Kamis, 03 April 2014

Tentang Si Biru



Jika si kasatria baja hitam memiliki belalang tempur, Valentino Rossi memiliki Yamaha YZR M1 dan lawannya Rossi si bocah ajaib Marc Marquez dengan Honda Repsolnya mampu menjadi juara dunia moto GP. Saya juga tidak mau kalah dengan mereka. Saya memiliki motor jenis Suzuki dengan kekuatan 125 cc serta dengan slogan “Shogun di lawan” telah mampu meluluhkan hati Ibu untuk segera memboyong ke rumah dan membayangkan betapa gagahnya si anak lelaki nomor duanya menunggangi motor baru itu. Si Biru begitu aku memberi nama kepada motor baruku itu.

Seperti bocah pada umumnya ketika akan tahu dibelikan motor baru, selalu terbayang-bayang apa saja yang akan dilakukan ketika sudah bisa mengendarai motor, dalam hati berjanji akan selalu merawat minimal mau mencuci motor baru hingga akan selalu nampak bersih. Itu dulu, ketika aku tahu akan dibelikan motor, tapi sekarang? Janji tinggalah janji, seperti halnya dengan para caleg yang mengumbar janji di depan konstituennya namun lupa akan janjinya ketika sudah duduk nyaman di kursi dewan. (hehehe namanya juga lagi musim kampanye jadi apa-apa di srempetin ke hal-hal yang berbau pemilu lah J)

Back to the point, motor baru tak selamanya akan selalu baru, karena meski barang baru namun sudah di pakai, itu sudah menjadi barang lama. Begitu juga dengan si biru (nama motorku, karena memang warnanya biru seperti pada gambar). Awalnya sangat sayang bahkan tidak bisa membiarkan sedetik pun dalam keadaan kotor, bahkan jika hujan sengaja hanya saya parkirkan di dalam rumah, maklumlah tidak saya biarkan kehujan hingga berlumur lumpur dan tanah. Tapi itu dulu, tapi sesudah tragedi kecelakaan tunggal di tikungan itu, yang membuat si Biru lecet. Awalnya sedikit menyesal, namun perhatian orangtua terhadapku membuat ia mengesampingkan keadaan si biru. Orangtua yang memang tidak materialistis, ia tahu bahwa si biru yang membelinya, namun tak jadi apa dengan kondisi si biru, karena si biru rusak masih bisa diperbaiki, yang jual onderdil juga banyak, tapi kalo tangan, kaki kamu hilang(patah) itu nggak ada yang jual, begitu tutur ibuku yang nampak sangat bijak pada saat itu. (Berharap Ibuku baca tulisan ini hingga aku dapat kenaikan uang jajan bulanan, hehehe).

Si biru itu aneh sekaligus temannya ajaib, meski baru, si biru bau apek seakan bau ketek, persis bau ketek Ibu sehabis bekerja, jangankan berbahan bakar pertamax, bensinpun ia enggan nyala. Bahan bakarnya juga dari air kencing Ibuku. Aneh emang si biru, karena ia bukanlah motor biasa, namun sangat special (bagiku). Tentu yang saya maksud dengan motor yang bau ketek ibu dan berbahan bakar air kencing Ibu bukanlah hal yang sesungguhnya, namun saya yakin bahwa kalian tahu apa yang dimaksud dengan bauk ketek disini dan bahan bakar air kencing. Namun untuk menghindari salah tafsir yang akan menyesatkan  beberapa diantara kalian yang (sempat) membaca tulisan ini, meski pada akhirnya hanya saya lah penulis sekaligus pembaca atas tulisan saya sendiri. Bau ketek serta air kencing Ibu yang saya maksud adalah, bahwa si Biru dibeli oleh ibu atas kerja keras Ibu saya, hingga bercucuran keringat, serta air kencing Ibu adalah seseuatu yang berasal dari Ibu namun tidak pernah menuntut apa-apa atas apa yang telah diberikan kepada saya. Logikanya orang kencing itu ya mengeluarkan kotoran melalui urine, ya sudah begitu saja, tanpa mengharap air kencing itu akan berubah menjadi garam kemudian bisa dijual. Artinya Ibu memberikan uang kepada saya, kemudian uangnya untuk membeli bensin, meski bukan hanya untuk membeli bensin, semua fasilitas dan kehidupan saya juga berasal dari uang Ibu, layaknya orang yang kencing, ia mengeluarkan uang namun tidak pernah mengharapkan apa-apa layaknya orang sedang menabung. Sampai di sini paham? Semoga paham karena jika tidak paham akan saya paksa paham, karena saya sendiri juga tidak paham apa yang saya tulis J.

