Senin, 30 Juni 2014

Catatan Ramadhan #3

"BERPUASA"

Berpuasa
Adalah cara kita untuk mencapai taqwa

Bukan sekedar menahan lapar dan haus. Tapi lebih dari sekedar itu

Berpuasa adalah menjaga lesan ini agar senantiasa lebih banyak diam dari kata yang penuh fitnah, kebohongan, hujatan, serta hanya berbicara pada hal-hal yang bermanfaat

Berpuasa adalah menjaga mata ini agar senantiasa lebih sering menundukan kepala agar terhindar dari memandang hal-hal yang tak patut untuk di pandang

Berpuasa adalah menjaga pendengaran agar telinga ini mendengarkan hal-hal yang bermanfaat seperti halnya firman-firman Allah Swt

Berpuasa adalah menjaga nafsu kelamin, termasuk bagi mereka yang telah bersuami istri untuk mengendalikan diri  hingga malam hari.

Berpuasa adalah apa yang ada di dalam pikiran terhindar dari pemikiran-pemikiran kotor yang mengundang syahwat, serta berusaha untuk selalu berpikir untuk selalu berdzikir kepada Allah


3 Ramadhan 1435H
Read more ...

Ramadhan dan Meriam Bambu

Hari ini tepat hari ke tiga bulan ramadhan bagi saya dan sebagian warga Indonesia yang berkeyakinan bahwa awal ramadhan jatuh pada hari sabtu tanggal 28 Juni 2014. Hari ini saya putuskan untuk main ke tempat Mbah, sebuah desa di pinggiran kota Sukoharjo. Disitulah saya menghabiskan sebagian masa kecil saya. Seperti anak desa pada umumnya bermain adalah suatu kegiatan wajib dalam keseharian. Bahkan tiada hari tanpa bermain. Sekedar mengingat kembali masa kecil, selalu ada saja permainan yang akan dimainkan secara bersama-sama. Dan permainan itu jika di amati ternyata layaknya buah yang ada masa panennya. Misalnya ada musim bermain petak umpet (bahasa jawa : delikan). musim kelereng, musim bermain gambar, musim bentik, betengan, ketika liburan dan musim setelah panen kedelai akan ada musim berburu jangkrik serta ada juga musim layangan. Namun entah jaman seperti itu masih ada atau tidak, yang jelas akan ada saatnya kita semua rindu dengan permainan masa kecil kita, ketika teknologi dalam bentuk game virtual  belum seperti saat ini. Bukan berarti game-game modern tidak bermanfaat sama sekali, namun yang jelas permainan tradisional yang sering dianggap jadul, jauh lebih bermanfaat. Tentu bermanfaat untuk tumbuh kembang anak, baik itu dari segi motorik atau fisik, kognitif serta sosio-emosional si anak.

Untuk bulan ramadhan sendiri karena mayoritas berpuasa maka mainan yang sering dimainkan sejak sehabis shubuh adalah permainan yang tidak melibatkan aktifitas fisik yang berlebihan, seperti bermain petasan misalnya. Saya ingat betul ketika saya dan teman-teman masa kecil saya ketika berangkat sholat shubuh bisa ditebak apa yang ada di dalam kantong atau saku kami. Iya, tidak lain adalah petasan lengkap dengan korek api.

Sehabis sholat shubuh biasanya masih ada kuliah shubuh dan setelah ditutup dengan salam, kami pasukan petasan langsung berjalan menuju rute yang telah disepakati bersama untuk melakukan agresi petasan. Begitulah kegiatan saya beserta teman-teman saya lakukan semasa kecil.

Ngomongin masalah bermain petasan, saya juga pernah mengalami kecelakaan ketika saya menyalakan petasan dengan memegang petasan serta melempar ketika api sudah mendekati sumbu, namun karena lupa melepaskan ketika sumbu sudah dekat. Dan akhirnya petasan meledak di tangan kanan saya. Ketika meledak ditangan tangan ini rasanya menjadi tremor dan karena ledakan begitu dekat dengan telinga hingga saya mengalami bindeng atau budek sebelah serta terus terdengar mendengung. Saat itu juga saya mulai kapok dengan petasan. Petasan dulu bukan seperti sekarang karena ledakan lebih besar, tidak seperti sekarang yang kebanyakan yang beredar adalah petasan cabe.

