Jumat, 21 Maret 2014

Ada Keringat Petani dibalik Nasi Sisa Makan


Makan sudah menjadi bagian dari kebutuhan pokok manusia, ada yang sehari bisa makan 5 kali, 4 kali, namun pada umumnya 3 kali sehari, dan lain halnya ketika puasa makan hanya dua kali dalam sehari, yaitu pada saat sahur dan berbuka puasa. Mungkin dari kita ada orang yang kuat menahan lapar, namun ada juga yang tidak bisa menahan lapar karena menderita Maag yang bisa menaikan asam lambungnya.

Ada orang yang diet atau mengurangi jumlah konsumsi makanannya karena menginginkan bentuk tubuh yang ideal, ada juga yang sengaja makan lebih banyak agar kelihatan gemuk namun malah tidak kunjung gemuk. Ada juga  yang berpantangan tidak boleh makan jenis makanan tertentu karena menderita penyakit tertentu dan mengharuskan untuk menghindari jenis makanan tertentu. Orang yang kaya raya dapat makan apa saja namun dia memiliki pantangan makanan tertentu karena penyakit yang dideritanya, lain halnya dengan orang yang hidup pas-pasan dan tidak mempunyai pantangan apa-apa dalam memilih makanan, namun kondisi ekonomi yang tidak bisa memenuhi keinginan untuk makan enak.

Sekarang perhatikan baik-baik, mungkin untuk saat ini makan sudah menjadi kebutuhan yang mudah terpenuhi, artinya sudah jarang ditemui orang yang sangat sulit dan terkadang makan hanya sekali dalam sehari, meskipun ada saya yakin jumlahnya bisa dibilang sangat sedikit. Kebanyakan orang sekarang bekerja mati-matian bukan untuk memikirkan keluarga saya akan makan apa, namun sekarang bekerja mati-matian untuk membayar cicilan kredit, baik itu kredit hutang, cicilan rumah atau kendaraan. Itu menandakan bahwa untuk saat ini kebutuhan pangan (makanan) sudah terpenuhi Karena bisa dilihat orang-orang sudah mulai fokus pada kebutuhan sekundernya, dalam artian kebutuhan pokok khususnya makan sudah terpenuhi.

Makanan sekarang bahkan sampai sisa-sisa terutama nasi, berbeda pada saat negeri ni masih terjajah oleh bangsa lain, bisa makan beras adalah sesuatu yang istimewa karena pada saat itu hanya biasa makan umbi-umbian, jagung dan makanan pengganti nasi lainnya. Namun sesekali coba anda perhatian baik-baik, ketika anda makan atau orang lain sedang makan, pernahkah anda melihat sisa nasi di piring? Pasti ada, bahkan ada juga yang yang meninggalkan sisa banyak nasi, hal itu sering saya jumpai ketika saya sedang makan di warung nasi, terutama yang biasanya sering meninggalkan sisa adalah wanita atau cewek. Entah kenapa wanita lebih sungkan untuk menghabiskan makanannya, mungkin takut dikira rakus. Lain halnya dengan cowok yang terkadang malah nambah nasi.

Sekarang pernahkan anda berpikir sisa-sisa nasi di piring sehabis makan tersebut mau diapakan? Biasanya kalo nggak dikasih ke ayam ya dibuang begitu saja, karena sudah tidak mungkin untuk di konsumsi lagi atau dengan kata lain di daur ulang, atau malah cuek, toh nasi itu kan sudah saya beli jadi terserah mau dihabiskan atau mau dibuang begitu aja.  Padahal kalo kalau tahu betapa susahnya petani itu menanam padi hingga jadi beras siap makan, kalian pasti akan sangat sedih ketika ada butiran-butiran nasi yang masih tersisa saat selesai makan.

Saya bukannya lebay dengan menganggap bahwa hanya sekedar butiran nasi saja dipermasalahkan, sama sekali tidak. Namun ada hal yang belum kalian ketahui bahwa jadi petani itu susah. Saya tahu soal kehidupan petani karena saya lahir dari keturunan petani, Mbah saya dulu juga seorang petani tulen, namun karena alasan kesehatan semua sawah dikerjakan oleng penggarap dengan sistem bagi hasil. Jadi setidaknya saya sedikit paham mengenai kehidupan petani.

