Rabu, 02 Juli 2014

Catatan Ramadhan #4


Beberapa hari yang lalu, ketika saya mampir ke sukoharjo saya berencana untuk berbuka sekaligus sahur ditempat Mbah. Sudah hampir dua minggu saya tidak pulang ke sukoharjo karena banyaknya aktifitas di solo yang mengharuskan saya sok sibuk J
                                                                                                
Saya juga sempatkan untuk sholat isya dan teraweh berjamaah di masjid, dimana masjid itu adalah salah satu tempat saya belajar ilmu agama mulai belajar iqro (TPA) serta belajar sholat. Meski saya tidak sampai selesai karena aktifitas dunia lebih menarik kala itu. Iya, saya hoby bermain bola dari kecil membuat saya tidak menomer satukan mengaji, padahal mengaji lebih penting dari pada sekedar bermain bola. Namun kala itu yang ada dalam pikiran saya adalah hanya bermain, bermain dan bermain.

Di masjid tempat saya sholat isya dan teraweh, tidak seperti hari biasa, seperti halnya masjid-masjid kebanyakan, pada bulan ramadhan selalu ramai dengan orang-orang yang ingin sholat berjamaah. Saya berjalan kaki menuju masjid. Jarak masjid dengan rumah relatif dekat, pikirku sekalian olahraga mengingat aktifitas fisik mulai berkurang sehingga jalan kaki bisa jadi alternatif utuk membuat badan menjadi tetap sehat.

Sesampai di masjid, meski ada beberapa orang yang menunggu iqomat di luar masjid, saya lebih memilih langsung masuk ke masjid, ketika mau masuk masjid saya melihat seorang lelaki yang tidak begitu asing menurut saya, saya lihat dengan seksama kemudian saya duduk tepat di dekatnya, karena saya datang sudah mendekati waktu iqomat saya langsung duduk dan tidak sholat sunah dua rekaat terlebih dahulu. Saya mencoba membangkitkan memori tentang seorang laki-laki di dekat saya tersebut. Setelah beberapa detik barulah saya ingat bahwa laki-laki tersebut tidak lain adalah teman saya ketika masih SD. Saya mencoba untuk menyapanya namun sepertinya dia tidak lagi mengenaliku. Bisa dimaklumi lah mengingat dia pernah pindah ke Kalimantan hampir 10 tahun yang lalu. Meski dia belum juga mengenaliku saya berusaha bersikap ramah dan mempertanyakan kabar dan hal-hal lain. Dari percakapan itulah saya mengetahui bahwa sudah sekiatar 5 bulan dirinya berada di kampung. Ketika mengobrol dia sangat bersikap ramah denganku, meski dia belum juga mengenaliku.

Saya ingat betul ketika ada kabar dari desa sebelah bahwa beberapa bulan  sebelumnya dirinya pulang, ada kabar bahwa dirinya di Kalimantan mengalami kecelakaan yang mengakibatkan dirinya koma beberpa hari. Saya jadi berpikir apakah dia tidak bisa mengenaliku karena akibat dari kecelakan itu. Namun  10 tahun juga bukan waktu yang sebentar, jadi menurutku bisa saja dia sudah pangling atau lupa denganku.

Saya mungkin bukanlah orang yang mudah melupakan seseorang, apalagi orang tersebut pernah menjadi teman saya. Saya ingat betul dengan teman lama saya tersebut, karena ketika pergi atau pulang ke sekolah saat SD, saya sering bersama. Dirinya yang lebih pendiam membuatku tidak begitu akrab. Namun satu hal yang membuatku ingat dengan dirinya, bahwa saya dan dirinya pernah suatu ketika pas jam pulang sekolah sempat berantem hanya gara-gara mainan yang harganya bisa dikatakan tidak seberapa. Namun kala itu saya rela berantem dan saya masih ingat betul kejadian itu. Karena pada saat itu saya berhasil membuatnya menangis dan karena saat itu masih kecil dan tidak tahu harus berbuat apa, saya kemudian lari meninggalkannya. Dasar orang yang tidak bertanggung jawab kamu rik, pikirku sambil tertawa kecil saat menulis ini.

Pertemuan yang mampu membuat saya mengingat kembali kenakalan semasa SD. Meski dia tidak lagi mengenaliku, atau mungkin sebenarnya dia ingat namun masih dendam denganku, namun saya juga ingin memohon maaf atas keisengan dan kenakalanku kala itu. Meski dia tidak lagi mengenaliku saya msih tetap akan menganggapnya sebagai teman, mengingat dulu saya pernah berbuat nakal dengannya dengan bertengkar dan membuatnya menangis. Doaku selalu menyertainya agar selalu diberi kesehatan dan panjang umur serta di mudahkan rejekinya dan didekatkan dengan jodohnya. Doa ini sebanrnya mendoakan orang lain sekaligus mendoakan diri sendiri, karena saya yang berdoa dan saya juga yang teriak aminnya paling kenceng J

Beberapa saat kemduian terdengarlah orang yang iqomat, dan saya dan dirinya berdiri bersebelahan untuk menuaikan ibadah sholat isya, teraweh dan ditutup dengan sholat witir secara berjamaah. 


Pertemuan yang singkat, namun mampu membangkitkan memori mengenai kenakalan masa kecil.