Selasa, 29 April 2014

Cermin

Jangan bicara nasionalisme kepadaku, sejarah negeri ini saja aku tak begitu paham, lafal pancasila aku hanya sebatas mendengarkan ketika upacara bendera. 

Jangan bicara politik di depanku, karena sinetron dan gosip selebriti lebih menghibur daripada berita politik di negeri ini.

Jangan bicara Ilmu denganku, karena ilmu bagiku hanya untuk dibagi. Jangankan bermanfaat untuk orang lain untuk diriku sendiri saja hanya sebatas hafalan tanpa ada penerapannya.

Jangan bicara masa depan denganku. Jangankan besok,apa yang harus aku lakukan satu jam yang akan datang saja aku tidak tahu.

Jangan bicara dosa denganku, Kitab suci Agamaku saja hanya sebatas membaca dan tak tahu maknanya.


Jangan bicara "Akurapopo" kalo sebenarnya "Enekopopo"
Read more ...

Jumat, 25 April 2014

Tai Kucing

*Tulisan lama, awalnya masih ragu untuk mengetik ulang dan memposting ke blog ini, namun setelah menimbang-nimbang *halah, tidak ada salahnya mengingat kembali masa-masa labil itu J. In memoriam

“Tai Kucing”
Aneh, pertemuan yang begitu lama, namun baru sadar akan keberadaannya. Memendam rasa? Aku juga tidak tahu apa yang aku rasakan saat itu.

Apa mungkin aku sedang rindu? Bisa jadi. Atau juga sedang kasmaran? Bisa juga. Perasaan yang sangat aneh menurutku.

Apakah aku sedang berbohong dengan diriku mengenai perasaan ini? Apa untungnya menipu diri sendiri? Aku juga bukan penipu amatir yang akan menipu diri sendiri.

Cinta? Hah. Cinta tai kucing! Cinta hanya sebatas di bacot! Siapa tahu dalam hati seseorang? Sekarang ngomong cinta, besok ngomong bosen, kemudian besoknya lagi putus. Susahnya jadi orang yang terlalu baik.

Iya, jadi orang yang terlalu baik itu susah, “kamu terlalu baik buat aku” alasan macam apa itu? Sudah tahu orang yang overdosis kebaikannya tapi malah dijadikan alasan buat putus. Sana pacarin aja bajingan-bajingan di perempatan jalan. Jika aku adalah orang yang terlalu baik buat kamu.

Hahahah cinta masalalu, cinta monyet, cinta gorilla, cinta dinosaurus, bagiku tetap aja, cinta tai kucing.

Ini bukan soal rasa, tapi soal sakit. Sakit hati!. Dokter mana pun juga belum punya obatnya.  Sakit hati (sirosis) masih bisa transplan, tapi sakit hati karena kamu? Tai kucing!

Cinta, cinta, . . .
Kadang manis
Kadang pahit
Kadang suka
Kadang duka
Apa itu? Rujak? Tai kucing!

Hah, itu masalalu, sungguh sayang energi ini mengingat hal itu. Mengingat masalalu, apalagi masalalu yang pahit. Hanya membangungkan rasa kebencian, rasa penyesalan, dan rasa rindu, seperti singa yang lama tertidur, dan terbangun dalam keadaan lapar. Apapun akan ia makan. Untunglah aku manusia, yang diberi akal. Masih bisa berpikir untuk menjadikan hal itu sebagai pembelajaran. Tak usah lah kau tertawa dengan perkataan bijakku. Mau bilang apa? Kata bijak tai kucing? Emang ini adalah kata bijak tai kucing? Mau apa kau? Tertawa? Silakan! Aku juga tak akan peduli dengan tai-tai kucing malam ini.

*Sedang terus berusaha, mengingat-ngingat ini tulisan kapan, dan jika dilihat dari bahasanya, ini adalah tulisan masa SMA kayaknya. Dapat dilihat dari bahasa yang masing labil menandakan bahwa dulu aku sempat menjadi ABG labil, serta setidaknya punya pengalaman menjadi ABG labil. Sayang banget jika ini bukan menjadi salah satu prestasi yang harus dikenang. Bahkan saya masih membayangkan betapa pengalaman saya menjalani masa-masa labil itu akan saya jadikan sebagai pengalaman ketika melamar pekerjaan, hahaha. Tai kucing! Namun tak apalah saya ketik ulang serta dengan sedikit perubahan agar bisa terkesan bukan tulisan lama serta lebih fresh lagi, serta agar identitas pelaku tidak diketahui, hahaha.  Dan biar afdol maka saya posting di blog ini. Minimal buat kenang-kenangan sajalah (mengenang luka J). Membaca ini sangat emosional dan siapa yang baca pun ikut merasakan emosionalnya (Mungkin).  Dan satu yang sekarang bisa kuucap, hehhehe tenanglah bukan tai kucing yang akan aku ucap, tapi “#AkuRapopo”




Read more ...

Kamis, 24 April 2014

Puisi

        (Bukan) Cinta Buta
Ingin rasanya aku ingin menulis puisi untukmu
Namun kata-kata indah itu tak mau muncul dalam otakku
Namamu, wajahmu, dan senyumu lah yang selalu muncul dalam ingatanku
Otak ini seakan tak mau terlepas dari bayanganmu

Terlalu munafik jika mengatakan dirimu sempurna
Karena aku masih sadar, bahwa dirimu juga manusia
Terlalu durhaka mengatakan dirimu spesial
Karena bagiku Ibu masih orang yang spesial

Kata “I love You”
Sungguh Sangat tidak pantas untukmu
Bertemu dan meminta restu orangtua mu
Harga yang pantas untuk mu

Menunggumu dalam ketidakpastian pun aku rela
Dalam diamku pun aku terus berdoa
Tuhan tahu tujuan hidupku serta apa yang terbaik untukku
Meski pada akhirnya bukan untuk hidup bersamamu



Read more ...