Beberapa hari yang lalu saya juga mendapat curhatan dari seorang petani bahwa jadi petani itu adalah pekerjaan yang rendah namun sebanarnya adalah pekerjaan yang mulia. Bagaiaman tidak, mereka para petani adalah pahlawan negeri ini yang selalu menjaga ketahanan pangan. Dan ketika saya sedang ngobrol dengan petani di sebuah angkringan mereka berbagi cerita soal pertanian, betapa dia mengeluh ketika akan panen kemudian menjual hasil panen yang lalu untuk modal panen, ketika panen harga beras dan gabah malah turun, kemudian belum lagi masalah pupuk, kemudian sulitnya mencari tenaga atau pekerja yang mau membantu proses pertanian, dari menanam sampai panen. Untuk masalah pupuk, harga beras itu yang andil adalah pemerintah melaui Kementrian pertanian, bagaimana untuk tetap memberikan subsidi pupuk, kemudian bagaimana peran bulog dalam menjaga harga beras agar tetap normal dan jangan sampai harga beras menjadi turun. Namun untuk masalah tenaga petani? Itulah sekarang yang menjadi masalah besar, minat seseorang untuk menjadi petani mulai turun dan bisa dipastikan bahwa jumlah petani juga akan turun lantas jika sudah tidak ada petani siapa yang akan menanam padi? Siapa yang akan menjaga stabilitas ketahanan pangan negeri ini?

Sebuah renungan bagi kita semua, nasi yang kita makan sehari-hari tidak sesimpel hanya dengan membeli di warung nasi, yang tahu-tahu sudah berupa nasi plus dengan lauknya. Mulai sekarang saya mulai belajar untuk menghargai kerja keras para petani, tentu dengan tidak meninggalkan butiran-butiran nasi setelah selesai makan. Ini adalah cara saya, yang semoga bisa terus berjalan dan menjadi sebuah kebiasaan, karena dibalik butrian nasi sisa makan ada keringat petani yang terus tercurahkan untuk negeri ini, untuk menjaga stabilitas dan ketahanan pangan negeri ini. Dan saya masih salut dengan para petani, mereka tetap bertani dan menjalankan profesi sebagai petani meski petani bukanlah pekerjaan yang prestige.

Terima kasih kepada para Petani Indonesia, meski orang menganggap bahwa petani adalah identik dengan orang kampung yang tidak tahu akan perkembangan jaman, namun engkau telah menunjukan baktimu kepada negeri ini, yaitu dengan mencukupi kebutuhan pangan untuk negeri ini.


sekian
Read more ...

Kamis, 20 Maret 2014

Puisi

Surat Untuk Calon Istriku

Calon Istriku,
Dimanakah engkau sekarang ?
Bagaiamana kabar dirimu di sana?
Apakah engkau masih sendiri seperti yang aku rasakan?
Ataukah kini kamu masih bersama orang lain dengan status pacaran?

Calon Istriku,
Apakah engkau berada ditempat yang jauh?
Hingga aku harus pergi ke tempat yang tak pernah aku kenal
Ataukah engkau berada di dekatku?
Sedang aku tak pernah menyadari kehadiranmu

Calon Istriku,
Maafkan aku yang tidak berusaha mencarimu
Maafkan aku yang terlalu pecundang untuk mendekatimu
Maafkan aku yang tak pernah memantaskan diriku untuk menyambutmu
Dan sekali lagi, maaf, maaf dan maaf untuk sikap ini, sikap pecundang seorang lelaki




Read more ...