Selain bermain petasan dengan bahan mercon yang sangat mudah di beli di warung, saya dan teman kecil saya juga bermain dengan meriam bambu atau meriam jawa (bahasa jawa : long bumbung). Meski ini adalah permainan masa kecil saya dulu, namun kemaren ketika saya sedang jalan-jalan dekat rumah saya melihat ada beberapa anak kecil yang sedang bermain meriam bambu. Ketika saya melihatnya, langsung saya teringat betapa permainan itu adalah permainan favorit saya dulu selama bulan ramadhan.

Meriam bambu atau long bumbung dalam bahasa jawanya, adalah permainan saya saat masih kecil. Dari awalnya belum bisa bikin sendiri hingga bisa membuat sendiri. Membuat meriam bambu bisa dikatakan mudah, hanya dengan bambu (pring ori bahasa jawanya) dan usahakan jangan bagian pucuk yang dipakai karena semakin ke bawah maka semakin kuat meriam bambunya, tentu akan menghasilkan bunyi yang keras dan tahan lama. Bambu tersebut dipotong kurang lebih 2 meter dan di beri lubang kecil berdiameter 1,5 cm untuk menyalakan api, serta bagian dalam bambu (bagian ros) di lubang namun bagian bawah jangan dilubang, karena disitulah tempat untuk menampung minyak.

Permainan yang sederhana, hanya dengan minyak tanah sebagai bahan bakar. Untuk hasil ledakan yang sangat kencang bisa digunakan karbit. Namun saya sarankan untuk hanya sekedar bermain cukup dengan minyak tanah saja, karena dengab bahan karbit akan menghasilkan ledakan yang kencang dan tidak bisa dipungkiri jika cuma asal menaruh karbit tanpa tahu takaran bisa-bisa bambu bisa pecah terbelah karena ledakan yang besar. Oleh karena itu untuk bermain dengan karbit baru saya mainkan ketika saya sudah beranjak dewasa.

Sekedar share permainan semasa kecil dan mengenang kembali masa kecil ketika bermain adalah kewajiban, karena bermain bagi anak kecil adalah proses belajar yang tak pernah diajarkan di bangku sekolah.


Terima kasih
Read more ...

Sabtu, 28 Juni 2014

Catatan Ramadhan #2


Sore ini langit sore mulai hujan, padahal sebelumnya langit nampak cerah, cahaya matahari sebelumnya juga sangat cerah memancarkan sinarnya. Hujan sore ini bisa dibilang adalah hujan pertama di bulan ramadhan tahun ini, tentu untuk yang berkeyakinan bahwa awal ramadhan jatuh pada hari ini sabtu 28 juni 2014. Saya salah satu diantara banyak warga Indonesia yang mengawali puasa pada hari sabtu 28 juni 2014 ini.

Kali ini seperti biasa setiap weekend saya biasanya sudah di rumah, namun kali ini Tuhan berkata lain, Tuhan telah menurunkan berkahnya dengan menurunkan hujan pada awal ramadhan ini hingga membuatkanku tertahan di solo. Dari pada hanya bengong dan melamun sambil menunggu maghrib (bahasanya kerennya ngabuburit) saya lebih suka untuk menulis di blog. Entah apa yang akan saya tulis kali ini, karena selepas shubuh tadi pagi saya juga melakukan hal yang sama, yaitu ngeblog.

Tidak ada yang terlintas dalam pikiranku saat menulis ini, aku hanya mencoba untuk memunculkan kembali tentang apa yang ingin aku tulis. Namun di selimuti kedinginan setelah hujan aku coba menyalakan computer dan menulis kata demi kata yang belum tahu kemana arah tulisan ini.