Rabu, 23 April 2014

“MASUMO”

Masumo, begitulah kata orang memanggilnya. Nama yang cukup aneh untuk orang Indoneisa, apalagi jawa. Masumo lebih sesuai dengan nama orang japan. Mungkin pemberian nama masumo agar kepintarannya mampu menyamai bahkan melebihi orang jepang. Mungkin! Masumo adalah seorang laki-laki yang berusia sekitar 24 tahun, dengan perawakan kekar serta badan tegap dengan tinggi badan yang proporsional tentu membuat dirinya bak seorang pahlawan era majapahit.

Masumo laki-laki yang tidak begitu tampan serta memiliki kemaluan yang sangat besar, (eh, baca: orang yang sangat pemalu). Membuat dirinya sangat kurang percaya diri. Kesehariannya lebih sering dihabiskan dengan menyendiri dibandingkan berkumpul dengan teman-temannya. Sejak lulus SMA dirinya melanjutkan studi ke bangku kuliah dengan harapan mampu membuat dirinya lebih terbuka serta tampil dengan penuh percaya diri.

Masumo adalah lelaki yang mandiri. Di kos misalnya, dia tidak pernah dimandiin oleh Ibu kos, hehe (mandiri itu bukannya mandi sendiri ya, hehehe) serta rajin membersihkan kamar kosnya. Meski uang jajan perbulannya sudah lebih dari cukup, namun ia tidak pernah membawa baju kotornya ke laundry, inilah kenapa saya bilang Masumo adalah laki-laki yang mandiri. Tidak apa-apa, mencuci, membersihkan kamar kos baginya adalah bagian dari kebersihan dirinya, setiap cucian kering bahkan enggan untuk dipakai sebelum di setrika. Emang manusia yang paling bersih yang pernah saya temui, setiap ketemu dengannya pun membuat diri saya ini seakan menjadi manusia yang sangat kotor jika dibandingkan kerapaian serta kerajinannya.

Ngomong-ngomong, sudah saya cukupkan saja membicarakan kebaikan Masumo, entah bener atau salah apa yang saya bicarakan mengenai sisi baiknya Masumo, jika salah anggap saja saya telah memfitnah Masumo. Masumo menurut saya orang yang paling setia, bisa dikatakan dialah cowok idaman para wanita. Kenapa bisa demikian? Tentu bisa, karena sudah hampir beberapa tahun ia sangat setia dengan kamar kosnya, disaat banyak mahasiswa yang kos ditempatnya sudah hilir mudik karena tidak betah, namun dia adalah satu-satunya yang paling betah. Saya sendiri juga tidak tahu kenapa banyak yang keluar masuk kos disitu hanya dia yang betah untuk beberapa tahun, hal inilah yang membuat sya sedikit curiga, bahwa si Masumo lah biangnya kenapa anak-anak kos tidak betah berlama-lama kos disitu. Namun saya tidak sekejam itu untuk memfitnahnya, karena saya tahu betul bahwa si Masumo adalah orang yang baik.

Terlepas dari kenapa Masumo sangat betah kos di sana (kos-kosannya), saya juga heran, betapa setianya ia terhadap warung makan tempat biasanya makan. Hampir setiap hari makan disitu, meski menu yang ia makan berbeda-beda setiap harinya, tapi tetap saja ada suatu pola makan yang sama, maksudnya seperti pagi ini ia makan dengan lauk sayur pecel, bisa dipastikan dua hari lagi, paginya juga akan makan yang sama dengan hari ini. Ketika saya ajak untuk makan di tempat lain, dalam dirinya seakan ada rasa kecewa yang dalam. Saya malah curiga jangan-jangan habis makan dengan saya di tempat yang berbeda ia akan makan lagi ditempat biasa ia makan. Entahlah semoga saja tidak J

Mungkin ini termasuk orang yang mainstream bahkan sudah akut, hingga pada merk tertentu, misalnya untuk sabun harus merk A, dan begitu juga barang-barang yang lainnya (Btw kenapa dari sekian merk saya mengambil contohnya sabun? Entahlah mungkin naluri laki-laki saya keluar pas nulis ini :-p) Saya malah jadi berpikir bahwa ia juga akan sangat fanatik dengan apa yang sudah membekas dengan hatinya.

Masumo memang dulu juga pernah memiliki pacar, namun hingga saat ini tak pernah terlihat ia menggandengan seorang wanita pun. Dan tentu sebagai teman saya tidak akan dengan sadis menuduhnya homo, hehehe. Karena berdasarkan riwayatnya sudah pernah punya pacar, dan itu membuat saya sedikit lebih tenang bahwa ia bukan homo, hahaha J. Atau Masumo adalah seorang yang sangat alim hingga tak mau pacaran, serta lebih memilih menunda pacaran serta lebih memilih berpacaran setelah menikah, bisa jadi begitu. Namun pernah iseng-iseng saya kepo akun twitternya namun dia bukan followers-nya Ust Felix jadi sangat sedikit kemungkinannya ia adalah penganut semacam pacaran setelah menikah. Seperti seorang detektif saya berusaha menggali informasi, ada apa dengan Masumo. Berdasarkan ilmu yang saya dapatkan setelah menonton film serial detektif conan, setidaknya saya sedikit paham apa yang harus saya lakukan untuk penyelidikan lebih lanjut. Hasilnya? Nihil tidak ada bukti yang kuat untuk menyatakan bahwa ia trauma jatuh hati. Tak ada satu postingan dalam sosmed yang menunjukan bahwa Masumo lagi galau.

Dan analisa pun menjalar lebih jauh mengenai kehidupan Masumo, sebagai teman tentu bukan hal yang sulit untuk mengetahui kehidupan sehari-hari Masumo. Penemuan satu, bahwa Masumo adalah bukan orang yang mudah bosan. Meski sudah tahu kamar bakal kotor terus buktinya tidak ada kata bosan untuk membersihkan kamar setiap hari (kalo yang ini bukannya, orang yang rajin ya? Embohlah pokoke ngunu wae J). Dia juga sangat betah dengan kosnya padahal banyak penghuni yang tidak betah. Kemudian tidak suka hal-hal yang baru, meski hanya tempat makan, setelah menemunkan tempat makan yang nyaman menurutnya, ia bakal tidak mau pindah tempat makan. Bukti selanjutnya adalah termasuk yang mainstream dengan merk tertentu, jadi susah berganti-ganti merk.