Rabu, 19 Maret 2014

Puisi

            Bahtera Rumah Tangga

Sahabat, Pernikahan bukanlah akhir dari sebuah hubungan
Pernikahan adalah awal dari sebuah perjalanan
Perjalanan yang akan dilalui bersama
Baik dalam keadaan suka maupun duka      

Ibarat sebuah kapal,
Pernikahan adalah sebuah bahtera rumah tangga
Terkadang ada angin yang tak pasti serta ombak yang tak menentu
Itulah saat dimana kalian berdua sedang diuji

Ombak dan angin, bukanlah sesuatu yang bisa dihindari, melainkan dihadapi
Dihadapi bersama dengan penuh keyakinan
Dihadapi bersama dengan saling pengertian
Dan percayalah bahwa dibalik angin dan ombak tersebut, ada pulau yang indah menanti kalian

Dan ketahuilah pulau tersebut adalah, “keluarga yang sakinah mawadah  waromah”
Sebuah puisi untuk sahabat, semoga menjadi keluarga sakinah mawadah  waromah
Dari sahabat kalian Riki. S

*Puisi di atas adalah puisi yang sengaja saya buat untuk teman SMA saya yang kebetulan sudah mengakhiri masa pacaran dengan kata “akad nikah”. Puisi yang dibuat hanya berdasarkan spontanitas. Alasan saya menaruh puisi didalam kado pernikahan mereka adalah menurut saya pribadi kartu ucapan sudah terlalu sering, dan saya mencoba hal yang berbeda atau bisa dibilan diluar kebiasaan. Puisi di atas adalah naskah asli dan sengaja saya publikasikan di blog pribadi saya ini.
Read more ...

Selasa, 18 Maret 2014

Negara Ini Sangat Sayang dengan (Kepala) Rakyatnya

Minggu ini saya putuskan untuk pulang ke rumah lebih awal, karena tidak tahu kenapa saya mendapat pesan singkat dari orang rumah untuk segera pulang. Dalam pesan singkat itu hanya dituliskan bahwa di rumah lagi banyak pekerjaan, dan sebagai anak yang berbakti tentunya saya segera pulang. Saya segera mempersiapkan apa saja yang akan dibawa pulang, termasuk buku bacaan yang belum sempat aku selesaikan.

Selama perjalanan saya begitu santai dan tidak tergesa-gesa atau ngebut untuk segera sampai rumah, saya lebih menikmati perjalanan sembari melihat lalu-lalang kendaraan. Jalanan lumayan ramai, hal itu disebabkan jam sudah menunjukan jam pulang kantor. Dari sekian banyak kendaraan yang berseliweran di jalan, saya hanya tertarik pada satu hal, yaitu penggunaan helm. Ada beberapa yang masih berkendara lengkap dengan jaket serta helm, bahkan tidak lupa menggunakan sarung tangan, menandakan bahwa mereka sedang perjalanan jauh. Ada juga yang hanya menggunakan kaos oblong serta dengan celana pendek dan lebih parahnya lagi mereka tidak menggunakan helm saat berkendara. Kebanyakan yang tidak menggunakan helm adalah mereka yanhg masih tergolong usia remaja, atau bisa dibilang ABG labil. Saya tidak tahu mengapa mereka enggan menggunakan helm, mungkin jam sesore itu dalam pikirannya jalanan sudah sepi dari pengawasan polisi, ataukah menggunakan helm baginya hanya membuat rusak tatanan rambut, atau helm menjadi sesuatu yang berat jika digunakan saat berkendara. saya tidak tahu pastinya. Yang jelas pemandangan remaja-remaja, baik cowok maupun cewek, mereka sungkan atau tidak mau membawa helm.

Pemandangan yang ironi malah terlihat ketika saya mengunjungi sebuah mini market sebut saja Indomaret dan alfamaret (Bukan nama sebenarnya J), ada seseorang yang berkeliling untuk belanja malah menggunakan helmnya, dia lupa melepas helm kah? Saya rasa tidak, atau dia memakai helm buat safety ketika ia terjatuh karena terpleset lantai dan kepalanya membentur rak pada minimarket tersebut, sehingga tidak akan mengalami cidera serius di otak? Mungkin bisa saja, tapi saya tidak akan mempercayai alasan itu. Karena saya tahu persis bahwa helm yang mereka gunakan adalah helm mahal, sehingga tetap dipakai karena ia takut kehilangan, karena sudah beberapa tahun yang lalu pencurian helm sedang marak-maraknya, bahkan teman saya sendiri pernah mengalami kehilangan helm saat parkir di depan minimarket.