Saat itu yang ada di dalam otakku adalah awal puasa yang tak biasa, seharian ini aku tidak banyak melakukan kegiatan apapun kecuali hanya menonton film serta menulis di blog ini. tidak heran jika sudah hampir jam 5 sore aku masih merasakan bahwa tubuh ini tidak merasakan rasa lemas sama sekali. Puasa hanya menahan lapar dan haus bukanlah hal yang sulit untuk saya lakukan, mengingat usia yang sudah beranjak dewasa. Puasa mengendalikan diri dari mulai mata, telinga, mulut, syahwat dan pikiran adalah puasa yang sebenar-benarnya berpuasa untuk mencapai derajad taqwa.

Masalah yang pernah aku dengar dari celutukan orang adalah menghormati yang berpuasa, kata itu sering saya dengar dengan kata atau anjuran untuk menghormati orang yang berpuasa. Orang berpuasa saya kira tidak akan ada yang mengemis untuk di hormati semacam itu, justru sebaliknya kita orang-orang yang sedang berpuasalah yang menghormati orang lain yang tidak berpuasa. Tidak berpuasa pada bulan ramadhan bukan berarti mereka bukan orang islam, bisa saja mereka adalah orang islam namun karena ada halangan sehingga boleh untuk tidak berpuasa dengan alasan yang dibenarkan menurut islam tentunya. Misalnya wanita yang sedang datang bulan, orang yang sedang berusia lanjut, kemudian karena suatu penyakit atau masalah kesehatan jika berpuasa di khawatirkan akan membuat kesehatan malah menjadi semakn buruk.  

Selain itu kita juga menghormati penganut agama lain yang tidak berpuasa, karena berpuasa pada bulan ramdhan adalah kewajiban kita sebagai umat islam. Daripada kita mengemis untuk dihormati alangkah baiknya kita yang menghormati mereka-mereka yang tidak berpuasa. Berpuasa adalah ibadah, apakah masuk akal hanya gara-gara melihat orang makan kemudian kamu terpengaruh untuk makan. Bisa saja itu terjadi, namun itu hanya terjadi pada anak-anak kecil yang baru belajar berpuasa, jika ada orang dewasa yang begitu, mungkin dia juga bisa dikatakan baru belajar berpuasa hingga godaan kecil seperti itu saja bisa tergoda untuk membatalkan puasa.  

Tulisan mengenai saling menghormati baik yang berpuasa dan tidak berpuasa sebenarnya sudah pernah saya tulis satu tahun yang lalu, tulisan yang juga saya posting di blog ini juga saya beri judul “saling (menuntut) menghormati” kalo tidak salah. Berikut link nya http://kangriki.blogspot.com/2013/07/saling-menuntut-menghormati.html

Akhir catatan, karena waktu sudah mendekati jam berbuka puasa untuk wilayah solo dan sekitarnya, saya cukupkan saja tulisan ini, pada intinya adalah sebagai umat muslim yang sedang berpuasa pada bulan ramdhan, puasa pada bulan ramadhan adalah suatu kewajiban untuk mencapai derajat taqwa, tidak perlulah mengemis untuk mengormati orang yangsedang berpuasa, namun kitalah yang harus menghormati mereka yang tidak berpuasa, entah itu sesama umat muslim yang sedang tidak berpuasa ataupun umat dari penganut agama lain.


Akhir kata, selamat berbuka puasa bagi yang menjalankan puasa J

1 Ramadhan 1435H
Read more ...

Catatan Ramadhan #1


Hari ini, sabtu 28 juni 2014 bertepatan dengan tanggal 1 ramadhan. Seperti halnya tahun-tahun sebelumnya kali ini masih terjadi perbedaan dalam penentuan tanggal 1 ramadhan antara pemerintah melalui majelis ulama Indonesia dengan salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia. Saya tidak ingin berkomentar dalam hal ini. Saya menganggap bahwa masing-masing ormas punya dasar yang sama-sama kuat dalam menentukan awal ramdhan, baik itu dengan metode hisab maupun dengan rukyatul hilal. Jalan satu-satunya adalah kembalikan lagi kepada Allah dengan melakukan puasa sesuai dengan keyakinan masing-masing dan biarkanlah Allah yang menilai. Namun demikian saya melihat semakin ke sini umat muslim Indonesia semakin bisa menghormati perbedaan terutama dalam hal perbedaan pad awal puasa maupun awal lebaran.

