Selasa, 27 Mei 2014

Memonopoli Makna Puisi


Sudah lama saya posting di blog pribadi saya ini. Dan hari itu dengan penuh keisengan saya ingin sesuatu yang baru dalam hal menulis di blog. Saya putuskan saat itu membuat akun di kompasiana, karena saya lihat di situ banyak para bloger yang masih aktif, meski kata sahabat saya, bahwa kompasiana sudah tidak seramai dulu dalam hal pembacanya. Namun kala itu lagi ramai-ramainya kampanye pileg jadi tulisan mengenai  isu-isu politik sangat mudah di temui. Saya juga sempat menulis tentang isu politik dengan bahasa yang tidak langsung mengarah, melainkan dengan sebuah perumpaan, bisa di cari dengan judul “Bukan Dongeng Politik” karena selain saya posting di kompasiana juga saya posting di akun facebook serta blog saya ini.

Banyak kelebihan sebenarnya dalam kompasiana, namun entah kenapa saya masih merasa nyaman dengan blogspot ini, karena selain penampilan yang sederhana, yang pasti tidak akan ada iklan yang terus berseliweran dimana-mana.

Setelah akun kompasiana sudah jadi, tidak langsung saya posting tulisan-tulisan saya yang sudah ada, karena niat dalam hati hanya tulisan-tulisan tertentu saja yang akan saya posting di kompasiana.

Dan pada suatu saat, saya membuat puisi yang berdasarkan atas lamunan sesaat serta kondisi yang ada. Saya membuat puisi tersebut karena saya dalam keadaan bingung karena tidak ada kerjaan. Setelah puisi jadi, saya kebingungan untuk menentukan judul apa yang tepat untuk puisi baru saya. Kemudian saya kirim melalui BBM kepada teman sekaligus sahabat saya, agar dia bisa memberi saya saran atas judul puisi tersebut. Tidak lama kemudian di membalas bahwa judul puisi yang dia sarankan adalah “Tipu Muslihat Tempe Kelabui Lalat”. Awalnya saya menyanggupi untuk menggunakan judul dari saran teman saya tersebut. Dan ketika akan saya posting di kompasiana, dalam pikiran saya langsung tergerak untuk mengubah judul puisi saya tersebut. Karena momen politik sedang moncer-moncernya merajai pemberitaan di seluruh media nasional, saya mengganti puisi tersebut dengan “Politik Tempe Kelabui Lalat”. Harapan saya mengganti dengan judul tidak lain hanyalah untuk menarik minat pembaca. Untuk merefresh lagi puisi saya tersebut, saya akan repost kembali, berikut puisi politik tempe kelabui lalat
“Politik Tempe Kelabuhi Lalat”
Jaman sudah mulai sedikit edan 
Tempe menjadi nampak daging 
Daging bisa nampak menjadi tempe 
Persepsi masyarakat bisa dibentuk 
Opini publik bisa diarahkan 

Aku miris melihat semua ini 
Banyak lalat yang mengkrubungi daging 
Padahal yang dikrubungi adalah tempe 
Daging yang sejatinya jauh lebih enak dan bergizi 
Seakan nampak hanya sepotong tempe 

Banyak lalat menyanjung-nyanjung daging yang sejatinya adalah tempe 
Tempe hanya dilirik beberapa lalat, padahal sejatinya itu adalah daging 
Semua lalat berkeyakinan bahwa apa ia makan adalah daging 
Padahal justru yang banyak dikerubungi adalah tempe 

Saya sangat salut kepada beberapa lalat yang tetap mengkrubungi tempe yang sejatinya adalah daging 
Mereka tidak terkecoh oleh apapun 
Mereka tidak tertarik pada opini serta persepsi kebanyakan lalat 
Karena yang ia pegang adalah kebenaran bukan hanya opini apalagi persepsi.

                                                                      Oleh Riki Sholikin
Ketika saya sudah memposting, memang tidak banyak yang membaca, namun bagiku itu tidak apa-apa, karena menulis dan berpuisi bukanlah hal yang menurut saya untuk menjadikan saya sesuatu, melainkan hanya sekedar agar otak saya tidak menganggur saja.
Beberapa saat kemudian ada komentar atas puisi saya tersebut, saya sangat mengapresiasi kepada beliau karena telah sudi untuk membaca puisi saya. Dan saya tidak akan memberikan atau menyebutkan nama asli yang bersangkutan, karena saya berusaha untuk menjunjung tinggi etika. Beliau berkomentar tentang makna yang ada dalam puisi saya. Intinya beliau mengartikan bahwa yang dimaksud tempe dan daging dalam puisi tersebut mengarah pada figure politik, yang kebetulan sesuai dengan terkaan beliau bahwa keduanya maju dan bertarung dalam pilpres mendatang. Figure politik yang beliau maksud adalah Jokowi dan Prabowo. Beliau menganggap bahwa “Tempe” dalam puisi tersebut mengarah pada Jokowi, sedangkan “Daging” mengarah pada Prabowo. Entah ini sangat kebetulan ataukah prediksi beliau mengenai pertarungan pilpres yang sangat moncer. Selain berkomentar dalam tulisan komentarnya, kurang lebih begini ”bahwa tidak apalah rakyat lebih memilih tempe, jika hanya dengan tempe saja sudah bisa merasa kenyang, daripada daging selain harganya yang jauh lebih mahal ada beberapa penyakit yang disebabkan karena makan daging”. Di akhir kalimat beliau juga tidak menyebutkan bahwa beliau bukanlah pendukung atau simpatisan Jokowi.

Menanggapi hal tersebut saya langsung mengucapkan banyak terima kasih kepada beliau yang telah bersedia membaca dan merespon puisi saya tersebut. Namun apakah maksud dari puisi yang beliau komentarkan tersebut sesuai dengan apa yang ada di otak saya ketika menulis, kata demi kata kemudian saling bertemu menjadi sebuah baris yang tersusun dalam sebuah puisi yang bisa dikatakan sangat sederhana itu. Tentu saja tidak, saya tidak akan memonopoli makna atas puisi saya tersebut, bahkan untuk puisi-puisi yang lain. Puisi bukanlah mengenai apa yang benar dan apa yang salah, tapi lebih bagaimana cara manusia dalam memandang sesuatu. Tentu saya tidak akan memaksa bahwa apa yang saya lihat harus sama dengan apa yang orang lain lihat. Berpuisi bagi saya bukanlah mengharuskan bahwa orang lain juga mengartikan  makna puisi harus sesuai dengan apa yang saya maksudkan. Memaknai puisi tidak seperti halnya dengan ujian yang menganggap salah jika makna puisi tidak sesuai dengan apa yang ada di dalam otak saya selaku pembuat puisi tersebut.


Setiap manusia memiliki cara pandang yang berbeda-beda dalam melihat segala sesuatu, hal itu mungkin dipengaruhi oleh beberapa factor, bisa pengalaman hidup, referensi yang ia baca, kemudian fenomena apa yang terjadi di lingkungan sekitar, sedangkan dari beberapa factor tersebut tidak semua orang mengalami hal yang sama. Dengan alasan itu lah saya tidak akan pernah memonopoli makna atas puisi saya. Saya akan berusaha menyimpan rapat-rapat makna puisi tersebut. Dan saya juga tidak akan mengatakan apa yang ada di dalam otak saya pada saat saya menulis puisi tersebut,  karena dengan begitu artinya saya telah membiarkah makna atas puisi terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman, karena makna atas puisi tidak akan pernah termakan zaman, makna sebuah puisi akan terus mengikuti zaman.