Saya juga pernah datang langsung ke suatu konser music, dan ada juga beberapa orang yang menggunakan helm di tengah lapangan. Entahlah apa motifnya, apakah sama dengan mereka yang memakai helm ketika berada di dalam mini market atau sebagai antisipasi bahkan persiapan adanya tawuran ketika sedang menonton konser.

Memang pemadangan yang aneh, helm yang seharusnya dipakai ketika berkendara, malah ada saja orang yang enggan untuk memakai helm. Banyak alasan mengapa mereka enggan untuk memakai helm, biasanya karena hanya perjalanan jarak dekat, di jalanan lagi sepi polisi, helm bisa menyebabkan ketombe dan merusak tatanan rambut dan alasan-alasan lainnya. Namun ada juga yang sangat antusias dengan keselamtannya hingga masuk ke dalam mini market masih menggunakan helm, menghadiri konser music juga menggunakan helm.

Saya tidak akan mengomentari mereka yang menggunakan helm saat belanja di minimarket serta saat nonton konser music, namun lebih ke fungsi dari helm. Helm adalah salah satu syarat dalam keselamatan berkendara (berkendara motor lho ya, bukan mobil). Sehingga hal itu sudah sepatutnya para pengendara motor menyadari hal tersebut. Namun kebanyakan dari orang memakai helm hanya karena takut ditilang polisi dan harus membayar denda yang kira-kira sebesar Rp 50.000. Tidak memakai helm saat berkendara adalah salah satu bentuk pelanggaran dalam berlalu lintas, itu artinya ada undang-undang lalu lintas yang menyantumkan peraturan penggunakan helm pada saat berkendara, bahkan harus ada tanda SNI nya. Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah helm itu untuk keselamatan siapa? kenapa Negara membuat aturan tentang penggunaan helm? Apa untungnya bagi Negara dengan membuat aturan tersebut?

Dan inilah mengapa saya menulis ini, helm yang sejatinya untuk keselamtan pengguna atau pengendara seharusnya sudah menjadi kesadaran bagi masing-masing individu saat berkendara. Mengapa harus dibuat aturan? Ini menurut saya adalah hal yang lucu, suatu prosedur untuk keselamtan diri sendiri tapi dibuat aturan atau UU Lalu lintas. Kemudian jika ada yang melanggar malah ditilang dan didenda, pertanyaannya adalah siapa yang bakal dirugikan ketika aturan itu dilanggar? Apakah Negara? Tentu Negara ini tidak akan merasa kehilangan jika ada seorang atau beberapa orang yang meninggal dunia karena gagar otak akibat kecelakaan saat berkendara karena tidak memakai helm. Ini menurut saya adalah bentuk kasih sayang Negara kepada kepala rakyatnya hingga pemakaian helm menjadi sebuah aturan, serta bagi yang melanggar akan ditilang dan dikenai denda.

Dan ketahuilah dari dampak aturan tersebut, keselamatan seakan menjadi nomor sekian, yang terpenting adalah lolos dari pengawasan polisi. Aturan itu sekarang bukan membuat seseorang sadar akan keselamatan pengendara akan tetapi malah membuat mindset bahwa memakai helm saat berkendara itu semata-mata karena tidak ingin ditilang polisi serta di denda Rp 50.000. Apakah nilai kepala mereka hanya dihargai Rp 50.000 saja? Tentu tidak bukan? Lantas kenapa mereka lebih takut pada polisi dari pada keselamatan diri mereka.

Saya akui dulu saya juga memiliki pemikiran seperti itu, terkadang orangtua selalu menyarankan untuk memakai helm, namun jawab saya  “hanya mau ke tempat yang deket dan dijalanan itu jarang ada polisi”. Namun sekarang saya sadar bahwa keselamatan adalah nomor satu, terlebih saya sudah sekitar 2 atau 3 kali (lupa) mengalami kecelakaan tunggal. Dan setelah kecelakaan itu saya lebih menyadari bahwa keselamatan adalah hal yang penting disamping tidak mengganggu keselamatan orang lain saat berkendara, dengan kata lain ngebut, maklum motor uda tua dan sudah tidak bisa diajak buru-buru. Dan tulisan yang mendatang saya akan menuliskan tentang motor saya, hehe (Insha Allah).