Berkat bukti-bukti yang saya kumpulkan saya menjadi lebih tahu tentang Masumo, baik kehidupan maupun tentang percintaannya. Jika dilihat dari sikapnya dia adalah orang yang bisa dikatakan gagal move on atau susah move on. Tentu dari mantannya yang terdahulu, kebiasaan dengan sang mantan membuat Masumo merasa nyaman dan belum menemukan kenyamanan yang baru dengan orang lain. Jangankan dengan mantan, dengan tempat makan aja jika sudah nyaman sulit pindah tempat makan.

Begitulah Masumo, kehidupan yang dijalaninya membuat dirinya tidak mau berpindah mencari tempat yang nyaman, sehingga yang dia tahu hanya satu tempat nyaman. Kisahnya percintaannya dengan mantan membuatnya tidak mampu menemukan orang yang nyaman menurutnya. Saya sebagai teman tentu akan membantunya agar dia lebih bisa mengeksplorasi diri, melalui kegiatan-kegiatan yang dianggap positif. Move on tentu ibarat sebuah tempat makan, Masumo sudah mempunyai tempat makan yang favorit dan ia sudah merasa nyaman baik dengan tempat maupun menunya. Itulah kenapa Masumo menjadi orang yang susah move on. Masumo sudah terlanjur nyaman pada sebuah tempat dan tidak berani mencoba tempat baru sehingga menemukan tempat baru yang nyaman sebagai alternative. Jadi jika tempat makannya sudah tutup kan ia masih punya tempat yang lain tadi, hahahaha sungguh lagika yang tak masuk akal namun setidaknya patut untuk dicoba. Karena satu yang perlu diketahui bahwa  Masumo itu adalah Manusia Susah Move on.

Sekian cerita fiktif dari saya, jika ada persamaan baik tokoh maupun tempat, saya yakin bahwa ini bukanlah suatu kesengajaan, karena kita sama-sama tahu, bahwa kita tidak kenal sama sekali bukan? Jadi dengarkan sugesti saya, saya hitung dari satu sampai tiga, dan pada hitungan ketiga Anda akan tertidur, saya ulangi sekali lagi, saya hitung satu sampai tiga, pada hitungan ketiga Anda akan tertidur, satu….. dua…… tiga dan Bye….


Semoga hari Anda menyenangkanJ
Read more ...

Selasa, 22 April 2014

Hari Kartini

Tepat tanggal 21 April diperingati sebagai hari kartini. Dan saat itulah banyak salon-salon yang sudah ramai, bahkan ada yang harus rela antri sehabis sholat shubuh. Apalagi kalo bukan untuk berdandan dengan sanggul serta berpakaian kebaya. Hal itu juga dialami oleh beberapa murid baik dari SD hingga SMA. Entahlah mengapa hari kartini perempuan seperti diharuskan berkebaya untuk memperingati hari kartini. Ada juga yang menggelar orasi menuntut pemerintah agar menghapus kebijakan-kebijakan yang dinilai sangat diskriminasi terhadap perempuan. Dan saya juga tidak tahu kebijakan pemerintah yang mana yang dianggap diskriminasi terhadap perempuan.

Perjuangan RA Kartini, adalah perjuangan untuk menuntut hak-hak perempuan seperti hak memperoleh pendidikan. Saya lihat sekarang ini, perjuangan RA Kartini sudah membuahkan hasil. Di sekolah-sekolah perempuan dan laki-laki sudah sama-sama menjadi Subjek dalam dunia pendidikan, bahkan ada juga seorang perempuan yang masuk ke SMK dengan mengambil jurusan yang biasanya diambil oleh kaum laki-laki, seperti teknik mesin dan otomotif. Selain itu banyak juga perempuan-perempuan Indonesia yang menduduki posisi penting dalam pemerintahan, seperti menjadi anggota dewan, bahkan menteri juga ada. Dalam sistem kabinet pun ada juga menteri pemberdayaan perempuan. Itu artinya perjuangan RA Kartini hingga masa modern seperti saat ini tidak sia-sia lagi.

Emansipasi, begitulah perjuangan RA Kartini disebutnya. Perjuangan RA Kartini adalah perjuangan mendobrak tradisi atau adat istiadat terhadap perlakuan perempuan yang memang sangat dibatasi. Perempuan hanya di rumah dan membantu Ibu di dapur sedangkan laki-laki diberi kebebasan untuk belajar melaui pendidikan serta mengeksplorasi diri dengan hal-hal yang baru. Hal itulah yang membuat adanya perjuangan emansipasi. Dalam agama islam pun sebenarnya emansipasi itu sudah ada, seperti permohonan talak, bukan hanya laki-laki saja yang bisa menjatuhkan talak, dengan alasan yang dapat dibenarkan oleh agama, pihak perempuan pun berhak meminta talak , bisa karena tidak dinafkahi baik lahir maupun batin untuk beberapa waktu, sang suami sudah lari dari tanggung jawab sebagai suami, sehingga hal itu dapat digunakan sebagai alasan untuk menggugat cerai suami.

Emansipasi adalah perjuangan RA Kartini dalam memperjuangkan hak-hak perempuan. Hingga saat ini, bagi para perempuan Indonesia bisa merasakan dampak dari perjuangan RA Kartini. Jadi pada tanggal 21 April banyak perempuan Indonesia yang merayakan hari kartini. Di sekolah-sekolah para Ibu guru senantiasa berdandan dengan kebaya serta rambut disanggul, murid-murid perempuan juga tidak luput untuk berdandan dengan kebaya serta make up tebal ala penyanyi sinden. Belum lagi di telivisi-telivisi, baik berita maupun infotaiment mengangkat berita-berita bertema Kartini, serta menampilkan sosok-sosok Kartini masa kini. Saya sendiri pun tidak mau melewatkan mengikuti berita-berita di telivisi yang menampilkan perempuan-perempuan tangguh, sebagai sosok kartini masa kini. Setidaknya berita serta acara telivisi sudah mengangkat sosok yang bisa menginspirasi dari pada hanya menonton berita artis yang (katanya) ustad tapi malah melakukan penipuan. Bahagianya saya ketika telivisi-telivisi sebagai media yang sering ditonton oleh masyarakat menampilkan berita-berita serta acara yang inspiratif dengan menampilkan sosok perempuan tangguh sebagai kartini masa kini.

