Senin, 03 Februari 2014

Panikku Mengalahkan Akal Sehatku


Hari yang kutunggu semakin hari semakin dekat, iya proposal skripsiku setelah sekian lama berpindah tangan ke pembimbing satuku akhirnya acc juga. Pembimbing dua sudah acc dan percaya bahwa proposalku sudah layak untuk maju sidang proposal.

Sudah lama proposalku menginap di tempat pembimbing utamaku (selanjutnya pembimbing aku disingkat dengan nama dosbing). Dosbing utamaku adalah dosen senior di kampusku, beliau sangat peduli dengan mahasiswa-mahasiswanya terutama anak bimbingannya. Karena anak bimbingannya banyak sehingga hanya sedikit yang beliau ingat. Dan aku termasuk yang terlupakan, jadi tidak heran jika proposalku sudah hampir satu bulan tidak dikoreksi. Sungguh malang nasib proposal skripsiku

Proposal yang lama kunanti hasil revisiannya, akhirnya datang juga. Hari itu (lupa hari apa) aku janjian dengan beliau dan apa hasilnya? Masih sama, proposalku saya belum dikoreksi. Hal ini wajar mengingat kesibukan beliau. Saya berusaha untuk memaklumi hal itu, hingga pada saatnya, akhirnya proposalku di acc. Iya proposalku di acc bukan karena apa, melainkan karena “kasihan”, karena kasihan? Iya karena sudah lama tidak dikoreksi hingga karena sudah lama akhirnya saya direstui untuk maju ke sidang proposal.

Proposal sudah di acc, meski karena “kasihan”. Dan setelah beberapa, hari penguji dan hari sudah ditentukan. Penantian menghadapi sidang proposal ini semakin hari menjadi semakin dekat. Dan ini menjadi kesalahan terbesar saya, saya tidak memeriksa kembali proposal saya terutama tata tulis, tata bahasa dan apakah daftra pustaka sudah lengkap apa belum. Itulah awal dari malapetaka itu, ketika saya terlalu percaya diri dengan proposalku hingga tak ada perubahan yang mendasar dalam proposalku.

Hari itu akhirnya datang juga, tepat hari rabu tanggal 22 januari 2014 pukul 09.00 pagi. Saya sengaja datang lebih pagi, agar segala sesuatu sudah siap termasuk snack, serta perlengkapan buat presentasi proposalku. Diluar sembari menunggu detik-detik pembantaian itu (lebay banget). Dalam mulutku selalu berucap “Bahwa saya sudah siap dengan kemungkinan terburuk“ itulah perkataan sembari menunggu jam ssembilan pagi. Kata itu hanyalah sebagai penenang diri yang selalu cemas dalam menghadapi masa-masa sulit ini. Padahal dalam hati saya sudah harap-harap cemas. Malam sebelum sidang proposal aku chatting dengan temanku yang sudah selesai sidang proposal dan teman yang kebetulan pengujinya sama, sembari buka-buka proposal untuk belajar presentasi.

Jam 09.00 tepat semua dosen baik pembimbing maupun penguji sudah terlihat dikampus, aku menjadi rada keder, rasa cemas mulai menghampiri, seakan seuatu yang buruk akan benar-benar terjadi padaku. Itulah aku, aku adalah orang yang memiliki sedikit rasa panik dibanding kebanyakan orang. Orang lain mungkin menganggap hal itu lumrah namun tidak bagiku. Saya adalah orang yang sedikit peka dengan sekitarnya sehingga untuk cuek dengan lingkungan adalah hal sulit bagiku. Ini bukanlah sebuah penyakit turunan, namun dalam psikologis bisa disebabkan oleh pola pengasuhan orang tua atau karena adanya pengalaman-pengalaman masa lalu. Bisa dikatakan aku gagal menjadi mahasiswa psikologis, karena tidak mampu mengatasi rasa cemasku sendiri, yang terkadang mampu mengalahkan akal sehatku. Sehingga saya tidak bisa berpikir secara jernih.

Presentasi berjalan lancar, kemudian barulah aku harus mendapatkan counter attack dari para penguji atau reviewer. Sebelum pertanyaan beliau ungkapkan sudah nampak wajah kekecewaan terhadap tulisanku. Beliau berkata “Tulisannya jelek baik dari segi tata bahasa maupun tata tulis” hal itu membuat saya sedikit down. Namun masih bisa saya tersenyum kecil.

Dan pada akhirnya giliran penguji dua, penguji dua yang begitu kritis telah mampu mengorek habis semua kesalahanku dalam proposal peneilitianku. Jika dalam futsal saya sudah tidak bisa defend total dan pertahanku sudah mampu rapuh serta tidak didukung dengan kipper yang jago, hasilnya kalah telak. Hal itu membuatku semakin down dan rasa cemas mulai menghampiriku dan memperparah keadaan. Saya sudah tidak bisa berpikir jernih lagi, dan satu yang membuatku menjadi tambah down, ketika beliau berkata bahwa penelitianku sebenarnya tidak layak untuk lanjut dan harus mengulang lagi. Itulah yang hingga saat ini terus mengganggu pikiranku.

Saya menjadi sangat malu serta merasa tidak enak dengan kedua dosbingku yang selama ini telah berusaha membimbingku. Kedua dosbingku adalah orang yang mampu membuatku sedikit menjadi lebih tenang, mereka sangat bijak, saya masih ingat apa yang dikatakan oleh beliau. Kurang lebih begini “Kesalahan yang terdapat dalam proposal ini, tidak seratus persen salah Riki (saya sendiri), saya turut andil dalam hal ini, karena beberapa bulan ini saya sedang sibuk”. Kata itu yang mampu sedikit menaikan morilku.