Kembali ke permasalahan, Negara ini yang sangat mencintai rakyatnya, bahkan keselamatan yang harus menjadi kesadaran pribadi pun dibuat menjadi sebuah aturan, aturan penggunaan helm adalah salah satu contoh yang sering kita jumpai, itulah tanda bahwa negera ini sangat mencintai kepala rakyatnya. Model orang Indonesia yang selalu menganggap aturan dibuat untuk dilanggar, itu adalah ucapan yang konyol, karena aturan penggunaan helm jelas-jelas untuk keselamatan dirinya sendiri. Mungkin juga ini dikarena tipe orang Indonesia yang keras kepala hingga dikira kepala akan tahan banting ketika berbenturan dengan beton serta aspal jalanan. Memang pada dasarnya setiap orang ingin selamat dalam berkendara, karena mati itu urusan Allah, sekarang lihat saja, kecelakaan yang terjadi pada mereka yang menggunakan safety lengkap saja bisa mengalami luka parah bahkan kematian terus bagaimana dengan mereka yang tidak menggunakan safety lengkap seperti helm? bisa selamat namun ada cidera serius di otak akan bisa apa? Otak adalah pusat koordinasi semua system syaraf. Segala fungsi tubuh diatur di dalam otak, dan otak letaknya dimana? Di dengkul? Di kepala kan? Makanya ada helm yang sudah teruji bisa mengurangi resiko cidera serius di kepala.

Negara yang lucu yang dimainkan oleh orang-orang yang lucu pula, namun semua bisa jadi duit, termasuk mengingatkan keselamatan orang bisa juga jadi duit, misalnya  Orang yang kena tilang polisi karena tidak memakai helm, seharusnya diberi penjelasan pentingnya menggunakan helm bukan malah diajak damai dengan meminta uang Rp 50.000. sadar atau tidak sadar hal itulah yang membuat mindset mereka menjadi memakai helm cuma ingin lolos dari tilang polisi dan tidak kehilangan uang damai Rp 50.000.

Helm untuk keselamatan diri kita pribadi, bukan untuk lolos dari tilang, bukan pula takut kehilangan uang Rp 50.000. sayangi kepala Anda, karena Negara sudah menunjukan kasih sayang kepada kepala Anda.

Sekian, dan pastikan bunyi "klik" pada saat menggunakan helm, tulisan ini bukanlah iklan layanan masyarakat :-)  



Read more ...

Jumat, 07 Maret 2014

Penyakit Tidur Kedua


Pagi ini tidak seperti biasanya, setelah sholat shubuh saya tidak langsung tidur lagi untuk melanjutkan mimpi-mimpi yang sempet tertunda, padahal mimpi bukanlah layaknya sinetron yang selalu bersambung hingga tak tahu kapan tamatnya. Tidak puas dengan tamat, masih ada lagi kelanjutannya sampai ke sekian, layaknya sinetron tersanjung yang pernah populer di masanya.

Setelah sholat shubuh saya tidak tidur lagi, tapi berjalan-jalan sebentar dan duduk-duduk di teras rumah sembari menghirup udara pagi yang masih segar. Aneh memang, karena biasanya saya setelah sholat shubuh tidak mau melewatkan untuk tidur kedua. Tapi tidak untuk pagi ini, padahal malamnya saya sampai jam 1 pagi menonton telivisi sambari  ngobrol-ngobrol dengan Om. Dari obrolan yang serius sampai obrolan tanpa isi atau hanya sekedar bercanda membuat kami berdua tidak merasakan kantuk meski saat itu tidak ada secangkir kopi pun.

