Selasa, 27 Mei 2014

Memonopoli Makna Puisi


Sudah lama saya posting di blog pribadi saya ini. Dan hari itu dengan penuh keisengan saya ingin sesuatu yang baru dalam hal menulis di blog. Saya putuskan saat itu membuat akun di kompasiana, karena saya lihat di situ banyak para bloger yang masih aktif, meski kata sahabat saya, bahwa kompasiana sudah tidak seramai dulu dalam hal pembacanya. Namun kala itu lagi ramai-ramainya kampanye pileg jadi tulisan mengenai  isu-isu politik sangat mudah di temui. Saya juga sempat menulis tentang isu politik dengan bahasa yang tidak langsung mengarah, melainkan dengan sebuah perumpaan, bisa di cari dengan judul “Bukan Dongeng Politik” karena selain saya posting di kompasiana juga saya posting di akun facebook serta blog saya ini.

Banyak kelebihan sebenarnya dalam kompasiana, namun entah kenapa saya masih merasa nyaman dengan blogspot ini, karena selain penampilan yang sederhana, yang pasti tidak akan ada iklan yang terus berseliweran dimana-mana.

Setelah akun kompasiana sudah jadi, tidak langsung saya posting tulisan-tulisan saya yang sudah ada, karena niat dalam hati hanya tulisan-tulisan tertentu saja yang akan saya posting di kompasiana.

Dan pada suatu saat, saya membuat puisi yang berdasarkan atas lamunan sesaat serta kondisi yang ada. Saya membuat puisi tersebut karena saya dalam keadaan bingung karena tidak ada kerjaan. Setelah puisi jadi, saya kebingungan untuk menentukan judul apa yang tepat untuk puisi baru saya. Kemudian saya kirim melalui BBM kepada teman sekaligus sahabat saya, agar dia bisa memberi saya saran atas judul puisi tersebut. Tidak lama kemudian di membalas bahwa judul puisi yang dia sarankan adalah “Tipu Muslihat Tempe Kelabui Lalat”. Awalnya saya menyanggupi untuk menggunakan judul dari saran teman saya tersebut. Dan ketika akan saya posting di kompasiana, dalam pikiran saya langsung tergerak untuk mengubah judul puisi saya tersebut. Karena momen politik sedang moncer-moncernya merajai pemberitaan di seluruh media nasional, saya mengganti puisi tersebut dengan “Politik Tempe Kelabui Lalat”. Harapan saya mengganti dengan judul tidak lain hanyalah untuk menarik minat pembaca. Untuk merefresh lagi puisi saya tersebut, saya akan repost kembali, berikut puisi politik tempe kelabui lalat
“Politik Tempe Kelabuhi Lalat”
Jaman sudah mulai sedikit edan 
Tempe menjadi nampak daging 
Daging bisa nampak menjadi tempe 
Persepsi masyarakat bisa dibentuk 
Opini publik bisa diarahkan 

Aku miris melihat semua ini 
Banyak lalat yang mengkrubungi daging 
Padahal yang dikrubungi adalah tempe 
Daging yang sejatinya jauh lebih enak dan bergizi 
Seakan nampak hanya sepotong tempe 

Banyak lalat menyanjung-nyanjung daging yang sejatinya adalah tempe 
Tempe hanya dilirik beberapa lalat, padahal sejatinya itu adalah daging 
Semua lalat berkeyakinan bahwa apa ia makan adalah daging 
Padahal justru yang banyak dikerubungi adalah tempe 

Saya sangat salut kepada beberapa lalat yang tetap mengkrubungi tempe yang sejatinya adalah daging 
Mereka tidak terkecoh oleh apapun 
Mereka tidak tertarik pada opini serta persepsi kebanyakan lalat 
Karena yang ia pegang adalah kebenaran bukan hanya opini apalagi persepsi.

                                                                      Oleh Riki Sholikin
Ketika saya sudah memposting, memang tidak banyak yang membaca, namun bagiku itu tidak apa-apa, karena menulis dan berpuisi bukanlah hal yang menurut saya untuk menjadikan saya sesuatu, melainkan hanya sekedar agar otak saya tidak menganggur saja.
Beberapa saat kemudian ada komentar atas puisi saya tersebut, saya sangat mengapresiasi kepada beliau karena telah sudi untuk membaca puisi saya. Dan saya tidak akan memberikan atau menyebutkan nama asli yang bersangkutan, karena saya berusaha untuk menjunjung tinggi etika. Beliau berkomentar tentang makna yang ada dalam puisi saya. Intinya beliau mengartikan bahwa yang dimaksud tempe dan daging dalam puisi tersebut mengarah pada figure politik, yang kebetulan sesuai dengan terkaan beliau bahwa keduanya maju dan bertarung dalam pilpres mendatang. Figure politik yang beliau maksud adalah Jokowi dan Prabowo. Beliau menganggap bahwa “Tempe” dalam puisi tersebut mengarah pada Jokowi, sedangkan “Daging” mengarah pada Prabowo. Entah ini sangat kebetulan ataukah prediksi beliau mengenai pertarungan pilpres yang sangat moncer. Selain berkomentar dalam tulisan komentarnya, kurang lebih begini ”bahwa tidak apalah rakyat lebih memilih tempe, jika hanya dengan tempe saja sudah bisa merasa kenyang, daripada daging selain harganya yang jauh lebih mahal ada beberapa penyakit yang disebabkan karena makan daging”. Di akhir kalimat beliau juga tidak menyebutkan bahwa beliau bukanlah pendukung atau simpatisan Jokowi.