Saya sendiri memutuskan untuk melakukan puasa hari ini. Sebelumnya saya juga terus memantau sidang isbat, bukan karena saya berpuasa menunggu hasil sidang isbat namun saya hanya sedikit berharap bahwa puasa tahun ini akan serentak. Kenyataannya hingga habis sholat isya, sidang isbat memutuskan tnggal 1 ramadhan jatuh pada hari minggu 29 juni 2014. Hasil sidang isbat tidak berpengaruh pada pendirianku untuk melaksanakan puasa lebih awal.

Malam harinya, seharusnya saya terawih di masjid namun karena suatu hal membuat saya meninggalkan sholat isya berjamaah dan tidak ikut sholat terawih berjamaah. Saya baru sholat terawih setelah sampai kos sekitar  jam 11 kemudian cuci muka sekaligus wudhu untuk sholat isya kemudian dilanjutkan dengan sholat terawih dan di tutup dengan sholat witir. Sholat terawih dan witir di rumah mungkin sudah menjadi kebisaan dari dulu, karena terkadang saya hanya berjamaah sholat isya dan meninggalkan masjid ketika yang lain mengerjakan sholat terawih secara berjamaah. Namun tidak jarang juga saya juga malah lebh memilih sholat sendiri di kos atau di rumah, untuk yang ini tolong jangan ditiru. Sholat terawih meski tergolong sunah sholat berjamaah mungkin akan jauh lebih baik. Dan jangan pula berpikiran bahwa saya tidak sholat terawih karena sering cabut setelah sholat isya berjamaah, karena tepat sebelum sahur setelah saya selesai membeli makanan sahur biasanya saya sholat terawih dan ditutup dengan sholat witir sehingga sesuai sunah Nabi yaitu mengakhiri waktu sahur saya makan sahur 20-30 menit sebelum imsyak.

Sebelum tidur saya masih menyimpan keraguan, apakah pas sahur ada menjual makanan sahur atau tidak, mengingat kebanyakan warga solo kebanyakan melaksanakan awal puasa sesuai dengan keputusan bersama melalui sidang isbat. Selain itu keraguan apakah saya bisa bangun jam 3 pagi untuk membeli makanan sahur juga terbesit dalam hati kecil saya. Namun sebelum tidur setelah saya mengeset alarm dalam handphone, dan mengirim BBM kepada teman yang kebetulan juga berpuasa keesok harinya agar menelpon tepat jam 3 pagi jika alarm tidak memiliki efek untuk membangunkan saya. Saya juga  yakin bahwa saya akan bisa bangun pagi karena semua itu saya lakukan karena semata-mata untuk beribadah kepada Allah.

Tepat sebelum jam 3 pagi saya terbangun dan masih dalam keadaan mengantuk, namun rasa kantuk itu begitu cepat hilang, dengan segera saya tancap gas untuk mencari makanan sahur. Awalnya masih ragu apakah warung tempat biasa membeli makanan pada saat puasa tahun lalu apakah buka atau tidak. Alhamdulillah pas nyampe disana warungnya buka, warung masih sepi dan nampak penjualnya sudah mulai bosan menunggu pembeli, mungkin banyak masyarakat sekitar yang berpuasa bukan pada hari ini, tapi hari minggu sesuai dengan keputusan bersama melalui sidang isbat.