Hingga detik ini, pada saat saya menulis catatan ini saya masih merasakan cemas dan terbayang-bayang oleh suasan sidang itu. Ada seuatu yang mengganjal dalam pikiran saya, namun saya tidak tahu apa yang sebenarnya yang menjadi pikiran itu. Sahabatku selalu bilang bahwa “masa lalu adalah ilusi” namun hal itu seakan tidak berlaku pada diriku. Iya, saya akui bahwa saya tidak bisa lepas dari masa lalu. Mingkin hal ini juga yang membuat saya merasakan perasaan negatif atau kecemasan.

Kecemasan bisa dialami oleh siapapun, namun dalam menyikapi hal inilah ada perbedaan antar individu. Dalam ilmu psikologi cemas itu wajar jika dalam kadar tertentu serta tidak melebihi ambang batas. Karena cemas mampu membuat orang menjadi berhati-hati dalam segala hal. Namun cemas mampu mengalahkan akal sehat ketika rasa cemas itu sudah melebihi ambang batas serta individu tersebut tidak mampu menenangkan diri atau mengelola kecemasan tersebut.

Rasa cemasku sudah mengalahkan akal sehatku. Iya rasa cemas yang bersumber dari pengalam masa lalu yang terkadang tidak mengenakan. Akan terus menganggu pikiran kita. Padahal kita tahu bahwa masalalu tidak bisa diubah. Lantas kenapa hal itu mampu membuat kita cemas? Itulah yang sebenarnya menjadi renungan bagi diriku sendiri. Masalalu yang terkadang tidak mengenakan ini, sudah jelas-jelas tidak bisa kita ubah, namun pikiran masih merisaukan seakan-akan kita masih bisa mengulang waktu kembali.

Dari kejadian ini saya menjadi belajar, bahwa kecemasan yang selama ini aku alami sebenarnya bisa diminimalisir jika saya mau sedikit meluangkan waktu sebentar untuk merenungi apa yang sebanarnya terjadi.
            “Masa lalu bukanlah untuk disesali, masalalu adalah pengalaman bagi kita”
Setiap orang pasti memiliki masalalu, namun berbeda dalam menyikapi masa lalu itu. Ada yang menganggap masa lalu adalah pengalaman sehingga kita harus belajar dari masa lalu itu dan mengambil hikmah dari kejadian-kejadian di masalalu. Ada juga yang terbuai dengan masa lalu yang mengakibatkan seseorang terlalu menyalahkan dirinya sendiri, hingga selalu mengganggu pikirannya, padahal jika kita mau berpikir sejenak, kita semua tahu bahwa kita tidak bisa merubah masalalu.
          “Menyalahkan masalalu adalah sebuah tanda bahwa kita tidak melibatkan akal sehat, padahal jika kita mau berpikir dengan jernih kita semua tahu bahwa kita tidak bisa mengubah masalalu”
Saya jadi ingat ketika sahabat saya mengirim sebuah broadcast dai via BBM tentang salah satu saksi ketika kecelakaan mobil Tuxuci Dahlan Iskhan yang menabrak tebing hingga rusak parah dan semua pengemudinya selamat. Dalam kisah itu menggambarkan bahwa meski dalam keadaan sulit pun Beliau (Dahlan Iskhan) masih tetap tenang meski beliau sadar bahwa resiko terburuk yang ia hadapi adalah kematian.
Dalam cerita itu juga mengajarkan kepada saya pribadi bahwa dalam menghadapi segala kemungkinan yang terjadi kita harus tetap bersikap tenang, agar mampu tetap berpikir dengan akal sehat. Tidak terbayang bagaimana ceritanya jika Dahlan Iskhan dalam situasi sulit beliau malah cemas atau panik, beliau tidak akan bisa berpikir jernih hingga mengambil keputusan yang cepat dan tepat.

Akhir catatan bahwa cerita ini sekaligus menyadarkan kepada saya, bahwa kecemasan atau rasa panik yang ada pada diri saya adalah produk dari pikiran saya sendiri. Pikiran yang cinderung menyalahkan masalalu dan seakan-akan kita mampu kembali kemasa lalu kemudian memperbaiki lagi. Semoga ini bukan hanya berakhir dalam tulisan dan terus bertapa dalam blog saya ini, namun membuat saya belajar untuk menyikapi masa lalu, iya masa lalu yang sejatinya tak seorang pun mampu mengubah.

Saya juga harus sadar bahwa dengan beginilah saya harus bisa mengendalikan rasa cemasku, rasa cemas yang sudah mengalahkan akal sehatku. Terkadang untuk mengajari seseorang berenang ya dengan menceburkan orang tersebut ke kolam renang yang dalam sekalipun, karena pelatihnya tahu bahwa dia masih mampu menyelamatkannya. Sama halnya dengan kehidupan ini, Tuhan memberikan ujian kepada umatnya karena manusia masih mampu mengatasinya, walaupaun manusia merasa tidak mampu, hanya menyelamatkan satu manusia dari segala kesusahan bukan hal yang sulit bagi Allah, apalagi dengan hamba yang selalu taat beribadah kepadaNya.

Dan sebagai akhir dari akhir catatan ini,                                                                                 

KEEP SPIRIT ( ’;’)9