Rabu, 01 Oktober 2014

#3142MDPL

Berawal dari obrolan ringan dengan seorang teman, tentang bagaimana hari-hari yang kujalani setiap harinya. Tak ada sesuatu hal yang menarik tentang hari-hariku, kecuali sekedar rutinitas yang semakin hari justru malah semakin membosankan. “Kamu harus melakukan seseuatu yang baru” begitulah seruan temanku terhadapku. “kamu harus cari seseuatu yang baru dan usahakan yang menantang, apapun itu”. Aku mulai berpikir tentang hal baru apa yang harus aku lakukan, untuk sedikit membunuh rutinitas yang semakin hari semakin membosankan ini.

Beberapa hari kemudian, aku mendengar ada beberapa temanku yang mengalihkan pendakikan naik gunung, dari lawu menuju merbabu, karena gunung lawu mengalami kebakaran. Sehingga mereka memutuskan untuk menunda pendakian dan mengalihkan dari gunung lawu ke gunung merbabu. Terdengar menarik, kala itu aku tidak langsung mengambil sikap untuk ikut serta ke dalam rombongan. Aku masih punya tanggung jawab, dalam hati aku berjanji “jika skripsiku semua dosen baik penguji dan pembimbing semua sudah acc revisianku, aku akan ikut ambil bagian perjalanan menuju puncak merbabu.

Dan ternyata doaku terkabul, revisian skripsiku sudah acc, aku putuskan untuk ikut ke dalam rombongan perjalanan menuju pncak merbabu. Awalnya ada sedikit keraguan, namun keraguan itu sedikit-demi sedikit berubah menjadi sesuatu yang entah kenapa membuatku lebih bersemangat untuk melakukan perjalanan ini. Harus aku akui perjalanan menuju puncak merbabu adalah pengalaman pertama bagiku, jadi tidak heran jika aku adalah orang yang paling semangat melakukan perjalanan ini dari pada teman-teman yang lainnya.

Aku tidak mengatasnamakan diriku sebagai pendaki, meski perjalanan ini adalah perjalanan menuju puncak merbabu. Aku hanya orang yang sedang piknik ke merbabu, sedangkan sampai puncak itu adalah bonus. Begitulah ketika orang-orang disekitarku bertanya dengan penuh kesanksian bahwa aku mampu berjalan menuju puncak merbabu. Aku tahu betul diriku, aku juga suka berolahraga, jadi berjalan kaki menuju ke puncak merbabu, aku merasa mampu, meski aku tidak begitu tahu medan yang harus aku lalui.

Aku dapat kabar dari temanku, tentang siapa saja yang sudah pasti berangkat. Menjelang berangkat, ternyata sahabatku tak bisa ikut karena harus pergi ke jogja, jadi dari solo berangkat hanya sebanyak 7 orang, yaitu  4 orang cowok dan 3 orang cewek. Dan beberapa hari menjelang keberangkatan, kami tidak melakukan persiapan yang begitu matang, semua serba mepet. Dan kami hanya berkumpul sekali sebelum kami berangkat hanya untuk membicarakan mengenai perlengkapan yang harus dibawa, dan perkiraan perjalanan. Ada kabar dari temanku bahwa nanti akan ada leader yang memimpin perjalanan ini, ia yang sudah perpengalaman. Ia berasal dari jogja. Perkiraan awal rombongan kami berjumlah 8 orang, termasuk temannya temanku yang dari jogja yang sudah expert naik gunung.

Jumat, pukul 14.00 kami sepakat berkumpul di kampus, namun aku baru sadar bahwa aku masih hidup di Indonesi, dimana budaya ngaret masih tumbuh subur. Dari berkumpul jam 14.00 ngaret hingga pukul 16.00, jadi waktu mundur dua jam dari kesepakatan awal. Dalam hati sebenarnya aku sudah tak suka dengan sikap seperti itu. Mereka yang suka ngaret sebenarnya adalah orang yang mengutuk keterlambatan, namun mereka hanya belum sadar saja.

Jam 16.00 kami berangkat dari kampusku, yaitu dari solo. Kami berangkat menggunakan sepeda motor. Sengaja kami dari solo tidak membawa bawaan begitu berat, karena menurut temanku lebih baik belanja logistik di daerah cepogo agar dari solo tidak membawa beban begitu berat.