Selesai sudah santap sahur dan saya mulai menulis catatan ini sambil menunggu waktu subuh dan sholat fajar yaitu sholat dua rekaat sebelum shubuh yang pahalanya lebih dari dunia dan seisinya. Ramdhan tahun ini bisa dikatakan saya tidak ada persiapan khusus dalam menyambut bulan ramadhan, namun agenda yang muncul malah membuat catatan setiap hari selama ramadhan adalah hal yang terbesit dalam pikiran saya saat ini. Tentang agenda lain, tentu hal-hal yang bersifat ibadah, karena selama satu bulan berpuasa adalah sebuah fase latihan dalam hal mengendalikan diri, baik dalam hal penglihatan, lesan, pendengaran, serta nafsu perut, sehingga tujuan dari berpuasa dapat tercapai, yaitu menjadikan manusia bertaqwa. Dengan kata lain sebulan berpuasa kedepan ini akan berpengaruh terhadap perjalanan hidup selama 11 kedepan sebelum bertemu dengan ramadhan lagi tahun depan.

Beruntung bagi diriku dapat bertemu dengan bulan ramadhan, dengan menjadikan bahwa hari ramadhan ini adalah hari ramdhan terakhir bagi kita akan menjadikan kita semua kan lebih memanfaatkan bulan ramadhan dengan beribadah secara maksimal. Karena tidak ada yang bisa menjamin apakah kita semua masih dipertemukan dalam ramadhan tahun depan.

Sebagai akhir catatan, Marhaban Ya Ramadhan, selamat datang bulan ramadhan, mohon maaf atas segala khilaf, tidak perlu saling berdebat tentang perbedaan dalam mengawali puasa. Mengawali puasa sesuai dengan keyakinan masing-masing dan saling mengharagi satau sama lain.

Terima kasih J


Solo, 1 Ramadhan 1435H
Read more ...

Jumat, 27 Juni 2014

Nasehat Menyambut Ramadhan


Riki,
Tinggal menghitung hari dengan jari Ramadhan sudah akan tiba, entah apakah akan terjadi perbedaan dalam awal bulan Ramadhan seperti halnya yang sudah-sudah. Namun kamu tidak perlu risau, berpuasalah karena Allah dan serahkanlah semua kepada Allah. Berpuasalah pada hari sesuai dengan keyakinanmu. Dan yang pasti jangan pernah berdebat kusir hanya untuk mempertahankan bahwa kamu yang paling benar dalam mengawali puasa, karena kebenaran hanyalah milik Allah. Dan saya cuma mau bertanya pada dirimu, apa kamu sudah mempersiapkan untuk menyambutnya? Ataukah malah menganggap bahwa ramdhan tidak lebih dari bulan-bulan biasa?

Ingat Rik,
Bahwa bulan Ramadhan adalah kesempatan yang diberikan Allah kepadamu dan kita semua yang kebetulan sudah sekian tahun selalu dipertemukan dengan bulan Ramadhan, apakah kamu yakin bahwa Ramadhan tahun depan kamu masih akan menjumpai bulan Ramadhan lagi? Jika tidak, mengapa kamu malah bersikap biasa saja dan menganggap bulan Ramadhan tidak lebih dari bulan-bulan lainnya? Begitu sombongnya kah dirimu hingga kamu tak merasa banyak dosa?

Ketahuilah Rik,
Bulan Ramdhan adalah sebuah pelajaran sekaligu proses yang diberikan bagi kita semua. Jangan pernah menganggap bahwa puasa di bulan Ramadhan hanya semata-mata menahan lapar dan dahaga selama satu bulan. Jika puasa hanya sekedar menahan lapar dan haus, hewan pun bisa kita paksa untuk berpuasa. Berpuasa menahan lapar dan haus bagi kamu yang sudah beranjak semakin dewasa bukanlah perkara sulit. Tapi lebih dari itu, berpuasa adalah bagaimana kamu mengendalikan semua titik nafsumu, bukan hanya pada nafsu perut. Melainkan semua indera yang ada pada tubuhmu. Baik itu lesanmu, penglihatanmu, pendengaranmu, kelaminmu, dan lebih tinggi lagi adalah apa yang ada dalam pikiranmu agar senantiasa berpuasa dari pemikiran-pemikiran kotor.
Lesanmu yang sering berkata kotor, menghujat, bergeming dan menyebarkan fitnah, harus kamu jaga. Dan lebih banyak diam jika tidak bisa berkata yang bermanfaat. Dan akan lebih baik jika lesanmu kamu gunakan untuk menyampaikan kebenaran.