Menanggapi hal tersebut saya langsung mengucapkan banyak terima kasih kepada beliau yang telah bersedia membaca dan merespon puisi saya tersebut. Namun apakah maksud dari puisi yang beliau komentarkan tersebut sesuai dengan apa yang ada di otak saya ketika menulis, kata demi kata kemudian saling bertemu menjadi sebuah baris yang tersusun dalam sebuah puisi yang bisa dikatakan sangat sederhana itu. Tentu saja tidak, saya tidak akan memonopoli makna atas puisi saya tersebut, bahkan untuk puisi-puisi yang lain. Puisi bukanlah mengenai apa yang benar dan apa yang salah, tapi lebih bagaimana cara manusia dalam memandang sesuatu. Tentu saya tidak akan memaksa bahwa apa yang saya lihat harus sama dengan apa yang orang lain lihat. Berpuisi bagi saya bukanlah mengharuskan bahwa orang lain juga mengartikan  makna puisi harus sesuai dengan apa yang saya maksudkan. Memaknai puisi tidak seperti halnya dengan ujian yang menganggap salah jika makna puisi tidak sesuai dengan apa yang ada di dalam otak saya selaku pembuat puisi tersebut.


Setiap manusia memiliki cara pandang yang berbeda-beda dalam melihat segala sesuatu, hal itu mungkin dipengaruhi oleh beberapa factor, bisa pengalaman hidup, referensi yang ia baca, kemudian fenomena apa yang terjadi di lingkungan sekitar, sedangkan dari beberapa factor tersebut tidak semua orang mengalami hal yang sama. Dengan alasan itu lah saya tidak akan pernah memonopoli makna atas puisi saya. Saya akan berusaha menyimpan rapat-rapat makna puisi tersebut. Dan saya juga tidak akan mengatakan apa yang ada di dalam otak saya pada saat saya menulis puisi tersebut,  karena dengan begitu artinya saya telah membiarkah makna atas puisi terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman, karena makna atas puisi tidak akan pernah termakan zaman, makna sebuah puisi akan terus mengikuti zaman.
Read more ...

PUISI

“Puisi Seorang Pecundang”


Hidup di dunia yang serba bebas 
Aku hanyalah penonton yang tak lebih dari seorang pecundang 
Menghujat hanya karena tak suka 
Mengkritik juga tanpa solusi 

Beruntungnya aku tidak hidup di orde baru. 
Tapi siapa juga aku ini 
Ucapanku tak berpengaruh apa-apa 
Tulisanku tak ada yang mau membaca 

Inilah enaknya jadi penonton yang tak lebih hanya seorang pecundang 
Mengkritik dan menghujat bukan karena iri kepada mereka yang berkuasa 
Bukan juga seperti mereka yang dulunya suka melawan. 
Tapi sebenarnya hanya ingin nikmatnya berkuasa. 

Aku hanya hanya pandai berucap 
Tapi tak pandai untuk berbuat 
Karena aku hanya penonton 
Dan aku adalah seorang pecundang
Read more ...

PUISI

            “Siapa yang Berkuasa Atas Diriku”

Siapa yang berkuasa atas diriku 
Aku tak tau apa tujuan hidupku 
Aku tak tahu kemana arah hidupku 
Apa yang akan aku lakukan untuk hidupku 

Jika aku yang berkuasa atas diriku 
Kenapa aku biarkan saja rasa malas tumbuh subur dalam diriku 
Jika Tuhan berkuasa atas diriku 
Kenapa Tuhan tak jadikan diriku hamba yang taat 

Aku tak tau arah 
Aku kehilangan arah 
Aku tak tau mana yang kutuju 
Kubiarkan semua berjalan semauku
Read more ...

PUISI

Gadis Berkerudung
Wahai engkau gadis yang anggun
Yang selalu bersembunyi di balik kerudung
Berkerudung adalah caramu untuk menghargai diri
Bukan alasan untuk mempercantik diri

Engkau menutup rapat tubuhmu
Namun tak pernah engkau menutupi pemikiranmu
Engkau selalu menghijabi rambutmu
Namun tak pernah engkau hijabi cakrawala ilmumu

Engkau tak pernah mengajari para lelaki untuk bersikap sopan kepadamu
Tapi, penampilanmu membuat laki-laki tertegun malu untuk menggodamu
Sikapmu mampu membuat laki-laki sungkan kepadamu
Pesonamu membuat lelaki enggan kepadamu

Caramu berbicara mampu mencairkan yang beku
Tak heran jika banyak laki-laki yang jatuh hati padamu
Meski tak tahu harus bagaimana untuk bisa meminangmu
Ada namamu dalam setiap doaku




Read more ...

PUISI

            “Perjalanan Tobat”

Sampai kapan kaki akan membawa kita terus melangkah 
Padahal kita tak membawa penunjuk arah 
Terus melangkah meski tak tau arah 
Padahal semua pasti akan kembali ke tanah 

Apa yang ada dalam benakku 
Ketika aku tak tahu mana yang kutuju 
Apa yang ada dalam pikiranku 
Hingga tak ada ruang untuk mengingatMu. 

Aku tak tahu kemana aku harus kembali 
Aku tak tahu kemana aku harus pergi 
Hidup dalam kehampaan 
Tanpa iman di dalam dada 

Akankah aku harus mulai belajar untuk mengenalMu 
Padahal dari dulu aku telah melupakanMu 
Haruskah aku terus bersujud kepadaMu 
Hingga Engkau mengampuni dosaku. 