Bukan hanya di media telivisi saja, bahkan toko-toko baik baju maupun restoran-restoran juga tidak kalah untuk merayakan hari Kartini. Dengan memberikan diskon kepada perempuan yang berbelanja pada hari Kartini. Mending jika toko-toko yang memberikan diskon adalah toko khusus perempuan, bahkan toko buku pun mengadakan promo dalam rangka hari kartini dengan memberikan diskon 21% kepada pembeli perempuan. Hal inilah yang membuat saya sedikit aneh. Bisa dikatakan adalah toko umum, artinya pengunjungnya tidak hanya perempuan saja, bahkan banyak laki-laki juga datang ke tokok tersebut. Memberikan diskon hanya kepada perempuan, menurut saya itu juga bisa berarti diskriminasi. Dengan membedakan-bedakan serta lebih mementingkan perempuan.

Kartini sebagai pejuang emansipasi, berjuang untuk memperjuangkan hak-hak perempuan. Dan perlu diketahui bahwa RA Kartini sebagai pejuang emansipasi memperjuangkan hak perempuan dengan tidak membalas diskrimasi kepada kaum lelaki. Namun memberikan diskon hanya kepada prempuan saja? Apakah hal itu bukan diskriminasi? Dengan kata lain hal itu malah seakan membalas diskriminasi keada kaum laki-laki. Memang ini adalah hal sepele, namun saya juga tidak merasa sirik dengan perempuan, karena hanya perempuan saja yang mendapatkan diskon, tapi saya yakin hal itu adalah trik bisnis dalam marketing, perempuan yang pada dasarnya gila belanja, apalagi diskon 21% pada saat hari kartini membuat naluri belanja perempuan semakin menjadi-jadi. Apalagi diskon hanya diberikan kepada perempuan, hal itu akan menjadikan seorang perempuan merasa di istimewakan, bukankah begitu para perempuan?

Terlepas dari efektif tidaknya promo diskon hanya diberikan kepada perempuan saja, setidaknya bisa dikatakan bahwa perjuangan RA Kartini menurut saya sudah membuahkan hasil, terlepas dari kasus-kasus yang terjadi seperti kekerasan dalam rumah tangga yang seringkali perempuan sebagai pihak korban. Menurut saya, persamaan hak, bukanlah menuntut bahwa perempuan harus menuntut sama dengan laki-laki, karena hal itu adalah sesuatu yang mustahil. Pada dasarnya secara kodrat laki-laki dan perempuan adalah berbeda. Karena seorang laki-laki akan menjadi bapak, dan seorang perempuan akan menjadi Ibu bagi anak-anaknya. Bukanlah hal yang bijak jika saling menuntut persamaan derajat antara perempuan dan laki-laki, karena secara peran sudah jelas berbeda. Emansipasi perempuan adalah ketika hak perempuan sudah terpenuhi serta mampu berperan sebagaimana mestinya sebagai seorang perempuan. 


Selamat hari Kartini kepada para wanita Indoneisa. 
Read more ...

"Tuhan pun Mulai Bercanda Denganku"

Dari pagi hingga siang, langit solo sangat cerah. Cuaca yang cerah membuat solo menjadi panas. Kicauan di sosmed tidak jauh dari keluhan panasnya udara solo. Saya juga mengalami panasnya udara solo siang itu. Dan panasnya cuaca membuat penyakit biang keringat saya seakan menemukan kembali habitatnya. Siang itu badan saya gatal-gatal dan mengharuskan saya berluluran bedak seperti halnya bayi setelah dimandikan. 

Udara panas mengeluhkan panasnya udara. Ketika hujan, mengeluh kenapa hujan tak kunjung reda. Sangat manusiawi. Sorenya saya memutuskan untuk pulang. Saya lebih memilih pulang agak sore tepatnya menjelang magrib, agar udara sore sudah tak sepanas siang harinya. Sesuai rencana, sehabis mandi sore dengan perlengkapan lengkap di tas, charher HP dan buku bacaan sudah tertata rapi di tas. Tidak lupa selama perjalanan dengan memasang earphone di telinga untuk mendengar lagu-lagu yang ada di HP. Memang sebenarnya bukanlah hal yang baik mendengarkan musik ketika perjalanan, apalagi naik motor. Namun saya lebih memilih mendengarkan mp3 melalui earphone daripada stres di jalan melihat kelakuan sesama pengendara motor yang lebih terkesan ingin menang sendiri, serta menganggap dirinyalah yang paling sibuk hingga takut waktunya terbuang sia-sia di jalanan. 

Di pertengahan jalan, saya merasakan titik-titik air mulai berjatuhan dari petangnya langit sore itu. Aneh memang, hampir seharian langit solo sangat cerah dengan udara yang panas. Tapi sore itu nampak langit colomadu yang merupakan daerah yang masih dibilang sangat dekat solo malah hujan sangat deras. Awalnya saya mengira bahwa boyolali pasti juga hujan deras. Dalam hati saya menyalahkan orang rumah yang biasanya memberi kabar bahwa di rumah lagi hujan, dan diakhiri dengan berpesan agar saya hati-hati di jalan. Namun kali ini tidak ada kabar sama sekali. 

Saya menikmati perjalanan meski hujan sangat deras. Sesampai di jalanan Solo-semarang dan sudah memasuki wilayah boyolali hujan semakin tipis dan semakin jauh malah udara menjadi panas serta langit pun masih sangat cerah. Saya melihat sekitar, ternyata malah belum hujan sama sekali, karena bisa saya terlihat aspal yang masih kering. 