Matamu yang sering kamu gunakan untuk melihat hal-hal yang menumbuhkan nafsu, harus turut engkau jaga dan akan lebih baik jika kamu lebih sering menundukan kepala untuk mengurangi zina mata.

Pendengaranmu yang sering kamu gunakan untuk mendengarkan hal-hal yang tidak bermanfaat jagalah baik-bak, dan hanya akan digunakan untuk mendengarkan kata-atau ucapan yang bermanfaat saja.

Pikiranmu, harus selalu kamu jaga agar senantiasa selalu berdzikir atau mengingat Allah, bukan hanya berkhayal untuk sesuatu yang tidak mungkin terjadi atau yang lebih kotor dari pemikiran atas nama nafsu.

Riki,
Jangan pernah kamu sekali-kali gunakan puasa sebagai alasan untuk bermalasan dengan mengatakan “Tidur itu ibadah bagi orang yang berpuasa” karena sebenarnya aku tahu bahwa kamu hanyalah ingin bermalasan-malasan.

Ingat baik-baik Rik,
Berpuasa itu tujuannya adalah menjadikan kamu menjadi orang yang bertaqwa. Puasa adalah proses yang menjadikan taqwa sebagai tujuan akhir. Selama satu bulan kedepan, saya harap kamu menjadi pribadi yang senantiasa bertaqwa. Dan jadikanlah masa satu bulan selama bulan Ramadhan adalah masa yang kau jadikan sebagai proses untuk mencapai ketaqwaan yang akan menuntunmu menjalani kehidupan selama 11 bulan selanjutnya sebelum kamu bertemu dengan bulan Ramadhan lagi.

Bulan Ramadhan alangkah baiknya jika digunakan sebagai lading beramal, dan lebih dari itu, sikap-sikap yang kamu juga di bulan ramadhan akan menjadikan kebiasaan baru dalam menjalani 11 bulan yang akan datang sebelum bertemu lagi dengan bulan Ramadhan.

Dan pesan saya untukmu Rik,
Selama bulan Ramdhan saya harap kamu jadikan hari-harimu untuk segala sesuatu yang bernilai ibadah, perkecang lagi ngajimu karena sudah saya harap kamu jiga harus punya program tersendiri di luar kegiatan Ibadah. Buatlah catatan atau puisi setiap harinya untuk mengisi blog pribadimu dan usahakan untuk mempostingnya setiap harinya selama bulan ramadhan.

Dan yang selanjutnya Rik,
Sudah seharusnya kamu mempertanggungjawabkan apa yang sudah kamu mulai, yaitu untuk segera menyelesaikan studimu, jangan kau jadikan alasan karena sibuk ini itu. Sekarang kewajibanmu hanya satu, yaitu menyelesaikan studimu, hal itu juga akan bisa bernilai ibadah jika kamu niatkan untuk beribadah. Jangan berkata bahwa ini adalah bulan Ramdhan dan lebih memilih berkonsentrasi Ibadah. Bukannya menomer duakan Ibadah, namun ketahuilah masih banyak dianatara mereka yang senantiasa berkerja keras meski dia sendiri juga sedang berpuasa.

Dan yang terakhir Rik,
Sebelum kita semua menjalankan Ibadah puasa di Bulan ramadhan alangkah baiknya kita saling memaafkan satu sama lain. Dan aku atas nama pribadi meminta maaf jika lesanku secara tidak sengaja menyakiti hatimu, pendengaranku yang terkadang enggan mendengarkan segala nasehatmu, dan segala perbuatan yang secara sengaja maupun tidak sengaja telah menyakitimu.

