Selasa, 22 April 2014

Hari Kartini

Tepat tanggal 21 April diperingati sebagai hari kartini. Dan saat itulah banyak salon-salon yang sudah ramai, bahkan ada yang harus rela antri sehabis sholat shubuh. Apalagi kalo bukan untuk berdandan dengan sanggul serta berpakaian kebaya. Hal itu juga dialami oleh beberapa murid baik dari SD hingga SMA. Entahlah mengapa hari kartini perempuan seperti diharuskan berkebaya untuk memperingati hari kartini. Ada juga yang menggelar orasi menuntut pemerintah agar menghapus kebijakan-kebijakan yang dinilai sangat diskriminasi terhadap perempuan. Dan saya juga tidak tahu kebijakan pemerintah yang mana yang dianggap diskriminasi terhadap perempuan.

Perjuangan RA Kartini, adalah perjuangan untuk menuntut hak-hak perempuan seperti hak memperoleh pendidikan. Saya lihat sekarang ini, perjuangan RA Kartini sudah membuahkan hasil. Di sekolah-sekolah perempuan dan laki-laki sudah sama-sama menjadi Subjek dalam dunia pendidikan, bahkan ada juga seorang perempuan yang masuk ke SMK dengan mengambil jurusan yang biasanya diambil oleh kaum laki-laki, seperti teknik mesin dan otomotif. Selain itu banyak juga perempuan-perempuan Indonesia yang menduduki posisi penting dalam pemerintahan, seperti menjadi anggota dewan, bahkan menteri juga ada. Dalam sistem kabinet pun ada juga menteri pemberdayaan perempuan. Itu artinya perjuangan RA Kartini hingga masa modern seperti saat ini tidak sia-sia lagi.

Emansipasi, begitulah perjuangan RA Kartini disebutnya. Perjuangan RA Kartini adalah perjuangan mendobrak tradisi atau adat istiadat terhadap perlakuan perempuan yang memang sangat dibatasi. Perempuan hanya di rumah dan membantu Ibu di dapur sedangkan laki-laki diberi kebebasan untuk belajar melaui pendidikan serta mengeksplorasi diri dengan hal-hal yang baru. Hal itulah yang membuat adanya perjuangan emansipasi. Dalam agama islam pun sebenarnya emansipasi itu sudah ada, seperti permohonan talak, bukan hanya laki-laki saja yang bisa menjatuhkan talak, dengan alasan yang dapat dibenarkan oleh agama, pihak perempuan pun berhak meminta talak , bisa karena tidak dinafkahi baik lahir maupun batin untuk beberapa waktu, sang suami sudah lari dari tanggung jawab sebagai suami, sehingga hal itu dapat digunakan sebagai alasan untuk menggugat cerai suami.

Emansipasi adalah perjuangan RA Kartini dalam memperjuangkan hak-hak perempuan. Hingga saat ini, bagi para perempuan Indonesia bisa merasakan dampak dari perjuangan RA Kartini. Jadi pada tanggal 21 April banyak perempuan Indonesia yang merayakan hari kartini. Di sekolah-sekolah para Ibu guru senantiasa berdandan dengan kebaya serta rambut disanggul, murid-murid perempuan juga tidak luput untuk berdandan dengan kebaya serta make up tebal ala penyanyi sinden. Belum lagi di telivisi-telivisi, baik berita maupun infotaiment mengangkat berita-berita bertema Kartini, serta menampilkan sosok-sosok Kartini masa kini. Saya sendiri pun tidak mau melewatkan mengikuti berita-berita di telivisi yang menampilkan perempuan-perempuan tangguh, sebagai sosok kartini masa kini. Setidaknya berita serta acara telivisi sudah mengangkat sosok yang bisa menginspirasi dari pada hanya menonton berita artis yang (katanya) ustad tapi malah melakukan penipuan. Bahagianya saya ketika telivisi-telivisi sebagai media yang sering ditonton oleh masyarakat menampilkan berita-berita serta acara yang inspiratif dengan menampilkan sosok perempuan tangguh sebagai kartini masa kini.

Bukan hanya di media telivisi saja, bahkan toko-toko baik baju maupun restoran-restoran juga tidak kalah untuk merayakan hari Kartini. Dengan memberikan diskon kepada perempuan yang berbelanja pada hari Kartini. Mending jika toko-toko yang memberikan diskon adalah toko khusus perempuan, bahkan toko buku pun mengadakan promo dalam rangka hari kartini dengan memberikan diskon 21% kepada pembeli perempuan. Hal inilah yang membuat saya sedikit aneh. Bisa dikatakan adalah toko umum, artinya pengunjungnya tidak hanya perempuan saja, bahkan banyak laki-laki juga datang ke tokok tersebut. Memberikan diskon hanya kepada perempuan, menurut saya itu juga bisa berarti diskriminasi. Dengan membedakan-bedakan serta lebih mementingkan perempuan.

Kartini sebagai pejuang emansipasi, berjuang untuk memperjuangkan hak-hak perempuan. Dan perlu diketahui bahwa RA Kartini sebagai pejuang emansipasi memperjuangkan hak perempuan dengan tidak membalas diskrimasi kepada kaum lelaki. Namun memberikan diskon hanya kepada prempuan saja? Apakah hal itu bukan diskriminasi? Dengan kata lain hal itu malah seakan membalas diskriminasi keada kaum laki-laki. Memang ini adalah hal sepele, namun saya juga tidak merasa sirik dengan perempuan, karena hanya perempuan saja yang mendapatkan diskon, tapi saya yakin hal itu adalah trik bisnis dalam marketing, perempuan yang pada dasarnya gila belanja, apalagi diskon 21% pada saat hari kartini membuat naluri belanja perempuan semakin menjadi-jadi. Apalagi diskon hanya diberikan kepada perempuan, hal itu akan menjadikan seorang perempuan merasa di istimewakan, bukankah begitu para perempuan?

Terlepas dari efektif tidaknya promo diskon hanya diberikan kepada perempuan saja, setidaknya bisa dikatakan bahwa perjuangan RA Kartini menurut saya sudah membuahkan hasil, terlepas dari kasus-kasus yang terjadi seperti kekerasan dalam rumah tangga yang seringkali perempuan sebagai pihak korban. Menurut saya, persamaan hak, bukanlah menuntut bahwa perempuan harus menuntut sama dengan laki-laki, karena hal itu adalah sesuatu yang mustahil. Pada dasarnya secara kodrat laki-laki dan perempuan adalah berbeda. Karena seorang laki-laki akan menjadi bapak, dan seorang perempuan akan menjadi Ibu bagi anak-anaknya. Bukanlah hal yang bijak jika saling menuntut persamaan derajat antara perempuan dan laki-laki, karena secara peran sudah jelas berbeda. Emansipasi perempuan adalah ketika hak perempuan sudah terpenuhi serta mampu berperan sebagaimana mestinya sebagai seorang perempuan. 


Selamat hari Kartini kepada para wanita Indoneisa.