Tuhan pun mulai bercanda dengan hambanya melalui alamNya yang terus berganti tanpa bisa diperkirakan. Awalnya panas, tiba-tiba menjadi hujan deras dan berganti lagi menjadi panas lagi. Tuhan ternyata juga memiliki humor terhadap hambanya. Melalui alamNya membuat panas, hujan dan kembali panas lagi bukanlah hal sulit bagi Tuhan yang menguasai segala isi bumi. Tentu kejadian ini bukan hanya saya yang mengalami, perjalanan dari solo ke boyolali melalui jalan alternatif melalui colomadu begitu ramai, saya juga tahu ketika mereka tergesa-gesa berhenti ketika sudah mulai hujan dan langsung menggunakan jas hujan, ada juga beberapa yang memilih berteduh di pinggir jalan karena lupa membawa jas hujan, karena bisa jadi mereka juga tidak memprediksi akan terjadi hujan. 

Saya bukan juga orang yang over confident karena terlalu GR hingga mengira bahwa Tuhan telah mengajak bercanda dengan saya. Saya tahu betul bahwa diri ini sangatlah kecil di mata Tuhan. Tapi satu yang perlu diingat betul bahwa bukanlah hal yang sulit untuk membuat cuaca menjadi panas, kemudian hujan deras, selang beberapa saat kemudian menjadi panas lagi. Solo saat ini cuaca panas, namun colomadu yang jaraknya sangat dekat solo malah hujan deras, hal itu adalah rahasia Tuhan, mungkin pada saat itu colomadu lebih membutuhkan hujan dari pada solo dan boyolali. 

Sekian semoga hari-hari selanjutnya menjadi lebih enjoy dalam menikmati perjalanan hidup ini. Karena hidup bisa berarti cobaan juga berarti kenikmatan. Nikmati saja karena terkadang Tuhan juga bercanda dengan Hambanya baik melalui alamNya maupun makhluk-makhluk lainNya. Terkadang juga melalui cobaan yang diberikan serta rizki yang selalu dilimpahkan kepada hambaNya. 



Read more ...

Jumat, 18 April 2014

PUISI

“Politik Tempe Kelabuhi Lalat”
Jaman sudah mulai sedikit edan 
Tempe menjadi nampak daging 
Daging bisa nampak menjadi tempe 
Persepsi masyarakat bisa dibentuk 
Opini publik bisa diarahkan 

Aku miris melihat semua ini 
Banyak lalat yang mengkrubungi daging 
Padahal yang dikrubungi adalah tempe 
Daging yang sejatinya jauh lebih enak dan bergizi 
Seakan nampak hanya sepotong tempe 

Banyak lalat menyanjung-nyanjung daging yang sejatinya adalah tempe 
Tempe hanya dilirik beberapa lalat, padahal sejatinya itu adalah daging 
Semua lalat berkeyakinan bahwa apa ia makan adalah daging 
Padahal justru yang banyak dikerubungi adalah tempe 

Saya sangat salut kepada beberapa lalat yang tetap mengkrubungi tempe yang sejatinya adalah daging 
Mereka tidak terkecoh oleh apapun 
Mereka tidak tertarik pada opini serta persepsi kebanyakan lalat 
Karena yang ia pegang adalah kebenaran bukan hanya opini apalagi persepsi.

                                                               Oleh Riki Sholikin
Read more ...

“Kopi Pagi”

Beberapa bulan ini, saya sudah terbiasa dengan kopi. Harus saya akui bahwa awalnya saya sangat anti kopi, terlebih kopi hitam. Awalnya minun kopi membuat saya menjadi deg-degan. Namun saya mencoba sedikit demi sedikit mulai dari kopi instan dengan varian rasa seperti white coffe, kopi mocca dan lain-lain. Hingga pada akhirnya, sampai saat ini setiap pagi sudah terbiasa minum secangkir kopi. Kopi pagi ini hanya sebagai sarana dalan membiasakan agar saya tidak tidur lagi sehabis sholat shubuh. Ya, lumayan bermanfaat lah. 

Bicara soal kopi, tentu saya bukan ahli kopi, yang tahu betul seluk beluk kopi. Mulai dari sejarah kopi, macam kopi, serta kopi apa saja yang berada di Indonesia. Yang saya tahu hanya kopi Kapal Api, kopi ABC, good day, coffe mix dan kopi sachet lainya yang beredar di pasaran. Dari sekian banyak kopi yang ada sekarang ini, saya lebih memilih kopi hitam, baik itu kopi Kapal Api atau kopi luwak. 

Perlu diketahui bahwa saya tidak bermaksud untuk promosi maupun membandingkan antara kopi satu dengan kopi yang lain, merk satu dengab merk yang lain. Sama sekali tidak. Saya hanya ingin berbagi melakui tulisan. Itu saja. 

Kopi hitam akan nikmat jika rasa pahit sedikit dinetralisir dengan menambahkan sedikit gula. Iya, saya biasanya hanya mengkombinasikan gula dan kopi. Hanya itu saja tanpa susu apalagi creamer. Perpaduan kopi dan gula dan banyaknya air panas yang tidak pas akan menghasilkan rasa yang berbeda-beda. Pernah suatu ketika saya membuat kopi terlalu manis, dan rasa kopi juga tidak pas di lidah. Pernah juga kopi yang saya buat menjadi sangat pahit, dan jika perpaduan yang kurang pas rasa kopi malah menjadi kecut. Kopi yang pas rasanya di lidah lah yang menggunakan perpaduan antara air panas, gula dan kopi yang sesuai. Dan saya belum menemukan perpaduan yang pas itu. Karena setiap saya membuat kopi pasti akan menghasilkan rasa yang random. 

Seduhan kopi mengandung makna yang dalam bagi mereka yang peka. Hidup itu bagaikan seduhan kopi, jika salah meraciknya tidak akan enak ketika dinikmatinya. 

