Senin, 30 Juni 2014

Ramadhan dan Meriam Bambu

Hari ini tepat hari ke tiga bulan ramadhan bagi saya dan sebagian warga Indonesia yang berkeyakinan bahwa awal ramadhan jatuh pada hari sabtu tanggal 28 Juni 2014. Hari ini saya putuskan untuk main ke tempat Mbah, sebuah desa di pinggiran kota Sukoharjo. Disitulah saya menghabiskan sebagian masa kecil saya. Seperti anak desa pada umumnya bermain adalah suatu kegiatan wajib dalam keseharian. Bahkan tiada hari tanpa bermain. Sekedar mengingat kembali masa kecil, selalu ada saja permainan yang akan dimainkan secara bersama-sama. Dan permainan itu jika di amati ternyata layaknya buah yang ada masa panennya. Misalnya ada musim bermain petak umpet (bahasa jawa : delikan). musim kelereng, musim bermain gambar, musim bentik, betengan, ketika liburan dan musim setelah panen kedelai akan ada musim berburu jangkrik serta ada juga musim layangan. Namun entah jaman seperti itu masih ada atau tidak, yang jelas akan ada saatnya kita semua rindu dengan permainan masa kecil kita, ketika teknologi dalam bentuk game virtual  belum seperti saat ini. Bukan berarti game-game modern tidak bermanfaat sama sekali, namun yang jelas permainan tradisional yang sering dianggap jadul, jauh lebih bermanfaat. Tentu bermanfaat untuk tumbuh kembang anak, baik itu dari segi motorik atau fisik, kognitif serta sosio-emosional si anak.

Untuk bulan ramadhan sendiri karena mayoritas berpuasa maka mainan yang sering dimainkan sejak sehabis shubuh adalah permainan yang tidak melibatkan aktifitas fisik yang berlebihan, seperti bermain petasan misalnya. Saya ingat betul ketika saya dan teman-teman masa kecil saya ketika berangkat sholat shubuh bisa ditebak apa yang ada di dalam kantong atau saku kami. Iya, tidak lain adalah petasan lengkap dengan korek api.

Sehabis sholat shubuh biasanya masih ada kuliah shubuh dan setelah ditutup dengan salam, kami pasukan petasan langsung berjalan menuju rute yang telah disepakati bersama untuk melakukan agresi petasan. Begitulah kegiatan saya beserta teman-teman saya lakukan semasa kecil.

Ngomongin masalah bermain petasan, saya juga pernah mengalami kecelakaan ketika saya menyalakan petasan dengan memegang petasan serta melempar ketika api sudah mendekati sumbu, namun karena lupa melepaskan ketika sumbu sudah dekat. Dan akhirnya petasan meledak di tangan kanan saya. Ketika meledak ditangan tangan ini rasanya menjadi tremor dan karena ledakan begitu dekat dengan telinga hingga saya mengalami bindeng atau budek sebelah serta terus terdengar mendengung. Saat itu juga saya mulai kapok dengan petasan. Petasan dulu bukan seperti sekarang karena ledakan lebih besar, tidak seperti sekarang yang kebanyakan yang beredar adalah petasan cabe.

Selain bermain petasan dengan bahan mercon yang sangat mudah di beli di warung, saya dan teman kecil saya juga bermain dengan meriam bambu atau meriam jawa (bahasa jawa : long bumbung). Meski ini adalah permainan masa kecil saya dulu, namun kemaren ketika saya sedang jalan-jalan dekat rumah saya melihat ada beberapa anak kecil yang sedang bermain meriam bambu. Ketika saya melihatnya, langsung saya teringat betapa permainan itu adalah permainan favorit saya dulu selama bulan ramadhan.

Meriam bambu atau long bumbung dalam bahasa jawanya, adalah permainan saya saat masih kecil. Dari awalnya belum bisa bikin sendiri hingga bisa membuat sendiri. Membuat meriam bambu bisa dikatakan mudah, hanya dengan bambu (pring ori bahasa jawanya) dan usahakan jangan bagian pucuk yang dipakai karena semakin ke bawah maka semakin kuat meriam bambunya, tentu akan menghasilkan bunyi yang keras dan tahan lama. Bambu tersebut dipotong kurang lebih 2 meter dan di beri lubang kecil berdiameter 1,5 cm untuk menyalakan api, serta bagian dalam bambu (bagian ros) di lubang namun bagian bawah jangan dilubang, karena disitulah tempat untuk menampung minyak.

Permainan yang sederhana, hanya dengan minyak tanah sebagai bahan bakar. Untuk hasil ledakan yang sangat kencang bisa digunakan karbit. Namun saya sarankan untuk hanya sekedar bermain cukup dengan minyak tanah saja, karena dengab bahan karbit akan menghasilkan ledakan yang kencang dan tidak bisa dipungkiri jika cuma asal menaruh karbit tanpa tahu takaran bisa-bisa bambu bisa pecah terbelah karena ledakan yang besar. Oleh karena itu untuk bermain dengan karbit baru saya mainkan ketika saya sudah beranjak dewasa.

Sekedar share permainan semasa kecil dan mengenang kembali masa kecil ketika bermain adalah kewajiban, karena bermain bagi anak kecil adalah proses belajar yang tak pernah diajarkan di bangku sekolah.


Terima kasih