Rabu, 23 Juli 2014

Menikmati Sepi

Malam ini sama halnya dengan malam yang sudah-sudah. Hal yang sama yang terus berulang pada hari yang berbeda. Aku sendiri bingung dengan keadaan ini, tapi aku sangat menikmati. Suasana yang sepi membuat apa yang selalu bersembunyi di balik sikap diamku, harus aku ungkapkan entah itu dengan puisi atau tulisan dalam blog pribadiku.

Dalam sepi aku menyendiri, menikmati malam yang sunyi. Merasakan betapa dekatnya diriku dengan alam ciptaanNya. Dalam sepi ini aku bisa merasakan betapa hembusan angin malam mampu bercerita dengan dinginnya udara malam ini. Pohon-pohon yang nampak terdiam terkadang berbisik dengan suara angin.

Dalam malam yang sepi, ketika tak ada satu pun manusia yang menemaniku terjaga. Di saat-saat seperti itulah aku belajar memahami diriku. Aku mengenal diriku ketika hembusan nafasku terdengar begitu jelas oleh kedua telingaku. Aku mulai mengenali diriku ketika detak jantung ini begitu jelas aku rasakan. Dalam kesepian itu juga aku mencoba merasakan aliran darahku yang terus mengalir dari jantung hingga ke seluruh tubuhku, namun aku tak mampu merasakannya. Padahal hal itu terjadi dalam tubuh ini, tubuhku sendiri.

Dalam heningnya malam aku berpikir bagaimana segala yang terjadi dalam tubuh ini berjalan dengan sendirinya. Aku masih bisa menggerakan tangan, kaki dan pergerakan sendi lainya atas dasar kehendakku, namun aku tak kuasa dengan segala aktifitas dalam tubuh ini. Aku tak kuasa atas aliran darah dalam tubuh ini. Aku tak kuasa atas jantung ini, dan aku tak kuasa segala proses biologis dalam tubuh ini.

Dalam malam sepi ini, aku semakin memahami, bahwa aku tak kuasa atas tubuh ini. Tubuh ini bukanlah miliku, ada sesuatu diluar kemampuan manusia itu sendiri yang berkuasa atas tubuh ini.