Jumat, 21 Maret 2014

Ada Keringat Petani dibalik Nasi Sisa Makan


Makan sudah menjadi bagian dari kebutuhan pokok manusia, ada yang sehari bisa makan 5 kali, 4 kali, namun pada umumnya 3 kali sehari, dan lain halnya ketika puasa makan hanya dua kali dalam sehari, yaitu pada saat sahur dan berbuka puasa. Mungkin dari kita ada orang yang kuat menahan lapar, namun ada juga yang tidak bisa menahan lapar karena menderita Maag yang bisa menaikan asam lambungnya.

Ada orang yang diet atau mengurangi jumlah konsumsi makanannya karena menginginkan bentuk tubuh yang ideal, ada juga yang sengaja makan lebih banyak agar kelihatan gemuk namun malah tidak kunjung gemuk. Ada juga  yang berpantangan tidak boleh makan jenis makanan tertentu karena menderita penyakit tertentu dan mengharuskan untuk menghindari jenis makanan tertentu. Orang yang kaya raya dapat makan apa saja namun dia memiliki pantangan makanan tertentu karena penyakit yang dideritanya, lain halnya dengan orang yang hidup pas-pasan dan tidak mempunyai pantangan apa-apa dalam memilih makanan, namun kondisi ekonomi yang tidak bisa memenuhi keinginan untuk makan enak.

Sekarang perhatikan baik-baik, mungkin untuk saat ini makan sudah menjadi kebutuhan yang mudah terpenuhi, artinya sudah jarang ditemui orang yang sangat sulit dan terkadang makan hanya sekali dalam sehari, meskipun ada saya yakin jumlahnya bisa dibilang sangat sedikit. Kebanyakan orang sekarang bekerja mati-matian bukan untuk memikirkan keluarga saya akan makan apa, namun sekarang bekerja mati-matian untuk membayar cicilan kredit, baik itu kredit hutang, cicilan rumah atau kendaraan. Itu menandakan bahwa untuk saat ini kebutuhan pangan (makanan) sudah terpenuhi Karena bisa dilihat orang-orang sudah mulai fokus pada kebutuhan sekundernya, dalam artian kebutuhan pokok khususnya makan sudah terpenuhi.

Makanan sekarang bahkan sampai sisa-sisa terutama nasi, berbeda pada saat negeri ni masih terjajah oleh bangsa lain, bisa makan beras adalah sesuatu yang istimewa karena pada saat itu hanya biasa makan umbi-umbian, jagung dan makanan pengganti nasi lainnya. Namun sesekali coba anda perhatian baik-baik, ketika anda makan atau orang lain sedang makan, pernahkah anda melihat sisa nasi di piring? Pasti ada, bahkan ada juga yang yang meninggalkan sisa banyak nasi, hal itu sering saya jumpai ketika saya sedang makan di warung nasi, terutama yang biasanya sering meninggalkan sisa adalah wanita atau cewek. Entah kenapa wanita lebih sungkan untuk menghabiskan makanannya, mungkin takut dikira rakus. Lain halnya dengan cowok yang terkadang malah nambah nasi.

Sekarang pernahkan anda berpikir sisa-sisa nasi di piring sehabis makan tersebut mau diapakan? Biasanya kalo nggak dikasih ke ayam ya dibuang begitu saja, karena sudah tidak mungkin untuk di konsumsi lagi atau dengan kata lain di daur ulang, atau malah cuek, toh nasi itu kan sudah saya beli jadi terserah mau dihabiskan atau mau dibuang begitu aja.  Padahal kalo kalau tahu betapa susahnya petani itu menanam padi hingga jadi beras siap makan, kalian pasti akan sangat sedih ketika ada butiran-butiran nasi yang masih tersisa saat selesai makan.

Saya bukannya lebay dengan menganggap bahwa hanya sekedar butiran nasi saja dipermasalahkan, sama sekali tidak. Namun ada hal yang belum kalian ketahui bahwa jadi petani itu susah. Saya tahu soal kehidupan petani karena saya lahir dari keturunan petani, Mbah saya dulu juga seorang petani tulen, namun karena alasan kesehatan semua sawah dikerjakan oleng penggarap dengan sistem bagi hasil. Jadi setidaknya saya sedikit paham mengenai kehidupan petani.

Beberapa hari yang lalu saya juga mendapat curhatan dari seorang petani bahwa jadi petani itu adalah pekerjaan yang rendah namun sebanarnya adalah pekerjaan yang mulia. Bagaiaman tidak, mereka para petani adalah pahlawan negeri ini yang selalu menjaga ketahanan pangan. Dan ketika saya sedang ngobrol dengan petani di sebuah angkringan mereka berbagi cerita soal pertanian, betapa dia mengeluh ketika akan panen kemudian menjual hasil panen yang lalu untuk modal panen, ketika panen harga beras dan gabah malah turun, kemudian belum lagi masalah pupuk, kemudian sulitnya mencari tenaga atau pekerja yang mau membantu proses pertanian, dari menanam sampai panen. Untuk masalah pupuk, harga beras itu yang andil adalah pemerintah melaui Kementrian pertanian, bagaimana untuk tetap memberikan subsidi pupuk, kemudian bagaimana peran bulog dalam menjaga harga beras agar tetap normal dan jangan sampai harga beras menjadi turun. Namun untuk masalah tenaga petani? Itulah sekarang yang menjadi masalah besar, minat seseorang untuk menjadi petani mulai turun dan bisa dipastikan bahwa jumlah petani juga akan turun lantas jika sudah tidak ada petani siapa yang akan menanam padi? Siapa yang akan menjaga stabilitas ketahanan pangan negeri ini?

Sebuah renungan bagi kita semua, nasi yang kita makan sehari-hari tidak sesimpel hanya dengan membeli di warung nasi, yang tahu-tahu sudah berupa nasi plus dengan lauknya. Mulai sekarang saya mulai belajar untuk menghargai kerja keras para petani, tentu dengan tidak meninggalkan butiran-butiran nasi setelah selesai makan. Ini adalah cara saya, yang semoga bisa terus berjalan dan menjadi sebuah kebiasaan, karena dibalik butrian nasi sisa makan ada keringat petani yang terus tercurahkan untuk negeri ini, untuk menjaga stabilitas dan ketahanan pangan negeri ini. Dan saya masih salut dengan para petani, mereka tetap bertani dan menjalankan profesi sebagai petani meski petani bukanlah pekerjaan yang prestige.

Terima kasih kepada para Petani Indonesia, meski orang menganggap bahwa petani adalah identik dengan orang kampung yang tidak tahu akan perkembangan jaman, namun engkau telah menunjukan baktimu kepada negeri ini, yaitu dengan mencukupi kebutuhan pangan untuk negeri ini.


sekian