Perjalananku yang dulu adalah masa jahiliahku 
Masa depanku adalah masa tobatku 
Aku akan terus memohon kepadaMu 
Agar masa tobatku lebih panjang dari pada masa jahiliahku
.
Read more ...

PUISI

“Mengenang Kembali Masa Kelulusan SMA”


Lima tahun yang lalu
Adalah masa ketika kami harus saling berpisah, karena kami dikeluarkan dengan alasan dengan penuh rasa bangga bahwa kami telah “Lulus”

Lima tahun yang lalu
Adalah masa, katika aku belajar bahwa perpisahan itu pasti terjadi, karena perbedaan tujuan bisa berakibat pada perbedaan lokasi fisik

Lima tahun yang lalu
Adalah masa ketika aku baru menyadari bahwa ijazah SMA ku bukanlah bukti nyata atas kemampuanku

Lima tahun yang lalu
Adalah masa di saat aku tak tau arah untuk melangkah, kecuali mengikuti petunjuk arah, yaitu mengikuti saran untuk mendaftar ke perguruan tinggi

Read more ...

PUISI

Aku Adalah Masalalu
Aku adalah masalalu
Ketika aku dilahirkan dan dibelai dengan penuh kasih sayang

Aku adalah masalalu
Tentang apa yang aku lihat dalam kehidupanku hingga aku beranjak dan terus tumbuh dan berkembang

Aku adalah masalalu
Tentang bagaimana orang-orang di sekitarku memperlakukanku

Aku adalah masalalu
Tentang bagaimana dan dengan siapa saja aku bergaul

Aku adalah masalalu
Tentang bagaimana aku dapat menyikapi masalah dan mengambil pelajaran setiap masalah yang aku alami

Aku adalah masalalu
ketika aku menikmati apa yang telah kulakukan dan hidup bersama dengan orang-orang yang aku cintai

Aku adalah masalalu

Tentang hal-hal apa saja yang telah aku lakukan selama hidupku, dan siap untuk  mempertanggung jawabkan semuannya di hadapan Sang Pencipta 
Read more ...

Rabu, 14 Mei 2014

Merasa Iri

Merasa Iri
Aku merasa iri
Kepada mereka yang meski ditengah kesibukan dunia, namun masih tetap ingat dengan akherat

Aku merasa iri
Kepada mereka yang terus terjaga sampai larut malam, namun masih tetap bisa bangun untuk sholat tahajud dan sholat fajar sebelum sholat shubuh

Aku merasa iri
Kepada mereka yang terus menjaga lesannya dan berkata hanya untuk hal yang bermanfaat

Aku merasa iri
Kepada mereka yang selalu menundukan kepala untuk menjaga pandangannya

Aku merasa iri
Kepada mereka yang mampu menahan lapar meski mereka dalam keadaan banyak makanan

Aku merasa iri
Kepada mereka yang terus berjuang melawan kemalasan yang ada dalam diri mereka

Aku merasa iri
Kepada mereka yang masih selalu berbagi meski dalam keadaan kurang.

Aku merasa iri
Kepada mereka yang terus merasa dirinya bodoh, padahal ia adalah orang yang kaya akan ilmu

Aku merasa iri
Kepada mereka yang yang miskin harta, namun selalu bersyukur dengan keadaannya

Aku merasa iri
Kepada mereka masih bisa tersenyum di tengah penderitaan yang sedang mereka alami

Aku merasa iri
Kepada mereka yang tak banyak bicara namun melakukan perubahan yang bermanfaat bagi sesame.

Aku merasa iri
Kepada mereka yang terus berjalan menuju kebaikan

Aku iri. . . .
Aku iri dengan semua itu

Dosakah jika aku bisa iri kepada mereka?
Read more ...

Kemerdakaan Setan


Setan, pertama mendengarkan kata setan, pertama kali yang terbayang adalah sesosok makhluk yang menyeramkan yang hidup di dunia lain, yang terkadang narsis juga menampakan diri kepada manusia. Sebelum lebih jauh bicara soal setan, ada yang perlu diketahui, bahwa saya bukanlah seorang indigo, yaitu manusia yang (katanya) bisa melihat sosok setan atau hantu. Tak perlulah saya menjadi seorang indigo atau membuka mata batin saya untuk melihat sosok-sosok setan yang (katanya) wujudnya menyeramkan, karena dengan mata normal saja saya sudah sangat puas dengan melihat berbagai makhluk ciptaan Tuhan, wanita misalnya J

Saya juga bukan salah satu tim pemburu hantu atau setan, namun saya hanyalah seorang pecundang yang lebih enjoy menuliskan hal-hal yang menurut saya aneh dan patut untuk dibicarakan melalui tulisan. Tulisan yang memang tak berharap ada yang membaca. Karena saya tahu, bahwa saya adalah penulis sekaligus pembaca atas tulisan-tulisan saya. Jika ada yang membaca tulisan saya, bisa dipastikan bahwa ia sedang nyasar ke blog saya ini.

Kembali lagi soal setan, sebanarnya setan adalah produk dari budaya, karena visualisasi atau karakter setan istilah dalam film animasinya, berbeda-beda. Jangankan antar Negara, antara daerah yang satu dengan daerah yang lain saja terkadang berbeda-beda. Menurut saya setan adalah produk budaya yang berasal dari cerita dari mulut ke mulut, dan dalam perkembangan zaman timbul lah ide untuk memvisualisasikan dalam bentuk film.