Marhaban Ya Ramadhan

26062014  
Read more ...

Kamis, 26 Juni 2014

PUISI

“Lain Dulu, Lain Sekarang”

Dulu kalian duduk bersama
Namun sekarang kalian saling berjauhan

Dulu kalian saling memuji
Sekarang kalian salin memaki

Dulu kalian saling menyapa
Sekarang kalian saling menghina

Dulu kalian adalah teman
Sekarang kalian saling lawan

Semua terjadi
Karena semua saling berambisi

Berebut kursi
Untuk memimpin negeri

Begitukah sikap seorang politisi?



Read more ...

PUISI

“Memendam Rasa”

Melihat dalam bayang-bayang
Menyapa dalam diam
Menyentuh dalam angan
Bercerita dalam kesunyian

Tak berani berkata
Tak punya nyali untuk menyapa
Tak tahu harus berbuat apa
Hanya bisa memendam rasa

Dalam kesunyian aku bercerita
Dalam senyum aku bahagia
Dalam diam aku menunggu
Dalam doa aku berupaya

Memendam rasa adalah caraku mengolah rasa
Bukan nafsu atas nama cinta
Biarlah rasa ini terus mengalir hingga ke hulu
Meski ku tak tahu, engkaukah yang akan menyambutku


Read more ...

Kawan Jadi Lawan”


Minggu kemaren Sebanarnya mata saya sudah sayu, ingin sekali saya memejamkan mata untuk beberapa menit lagi karena malam harinya saya begadang untuk menghadiri kajian maiyahan di salah satu universitas islam swasta di Surakarta. Namun saya lebih memilih untuk bangun pagi, karena masih di solo saya putuskan untuk jalan-jalan di car free day, bukan untuk olah raga sebenarnya, melainkan untuk jajan cemilan karena selain bejubel orang yang berolah raga entah itu bersepeda, jogging dan jalan-jalan, serta beberapa komunitas yang berkumpul, ada juga kumpulan para pedagang yang menjajakan cemilan. Dan saya lebih memilih mengunjungi pedagang cemilan tersebut, lumayan buat menganjal perut di pagi hari.

Setelah kenyang dengan cemilan-cemilan tersebut saya akhirnya pulang ke rumah. Sekitar satu jam lebih baru sampai rumah. Kebetulan di rumah sudah ada cemilan pisang goreng untuk menami saya minum kopi yang masih panas. Selagi menikmati kopi hitam dengan ditemani pisang goreng keisenganku mulai muncul, kali ini pandangan mataku mulai menuju sebuah lemari bekas peninggalan Om saya sebelum pada akhirnya pindah ke rumahnya sendiri yang sekarang. Sebuah lemari yang sudah lama jarang dibuka, yang tidak lain adalah lemari peninggalan Om saya semasa kuliah dulu. Lemari tersebut berisi buku-buku semasa kuliah, serta beberapa pakaian yang sudah lama tidak terawat.

Dari sekian banyak barang-barang peninggalan Om saya, yang membuat saya tertarik untuk mengeluarkan dari lemari adalah mesin tik, mesin tik dahulu yang tidak seperti pada zaman sekarang ini dimana computer dan laptop bisa di cek dahulu sebelum di print, mesin tik zaman dahulu mengharuskan penggunanya teliti dalam mengetik huruf demi huruf karena jika terjadi kesalahan tidak ada tombol delete atau backspace, sehingga harus teliti untuk menghasilkan tulisan yang rapi tidak ada bekas hapusan dengan menggunakan tipe x. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana dulu para mahasiswa menghadapi skripsi, harus mengetik dengan mesin tik, selain itu belum lagi kalo ada revisian yang banyak coretan dari dosen pembimbing, karena draft yang ia simpan tidak ada soft filenya melainkan sudah berupa print out, jelas mengharuskan untuk mengetik ulang lagi. Sudah bisa dipastikan betapa kuatnya jari-jari para mahasiswa dahulu, karena sudah sering berolahraga dengan mesin tik.

