Kamis, 27 Februari 2014

Musisi Jalanan


Beberapa hari ini saya lagi seneng-senengnya nonton Indonesian Idol. Meski namanya Indonesian Idol, ada kata “Indonesia”, tapi entah kenapa lagu yang dinyanyikan kebanyakan adalah lagu barat. Saya tidak akan mengomentari hal itu, karena memang bisa jadi, kiblat musik Indonesia saat ini adalah penyanyi-penyanyi barat. Lagu-lagu barat dianggap memiliki kesulitan yang jauh lebih sulit dari lagu-lagu Indonesia, mungkin hal itu juga yang membuat Indonesian Idol memperbolehkan kontestan untuk menyanyikan lagu barat. Logikanya jika menyanyikan lagu dengan tingkat kesulitan tinggi saja bisa, pasti untuk lagu yang tingkat kesulitannya mudah pasti lebih jago. Mungkin!

Dari ajang pencarian bakat tersebut, bukan panggung spekta yang saya sukai, namun lebih pada proses audisi. Banyak sekali peserta audisi yang memiliki tingkat kepercayaan dirinya yang lebih dari kemampuan vocalnya. Dan itulah yang membuat saya merasa salut dengan orang-orang seperti itu. Dari sekian banyak peserta yang mengikuti audisi, hanya satu yang membuat saya tergugah untuk menulis catatan ini. Peserta itu bukanlah peserta paling kinclong seperti Windy dan Miranti, bukan pula peserta yang ganteng dan memiliki musikalitas tinggi seperti Ubay, bukan juga penyanyi-penyanyi yang memiliki kualitas vocal yang mumpungi dan didukung dengan paras yang ganteng dan cantik pula. Peserta audisi yang saya maksud adalah peserta dari kalangan pengamen. Mungkin yang tidak mengikuti perjalanan audisi Indonesian Idol bisa cari di yuotube dengan keyword “Pujianto peserta audisi Indonesian Idol 2014”. Pujianto adalah seorang musisi jalanan (sebutan bagi seorang pengamen) dengan gaya khas bersiulnya, yang seperti orang yang tidak bersiul karena dia hanya diam tapi suara siulan berasal dari dalam mulutnya.

Pujianto adalah seorang pengamen, dan saya rasa motivasi dia ikut bukanlah untuk menjadi the next Indonesian Idol seperti peserta audisi lainnya, hal itu bisa terlihat dari raut wajahnya ketika semua juri bilang “No!”, namun tidak ada raut kekecawaan di wajahnya. Dia hanya ingin show off bahwa dia bisa bernyanyi, dan pada saat itu ia menyanyikan lagunya sendiri yang sangat meng-Indonesia. Lagu dengan iringan musik sederhana, hanya dengan gitar dan sesekali dengan siulan khasnya. Lagu yang berisi tentang gambaran Indonesia yang terdiri dari banyak pulau, suku agama namun bisa rukun sentosa.

Pujianto bisa jadi hanya seorang tukang parkir dan terkadang juga mengamen, namun dia punya keberanian untuk menunjukan kepada Indonesia, bahwa karyanya layak untuk dipublikasikan, tentu dia paham bahwa Indonesian Idol akan ditayangkan di telivisi nasional. Terlepas dari sosok Pujianto yang sederhana, saya juga pernah memiliki pengalaman dengan pengamen. Pengamen atau bisa dibilang dia adalah musisi jalanan, karena ada juga artis yang sekarang sudah sering seliweran di layar kaca, dan dulunya adalah seorang pengamen, sebut saja Tegar seorang penyanyi cilik, Aris juara Indonesia Idol yang suaranya mirip Charli Setia Band. Mereka memulai karir dari jalanan, dari lampu merah perempatan, dari bus ke bus bahkan dari pasar ke pasar,  serta dari rumah ke rumah.

Musisi jalanan atau pengamen adalah mereka yang show setiap hari tanpa panggung, tanpa sorotan kamera apalagi make up. Suara mereka natural, karena ada juga pengamen yang bagus suaranya, dan yang membedakan antara pengamen dan penyanyi professional saat ini adalah, pengamen tidak pernah lipsing, dan nyanyinya eceran karena bayarnya juga recehan. Maksudnya nyanyi secara eceran adalah pengamen tidak pernah atau sangat jarang menyanyikan lagu secara full, terkadang hanya reff-nya saja.

Pernah suatu hari waktu saya sedang asyik nonton televisi di rumah yang kebetulan lagi sepi, ada suara pengamen dan berhubung tak ada uang receh, saya kasih uang satu lembar seribuan dan ketahuan oleh bulek, dan apa yang terjadi? Saya dimarahi, entah kenapa saya dimarahi hanya karena uang seribu rupiah yang saya berikan kepada pengamen. Di lain hari saya juga pernah kedatangan pengamen, waktu itu di laci sudah tersedia uang receh, kemudian saya kasih satu koin lima ratusan, dan apa yang terjadi? Tidak seperti pengamen lainnya yang akan pergi ketika sudah menerima uang, namun tidak bagi pengamen saat itu. Meski hanya lima ratus rupiah yang ia dapatkan, ia tetap menyanyikan hingga lagunya selesai. Kemudian saya amati lagi ketika dia sedang show di tetangga sebelah, ternyata sama, meski hanya uang receh yang ia dapatkan tapi tetap menyanyikan lagu sampai selesai. Mungkin dia bukanlah pengamen biasa, tapi sudah menjadi pengamen professional. Mungkin juga dia sudah menciptakan lagu sendiri meski dengan lirik dan iringan musik yang sederhana.

Sekarang coba dibandingkan dengan artis sekarang, mana mungkin mereka doyan dengan uang recehan. Namun saat show apa yang terjadi? Mereka menipu pemirsa dengan gaya yang seperti orang nyanyi padahal mereka hanya lipsing. Memang tidak semua artis atau penyanyi lipsing, terutama artis-artis senior yang sudah jatuh bangun hanya untuk nembus label rekaman ternama agar karya-karya bisa dipublikasikan ke masyarakat luas, mereka tidak mau menjatuhkan kualitas mereka dalam bermusik dengan lipsing saat show.

Pada intinya, meski dia hanya show dari jalan ke jalan, dari rumah ke rumah, dari warung ke warung dan hanya mengumpulkan uang recehan, namun mereka bernyanyi dengan kejujuran atau dengan kata lain tidak lipsing.   


Dan sebagai akhir catatan ini, semoga bermanfaat J