Kamis, 26 Juni 2014

Kawan Jadi Lawan”


Minggu kemaren Sebanarnya mata saya sudah sayu, ingin sekali saya memejamkan mata untuk beberapa menit lagi karena malam harinya saya begadang untuk menghadiri kajian maiyahan di salah satu universitas islam swasta di Surakarta. Namun saya lebih memilih untuk bangun pagi, karena masih di solo saya putuskan untuk jalan-jalan di car free day, bukan untuk olah raga sebenarnya, melainkan untuk jajan cemilan karena selain bejubel orang yang berolah raga entah itu bersepeda, jogging dan jalan-jalan, serta beberapa komunitas yang berkumpul, ada juga kumpulan para pedagang yang menjajakan cemilan. Dan saya lebih memilih mengunjungi pedagang cemilan tersebut, lumayan buat menganjal perut di pagi hari.

Setelah kenyang dengan cemilan-cemilan tersebut saya akhirnya pulang ke rumah. Sekitar satu jam lebih baru sampai rumah. Kebetulan di rumah sudah ada cemilan pisang goreng untuk menami saya minum kopi yang masih panas. Selagi menikmati kopi hitam dengan ditemani pisang goreng keisenganku mulai muncul, kali ini pandangan mataku mulai menuju sebuah lemari bekas peninggalan Om saya sebelum pada akhirnya pindah ke rumahnya sendiri yang sekarang. Sebuah lemari yang sudah lama jarang dibuka, yang tidak lain adalah lemari peninggalan Om saya semasa kuliah dulu. Lemari tersebut berisi buku-buku semasa kuliah, serta beberapa pakaian yang sudah lama tidak terawat.

Dari sekian banyak barang-barang peninggalan Om saya, yang membuat saya tertarik untuk mengeluarkan dari lemari adalah mesin tik, mesin tik dahulu yang tidak seperti pada zaman sekarang ini dimana computer dan laptop bisa di cek dahulu sebelum di print, mesin tik zaman dahulu mengharuskan penggunanya teliti dalam mengetik huruf demi huruf karena jika terjadi kesalahan tidak ada tombol delete atau backspace, sehingga harus teliti untuk menghasilkan tulisan yang rapi tidak ada bekas hapusan dengan menggunakan tipe x. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana dulu para mahasiswa menghadapi skripsi, harus mengetik dengan mesin tik, selain itu belum lagi kalo ada revisian yang banyak coretan dari dosen pembimbing, karena draft yang ia simpan tidak ada soft filenya melainkan sudah berupa print out, jelas mengharuskan untuk mengetik ulang lagi. Sudah bisa dipastikan betapa kuatnya jari-jari para mahasiswa dahulu, karena sudah sering berolahraga dengan mesin tik.

Selain mesin tik, ada satu benda yang menjadi pusat perhatian saya waktu itu, yaitu sebuah kotak kardus kecil. Ketika saya buka ternyata berisi surat-surat, Om saya masih menyimpan rapi semua surat-surat zaman dahulu, ada surat resmi seperti dari instansi tertentu, ada juga surat yang bersifat pribadi. Tentu yang menarik hati saya adalah surat pribadi. Surat menyurat pada saat Om saya masih kuliah, kira-kira tahun 90an, masih begitu popular, secara zaman belum begitu berkembang pesat seperti saat ini, yang mana perkembangan di bidang informasi sudah berkembang pesat dan serba online. Namun sensasi surat mungkin akan lebih mengena, selain harus ditulis tangan, sensasi harap-harap cemas menunggu balasan terutama dari sang kekasih menjadi sensasi tersendiri, hehehe.

Saya sempat membaca beberapa surat, tidak tahu persis apakah berasal dari pacar atau dari sahabat penanya, dan saya tidak akan bahas itu, karena kalau Bulek tahu, bisa jadi masalah lagi, hahaha. Dari sekian surat, saya juga menenukan beberapa foto ketika masih kuliah. Dan saya juga menemukan sebuah puisi, entah itu karangannya sendiri, atau mengambil dari majalah kala itu. Sebelum saya tulis di sini sudah saya googling ternyata puisi tersebut belum ada yang posting. Sebuah puisi untuk sahabatnya, kurang lebih bunyinya seperti ini:
               Suatu saat kawan jadi lawan
               Dalam menggapai masa depan
Taklukan kawan dan godaan
Raihlan porsi yang paling depan

Dalam mengejar prestasi……..
Dilihat sekilas menurut saya pribadi puisi tersebut bukanlah puisi tentang percintaan, namun semacam puisi nasehat kepada para sahabat, bahwa mungkin sekarang kita berteman, namun dalam prosesnya suatu saat akan jadi lawan dalam mengejar prestasi dan cita-cita.

Puisi yang simple mengenai hubungan pertemanan dan persahabatan, yang suatu saat akan menjadi lawan dalam mengejar prestasi dan apa yang dicita-citakan. Sangat realistis memang, karena tidak bisa dipungkiri bahwa terkadang yang menjadi lawan kita adalah teman kita sendiri, misalnya ketika masih duduk dibangku sekolah, ketika system pendidikan kita menuntut untuk berlomba-lomba agar menjadi jagoan atau menjadi rangking pertama di kelasnya, kemudian siapa yang menjadi lawan? tentu teman-teman sekelas kita sendiri bukan? Lebih luas lagi ketika takdir mempertemukan dalam sebuah seleksi pegawai perusahaan tertentu yang membutuhkan satu posisi jabatan yang kosong, kemudian secara kebetulan ada sahabat kita semasa kuliah juga ikut seleksi, otomatis sahabat kita adalah lawan kita bukan?

Tidak bisa dipungkiri memang, terkadang yang menjadi lawan kita bukanlah orang-orang yang jauh dari kita, terkadang sahabat kita sendiri pun akan menjadi lawan kita. Namun tidak perlulah saling berambisi menjadi orang yang melebihi orang lain, artinya tidak usah lah menjadi orang yang unggul dari manusia lainnya, ketahuilah bahwa manusia adalah makhluk yang penuh kekurangan, jangan sampai nafsu mengendalikan kita. Dari sinilah saya mulai harus belajar menerima kekurangan diri, mengutip dari postingan twitter sahabat saya (@johanhariyanto), “Dengan menertawakan kekurangan pada diri sendiri, hidup akan menjadi bahagia”

Sebagai penutup, tidak perlu panjang lebar, karena saya sudah mulai ngantuk. Sekian, semoga bermanfaat, jika tidak bermanfaat bagi orang lain, setidaknya untuk saya sendiri J