Selain mesin tik, ada satu benda yang menjadi pusat perhatian saya waktu itu, yaitu sebuah kotak kardus kecil. Ketika saya buka ternyata berisi surat-surat, Om saya masih menyimpan rapi semua surat-surat zaman dahulu, ada surat resmi seperti dari instansi tertentu, ada juga surat yang bersifat pribadi. Tentu yang menarik hati saya adalah surat pribadi. Surat menyurat pada saat Om saya masih kuliah, kira-kira tahun 90an, masih begitu popular, secara zaman belum begitu berkembang pesat seperti saat ini, yang mana perkembangan di bidang informasi sudah berkembang pesat dan serba online. Namun sensasi surat mungkin akan lebih mengena, selain harus ditulis tangan, sensasi harap-harap cemas menunggu balasan terutama dari sang kekasih menjadi sensasi tersendiri, hehehe.

Saya sempat membaca beberapa surat, tidak tahu persis apakah berasal dari pacar atau dari sahabat penanya, dan saya tidak akan bahas itu, karena kalau Bulek tahu, bisa jadi masalah lagi, hahaha. Dari sekian surat, saya juga menenukan beberapa foto ketika masih kuliah. Dan saya juga menemukan sebuah puisi, entah itu karangannya sendiri, atau mengambil dari majalah kala itu. Sebelum saya tulis di sini sudah saya googling ternyata puisi tersebut belum ada yang posting. Sebuah puisi untuk sahabatnya, kurang lebih bunyinya seperti ini:
               Suatu saat kawan jadi lawan
               Dalam menggapai masa depan
Taklukan kawan dan godaan
Raihlan porsi yang paling depan

Dalam mengejar prestasi……..
Dilihat sekilas menurut saya pribadi puisi tersebut bukanlah puisi tentang percintaan, namun semacam puisi nasehat kepada para sahabat, bahwa mungkin sekarang kita berteman, namun dalam prosesnya suatu saat akan jadi lawan dalam mengejar prestasi dan cita-cita.

Puisi yang simple mengenai hubungan pertemanan dan persahabatan, yang suatu saat akan menjadi lawan dalam mengejar prestasi dan apa yang dicita-citakan. Sangat realistis memang, karena tidak bisa dipungkiri bahwa terkadang yang menjadi lawan kita adalah teman kita sendiri, misalnya ketika masih duduk dibangku sekolah, ketika system pendidikan kita menuntut untuk berlomba-lomba agar menjadi jagoan atau menjadi rangking pertama di kelasnya, kemudian siapa yang menjadi lawan? tentu teman-teman sekelas kita sendiri bukan? Lebih luas lagi ketika takdir mempertemukan dalam sebuah seleksi pegawai perusahaan tertentu yang membutuhkan satu posisi jabatan yang kosong, kemudian secara kebetulan ada sahabat kita semasa kuliah juga ikut seleksi, otomatis sahabat kita adalah lawan kita bukan?

Tidak bisa dipungkiri memang, terkadang yang menjadi lawan kita bukanlah orang-orang yang jauh dari kita, terkadang sahabat kita sendiri pun akan menjadi lawan kita. Namun tidak perlulah saling berambisi menjadi orang yang melebihi orang lain, artinya tidak usah lah menjadi orang yang unggul dari manusia lainnya, ketahuilah bahwa manusia adalah makhluk yang penuh kekurangan, jangan sampai nafsu mengendalikan kita. Dari sinilah saya mulai harus belajar menerima kekurangan diri, mengutip dari postingan twitter sahabat saya (@johanhariyanto), “Dengan menertawakan kekurangan pada diri sendiri, hidup akan menjadi bahagia”

Sebagai penutup, tidak perlu panjang lebar, karena saya sudah mulai ngantuk. Sekian, semoga bermanfaat, jika tidak bermanfaat bagi orang lain, setidaknya untuk saya sendiri J


Read more ...

Selasa, 24 Juni 2014

Puisi

Bumiku

Sudah jarang kudengar
Kicauan burung di pagi hari

Sudah tak bisa kunikmati
Udara segar pagi hari

Bumi ini mulai layu
Karena manusia tak mau tahu

Hutanku gundul
Asap dimana-mana

Manusia serakah
Alam Mulai marah

Karena Manusia tak mau bersikap ramah. . . . . . .
Read more ...