menayangkan berita, harusnya berimbang bukan hanya korupsinya saja yang menjadi sorotan utama, tapi pejabat-pejabat yang jujur juga perlu untuk diungkap dan dipublikasikan sehingga bisa menjadi contoh. Untuk sekarang ini, menurut saya, berita di media yang tidak adil dalam menayangkan media, kasus-kasus di blow up dari pagi hingga malam, namun kejujuran dan prestasi para pejabat public tidak dipubilkasikan secara besar-besaran layaknya berita penangkapan koruptor, kecuali KPK. Berkaca dari KPK, bahwa sudah menjadi tugas dari KPK adalah menangkap koruptor-koruptor di negeri ini, sehingga bukan prestasi jika KPK menangkap koruptor, namun sudah menjadi tugasnya KPK itu ya menangkap koruptor, namun karena pemberitaan media, KPK menjadi seperti pahlawan dalam pemberantasan korupsi. Dan tidak heran jika tingkat kepercayaan public terhadap KPK sangat tinggi jika dibandingkan dengan pejabat public lainnya.

Saya tidak bermaksud untuk menyerang KPK karena saya juga ngefans berat dengan KPK terutama ketua KPK-nya. Namun lebih kepada media yang lebih focus pemberitaan mengenai pejabat yang korupsi, dari pada menayangkan pejabat-pejabat yang jujur, namun entah karena kenyataan pejabat yang jujur jauh lebih sedikit dari pejababt yang korup, sehingga pemberitaan menjadi tidak berimbang, itu Wallahu’alam.

Kembali lagi kepermasalahan penangkan koruptor, banyak dari kita jika mendengarkan kabar penangkapan koruptor adalah malah mengumpat, mencaci seraya berkata bahwa sudah tidak percaya lagi dengan pejabat public, padahal berita penangkapan koruptor oleh KPK adalah kabar gembira bagi kita seperti para petani yang mencium bangkai tikus, karena itu artinya koruptor sudah berkurang di negeri ini.

Lagi-lagi itulah mengapa peran media sangat berpengaruh dalam mengarahkan opini public, karena berita-berita yang tidak berimbang dan hanya menayangkan sisi buruknya saja tanpa di imbangi sisi baik. Sehingga yang terjadi seperti saat ini, opini public sudah mengarah pada pemerintahan yang sarat dengan korupsi, padahal jika kita lihat dengan teliti bahwa berita penangkapan korupsi hanya terjadi pada pemerintahan Presiden saat ini, meski yang terjerat korupsi kebanyakan dari partai yang mengusung Presiden saat ini.

Saya rasa saya cukupkan saja tulisan kali ini, karena saya takut terlalu jauh untuk mengomentari pemerintahan saat ini, karena semua tulisan ini tidak lain hanya untuk meluapkan apa yang ada di dalam otak saya saja.

Sekian  dan mohon maaf jika ada salah kata dari saya

Terima kasih J