Kamis, 03 April 2014

Joget fenomenal

Ditengah acara televisi yang dianggap kurang mendidik, tayangan-tayangan inspiratif kalah dengan tayangan-tayangan yang semua dikemas dengan komedi yang tidak mendidik serta dibumbui dengan joget-joget. Komedi yang tidak mendidik karena bullying dianggap hal yang wajar dengan alasan untuk menghibur, lelaki berpakaian perempuan menjadi seolah hal yang biasa. Namun joget yang identik dengan orang kampungan serta orang pinggiran kini seakan naik kelas karena artis Ibu kota yang biasa dugem tak malu lagi untuk berjoget ria ala dangdut pantura.

Saya sendiri sangat mengapresiasi dengan joget fenomenal itu, karena itu adalah bagian dari seni yang orisinil, tapi hanya saja belum mendunia karena dibawakan oleh orang Indonesia. Dan saya yakin jika joget fenomenal itu dibawakan oleh orang luar yang memiliki pengaruh di industri kreatif media luar, joget fenomenal akan moncer seperti halnya gaya berfoto selfie yang dipopulerkan oleh Preasiden AS Obama serta nominator piala Oscar, dan mampu menyaingi gangnam style maupun harlem shake. 

Di dalam negeri sendiri saja joget fenomenal mampu menaikan rating, hingga hampir semua talk show di televisi sekarang berusaha mengadopsi acaranya dengan berkreasi membuat joget-joget baru. Tapi apa acaranya jadi populer seperti talk show yang merupakan kelanjutan acara sahur itu? Menurut saya tidak, karena justru dengan mereka meniru pakai joget-joget begitu, yang ada dalam otak masyarakat langsung mrngambil kesimpulan "owh itu acaranya mirip dengan joget fenomenal itu". Jadi malah menbangkitkan memori tentang joget fenomenal, karena jelas-jelas cuma mengekor dan berharap rating naik. Padahal meski sudah berkreasi dengan joget yang berbeda namun image joget sudah melekat pada si joget fenomenal. Dan tidak tau kenapa malah tidak membuat sesuatu yang jelas berbeda. 

Pro dan kontra sudah menjadi bagian dalam hidup, sama halnya dengan joget fenomenal itu, disaat joget fenomenal lagi moncer-moncernya bahkan pelaku joget sekarang sudah dapat kontrak iklan, ada dari kelompok orang yang mengadu ke KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) bahwa tontonan itu tidak mendidik, bahkan dengan membawa bukti-bukti artikel koran terutama dampak dari joget fenomenal itu bagi perilaku anak. Saya sendiri setuju dengan hal itu agar tim kreatif merivisi, serta menjadikan pengaduan dari masyarakat sebagai masukan untuk lebih menampilkan tayangan yang sedikit berkualitas atau minimal tidak berdampak negatif bagi penonton yang masih berusia anak. Namun satu yang perlu kita ketahui bahwa remote yang pegang kita bukan si pemilik siaran atau pemerintah, dalam hal ini adalah KPI, sehingga kita dipaksa untuk menonton acaranya. Artinya sebagai orangtua sudah sepatutnya mengendalikan atau mengontrol tontonan si anak. Jadi mau apapun itu tontonan telivisi tetaplah ingat bahwa andalah yang memegang remote bukan pemerintah serta bukan pemilik siaran. Jadi jangan sampai ada acara yang tidak bermutu tapi ratingnya bagus karena banyak yang nonton.

Sudah saatnya menjadi penonton yang cerdas. Dan tetaplah ingat bahwa Andalah yang memegang remote serta Anda juga yang (sebagai orangtua) memegang kendali tontonan si anak. Dan sebagai penutup "Jangan sampai si anak malah dididik oleh televisi".

*Sebenarnya catatan lama, namun baru sadar pernah nulis ini. Jadi mumpung belum begitu basi banget, soalnya sudah sempet diangetin sebentar (baca: diedit) jadi saya share aja