Kebiasaan tidur lagi setelah sholat subuh seperti penyakit bagi saya. Saya tidak tahu itu bagian dari kemalasan pada tubuh ini atau bukan, tapi yang jelas semakin lama saya merasakan tidak kenyamanan dengan penyakit ini. Betapa tidak, tidur kedua (tidur setelah sholat shubuh) bukanlah kebiasaan baik, tubuh menjadi semakin lemas, badan seakan dimanjakan dengan kemalasan, dan yang menjadi momok adalah hal ini seakan membuat hari-hari yang akan saya jalani menjadi penuh rasa malas. Ini adalah masalah serius yang harus saya tuntaskan bagaimana pun caranya. Saya pernah meminum kopi setelah sholat shubuh agar tetap melek, namun timbul masalah baru, yaitu malas bikin kopinya dan apa yang terjadi? Tidur lagi. Saya juga pernah memulai membiasakan untuk selalu online setiap bangun pagi agar tetap melek, namun hal itu sia-sia, karena setelah mata mulai lelah menatap layar komputer mata terasa berat dan akhirnya tidur lagi.

Berbagai cara sudah saya lakukan untuk mengatasi penyakit yang membuat semakin subur rasa malas ini, namun dari semua cara semua hanya beberapa hari saja dapat berjalan, karena ketidak konsistenan dalam melakukan semua itu. Saya mulai melakukan analisis terhadap penyakit ini, yaitu penyakit yang saya anggap sudah mulai serius dan akan berpengaruh terhadap semua hal yang akan saya lakukan.

Pertama yang saya lakukan adalah mengenai apa yang menyebabkan saya tertarik untuk melakukan tidur lagi setelah sholat shubuh. Setelah saya pikirkan dan saya renungkan ternyata tidur lagi adalah sebagai jawaban atas ketiadaan kegiatan yang saya lakukan setelah bangun tidur, hingga tidur lagi saya anggap sebagai cara yang paling efektif untuk mengisi kekosongan ini. Namun kenapa meski sudah ada kegiatan penyakit ini seakan mudah kambuh lagi? Hal ini ternyata disebabkan kebosanan yang saya alami, hanya melakukan hal-hal yang itu-itu saja tiap pagi membuat saya lebih memilih tidur lagi. Inilah kenapa saya harus merencanakan apa saja yang akan dilakukan untuk besok pagi. Terutama untuk membuat jadwal pagi yang berganti-ganti misalnya berganti-ganti tempat sarapan, atau ganti kegiatan dari bersih-bersih kamar berganti nyetrika baju. Dan saya usahan kegiatan yang produktif termasuk menulis catatan baik di facebook atau di blog.

Semua yang saya lakukan untuk menghindarkan pikiran menuju ke tempat tidur lagi tidak akan berhasil meski sudah membuat jadwal yang terencana tapi tidak diikuti dengan kedisiplinan dan konsisten tentunya. Ini adalah awal dimana saya akan memulai hari dengan cara yang tidak biasa dari hari-hari yang lalu. Saya harus berusaha untuk mengobati penyakit ini, karena semua sudah jelas dan saya juga tahu apa yang harus saya lakukan. Tinggal eksekusi dengan action serta didukung dengan kedisipilnan beserta bersifat konsisten.

Inilah alasan saya mengapa saya menulis ini, tentu untuk mengobat penyakit ini, dan tulisan ini sebagai penguat bahwa saya akan serius dalam mengobati penyakit ini, sehingga ketika saya mulai kambuh dengan penyakit ini saya akan membaca tulisan ini.

Bangun pagi sebenarnya sangat baik untuk kesehatan baik secara jasmani maupun rohani, karena selain dapat menyehatkan, bangun pagi juga mampu membuat jiwa menjadi sangat bersemangat menjalani hari. Hal ini memang sangat subyektif karena hanya berdasarkan pengalaman saya sendiri. Karena saya pernah mersakan ketika saya bangun siang, saya menjadi malas untuk melakukan apa-apa, bahkan hanya sekedar mandi pagi saya malas, bangun hanya untuk makan, setelah itu hanya tiduran di depan layar telivisi. Lain halnya ketika saya bangun pagi, saya lebih bersemangat dan lebih produktif tentunya.

Sebagai akhir catatan, semoga saya konsisten dan disiplin dalam bangun pagi dan tidak terjebak dalam kenikmatan sesaat tidur kedua.

Semoga tetap disiplin dan konsisten.  


Read more ...