Setan kini telah merdeka dengan status mereka.  Betapa tidak, sekarang setan sudah tak seseram dahulu lagi, sepertinya manusia sudah mulai berpikir bahwa visualisasi dari setan adalah prosuk dari pikiran manusia itu sendiri, bisa jadi apa yang divisualisasikan setan seperti yang ada dalam film-film horror di Indonesia adalah bentuk kreatifitas manusia melalui imajinasinya, sehingga terbentuklah karakter setan, seperti kuntil anak, pocong, suster ngesot, hantu tanah kusir dan masih banyak lagi. Setan juga sudah tak dijadikan kambing hitam lagi dengan mengatasnamakan setan setiap terjadi kebiadaban tingkah laku manusia dengan bersembunyi dibalik kata “khilaf”. Setiap perbuatan manusia yang menyimpang moral dan berbau asusila selalu di indentikan dengan perbuatan setan, salah apa setan sebenarnya? Saya jadi teringat dengan guyonan Emha ketika dalam suatu acara, “Setan itu curhat dengan saya, katanya sekarang malah pada nggak ada kerjaan, lha wong anggota dewan disuruh setan ambil uang rakyat 5 milyar saja, tapi yang diambil malah 10 Milyar” lucu memang, tapi hal itu menunjukan bahwa tak perlulah setan capek-capek menggoda manusia untuk berbuat keji dan mungkar, karena dalam hati manusia itu sendiri tumbuh benih-benih keserakahan. Dunia menjadi hal yang utama bagi manusia karena dunia adalah sesuatu yang nyata dan akherat adalah hal yang semu, padahal akherat yang katanya semu itu malah menyimpan dunia yang kekal, sedangkan dunia yang menurut manusia adalah hal yang nyata ini, sesungguhnya hanya sementara.  Maaf saya tidak bermaksud mau pengajian ya J

Setan kini merdeka, kenapa saya berani bilang merdeka? Karena saya menganggap setan sedikit demi sedikit sudah menghilang efek seram dari setan itu sendiri. Yang ada, setan sekarang malah identik dengan makanan pedas, lihat saja ada bakso setan, rawon setan, mia ayam setan, mie setan, tidak hanya hanya itu sekarang ada juga es pocong. Betapa bahagianya setan-setan ketika nama-namanya malah bisa dijadikan nilai jual untuk nama-nama makanan. Bisa dibayangkan jika setan-setan itu menarik roayalty atas nama mereka yang digunakan sebagai merk dagang, berapa duit setan akan meraup pundi-pundi rupiah dari hasil royalty tersebut? Untuk saja setan bukan seperti manusia yang terkadang  men-Tuhankan uang. Lagian setan juga nggak butuh uang juga kan.

Betapa setan akan merayakan suka cita ini ketika mereka tahu bahwa apa yang divisualisasikan oleh manusia tentang spesiesnya sudah tidak lagi membuat manusia ketakutan. Mereka para produser film telah berhasil membuat apa yang divisualisasikan tentang setan melekat pada pikiran penonton, termasuk saya sendiri. Apa yang ada di dalam pikiran saya ketika saya sedang berada di dalam kamar mandi tengah malam, ketika saya berjalan sendiri di tempat yang sepi, semua tidak bisa lepas dari apa yang saya tonton ketika saya menonton film-film horor itu. Mereka para sineas film mampu menjual ketakutan para penonton, karena sejatinya apa yang dibeli oleh penonton bukanlah hiburan melainkan sebuah karakter setan, layaknya karakter dalam sebuah film animasi yang menetap dalam ingatan seseorang.

Dalam hati saya ada sedikit pertanyaan, bagaimana seandainya ketika masih kecil anak-anak tidak di jejali dengan cerita-cerita horor, kemudian diberi visualisasi tentang setan sebagi karakter yang lucu layaknya film kartun, mungkin setan bukanlah sosok yang menakutkan lagi.

Selamat kepada setan-setan, meski saya sendiri secara pribadi belum melihat akan penampakan setan, saya juga tidak ingin melihat penampakanmu. Cukuplah apa yang saya lihat adalah makhluk-makhluk ciptaan Tuhan yang dibuat untuk bisa dilihat manusia. Mengenai orang-orang yang katanya mampu melihat hantu atau setan, serta mampu membuka mata batin seseorang kemudian bisa melihat, saya tidak tertarik dengan hal itu. Karena bagi saya, terlepas benar dan tidaknya setan yang mereka lihat, pasti ada tujuannya. Dan saya hingga saat ini belum tahu apa manfaatnya bisa melihat hantu, kecuali bisa shooting di acara mister tukul jalan-jalan dan masih dunia lain.


Sekian dan terima kasih J
Read more ...

Kamis, 08 Mei 2014

Manusia

Sosok yang Lebih Menakutkan daripada Hantu atau Arwah Gentayangan
Beberpa hari yang lalu, seperti biasa saya buka facebook hanya sekedar untuk melihat berita apa yang sedang ramai dibicarakan di media social. Namun saya tertarik pada salah satu tautan yang diposting oleh teman saya. Dan ternyata itu adalah blog pribadinya. Awalnya heran, tidak biasanya dia share tulisan blognya ke facebook.  Dengan rasa penasaran akhirnya saya buka dan baca tulisannya, menarik juga. Dia menulis tentang dirinya yang mempunyai teman khayalan, dan bagiku itu bukanlah hal yang aneh, karena dia adalah anak tunggal, mungkin dia kesepian. Lain halnya dengan saya yang mempunyai saudara laki-lai yang umurnya tidak terpaut jauh, hampir setiap hari ada sparing partner buat adu jotos, adu tendangan pinalty, adu makan dan macam-macam lah.

