Jumat, 02 Mei 2014

Buku dan Pendidikan



Perjalanan solo-boyolali kali ini, begitu ramai lancar. Panasnya udara sore itu tak sepanasnya siang hari. Matahari yang sedari siang sangat gagahnya menyinari kota solo tanpa ada awan yang berani menghalangi sinarnya, kini sudah mualai surut seakan termakan oleh kegelapan. Dengan perlengkapan seperti biasa, earphone di telinga sudah terpasang untuk membantu mendengarkan lantunan lagu-lagu yang ada di dalam memori handphone. Tidak seperti biasa, MP3 player yang biasanya saya seting memainkan lagu-lagu secara berurutan, kini saya sengaja seting secara acak. Tentu hal ini saya lakukan agar lagu-lagu yang saya dengarkan tidak membosankan serta berganti-ganti penyanyi maupun genre-nya.

Entah sudah sampai dimana saya lupa, namun yang sangat ingat betul adalah lantunan sebuah lagu yang begitu mengena hati saya. Lagu tersebut mampu memecahkan lamunan saya sepanjang perjalanan. Aneh memang, saya sering melamun ketika berada dijalanan, padahal saya berkendara motor. Lamunan biasanya hanya seputar apa saja yang melintas dalam pikiran saya, dari hal yang paling sederhana sampai hal-hal yang memaksakan saya untuk kembali ke masalalu. Sebuah lagu dari band indie yang sudah terkenal, namun tak pernah aku menjumpainya di tv nasional, meski pernah tayang of air di tv, itu pun ditayangkan oleh siaran tv lokal.

Bait-bait demi bait dinyanyikan dengan lantunan melo membuat suasana perjalanan menjadi ikut melo, kecepatan motorpun menjadi semakin lambat mengikuti lantunan irama melo bait demi bait.
Karena setiapnya lembarnya, mengalir berjuta cahaya
Karena setiap aksara, membuka jendela aksara
Kata demi kata mengantarkan fantasi
Habis sudah, habis sudah
Bait demi bait memicu anestasi
Hangus sudah, hangus sudah
 (Potongan lirik lagu Efek Rumah Kaca, Jangan Bakar Buku)
Begitulah kurang lebihnya lirik lagu yang membuat saya sedikit bergetar, ketika mendengarkan lagu tersebut. Kata pada bait pertama dan kedua “Karena setiapnya lembarnya, mengalir berjuta cahaya, Karena setiap aksara, membuka jendela aksara” kata itu juga yang mampu mengantarkan saya seakan kembali ke masalalu. Judul lagu tersebut adalah “jangan bakar buku, yang di lantunkan oleh band indie bernama “Efek Rumah Kaca, biasa dipanggil ERK. Lagu tersebut bercerita tentang buku, menjadi menarik memang, karena buku yang merupakan sumber ilmu, bahkan ada yang mengatakan buku adalah jendela dunia. Memang harus diakui bahwa buku adalah jendela dunia, kita juga bisa belajar dari pengalaman orang-orang hebat di dunia ini hanya dengan membaca buku, baik berupa biografi maupun kisah-kisah perjalanan hidup. Memang saya awalnya suka membaca buku, tapi bukan biografi maupun novel maupun kumpulan essay, tapi buku pelajaran. Iya, buku pelajaran sekolah yang sering saya baca, tentu dengan maksud agar materi pelajaran bisa saya pahami serta tidak ada yang namanya sistem kebut semalam yang akan menyaingi Bondung Bandowoso membangun candi dengan waktu semalam, yaitu dengan mempelajari materi ujian sekolah dalam semalam.

