Rabu, 14 Mei 2014

Kemerdakaan Setan


Setan, pertama mendengarkan kata setan, pertama kali yang terbayang adalah sesosok makhluk yang menyeramkan yang hidup di dunia lain, yang terkadang narsis juga menampakan diri kepada manusia. Sebelum lebih jauh bicara soal setan, ada yang perlu diketahui, bahwa saya bukanlah seorang indigo, yaitu manusia yang (katanya) bisa melihat sosok setan atau hantu. Tak perlulah saya menjadi seorang indigo atau membuka mata batin saya untuk melihat sosok-sosok setan yang (katanya) wujudnya menyeramkan, karena dengan mata normal saja saya sudah sangat puas dengan melihat berbagai makhluk ciptaan Tuhan, wanita misalnya J

Saya juga bukan salah satu tim pemburu hantu atau setan, namun saya hanyalah seorang pecundang yang lebih enjoy menuliskan hal-hal yang menurut saya aneh dan patut untuk dibicarakan melalui tulisan. Tulisan yang memang tak berharap ada yang membaca. Karena saya tahu, bahwa saya adalah penulis sekaligus pembaca atas tulisan-tulisan saya. Jika ada yang membaca tulisan saya, bisa dipastikan bahwa ia sedang nyasar ke blog saya ini.

Kembali lagi soal setan, sebanarnya setan adalah produk dari budaya, karena visualisasi atau karakter setan istilah dalam film animasinya, berbeda-beda. Jangankan antar Negara, antara daerah yang satu dengan daerah yang lain saja terkadang berbeda-beda. Menurut saya setan adalah produk budaya yang berasal dari cerita dari mulut ke mulut, dan dalam perkembangan zaman timbul lah ide untuk memvisualisasikan dalam bentuk film.

Setan kini telah merdeka dengan status mereka.  Betapa tidak, sekarang setan sudah tak seseram dahulu lagi, sepertinya manusia sudah mulai berpikir bahwa visualisasi dari setan adalah prosuk dari pikiran manusia itu sendiri, bisa jadi apa yang divisualisasikan setan seperti yang ada dalam film-film horror di Indonesia adalah bentuk kreatifitas manusia melalui imajinasinya, sehingga terbentuklah karakter setan, seperti kuntil anak, pocong, suster ngesot, hantu tanah kusir dan masih banyak lagi. Setan juga sudah tak dijadikan kambing hitam lagi dengan mengatasnamakan setan setiap terjadi kebiadaban tingkah laku manusia dengan bersembunyi dibalik kata “khilaf”. Setiap perbuatan manusia yang menyimpang moral dan berbau asusila selalu di indentikan dengan perbuatan setan, salah apa setan sebenarnya? Saya jadi teringat dengan guyonan Emha ketika dalam suatu acara, “Setan itu curhat dengan saya, katanya sekarang malah pada nggak ada kerjaan, lha wong anggota dewan disuruh setan ambil uang rakyat 5 milyar saja, tapi yang diambil malah 10 Milyar” lucu memang, tapi hal itu menunjukan bahwa tak perlulah setan capek-capek menggoda manusia untuk berbuat keji dan mungkar, karena dalam hati manusia itu sendiri tumbuh benih-benih keserakahan. Dunia menjadi hal yang utama bagi manusia karena dunia adalah sesuatu yang nyata dan akherat adalah hal yang semu, padahal akherat yang katanya semu itu malah menyimpan dunia yang kekal, sedangkan dunia yang menurut manusia adalah hal yang nyata ini, sesungguhnya hanya sementara.  Maaf saya tidak bermaksud mau pengajian ya J

Setan kini merdeka, kenapa saya berani bilang merdeka? Karena saya menganggap setan sedikit demi sedikit sudah menghilang efek seram dari setan itu sendiri. Yang ada, setan sekarang malah identik dengan makanan pedas, lihat saja ada bakso setan, rawon setan, mia ayam setan, mie setan, tidak hanya hanya itu sekarang ada juga es pocong. Betapa bahagianya setan-setan ketika nama-namanya malah bisa dijadikan nilai jual untuk nama-nama makanan. Bisa dibayangkan jika setan-setan itu menarik roayalty atas nama mereka yang digunakan sebagai merk dagang, berapa duit setan akan meraup pundi-pundi rupiah dari hasil royalty tersebut? Untuk saja setan bukan seperti manusia yang terkadang  men-Tuhankan uang. Lagian setan juga nggak butuh uang juga kan.

Betapa setan akan merayakan suka cita ini ketika mereka tahu bahwa apa yang divisualisasikan oleh manusia tentang spesiesnya sudah tidak lagi membuat manusia ketakutan. Mereka para produser film telah berhasil membuat apa yang divisualisasikan tentang setan melekat pada pikiran penonton, termasuk saya sendiri. Apa yang ada di dalam pikiran saya ketika saya sedang berada di dalam kamar mandi tengah malam, ketika saya berjalan sendiri di tempat yang sepi, semua tidak bisa lepas dari apa yang saya tonton ketika saya menonton film-film horor itu. Mereka para sineas film mampu menjual ketakutan para penonton, karena sejatinya apa yang dibeli oleh penonton bukanlah hiburan melainkan sebuah karakter setan, layaknya karakter dalam sebuah film animasi yang menetap dalam ingatan seseorang.

Dalam hati saya ada sedikit pertanyaan, bagaimana seandainya ketika masih kecil anak-anak tidak di jejali dengan cerita-cerita horor, kemudian diberi visualisasi tentang setan sebagi karakter yang lucu layaknya film kartun, mungkin setan bukanlah sosok yang menakutkan lagi.

Selamat kepada setan-setan, meski saya sendiri secara pribadi belum melihat akan penampakan setan, saya juga tidak ingin melihat penampakanmu. Cukuplah apa yang saya lihat adalah makhluk-makhluk ciptaan Tuhan yang dibuat untuk bisa dilihat manusia. Mengenai orang-orang yang katanya mampu melihat hantu atau setan, serta mampu membuka mata batin seseorang kemudian bisa melihat, saya tidak tertarik dengan hal itu. Karena bagi saya, terlepas benar dan tidaknya setan yang mereka lihat, pasti ada tujuannya. Dan saya hingga saat ini belum tahu apa manfaatnya bisa melihat hantu, kecuali bisa shooting di acara mister tukul jalan-jalan dan masih dunia lain.


Sekian dan terima kasih J