Senin, 03 Maret 2014

Anak Kecil Yang Belum Penuh Dosa

Beberapa hari yang lalu ketika saya lagi makan di sebuah warung tiba-tiba ada rombongan keluarga, ayah, ibu dan dua anaknya masih kecil. Terlihat keluarga tersebut baru saja menjemput anaknya dari sekolah karena kedua anaknya masih menggunakan seragam sekolah. Yang paling kecil perempuan kira-kira usia 4 tahun dan masih sekolah TK, terlihat dari seragam yang dipakai. 

Ketika dia datang langsung menuju pas di meja saya lagi minum es kopi. Anak tersebut, yaitu anak yang paling kecil, berkata dengan mamahnya, "Mah, saya duduknya pengen deket mas nya saja" sambil malu-malu. Dan Ibunya mengijinkan putrinya duduk pas di depan saya, kemudian Ibunya berada di sebelah kanannya. 

Anak kecil yang belum banyak dosa itu sangat lucu dan mudah akrab dengan orang baru, hal itu terlihat meski malu-malu malah mengajak kenalan saya. Nama gadis kecil yang belum banyak dosa itu adalah Jesica. Ibunya yang berada di sebelahnya juga menyapa saya dan memberitahu mengenai tingkah anaknya, yang menurut Ibu tersebut adalah anak yang cerewet. 

Singkat cerita, jesica si gadis kecil yang imut itu mulai menunjukan kecerewatannya, dengan malu-malu bertanya kepada saya "Mas Riki, sudah punya pacar belum?" Mendengar pertanyaan tersebut sontak membuat saya kaget, ini bocah tau istilah pacar dari mana coba? Dan Ibu dengan segera juga ikut perbincangan dengan sedikit senyum karena melihat tingkah anaknya. Sang Ibu juga menanyakan hal-hal tentang saya, mengenai kuliah ambil jurusan apa, tinggal di mana serta menanyakan saya asli orang mana. Meski sekedar basa-basi kami menjadi semakin akrab padahal baru ketemu. 

Kembali ke jesica, gadis kecil yang belum penuh dosa yang menanyakan soal pacar kepada saya. Saya tidak GR dengan pertanyaan gadis itu, gila aja dia masih ABG (anak belum gede) bisa-bisa saya dikira pedofil. Namun saya lebih tertarik bagaimana gadis sekecil itu kenal dengan istilah pacaran mengingat usianya masih sekitar 4 tahun. Saya kira itu pengaruh lingkungan dan juga tontonan televisi saat ini. Dan seharusnya orangtua harus turut andil dalam memperhatikan serta mengawasi mana tontonan televisi yang layak untuk anaknya dan mana yang harus dihindarkan karena bisa saja berpengaruh terhadap tumbuh kembang si anak. Karena perlu diketahui bahwa anak-anak memiliki memori yang sangat kuat, dan apa yang ia tonton dan dengarkan akan berpengaruh terhadap perilaku si anak, meminjam istilah psikologi di kenal dengan modelling atau observational learning. 

Sudah jadi kewajiban orangrtua untuk memperhatikan tontonan si anak agar anak kecil yang belum penuh dosa tersebut dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal. Dari pada hanya menonton televisi alangkah baiknya si anak bermain dengan teman sebayanya agar dapat belajar bersosialisasi dan berempati dengan sesama. 

Dan kesimpulan dari cerita di atas adalah masa anak adalah masa yang ikut menentukan sikap dan perilaku anak ketika tumbuh menjadi dewasa, jadi optimalkan tumbuh kembang pada masa anak-anak agar ketika dewasa kelak menjadi anak yang mandiri dan bertanggung jawab serta tidak mengalami masalah-masalah dalam tumbuh kembangnya 

Dan yang terpenting dari tulisan ini adalah, tampang preman saya ternyata masih disukai anak kecil, dan perlu diketahui selain anak kecil belum penuh dosa, ia juga selalu jujur lho
J
Sekian karena sudah waktunya siap-siap buat futsal. 


Terima kasih
Read more ...

Tahun Politik

Tahun Politik
Tahun 2014 adalah tahun politik, apalagi bulan-bulan ini, sekitar satu bulan lagi pesta demokrasi akan di gelar. Menjelang pesta demokrasi banyak hal yang dilakukan oleh partai peserta pemilu untuk menyambut pesta politik akbar tersebut. Iya, partai-partai peserta pemilu beramai-ramai berkampanye dengan memasang banyak atribut sebagai alat peraga kampanye. 