Dari tulisannya saya menemukan hal yang menarik, dengan apa yang dikatakan dalam melalui tulisannya “Aku tidak takut sama sekali pada hantu. Aku berpikir bahwa manusia jauh lebih menakutkan daripada apa yang mereka sebut dengan arwah penasaran” (dikutip dari Tulisan Damas Aji N via http://singingemotions.wordpress.com/2014/05/03/imagine-imaginely/)

Apa yang ada dalam tulisannya mengenai arwah penasaran saya sependapat dengannya, karena dalam aqidah islam tidak ada yang menyebutkan akan keberadaan arwah penasaran seperti halnya hantu. Berbicara hantu, setan atau arwah penasaran memang tidak bisa dilepaskan dengan kebudayaan. Bisa dilihat dengan hantu-hantu yang ada di beberapa Negara, antara Negara satu dengan Negara lain berbeda-beda. Indonesia yang terkenal kaya akan budaya ternyata juga mempunyai banyak kepercayaan tentang adanya hantu, ada pocong, kuntil anak, suster ngesot, tuyul dan masih banyak lagi. Sedangkan china, vampire lebih popular, sama halnya dengan Negara-negara di eropa yang terkenal adalah vampire serta zombie.

Hantu menjadi sosok yang menyeramkan bisa jadi karena sejak kecil sudah dijejali dengan cerita-cerita yang berbau mistis, selain itu cerita-cerita mistis yang beredar di dalam masyarakat, yang belum diketahui akan kebenarnya malah membuat produser film untuk mevisualisasikan melalui film-film. Saya dulu sangat takut ketika melihat artis Susazana. Iya, ia adalah legenda film horror Indonesia. Bahkan image Nyi loro kidul atau Nyi blorong sudah melekat pada diri Susazana. Saya sendiri dulu juga takut dengan film-film horror yang di bintangi oleh Suzana, namun semakin dewasa ketika film-film Suzana di puter lagi, ternyata si doi cakep juga, hehehe J nyesel juga dulu malah takut meski belum berperan sebagai hantu atau Nyi blorong.

Menjadi sangat miris ketika film horror sekarang malah menjadi seakan film semi porno, karena untuk mendongkrak film malah menampilkan adegan bahkan ada juga yang menghadirkan bintang porno jepang dalam film horornya.

Kembali ke topic. Menurut teman saya, hantu atau sering disebut arwah gentayangan bukanlah sosok yang perlu ditakutkan, karena manusia jauh lebih menakutkan. Memang benar demikian, mendengarkan berita di telivisi, berita di Koran maupun portal berita online mampu meyakinkan saya, bahwa manusia memang jauh lebih menyeramkan dari pada hantu atau arwah gentayangan. Lihat saja sekarang ini, seorang anak manusia tega membunuh sesama manusia, Ibu membunuh anak yang baru dilahirkan, demi harta anak berani membunuh orangtuanya, orangtua tega menyiksa anaknya, bahkan ada juga anak kecil yang berani menganiaya temannya hingga tewas, dan masih banyak kasus-kasus pembunuhan yang dilakukan oleh makhluk yang bernama manusia. Belum lagi berita-berita tentang kasus pelecehan terhadap anak yang masih dibawah umur. Setelah kasus JIS terungkap dan ramai diberitakan oleh media, hal ini seakan menjadi pintu gerbang untuk membuka kasus-kasus pelecehan seksual serupa, dimana anak dibawah umur menjadi korbannya. Baru-baru ini saja di sukabumi jawa barat, ada kasus seorang laki yang telah mencabuli beberapa anak kecil, bayangkan bukan hanya satu anak kecil dan baru terungkap. Dan sekarang kasus tersebut sudah mengalahkan kasus JIS dalam hal pemberitaan.


Inilah apa yang dimaksudkan oleh teman saya dalam tulisan nya, bahwa manusia jauh lebih menakutkan daripada hantu atau arwah gentayangan. Kenapa semakin maju peradapan, namun moral suatu bangsa malah mengalami kemunduran? Zaman semakin maju, akses internat dengan mudah didapatkan, namun lebih banyak digunakan untuk mengakses gambar dan film porno. Apakah manusia sudah tidak takut lagi kepada dosa? Atau mungkin barangkali ada juga mnanusia yang tidak mengenal dosa? Entahlah namun yang jelas, pemberitaan media sudah membuktikan bahwa manusia bisa menjadi sosok yang menyeramkan dari pada hantu atau arwah gentayangan.
Read more ...

Cermin

“Sopo nandur bakal ngunduh”, Siapa yang menanam pasti akan menuai, kedua kalimat tersebut memiliki makna yang sama. Barang siapa berbuat baik kepada orang lain, maka niscaya orang lain akan berbuat baik kepada kita. Begitu juga sebaliknya, barang siapa berbuat jahat kepada orang lain, maka bisa dipastikan bahwa orang lain suatu saat juga akan berbuat jahat kepada kita.

Tak perlulah menaruh dendam kepada orang yang telah menyakiti kita, tak perlulah selalu memupuk rasa kebencian kepada orang yang selalu memusuhi kita, tak perlulah kita membuang-buang energi hanya untuk orang-orang seperti itu.

Bersabar dan membalas semua yang telah dilakukan dengan kebaikan adalah perbuatan yang jauh lebih mulia dari pada membalas hal yang sama kepada orang-orang yang terus menyakiti dan memusuhi kita.