Kopi akan terasa pahit jika terlalu banyak mencampurkan kopi, serta menjadi terlalu manis ketika banyak gula, dan kopi bisa menjadi terasa kecut ketika salah meraciknya. Belum lagi jumlah air seduhan yang tidak sesuai, menjadikan kopi tidak terasa mantap. Begitu juga dengan hidup ini, kita harus bisa menyikapi setiap kesulitan serta nikmat-nikmat yang kita peroleh agar bisa menjalani hidup dengan penuh kedamaian serta kebahagiaan, memiliki masalah namun selalu optimis bahwa kita mampu mengatasinya, selalu diberi nikmat namun selalu pandai bersyukur. Dan ketika kita bisa menyikapi semua yang kita alami dengan bijaksana, maka seperti halnya dengan kopi yang tepat racikannya. Perpaduan antara manisnya gula dan pahitnya kopi serta diseduh dengan air panas yang sesuai, akan menghasilkan aroma serta rasa yang pas dan nikmat di lidah, tentu pada suhu air yang sesuai. 

Hari ini saya belajar dari kopi, mungkin suatu hari akan menemukan hal lain lagi yang berbeda dan lebih bermakna lagi. Selamat menikmati kopi di pagi hari, semoga selalu semangat seperti halnya "semangat secangkir kopi di pagi hari" 


Sekian 
Read more ...

Kamis, 03 April 2014

Cermin


Mengapa kita merasa iri? 

Mengapa kita merasa iri? Baik iri dengan pencapaian orang lain, Iri dengan keberhasilan orang lain, Serta iri dengan apa yang diperoleh orang lain. 

Kita merasa iri, boleh jadi karena banyak hal yang belum kita ketahui tentang mengapa mereka bisa mendapatkan hasil yang lebih daripada kita. 

Kita tidak tahu, saat kita masih tertidur nyenyak, mereka sudah berwudhu membasuh muka mereka untuk sholat tahajud. 

Kita tidak tahu, saat kita sehabis sholat shubuh masih ingin melanjutkan mimpi yang bersambung, mereka sudah menyonsong hari dengan penuh semangat. 

Kita tidak tahu, ketika kita bangun kesiangan, mereka sudah mulai bergulat dengan realitas. 

Kita tidak tahu, disaat malam hari kita masih disibukan dengan kegiatan yang kita anggap menyenangkan serta hanya sekedar hura-hura, mereka sedang sibuk membuat agenda tentang apa yang harus dilakukan keesok harinya. 

Kita tidak tahu, disaat mereka terus mencoba namun gagal hingga menuai hasil, namun kita tak pernah tahu betapa hasil yang mereka dapatkan adalah sesuai dengan kerja kerasnya. 

Kita hanya fokus pada apa yang mereka dapatkan, tanpa ingin tahu apa yang telah dilakukan.


Tak sepantasnya kita merasa iri dengan apa yang didapatkan oleh orang lain, karena rejeki tidak akan tertukar, sebab Tuhan tidak pernah salah alamat dalam memberikan rejeki.
Read more ...

Joget fenomenal

Ditengah acara televisi yang dianggap kurang mendidik, tayangan-tayangan inspiratif kalah dengan tayangan-tayangan yang semua dikemas dengan komedi yang tidak mendidik serta dibumbui dengan joget-joget. Komedi yang tidak mendidik karena bullying dianggap hal yang wajar dengan alasan untuk menghibur, lelaki berpakaian perempuan menjadi seolah hal yang biasa. Namun joget yang identik dengan orang kampungan serta orang pinggiran kini seakan naik kelas karena artis Ibu kota yang biasa dugem tak malu lagi untuk berjoget ria ala dangdut pantura.

Saya sendiri sangat mengapresiasi dengan joget fenomenal itu, karena itu adalah bagian dari seni yang orisinil, tapi hanya saja belum mendunia karena dibawakan oleh orang Indonesia. Dan saya yakin jika joget fenomenal itu dibawakan oleh orang luar yang memiliki pengaruh di industri kreatif media luar, joget fenomenal akan moncer seperti halnya gaya berfoto selfie yang dipopulerkan oleh Preasiden AS Obama serta nominator piala Oscar, dan mampu menyaingi gangnam style maupun harlem shake. 

Di dalam negeri sendiri saja joget fenomenal mampu menaikan rating, hingga hampir semua talk show di televisi sekarang berusaha mengadopsi acaranya dengan berkreasi membuat joget-joget baru. Tapi apa acaranya jadi populer seperti talk show yang merupakan kelanjutan acara sahur itu? Menurut saya tidak, karena justru dengan mereka meniru pakai joget-joget begitu, yang ada dalam otak masyarakat langsung mrngambil kesimpulan "owh itu acaranya mirip dengan joget fenomenal itu". Jadi malah menbangkitkan memori tentang joget fenomenal, karena jelas-jelas cuma mengekor dan berharap rating naik. Padahal meski sudah berkreasi dengan joget yang berbeda namun image joget sudah melekat pada si joget fenomenal. Dan tidak tau kenapa malah tidak membuat sesuatu yang jelas berbeda. 

Pro dan kontra sudah menjadi bagian dalam hidup, sama halnya dengan joget fenomenal itu, disaat joget fenomenal lagi moncer-moncernya bahkan pelaku joget sekarang sudah dapat kontrak iklan, ada dari kelompok orang yang mengadu ke KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) bahwa tontonan itu tidak mendidik, bahkan dengan membawa bukti-bukti artikel koran terutama dampak dari joget fenomenal itu bagi perilaku anak. Saya sendiri setuju dengan hal itu agar tim kreatif merivisi, serta menjadikan pengaduan dari masyarakat sebagai masukan untuk lebih menampilkan tayangan yang sedikit berkualitas atau minimal tidak berdampak negatif bagi penonton yang masih berusia anak. Namun satu yang perlu kita ketahui bahwa remote yang pegang kita bukan si pemilik siaran atau pemerintah, dalam hal ini adalah KPI, sehingga kita dipaksa untuk menonton acaranya. Artinya sebagai orangtua sudah sepatutnya mengendalikan atau mengontrol tontonan si anak. Jadi mau apapun itu tontonan telivisi tetaplah ingat bahwa andalah yang memegang remote bukan pemerintah serta bukan pemilik siaran. Jadi jangan sampai ada acara yang tidak bermutu tapi ratingnya bagus karena banyak yang nonton.

