Jumat, 07 Maret 2014

Penyakit Tidur Kedua


Pagi ini tidak seperti biasanya, setelah sholat shubuh saya tidak langsung tidur lagi untuk melanjutkan mimpi-mimpi yang sempet tertunda, padahal mimpi bukanlah layaknya sinetron yang selalu bersambung hingga tak tahu kapan tamatnya. Tidak puas dengan tamat, masih ada lagi kelanjutannya sampai ke sekian, layaknya sinetron tersanjung yang pernah populer di masanya.

Setelah sholat shubuh saya tidak tidur lagi, tapi berjalan-jalan sebentar dan duduk-duduk di teras rumah sembari menghirup udara pagi yang masih segar. Aneh memang, karena biasanya saya setelah sholat shubuh tidak mau melewatkan untuk tidur kedua. Tapi tidak untuk pagi ini, padahal malamnya saya sampai jam 1 pagi menonton telivisi sambari  ngobrol-ngobrol dengan Om. Dari obrolan yang serius sampai obrolan tanpa isi atau hanya sekedar bercanda membuat kami berdua tidak merasakan kantuk meski saat itu tidak ada secangkir kopi pun.

Kebiasaan tidur lagi setelah sholat subuh seperti penyakit bagi saya. Saya tidak tahu itu bagian dari kemalasan pada tubuh ini atau bukan, tapi yang jelas semakin lama saya merasakan tidak kenyamanan dengan penyakit ini. Betapa tidak, tidur kedua (tidur setelah sholat shubuh) bukanlah kebiasaan baik, tubuh menjadi semakin lemas, badan seakan dimanjakan dengan kemalasan, dan yang menjadi momok adalah hal ini seakan membuat hari-hari yang akan saya jalani menjadi penuh rasa malas. Ini adalah masalah serius yang harus saya tuntaskan bagaimana pun caranya. Saya pernah meminum kopi setelah sholat shubuh agar tetap melek, namun timbul masalah baru, yaitu malas bikin kopinya dan apa yang terjadi? Tidur lagi. Saya juga pernah memulai membiasakan untuk selalu online setiap bangun pagi agar tetap melek, namun hal itu sia-sia, karena setelah mata mulai lelah menatap layar komputer mata terasa berat dan akhirnya tidur lagi.

Berbagai cara sudah saya lakukan untuk mengatasi penyakit yang membuat semakin subur rasa malas ini, namun dari semua cara semua hanya beberapa hari saja dapat berjalan, karena ketidak konsistenan dalam melakukan semua itu. Saya mulai melakukan analisis terhadap penyakit ini, yaitu penyakit yang saya anggap sudah mulai serius dan akan berpengaruh terhadap semua hal yang akan saya lakukan.

Pertama yang saya lakukan adalah mengenai apa yang menyebabkan saya tertarik untuk melakukan tidur lagi setelah sholat shubuh. Setelah saya pikirkan dan saya renungkan ternyata tidur lagi adalah sebagai jawaban atas ketiadaan kegiatan yang saya lakukan setelah bangun tidur, hingga tidur lagi saya anggap sebagai cara yang paling efektif untuk mengisi kekosongan ini. Namun kenapa meski sudah ada kegiatan penyakit ini seakan mudah kambuh lagi? Hal ini ternyata disebabkan kebosanan yang saya alami, hanya melakukan hal-hal yang itu-itu saja tiap pagi membuat saya lebih memilih tidur lagi. Inilah kenapa saya harus merencanakan apa saja yang akan dilakukan untuk besok pagi. Terutama untuk membuat jadwal pagi yang berganti-ganti misalnya berganti-ganti tempat sarapan, atau ganti kegiatan dari bersih-bersih kamar berganti nyetrika baju. Dan saya usahan kegiatan yang produktif termasuk menulis catatan baik di facebook atau di blog.

Semua yang saya lakukan untuk menghindarkan pikiran menuju ke tempat tidur lagi tidak akan berhasil meski sudah membuat jadwal yang terencana tapi tidak diikuti dengan kedisiplinan dan konsisten tentunya. Ini adalah awal dimana saya akan memulai hari dengan cara yang tidak biasa dari hari-hari yang lalu. Saya harus berusaha untuk mengobati penyakit ini, karena semua sudah jelas dan saya juga tahu apa yang harus saya lakukan. Tinggal eksekusi dengan action serta didukung dengan kedisipilnan beserta bersifat konsisten.

Inilah alasan saya mengapa saya menulis ini, tentu untuk mengobat penyakit ini, dan tulisan ini sebagai penguat bahwa saya akan serius dalam mengobati penyakit ini, sehingga ketika saya mulai kambuh dengan penyakit ini saya akan membaca tulisan ini.

Bangun pagi sebenarnya sangat baik untuk kesehatan baik secara jasmani maupun rohani, karena selain dapat menyehatkan, bangun pagi juga mampu membuat jiwa menjadi sangat bersemangat menjalani hari. Hal ini memang sangat subyektif karena hanya berdasarkan pengalaman saya sendiri. Karena saya pernah mersakan ketika saya bangun siang, saya menjadi malas untuk melakukan apa-apa, bahkan hanya sekedar mandi pagi saya malas, bangun hanya untuk makan, setelah itu hanya tiduran di depan layar telivisi. Lain halnya ketika saya bangun pagi, saya lebih bersemangat dan lebih produktif tentunya.

Sebagai akhir catatan, semoga saya konsisten dan disiplin dalam bangun pagi dan tidak terjebak dalam kenikmatan sesaat tidur kedua.

Semoga tetap disiplin dan konsisten.