Beruntunglah masuk kelas 2 SMA sudah langsung masuk ke penjurusan sehingga setidaknya pelajaran IPS yang begitu mengharuskan banyak membaca sudah tereliminasi karena kebetulan saya terdampar dalam jurusan IPA. Meski pelajaran IPA identik dengan pelajaran eksakta dengan rumus-rumus serta hitungan-hitungan. Dulu saya menikmati hal itu, meski saat ini dalam hati saya selalu bertanya apa manfaat yang saya peroleh dengan pelajaran terus dijejali dengan rumus-rumus matematika, kimia, fisika, serta hafalan-hafalan dalam pelajaran biologi. Belum lagi mata pelajaran yang tidak di UN-kan. Seperti sejarah, PKN, Agama dll. Seperti yang saya katakan sebelumnya pada saat itu saya tidak mengalami yang namanya tekanan atau merasa terbebani karena semua itu saya jalani dengan senang. Kalian pasti tahu apa motifnya? Hanya lembaran-lembaran hasil Ujian Akhir Semester yang dikumpulkan menjadi buku yang bernama nilai Rapor Siswa. Iya, hanya itu yang ada dalam pikiran saya ketika menjalani kehidupan semasa sekolah.  Semakin mendekati Ujian Nasional (UN), kumpulan nilai-nilai yang bernama rapor tersebut seakan menjadi tak ada gunanya kecuali hanya sebatas formalitas,karena hanya selembar kertas yang ada di otak saya kala itu. Saya juga heran kenapa hanya kertas-kertas itu yang mampu membuat saya menjadi sangat rajin belajar dengan membaca buku-buku pelajaran. Saya menyesal mengapa kala itu saya terlalu menganggap tiada yang lebih penting daripada buku-buku pelajaran. Serta menganggap novel, biografi, serta kumpulan essay hanya sebagai buaian kata-kata yang hanya ingin meraup pundi-pundi rupiah dari hasil royalti buku-buku mereka.

Buku-buku pelajaran semasa sekolah pun hingga saat ini masih ada yang tersimpan dalam kardus, entah mengapa saya enggan menjual ke tukang loak yang hanya dihargai secara kiloan, tanpa tahu ada ilmu di dalam buku-buku itu. Saya pikir-pikir banyak juga buku-buku paket semasa sekolah. Ada buku kimia, biologi, fisika, matematika, serta buku pelajaran lainnya. Saya berpikir lebih jauh lagi apa manfaat yang saya ambil setelah otak saya diperkosa untuk mempelajari buku-buku pelajaran itu. Saya menjadi bertanya-tanya pada sistem pendidikan di negeri ini, apakah tujuan utama dari pendidikan adalah dengan memperkosa otak-otak anak didik agar menjadi seorang yang ahli matematika sekaligus fisika, kimia, biologi serta mata pelajaran lainnya dalam waktu yang bersamaan? Namun apakah ambisi sistem pendidikan negeri ini sudah tercapai? Silakan Anda jawa sendiri, tak perlulah saya paparkan data-data statisktik, di samping saya tidak mempunyai data-data tersebut, saya juga tidak cakap dalam membaca data-data statistic.

Menjadi ironis memang, sekarang saya lebih suka membaca buku-buku fiksi seperti novel, kemudian kisah-kisah tokoh seperti biografi, serta essay-essay, yang saya anggap mampu merubah pola pikir. Buku-buku seperti itulah yang mampu membuat saya lebih tergugah dan bersikap lebih dewasa. Memang bukan hanya buku bacaan yang membuat lebih dewasa, faktor usia juga sangat berpengaruh dengan pola pikir seseorang.

Hari ini tepat tanggal 2 mei, kalian pasti tahu bahwa hari ini adalah hari pendidikan nasional. Merayakan pendidikan bukan hanya dengan upacara bendera, namun lebih ke makna dari pendidikan itu sendiri. Sebagai penutup pendidikan tidak hanya di sekolah, karena ilmu bukan hanya di sekolah. Kalian bisa belajar di mana saja, belajar juga tidak harus dari buku, kalian juga bisa belajar di jalanan yaitu belajar dari pengalaman orang lain.

Selamat hari pendidikan nasional,