Sudah saatnya menjadi penonton yang cerdas. Dan tetaplah ingat bahwa Andalah yang memegang remote serta Anda juga yang (sebagai orangtua) memegang kendali tontonan si anak. Dan sebagai penutup "Jangan sampai si anak malah dididik oleh televisi".

*Sebenarnya catatan lama, namun baru sadar pernah nulis ini. Jadi mumpung belum begitu basi banget, soalnya sudah sempet diangetin sebentar (baca: diedit) jadi saya share aja
Read more ...

"Bukan Dongeng Politik"


Bukan sebuah dongeng namun hampir mirip dengan kisah si bawang merah dan bawang putih. Jika dalam cerita bawang putih adalah orang baik namun di dalam keluarganya ia selalu disakiti oleh Ibu tirinya, karena si Ibu menginginkan anak kandungnya lah yang selalu menang dalam segala hal, termasuk dalam urusan percintaan dengan sang Pangeran. Meski melalui perjalanan panjang serta si Ibu tiri selalu menghalangi bahkan melakukan segala cara agar sang Pangeran tidak menikah dengan Bawang putih dan lebih memilih si Bawang merah, namun pada akhirnya cinta sang Pangeran dan Bawang putih tidak terpisahkan. Singkat cerita, akhirnya Pangeran dan Bawang putih menikah serta berakhir bahagia.

Lain halnya dengan dongeng politik ini. Si Ibu ini lebih bijak dalam memilih anak mana yang pantas untuk dijadikan istri Pangeran. Bawang putih yang sebenarnya adalah anak tiri namun dengan kebaikan yang dilakukan mampu memikat masyarakat hingga setiap orang kenal dengan bawang putih. Hal itulah yang membuat si Ibu lebih legowo ketika mengumumkan bahwa bawang putih lah yang lebih pantas menjadi istri sang Pangeran. Padahal seperti yang diketahui, bahwa si Ibu sebenarnya juga punya anak kandung, yaitu bawang merah. Bawang merah tidak begitu terkenal dan masih jauh lebih terkenal daripada si Bawang putih. Bawang putih sangat terkenal dengan keluguannya, kedekatannya dengan masyarakat, bahkan semakin hari bawang putih semakin moncer menjadi buah bibir di kalangan masyarakat.

Keputusan si Ibu menjadikan Bawang putih menjadi istri pangeran tidak sia-sia. Dalam sekejap mampu mengubah tentang image atau citra yang melekat pada Ibu tiri. Ibu tiri yang identik dengan sikap yang lebih mementingkan anak kandungnya daripada anak tirinya. Kini si Ibu menjadi sosok yang dianggap bijaksana serta tidak serakah, jauh dari penilaian masyarakat sebelumnya.

Kini tinggal bagaimana lebih meyakinkan lagi agar keputusan si Ibu adalah keputusan yang tepat. Dan berharap bahwa kelak setelah pernikahan anaknya, dan telah resmi berumah tangga, si Ibu tiri tidak akan mencampuri segala urusan keluarga si Bawang putih dengan Pangeran, hanya karena ia yang telah merestuinya. Serta mempercayakan segala urusan Rumah tangga si Bawang putih dan sang Pangeran kepada mereka berdua.

By @Rickyyy_23
Read more ...

Tentang Si Biru



Jika si kasatria baja hitam memiliki belalang tempur, Valentino Rossi memiliki Yamaha YZR M1 dan lawannya Rossi si bocah ajaib Marc Marquez dengan Honda Repsolnya mampu menjadi juara dunia moto GP. Saya juga tidak mau kalah dengan mereka. Saya memiliki motor jenis Suzuki dengan kekuatan 125 cc serta dengan slogan “Shogun di lawan” telah mampu meluluhkan hati Ibu untuk segera memboyong ke rumah dan membayangkan betapa gagahnya si anak lelaki nomor duanya menunggangi motor baru itu. Si Biru begitu aku memberi nama kepada motor baruku itu.

Seperti bocah pada umumnya ketika akan tahu dibelikan motor baru, selalu terbayang-bayang apa saja yang akan dilakukan ketika sudah bisa mengendarai motor, dalam hati berjanji akan selalu merawat minimal mau mencuci motor baru hingga akan selalu nampak bersih. Itu dulu, ketika aku tahu akan dibelikan motor, tapi sekarang? Janji tinggalah janji, seperti halnya dengan para caleg yang mengumbar janji di depan konstituennya namun lupa akan janjinya ketika sudah duduk nyaman di kursi dewan. (hehehe namanya juga lagi musim kampanye jadi apa-apa di srempetin ke hal-hal yang berbau pemilu lah J)

Back to the point, motor baru tak selamanya akan selalu baru, karena meski barang baru namun sudah di pakai, itu sudah menjadi barang lama. Begitu juga dengan si biru (nama motorku, karena memang warnanya biru seperti pada gambar). Awalnya sangat sayang bahkan tidak bisa membiarkan sedetik pun dalam keadaan kotor, bahkan jika hujan sengaja hanya saya parkirkan di dalam rumah, maklumlah tidak saya biarkan kehujan hingga berlumur lumpur dan tanah. Tapi itu dulu, tapi sesudah tragedi kecelakaan tunggal di tikungan itu, yang membuat si Biru lecet. Awalnya sedikit menyesal, namun perhatian orangtua terhadapku membuat ia mengesampingkan keadaan si biru. Orangtua yang memang tidak materialistis, ia tahu bahwa si biru yang membelinya, namun tak jadi apa dengan kondisi si biru, karena si biru rusak masih bisa diperbaiki, yang jual onderdil juga banyak, tapi kalo tangan, kaki kamu hilang(patah) itu nggak ada yang jual, begitu tutur ibuku yang nampak sangat bijak pada saat itu. (Berharap Ibuku baca tulisan ini hingga aku dapat kenaikan uang jajan bulanan, hehehe).