Coba kalian lihat situasi saat ini. Di jalan-jalan, di pohon-pohon, serta ada yang berani dengan modal besar untuk memasang iklan di telivisi hanya sekedar memperkenalkan parta dan program-programnya. Pemandangan saat ini membuat mata menjadi malas memandang atribut-atribut partai yang terpasang di jalan-jalan, dan tidak jarang malah merusak lingkungan dengan memaku pohon untuk memasang bendera partai beserta wajah-wajah caleg. Pemandangan untuk menyambut pesta demokrasi seakan hanya menjadi sampah-sampah visual tanpa ada unsur keindahan di dalamnya. 

Saya tidak bermaksud untuk mengomentari model kampanye yang bisa di bilang masih konvensional. Tapi coba kalian perhatikan baik-baik iklan-iklan yang dilakukan partai peserta pemilu dan para caleg yang diusungnya, baik di bendera, baliho, pamflet serta stiker. Ada yang berbeda dengan penyambutan pesta demokrasi tahun ini dibanding lima tahun yang lalu, yaitu tahun 2009. Tahun 2009 tagline anti korupsi menjadi sangat populer, sebut saja partai pemenang, dengan tagline "katakan tidak pada korupsi" berhasil memenangkan pemilu legislatif dengan meraih sekitar 145 kursi dan Capres yang diusungnya yaitu Susilo Bambang Yudhoyono atau yang lebih akrab dipanggil SBY berhasil menang dalam pemilihan langsung presiden hanya dengan satu kali putaran.  Kemudian coba amati atribut peraga kampanye sekarang, adakah yang mamasang tagline anti korupsi? Sepanjang pengamatan saya, belum ada yang berani memasang tagline anti korupsi. Entah karena takut hal itu akan menjadi boomerang bagi partai mereka sendiri seperti halnya partai pemenang tahun 2009 lalu yang menggunakan tagline "katakan tidak pada korupsi" namun banyak kadernya yang terseret kasus korupsi. Atau karena sudah menjadi rahasia umum bahwa anggota dewan yang terhormat adalah pekerjaan yang rawan korupsi. Entahlah saya tidak mau terlalu jauh menilai kinerja anggota dewan serta kasus-kasus korupsi yang banyak dilakukan oleh anggota dewan. 

Partai peserta pemilu sekarang lebih ingin menunjukan kinerja partainya tinimbang memasang janji atau tagline anti korupsi. Misalnya ada partai yang menunjukan bahwa partainya akan kerja nyata, kemudian tagline jujur bersih dan peduli, Indonesia hebat, serta progam-program yang dianggap prorakyat. 

Ada apakah gerangan para partai politik sekarang ini yang bisa dibilang sudah tidak berani menggunakan tagline anti korupsi? Ataukah hanya pandangan saya yang sangat terbatas, sehingga saya tidak melihat partai atau caleg tertentu yang masih berani menggunakan tagline anti korupsi? Atau rakyat yang sudah mulai tidak percaya dengan partai meski sudah berjanji tidak korupsi? Atau sudah menjadi pandangan masyarakat bahwa anggota dewan identik dengan korupsi? Entahlah, tapi yang saya lihat adalah wajah Indonesia akan berubah jika dipegang oleh tangan-tangan orang yang cerdas serta bermoral. Dan dilihat dari beberapa media tentang figur-figur pemimpin yang digadang-gadang akan maju pilpres 2014, saya yakin bahwa Indonesia akan bisa bangkit dan bisa menjadi lebih baik. Semoga! 

Terima kasih


*Tulisan ini sebenarnya adalah notes di akun facebook saya yang berjudul “Pesta Demokrasi” namun catatan-catatan di facebook sengaja tidak saya publikasikan secara umum, karena saya privat dan pada kesempatan ini saya mempublikasikan via blog ini. Catatan dalam facebook berbeda dengan catatan dalam blog, karena secara penulisan catatan di facebook lebih spontan serta catatan tersebut saya tulis bukan melalui PC namun via aplikasi notes di handphone saya.
Read more ...