Senin, 03 Maret 2014

Tahun Politik

Tahun Politik
Tahun 2014 adalah tahun politik, apalagi bulan-bulan ini, sekitar satu bulan lagi pesta demokrasi akan di gelar. Menjelang pesta demokrasi banyak hal yang dilakukan oleh partai peserta pemilu untuk menyambut pesta politik akbar tersebut. Iya, partai-partai peserta pemilu beramai-ramai berkampanye dengan memasang banyak atribut sebagai alat peraga kampanye. 

Coba kalian lihat situasi saat ini. Di jalan-jalan, di pohon-pohon, serta ada yang berani dengan modal besar untuk memasang iklan di telivisi hanya sekedar memperkenalkan parta dan program-programnya. Pemandangan saat ini membuat mata menjadi malas memandang atribut-atribut partai yang terpasang di jalan-jalan, dan tidak jarang malah merusak lingkungan dengan memaku pohon untuk memasang bendera partai beserta wajah-wajah caleg. Pemandangan untuk menyambut pesta demokrasi seakan hanya menjadi sampah-sampah visual tanpa ada unsur keindahan di dalamnya. 

Saya tidak bermaksud untuk mengomentari model kampanye yang bisa di bilang masih konvensional. Tapi coba kalian perhatikan baik-baik iklan-iklan yang dilakukan partai peserta pemilu dan para caleg yang diusungnya, baik di bendera, baliho, pamflet serta stiker. Ada yang berbeda dengan penyambutan pesta demokrasi tahun ini dibanding lima tahun yang lalu, yaitu tahun 2009. Tahun 2009 tagline anti korupsi menjadi sangat populer, sebut saja partai pemenang, dengan tagline "katakan tidak pada korupsi" berhasil memenangkan pemilu legislatif dengan meraih sekitar 145 kursi dan Capres yang diusungnya yaitu Susilo Bambang Yudhoyono atau yang lebih akrab dipanggil SBY berhasil menang dalam pemilihan langsung presiden hanya dengan satu kali putaran.  Kemudian coba amati atribut peraga kampanye sekarang, adakah yang mamasang tagline anti korupsi? Sepanjang pengamatan saya, belum ada yang berani memasang tagline anti korupsi. Entah karena takut hal itu akan menjadi boomerang bagi partai mereka sendiri seperti halnya partai pemenang tahun 2009 lalu yang menggunakan tagline "katakan tidak pada korupsi" namun banyak kadernya yang terseret kasus korupsi. Atau karena sudah menjadi rahasia umum bahwa anggota dewan yang terhormat adalah pekerjaan yang rawan korupsi. Entahlah saya tidak mau terlalu jauh menilai kinerja anggota dewan serta kasus-kasus korupsi yang banyak dilakukan oleh anggota dewan. 

Partai peserta pemilu sekarang lebih ingin menunjukan kinerja partainya tinimbang memasang janji atau tagline anti korupsi. Misalnya ada partai yang menunjukan bahwa partainya akan kerja nyata, kemudian tagline jujur bersih dan peduli, Indonesia hebat, serta progam-program yang dianggap prorakyat. 

Ada apakah gerangan para partai politik sekarang ini yang bisa dibilang sudah tidak berani menggunakan tagline anti korupsi? Ataukah hanya pandangan saya yang sangat terbatas, sehingga saya tidak melihat partai atau caleg tertentu yang masih berani menggunakan tagline anti korupsi? Atau rakyat yang sudah mulai tidak percaya dengan partai meski sudah berjanji tidak korupsi? Atau sudah menjadi pandangan masyarakat bahwa anggota dewan identik dengan korupsi? Entahlah, tapi yang saya lihat adalah wajah Indonesia akan berubah jika dipegang oleh tangan-tangan orang yang cerdas serta bermoral. Dan dilihat dari beberapa media tentang figur-figur pemimpin yang digadang-gadang akan maju pilpres 2014, saya yakin bahwa Indonesia akan bisa bangkit dan bisa menjadi lebih baik. Semoga! 

Terima kasih


*Tulisan ini sebenarnya adalah notes di akun facebook saya yang berjudul “Pesta Demokrasi” namun catatan-catatan di facebook sengaja tidak saya publikasikan secara umum, karena saya privat dan pada kesempatan ini saya mempublikasikan via blog ini. Catatan dalam facebook berbeda dengan catatan dalam blog, karena secara penulisan catatan di facebook lebih spontan serta catatan tersebut saya tulis bukan melalui PC namun via aplikasi notes di handphone saya.