Si biru itu aneh sekaligus temannya ajaib, meski baru, si biru bau apek seakan bau ketek, persis bau ketek Ibu sehabis bekerja, jangankan berbahan bakar pertamax, bensinpun ia enggan nyala. Bahan bakarnya juga dari air kencing Ibuku. Aneh emang si biru, karena ia bukanlah motor biasa, namun sangat special (bagiku). Tentu yang saya maksud dengan motor yang bau ketek ibu dan berbahan bakar air kencing Ibu bukanlah hal yang sesungguhnya, namun saya yakin bahwa kalian tahu apa yang dimaksud dengan bauk ketek disini dan bahan bakar air kencing. Namun untuk menghindari salah tafsir yang akan menyesatkan  beberapa diantara kalian yang (sempat) membaca tulisan ini, meski pada akhirnya hanya saya lah penulis sekaligus pembaca atas tulisan saya sendiri. Bau ketek serta air kencing Ibu yang saya maksud adalah, bahwa si Biru dibeli oleh ibu atas kerja keras Ibu saya, hingga bercucuran keringat, serta air kencing Ibu adalah seseuatu yang berasal dari Ibu namun tidak pernah menuntut apa-apa atas apa yang telah diberikan kepada saya. Logikanya orang kencing itu ya mengeluarkan kotoran melalui urine, ya sudah begitu saja, tanpa mengharap air kencing itu akan berubah menjadi garam kemudian bisa dijual. Artinya Ibu memberikan uang kepada saya, kemudian uangnya untuk membeli bensin, meski bukan hanya untuk membeli bensin, semua fasilitas dan kehidupan saya juga berasal dari uang Ibu, layaknya orang yang kencing, ia mengeluarkan uang namun tidak pernah mengharapkan apa-apa layaknya orang sedang menabung. Sampai di sini paham? Semoga paham karena jika tidak paham akan saya paksa paham, karena saya sendiri juga tidak paham apa yang saya tulis J.

Si biru bukanlah milik saya, namun saya menjaganya seolah itu milik saya, karena bagiku itu adalah amanat dari orang tua, yang harus saya jaga dan tentunya harus saya rawat. Begitu banyak manfaat yang telah diberikan karena adanya si biru, minimal tidak pernah pinjam motor sana-sini untuk keperluan yang mendesak. Saya ingat betul betapa suka dan suka sudah saya lalui bersama si biru. Si biru sudah seakan menjadi sahabat saya, karena dengan adanya si biru saya bisa pulang pergi ke sekolah tanpa harus menunggu bus yang terkadang hanya PHP. Pernah saya pulang sekolah naik bus, karena pada waktu itu si biru baru dipakai karena kebetulan Simbah masuk rumah sakit dan jika tidak ada motor nanti malah repot sendiri, dan saya mau mengalah naik bus ke sekolah. Naik bus ternyata di-PHP, dari pulang sekolah hingga sore hari, bus tidak kunjung datang, hingga pada akhirnya orang rumah yang menjemput karena sudah sampai sore tidak pulang-pulang.  

Sampai saya lulus saya tidak pernah ganti motor, hingga saat menjadi mahasiswa, juga tidak pernah ganti motor, meski ganti motor sifatnya hanya sementara, misal lagi tukeran motor dengan kakak, kemudian pakai motor Om, dan tidak pernah bertahan lama. Hingga saat ini, saya sudah menjadi mahasiswa tingkat akhir, tinggal menyelesaikan tugas suci bernama skripsi, saya masih menggunakan si biru. Pernah terbesit dalam pikiran untuk meng-upgrade motor menjadi yang lebih muda lah usianya, namun lagi-lagi tidak direstui oleh yang punya duit, katanya pas awal beli dulu pernah berkata dalam hati, bahwa motor ini tidak akan saya ganti hingga kamu mampu beli motor sendiri, itu artinya selama saya masih hidup dibawah ketek orangtua saya masih mengendarai si biru. Namun saya tahu betul bahwa itu semata-mata agar saya memiliki tujuan hidup, mengupgrade kendaraan misalnya. Meski sifatnya masih materi namun hal itu agar saya berpikir bahwa untuk menikmati segala sesuatu ya harus kerja keras, bukan hanya minta, tapi kalo dikasih ya jangan di tolak, mungkin itu maksudnya.

Saya berpikir bahwa saya tidak akan menjual si biru, bukan berarti saya tidak bisa move on dengan si biru, si biru adalah saksi bisu perjalanan hidup dari masa masih jadi ABG labil yang masih duduk di kelas 3 SMP, bisa dibilang zaman masih belajar ngelap ingus sendiri, hingga kini menginjak usia dewasa awal. Si biru adalah teman ketika aku harus berjalan melewati lubang jalanan, panasnya aspal serta beceknya jalanan. Bersama si biru pula lah aku merasakan sakitnya gesekan aspal, memarnya benturan aspal serta sakitnya ditinggal pacar *lho.

Suatu saat, saya akan berserita kepada anak saya, bahwa si biru adalah saksi bahwa kesetianku bukan hanya pada makhluk tuhan bernama wanita yaitu Ibu dari anak-anaku (EaaaJ), namun juga pada ciptaan manusia (Malah ngegombal).

Aku sadar bahwa zaman semakin maju, perkembangan teknologi seakan tak bisa dibendung, manusia semakin pintar dalam mengembangkan maupun menciptakan teknologi baru. Si biru tinggal menunggu waktu akan menjadi barang antik , hingga teman-teman si biru tergantikan oleh teknologi kendaraan yang matic serta menggunakan teknologi terbaru semacam PGMFI yang katanya sangat ramah lingkungan serta irit bahan bakar.

Tulisan ini saya dedikasikan untuk si biru yang telah hampir sepuluh tahun menemaniku selama dalam perjalanan, bersamanya saya lalui perjalanan meski kehujanan serta kepanasan. Dan tentu tidak lupa kepada Ibuku yang telah memberiku si Biru. Untuk Ibu, hanya satu kata, You are the best


Read more ...