Percaya bahwa Tuhan Maha Adil, bukan berarti kita juga percaya bahwa Tuhan akan membalaskan segala sakit hati yang dilakukan oleh orang-orang yang memusuhi kita. Jika kita berharap bahwa Tuhan akan membalaskan segala sakit hati kita kepada orang yang memusuhi kita, lantas apa bedanya kita dengan mereka yang memusuhi kita?


Nabi Saw adalah guru bagi kita semua, kita harus belajar bagimana beliau melakukan orang-orang yang secara terang-terangan membenci beliau. Ketika orang yang membenci beliau sakit, beliau malah menjenguknya. Sungguh akhlak yang mulia. Jangan lah berucap “bahwa saya bukan Nabi” tapi satu yamg perlu diingat Nabi pun juga manusia sepeti kalian, itulah alasan kenapa tuhan mengutus nabi dari golongan manusia, tentu dengan harapan bahwa perilaku Nabi dapat dijadikan suri tauladan bagi kita semua, umat manusia terlebih lagi bagi umat islam.
Read more ...

Selasa, 06 Mei 2014

PUISI

Kepada Hati 

Kepada hati yang tersakiti 
Sadarkah engkau semua rasa ini 
Sakitkah engkau ketika dihianati 
Lelahkah engkau terus disakiti 

Kepada hati yang belum terisi 
Masihkah engkau setia menanti 
Masihkah engkau percaya dengan cinta sejati 
Meski cinta sejati hanya ada di alam mimpi 

Kepada hati yang tak pernah lelah mencari tambatan hati. 
Ingatkah bahwa dirimu pernah disakiti 
Ingatkah bahwa dirimu pernah dihianati. 
Sampai kapan engkau akan terus mencari 

Mencari sosok cinta sejati 
Tapi tak pernah mau memahami diri 
Mengorbankan diri sendiri untuk orang yang tak pasti. 
Padahal cinta sejati hanya ada di sinetron telivisi. 
Read more ...

Jumat, 02 Mei 2014

PUISI

            Untuk Pejuang Leglisatif
Kepada pejuang leglisatif
Engkau adalah orang-orang pilihan
Kemenanganmu dalam pemilu
Adalah kemenangan rakyat Indonesia

Namun, Setelah engkau duduk di kursi empuk di senayan
Apakah engkau masih memupuk sikap idealismu?
Apakah engkau masih terus berjuang meski tak ada media yang menyorotimu?
Apakah engkau malah ikut tenggelam dalam lautan kemunafikan?

Sadarilah, bahwa kemenanganmu
Membuat pesaingmu ada yang menjadi depresi
Masih ada juga yang tetap berambisi.
Bahkan seniormu ada juga yang sudah masuk bui.

Aku hanyalah rakyat jelata,
Meski engkau hanya akan sebagai mesin uang partai
Meski misimu hanya untuk memperkaya diri
Hanya satu yang aku minta, Jangan sakiti kami para rakyat jelata dengan sikapmu.

Sikapmu yang berkoar-koar atas nama rakyat
Padahal hanya untuk berkuasa
Kendaraan dan gaya hidupmu yang tidak mencerminkan sikap wakil rakyat
Apakah ini yang engkau namakan sebagai pengabdian kepada rakyat?




Read more ...

Hari Pendidikan Nasional

Hari Pendidikan Nasional
(Sebuah renungan untuk dunia pendidikan di Indonesia)

Mengutip perkatan dari Butet (Sentilun) seniman asal jogja yang sangat pandai bermonolog, dalam acara Mata Najwa, salah satu acara Metro tv yang tayang setiap hari Rabu pukul 20.05 wib, beliau mengatakan “Bagaimana orang bodoh bisa pinter kalo yang masuk UGM saja adalah orang-orang pinter”

Memang begitu kenyataannya, untuk memasuki sekolah unggulan dan perguruan tinggi negeri saja, salah satu cara penerimaan peserta didik, dipilih dari rangking yang tertinggi begitu seterusnya hingga mencapai kuota yang diharapkan untuk peserta didik dalam tahun ajaran yang baru. Alhasil, orang-orang yang dianggap bodoh karena nilai UN-nya kalah bersaing di singkirkan secara administratif. Inilah ketika nilai yang tercantum dalam kertas bernama ijazah dianggap sebagai acuan tingkat kecerdasan seorang anak. Apa yang ini bisa dikatakan adil?

Sekolah seakan hanya menjadi merk dagangan yang hanya menjual nama untuk mengumpulkan siswa-siswi terbaik, kemudian setelah lulus dengan hasil yang baik, mengklaim bahwa itu adalah produk dari sekolah tersebut, tanpa peduli bahwa hasil tersebut diperoleh dari hail kerja keras siswa dengan mengikuti les di tempat bimbel, serta doa orangtua tentunya J

Kemudian apa ini tujuan pendidikan nasional yang katanya “Mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertagwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dab berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan, keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab dan kemasyarakat, (dikutip dari belajarpsikologi.com, berjudul “Tujuan Pendidikan Nasional” Oleh Haryanto, S.Pd).  Akan tetapi kenyataannya? Tujuan pendidikan nasional yang begitu komplek yang meliputi aspek kognitif, konatif, afektif serta nilai-nilai religi, tetapi nilai yang berupa angka-angka merupakan perwujudan dari kognitif yang begitu di dewakan oleh sekolah-sekolah. Lulusan terbaik adalah lulusan dengan nilai yang paling tinggi, sekolah terbaik adalah sekolah yang lulus seratus persen ujian nasional serta dengan nilai rata-rata tertinggi.

