Senin, 25 Agustus 2014

"Membersamai Kepergian Ibu Ke Tanah Rantau"

 Sore itu, ketika Ibuku hendak pulang ke jambi, tempat ia mangais rejeki demi kehidupanku keluargaku agar berkecukupan. Tak ada kata apapun yang terucap dalam perpisahan itu. Ketika ibuku hendak berpamitan kepada Mbah, aku langsung menghampiri dan mencium tangannya sebagai wujud hormatku kepada Ibu. Ciuman tanganku dibalas dengan ciuman di kedua pipiku serta sebuah kecupan di keningku. Tak ada perasaan haru kala itu, karena hal itu sudah terjadi berulang kali setiap tahunnya.

Ibuku tak berpesan apa-apa kepadaku saat kami akan berpisah untuk beberapa bulan ke depan. Aku juga sudah memberikan kabar baik pada Ibu, bahwa aku sudah sidang dan tinggal revisi serta menunggu wisuda. Hanya sebatas kabar baik itu yang bisa aku berikan saat ini. Untuk mendoakan kesehatan dan keselamatan Ibu, sudah jangan ditanya lagi, hal itu sudah menjadi doa wajib yang aku panjatkan setelah aku menghadap kepada Sang Pencipta.

Ibu tak memberikan pesan apapun ketika berpamitan untuk pulang, hal itu mungkin Ibuku sudah menganggapku sebagai orang yang dewasa mengingat usiaku saat ini sudah menginjak pada usia ke 24. Ibu mungkin sudah menganggapku sebagai orang dewasa, yang tahu apa yang harus aku lakukan dan apa saja yang harus aku hindari.

Aku jadi teringat beberapa hari yang lalu ketika kami sedang duduk bersama di pagi hari, menikmati kopi dan cemilan. Ngopi di pagi adalah kebiasaan Ibuku, meski sudah di nasehati untuk mengurangi kopi namun ia tetap melakukan kebiasaan itu. Ngopi sudah menjadi agenda wajib setiap pagi, ada yang kurang jika di pagi hari belum menikmati secangkir kopi hitam. Kata Ibuku, beliau lebih memilih tidak sarapan dari pada harus meninggalkan kebiasaan ngopinya. Sambil menikmati kopi kami mengobrol banyak hal dan bercerita tentang orang-orang di sekitar Ibuku di tempat ia bekerja, yang berperilaku baik serta memperlakukan Ibuku dengan baik, padahal Ibuku adalah seorang pendatang. Karena itulah Ibuku menyuruhku untuk berbuat baik dan memperlakukan secara baik kepada orang lain, meski belum kenal sebelumnya. Alasannya simpel, agar kamu juga diperlakukan dengan baik oleh orang lain, meski ia belum mengenalku sebelumnya.

Sebelumnya Ibuku juga berkata kepadaku dan kakakku, agar aku selalu menjaga Mbah, baik Mbah Kakung maupun Mbah Uti dengan baik, mengingat usia mereka sudah semakin tua, masalah kesehatan sudah tidak seperti saat mereka masih berusia muda. Ada perasaan haru ketika Ibu mengatakan hal itu kepadaku. Betapa tidak, dulu ketika aku masih kecil dan masih usia sekolah, Ibu selalu menitipkanku kepada Mbah sebelum berpamitan, agar menjaga aku dan kakakku, serta tidak memperlakukan sebagai anak yang manja, maklum lah, aku dan kakakku adalah cucu kesayangan Mbah, kami berdua yang sangat dekat daripada cucu-cucu yang lainnya.

Roda kehidupan ternyata berputar begitu cepat, aku yang dulu sering dititipkan ke Mbah sebelum Ibuku pamit balik. Namun kini, ketika usiaku sudah beranjak dewasa, justru Ibuku yang berpesan untuk menjaga Mbah dengan baik, dengan kata lain sekarang aku dan kakakku lah yang dititipi Mbah. Tak sedikitpun aku merasa terbebani, karena aku tahu betul, bahwa sudah saatnya aku membalas segala kebaikan yang Mbah lakukan kepada aku dan kakakku.

Setelah kepergian Ibuku ke tempat dimana ia merasa nyaman mengais rejeki, akan ada hal yang kurang dalam lingkup keluargaku. Tak ada lagi orang yang aku cium tangannya ketika aku hendak pergi ke solo atau sesampai dirumah. Dan hanya ada Mbah utiku di barisan belakang ketika aku, kakakku dan Mbak Kakung menjalankan Ibadah sholat magrib dan isya berjamaah di rumah.

Semoga selamat sampai tujuan Ibu, dalam doaku selalu mendoakan  akan kesehatan dan keselamatanmu. Maafkan anakmu yang belum menjadi anak yang pantas untuk engkau banggakan.

Sukoharjo, 24 Agustus 2014