Jumat, 25 April 2014

Tai Kucing

*Tulisan lama, awalnya masih ragu untuk mengetik ulang dan memposting ke blog ini, namun setelah menimbang-nimbang *halah, tidak ada salahnya mengingat kembali masa-masa labil itu J. In memoriam

“Tai Kucing”
Aneh, pertemuan yang begitu lama, namun baru sadar akan keberadaannya. Memendam rasa? Aku juga tidak tahu apa yang aku rasakan saat itu.

Apa mungkin aku sedang rindu? Bisa jadi. Atau juga sedang kasmaran? Bisa juga. Perasaan yang sangat aneh menurutku.

Apakah aku sedang berbohong dengan diriku mengenai perasaan ini? Apa untungnya menipu diri sendiri? Aku juga bukan penipu amatir yang akan menipu diri sendiri.

Cinta? Hah. Cinta tai kucing! Cinta hanya sebatas di bacot! Siapa tahu dalam hati seseorang? Sekarang ngomong cinta, besok ngomong bosen, kemudian besoknya lagi putus. Susahnya jadi orang yang terlalu baik.

Iya, jadi orang yang terlalu baik itu susah, “kamu terlalu baik buat aku” alasan macam apa itu? Sudah tahu orang yang overdosis kebaikannya tapi malah dijadikan alasan buat putus. Sana pacarin aja bajingan-bajingan di perempatan jalan. Jika aku adalah orang yang terlalu baik buat kamu.

Hahahah cinta masalalu, cinta monyet, cinta gorilla, cinta dinosaurus, bagiku tetap aja, cinta tai kucing.

Ini bukan soal rasa, tapi soal sakit. Sakit hati!. Dokter mana pun juga belum punya obatnya.  Sakit hati (sirosis) masih bisa transplan, tapi sakit hati karena kamu? Tai kucing!

Cinta, cinta, . . .
Kadang manis
Kadang pahit
Kadang suka
Kadang duka
Apa itu? Rujak? Tai kucing!

Hah, itu masalalu, sungguh sayang energi ini mengingat hal itu. Mengingat masalalu, apalagi masalalu yang pahit. Hanya membangungkan rasa kebencian, rasa penyesalan, dan rasa rindu, seperti singa yang lama tertidur, dan terbangun dalam keadaan lapar. Apapun akan ia makan. Untunglah aku manusia, yang diberi akal. Masih bisa berpikir untuk menjadikan hal itu sebagai pembelajaran. Tak usah lah kau tertawa dengan perkataan bijakku. Mau bilang apa? Kata bijak tai kucing? Emang ini adalah kata bijak tai kucing? Mau apa kau? Tertawa? Silakan! Aku juga tak akan peduli dengan tai-tai kucing malam ini.

*Sedang terus berusaha, mengingat-ngingat ini tulisan kapan, dan jika dilihat dari bahasanya, ini adalah tulisan masa SMA kayaknya. Dapat dilihat dari bahasa yang masing labil menandakan bahwa dulu aku sempat menjadi ABG labil, serta setidaknya punya pengalaman menjadi ABG labil. Sayang banget jika ini bukan menjadi salah satu prestasi yang harus dikenang. Bahkan saya masih membayangkan betapa pengalaman saya menjalani masa-masa labil itu akan saya jadikan sebagai pengalaman ketika melamar pekerjaan, hahaha. Tai kucing! Namun tak apalah saya ketik ulang serta dengan sedikit perubahan agar bisa terkesan bukan tulisan lama serta lebih fresh lagi, serta agar identitas pelaku tidak diketahui, hahaha.  Dan biar afdol maka saya posting di blog ini. Minimal buat kenang-kenangan sajalah (mengenang luka J). Membaca ini sangat emosional dan siapa yang baca pun ikut merasakan emosionalnya (Mungkin).  Dan satu yang sekarang bisa kuucap, hehhehe tenanglah bukan tai kucing yang akan aku ucap, tapi “#AkuRapopo”