Tidaklah pantas saya yang hanya orang bodoh, yaitu seorang mahasiswa tingkat akhir yang maih berjuang untuk lulus mengkritik system pendidikan di negeri ini. Saya hanya berkomentar, tanpa memberikan solusi. Inilah enaknya menjadi penonton, yang bisa berkomentar sesuka hati. Tapi jika kamu ingin mencetak sejarah, maka kamu harus menjadi pemain, bukan penonton, karena penonton seperti saya tidak lebih hanya seorang pecundang yang tidak bisa berbuat apa-apa untuk untuk bangsa ini, kecuali hanya sekedar berkomentar di zaman serba bebas ini. Namun demikian, ijinkan saya untuk menuangkan segala angan saya, meski ini hanya sekedar berandai-andai.  saya membayangkan bahwa sekolah adalah sebuah rumah sakit, tentu yang dinilai adalah sehat dan tidaknya pasien setelah berobat kan? Sebelum masuk keruang dokter akan mendiagnosis apa sebenarnya penyakitnya sehingga dokter akan melakukan serangkaian treatmen berupa suntikan obat yang sesuai dengan penyakitnya. Bisa dibayangkan jika salah mendiagnosis, tentu berakibat dokter juga salah dalam pemberian obat, akibatnya? Bisa jadi pasien tidak sembuh-sembuh, dan kemungkinan terburuk malah tambah parah karena salah obat. Nah kesimpulannya adalah Rumah sakit yang baik adalah ketika dokter-dokter mampu mendiagnosis dengan baik sehingga mampu mengobati atau memberi obat sesuai dengan penyakit yag diderita oleh pasien, dan tidak berakibat fatal dengan kondisi pasien.  Begitu juga dengan sekolah, sekolah yang terbaik bukanlah sekolah sekolah yang hanya mengumpulkan orang pinter, namun sekolah yang bisa mendidik siswa-siswanya yang bisa dikatakan dengan kemampuan rata-rata kemudian menghasilkan lulusan yang terbaik. Itulah sekolah yang berhasil. Jika dalam ekspreimen, pendidikan adalah serangkaian perlakuan, sehingga perlakuan itu dianggap berhasil jika skor post test lebih besar dari pada pre testnya. Mengenai indikatornya, kembali lagi ke tujuan pendidikan nasional, yaitu pendidikan yang mencakup segala aspek, baik itu aspek kognitif, afektif, konatif serta nilai-nilai religi. Sistem peringkat mungkin juga sebaiknya dihapuskan karena hal itu hanya membuat siswa beorientasi pada nilai. Harus diakui untuk sekolah-sekolah dari SD hingga SMP, system mengarahkan siswa agar berorientasi pada nilai, hasil itu dikarena segala sesuatu yang menjadikan acuan adalah nilai, baik itu nilai rapor dan nilai pada selembar kertas bernama ijazah.

Saya kira saya cukupkan saja tulisan ini, karena tulisan ini seakan terus menuju kritik pada system pendidikan di negeri ini, dan sebagai penutup dalam tulisan ini, hari ini tepat tanggal 2 mei, adalah hari pendidikan nasional. Selamat hari pendidikan nasional. Semoga system pendidikan nasional terus berbenah ditengah carut marutnya ujian nasional, laporan bocoran serta kecurangan-kecurangan yang terjadi selama ujian nasional. Dan yang terakhir buat Adik saya yang besok hari senin mengikuti ujian nasional tingkat SMP, semoga sukses dan semoga memperoleh hasil yang terbaik.

Salam.



Read more ...

Buku dan Pendidikan



Perjalanan solo-boyolali kali ini, begitu ramai lancar. Panasnya udara sore itu tak sepanasnya siang hari. Matahari yang sedari siang sangat gagahnya menyinari kota solo tanpa ada awan yang berani menghalangi sinarnya, kini sudah mualai surut seakan termakan oleh kegelapan. Dengan perlengkapan seperti biasa, earphone di telinga sudah terpasang untuk membantu mendengarkan lantunan lagu-lagu yang ada di dalam memori handphone. Tidak seperti biasa, MP3 player yang biasanya saya seting memainkan lagu-lagu secara berurutan, kini saya sengaja seting secara acak. Tentu hal ini saya lakukan agar lagu-lagu yang saya dengarkan tidak membosankan serta berganti-ganti penyanyi maupun genre-nya.

Entah sudah sampai dimana saya lupa, namun yang sangat ingat betul adalah lantunan sebuah lagu yang begitu mengena hati saya. Lagu tersebut mampu memecahkan lamunan saya sepanjang perjalanan. Aneh memang, saya sering melamun ketika berada dijalanan, padahal saya berkendara motor. Lamunan biasanya hanya seputar apa saja yang melintas dalam pikiran saya, dari hal yang paling sederhana sampai hal-hal yang memaksakan saya untuk kembali ke masalalu. Sebuah lagu dari band indie yang sudah terkenal, namun tak pernah aku menjumpainya di tv nasional, meski pernah tayang of air di tv, itu pun ditayangkan oleh siaran tv lokal.