Si biru bukanlah milik saya, namun saya menjaganya seolah itu milik saya, karena bagiku itu adalah amanat dari orang tua, yang harus saya jaga dan tentunya harus saya rawat. Begitu banyak manfaat yang telah diberikan karena adanya si biru, minimal tidak pernah pinjam motor sana-sini untuk keperluan yang mendesak. Saya ingat betul betapa suka dan suka sudah saya lalui bersama si biru. Si biru sudah seakan menjadi sahabat saya, karena dengan adanya si biru saya bisa pulang pergi ke sekolah tanpa harus menunggu bus yang terkadang hanya PHP. Pernah saya pulang sekolah naik bus, karena pada waktu itu si biru baru dipakai karena kebetulan Simbah masuk rumah sakit dan jika tidak ada motor nanti malah repot sendiri, dan saya mau mengalah naik bus ke sekolah. Naik bus ternyata di-PHP, dari pulang sekolah hingga sore hari, bus tidak kunjung datang, hingga pada akhirnya orang rumah yang menjemput karena sudah sampai sore tidak pulang-pulang.  

Sampai saya lulus saya tidak pernah ganti motor, hingga saat menjadi mahasiswa, juga tidak pernah ganti motor, meski ganti motor sifatnya hanya sementara, misal lagi tukeran motor dengan kakak, kemudian pakai motor Om, dan tidak pernah bertahan lama. Hingga saat ini, saya sudah menjadi mahasiswa tingkat akhir, tinggal menyelesaikan tugas suci bernama skripsi, saya masih menggunakan si biru. Pernah terbesit dalam pikiran untuk meng-upgrade motor menjadi yang lebih muda lah usianya, namun lagi-lagi tidak direstui oleh yang punya duit, katanya pas awal beli dulu pernah berkata dalam hati, bahwa motor ini tidak akan saya ganti hingga kamu mampu beli motor sendiri, itu artinya selama saya masih hidup dibawah ketek orangtua saya masih mengendarai si biru. Namun saya tahu betul bahwa itu semata-mata agar saya memiliki tujuan hidup, mengupgrade kendaraan misalnya. Meski sifatnya masih materi namun hal itu agar saya berpikir bahwa untuk menikmati segala sesuatu ya harus kerja keras, bukan hanya minta, tapi kalo dikasih ya jangan di tolak, mungkin itu maksudnya.

Saya berpikir bahwa saya tidak akan menjual si biru, bukan berarti saya tidak bisa move on dengan si biru, si biru adalah saksi bisu perjalanan hidup dari masa masih jadi ABG labil yang masih duduk di kelas 3 SMP, bisa dibilang zaman masih belajar ngelap ingus sendiri, hingga kini menginjak usia dewasa awal. Si biru adalah teman ketika aku harus berjalan melewati lubang jalanan, panasnya aspal serta beceknya jalanan. Bersama si biru pula lah aku merasakan sakitnya gesekan aspal, memarnya benturan aspal serta sakitnya ditinggal pacar *lho.

Suatu saat, saya akan berserita kepada anak saya, bahwa si biru adalah saksi bahwa kesetianku bukan hanya pada makhluk tuhan bernama wanita yaitu Ibu dari anak-anaku (EaaaJ), namun juga pada ciptaan manusia (Malah ngegombal).

Aku sadar bahwa zaman semakin maju, perkembangan teknologi seakan tak bisa dibendung, manusia semakin pintar dalam mengembangkan maupun menciptakan teknologi baru. Si biru tinggal menunggu waktu akan menjadi barang antik , hingga teman-teman si biru tergantikan oleh teknologi kendaraan yang matic serta menggunakan teknologi terbaru semacam PGMFI yang katanya sangat ramah lingkungan serta irit bahan bakar.

Tulisan ini saya dedikasikan untuk si biru yang telah hampir sepuluh tahun menemaniku selama dalam perjalanan, bersamanya saya lalui perjalanan meski kehujanan serta kepanasan. Dan tentu tidak lupa kepada Ibuku yang telah memberiku si Biru. Untuk Ibu, hanya satu kata, You are the best