Bait-bait demi bait dinyanyikan dengan lantunan melo membuat suasana perjalanan menjadi ikut melo, kecepatan motorpun menjadi semakin lambat mengikuti lantunan irama melo bait demi bait.
Karena setiapnya lembarnya, mengalir berjuta cahaya
Karena setiap aksara, membuka jendela aksara
Kata demi kata mengantarkan fantasi
Habis sudah, habis sudah
Bait demi bait memicu anestasi
Hangus sudah, hangus sudah
 (Potongan lirik lagu Efek Rumah Kaca, Jangan Bakar Buku)
Begitulah kurang lebihnya lirik lagu yang membuat saya sedikit bergetar, ketika mendengarkan lagu tersebut. Kata pada bait pertama dan kedua “Karena setiapnya lembarnya, mengalir berjuta cahaya, Karena setiap aksara, membuka jendela aksara” kata itu juga yang mampu mengantarkan saya seakan kembali ke masalalu. Judul lagu tersebut adalah “jangan bakar buku, yang di lantunkan oleh band indie bernama “Efek Rumah Kaca, biasa dipanggil ERK. Lagu tersebut bercerita tentang buku, menjadi menarik memang, karena buku yang merupakan sumber ilmu, bahkan ada yang mengatakan buku adalah jendela dunia. Memang harus diakui bahwa buku adalah jendela dunia, kita juga bisa belajar dari pengalaman orang-orang hebat di dunia ini hanya dengan membaca buku, baik berupa biografi maupun kisah-kisah perjalanan hidup. Memang saya awalnya suka membaca buku, tapi bukan biografi maupun novel maupun kumpulan essay, tapi buku pelajaran. Iya, buku pelajaran sekolah yang sering saya baca, tentu dengan maksud agar materi pelajaran bisa saya pahami serta tidak ada yang namanya sistem kebut semalam yang akan menyaingi Bondung Bandowoso membangun candi dengan waktu semalam, yaitu dengan mempelajari materi ujian sekolah dalam semalam.

Beruntunglah masuk kelas 2 SMA sudah langsung masuk ke penjurusan sehingga setidaknya pelajaran IPS yang begitu mengharuskan banyak membaca sudah tereliminasi karena kebetulan saya terdampar dalam jurusan IPA. Meski pelajaran IPA identik dengan pelajaran eksakta dengan rumus-rumus serta hitungan-hitungan. Dulu saya menikmati hal itu, meski saat ini dalam hati saya selalu bertanya apa manfaat yang saya peroleh dengan pelajaran terus dijejali dengan rumus-rumus matematika, kimia, fisika, serta hafalan-hafalan dalam pelajaran biologi. Belum lagi mata pelajaran yang tidak di UN-kan. Seperti sejarah, PKN, Agama dll. Seperti yang saya katakan sebelumnya pada saat itu saya tidak mengalami yang namanya tekanan atau merasa terbebani karena semua itu saya jalani dengan senang. Kalian pasti tahu apa motifnya? Hanya lembaran-lembaran hasil Ujian Akhir Semester yang dikumpulkan menjadi buku yang bernama nilai Rapor Siswa. Iya, hanya itu yang ada dalam pikiran saya ketika menjalani kehidupan semasa sekolah.  Semakin mendekati Ujian Nasional (UN), kumpulan nilai-nilai yang bernama rapor tersebut seakan menjadi tak ada gunanya kecuali hanya sebatas formalitas,karena hanya selembar kertas yang ada di otak saya kala itu. Saya juga heran kenapa hanya kertas-kertas itu yang mampu membuat saya menjadi sangat rajin belajar dengan membaca buku-buku pelajaran. Saya menyesal mengapa kala itu saya terlalu menganggap tiada yang lebih penting daripada buku-buku pelajaran. Serta menganggap novel, biografi, serta kumpulan essay hanya sebagai buaian kata-kata yang hanya ingin meraup pundi-pundi rupiah dari hasil royalti buku-buku mereka.

Buku-buku pelajaran semasa sekolah pun hingga saat ini masih ada yang tersimpan dalam kardus, entah mengapa saya enggan menjual ke tukang loak yang hanya dihargai secara kiloan, tanpa tahu ada ilmu di dalam buku-buku itu. Saya pikir-pikir banyak juga buku-buku paket semasa sekolah. Ada buku kimia, biologi, fisika, matematika, serta buku pelajaran lainnya. Saya berpikir lebih jauh lagi apa manfaat yang saya ambil setelah otak saya diperkosa untuk mempelajari buku-buku pelajaran itu. Saya menjadi bertanya-tanya pada sistem pendidikan di negeri ini, apakah tujuan utama dari pendidikan adalah dengan memperkosa otak-otak anak didik agar menjadi seorang yang ahli matematika sekaligus fisika, kimia, biologi serta mata pelajaran lainnya dalam waktu yang bersamaan? Namun apakah ambisi sistem pendidikan negeri ini sudah tercapai? Silakan Anda jawa sendiri, tak perlulah saya paparkan data-data statisktik, di samping saya tidak mempunyai data-data tersebut, saya juga tidak cakap dalam membaca data-data statistic.

Menjadi ironis memang, sekarang saya lebih suka membaca buku-buku fiksi seperti novel, kemudian kisah-kisah tokoh seperti biografi, serta essay-essay, yang saya anggap mampu merubah pola pikir. Buku-buku seperti itulah yang mampu membuat saya lebih tergugah dan bersikap lebih dewasa. Memang bukan hanya buku bacaan yang membuat lebih dewasa, faktor usia juga sangat berpengaruh dengan pola pikir seseorang.

Hari ini tepat tanggal 2 mei, kalian pasti tahu bahwa hari ini adalah hari pendidikan nasional. Merayakan pendidikan bukan hanya dengan upacara bendera, namun lebih ke makna dari pendidikan itu sendiri. Sebagai penutup pendidikan tidak hanya di sekolah, karena ilmu bukan hanya di sekolah. Kalian bisa belajar di mana saja, belajar juga tidak harus dari buku, kalian juga bisa belajar di jalanan yaitu belajar dari pengalaman orang lain.

Selamat hari pendidikan nasional, 
Read more ...