Sekitar jam 18.15 kami tiba di Cepogo, Cepogo sudah masuk kabupaten  Boyolai. Kami belanja logistik dari air, cemilan dan beberapa mie instan untuk 3 hari kedepan. Setelah itu kami makan malam dan sholat di mushola dekat pasar cepogo. Kemudian makan malam di deket pasar Cepogo itu juga, setelah perut kenyang untuk melakukan perjalanan panjang di malam hari, kami melanjutkan ke basecamp pendakian merbabu, di daerah Selo, masih masuk Kabupaten Boyolali.

Ada sedikti masalah ketika aku ingin masuk ke gang menuju basecamp pendakian merbabu, karena awalan yang kurang panjang, motor kesayanganku tidak kuat nanjak, aku segera rem, dan menyangga dengan kaki agar motor tetap stabil. Kemudian temanku yang sedang nebeng, kebetulan cewek, aku suruh segera turun dan menaruh tas carrier di jok belakang. Rencanaku aku akan membawa tas carrier ke atas dulu, kemudian aku balik lagi ambil temanku.  Beruntunglah ada warga yang berbaik hati yang kebetulan lewat dan melihat kami sedang ada masalah menawari tumpangan dengan mobil pickup-nya. Semua bawaanku aku masukan ke dalam bak belakang dan motorku pun bisa nanjak dengan mudah, karena beban yang sudah berkurang banyak.

Sekitar pukul 20.00 kami sampai basecamp, karena kami sudah langsung sholat isya di mushola Cepogo tadi, digabungkan dengan sholat magrib, jadi setidaknya sudah merasa tenang jika di basecamp tidak ada tempat sholat atau mushola.

Sampai di basecamp, kami tidak langsung bergegas naik, namun kami masih menunggu kawan dari jogja, kami menunggu sekalian packing agar barang bawaan kami ringkas dan dapat membawa semua kebutuhan selama pendakian.

Beberapa saat kemudian, sekitar pukul 21.30 kawan kami dari jogja datang, ternyata tidak sendirian, ia membawa tiga temannya. Jadi kami naik bersebelas orang. Awalnya sedikit ragu mengingat kapasitas tenda yang kami bawa yang untuk cewek muat 3 orang, sedangkan tenda yang satunya muat 5 orang. Namun hal itu tidak menjadi masalah serius karena, masalah tidur nanti bisa diatur lagi ketika sudah ada di tempat perkemahan.

Tepat pukul 22.00 malam, di tengah dinginnya udara malam kawasan hutan, kami berjalan selangkah demi selangkah menuju pos demi pos. kami berencana mendirikan tenda di pos 3. Perjalanan awalnya tidak begitu menanjak, kami sangat menikmati perjalanan itu. Sesekali kami mengobrol untuk memecah suasana agar tidak sepi dan melupakan sejenak rasa lelah, mengingat beban yang kami bawa lumayan berat.

Semakin lama, jalanan menjadi agak berdebu, selain itu kami juga menjumpai jalanan yang menanjak, sehingga tidak jarang kami memutuskan untuk berhenti sejenak untuk istirahat serta mengatur nafas. Udara yang awalnya dingin tiba-tiba menjadi panas, tubuhku sudah tak menggigil kedinginan lagi, karena sudah lumayan lama berjalan tubuh ini menjadi gerah, hingga aku putuskan untuk membuka jaket tebalku. Dan ternyata bajuku sudah basah oleh keringatku.

Akhirnya sampai juga di pos 1, kami semua putuskan untuk berhenti menikmati kopi, kebetulan temanku sengaja membawa tremos dari bawah sehingga di pos I kami bisa menikmati cemilan dan  kopi untuk mengobati rasa lelah kami. Tidak lama kami bersitirahat di pos I, karena semakin lama, keringat pada tubuh ini semakin kering dan udara berubah menjadi dingin, maklum kami berada di tengah hutan, jika kami tidak banyak bergerak kami malah menjadi kedinginan. Sebelum berangkat temanku menawariku agar bergantian tas carrier, dia tahu betul bahwa beban tasku berat, karena aku harus membawa air sebanyak 6 botol air mineral ukuran besar.

Perjalanan di malam hari membuat kami tidak begitu merasakan kelelahan, namun karena medan yang terkadang mengharuskan kami berjalan menanjak dengan kemiringan yang lebih dari 45 derajat menjadikan kami harus ekstra hati-hati dan harus beberapa kali istirahat. Dari awal kami sudah di instruksikan oleh leader kami, agar kami tidak gengsi jika sudah merasa lelah, karena terlalu lelah akan berakibat fatal, bisa-bisa kaki malah jadi kram dan akan menyusahkan teman-teman yang lain.

Perjalanan yang lumayan menyenangkan meski pada malam hari, terkadang kami sesekali sembari istirahat menimati bintang-bintang dilangit dan lampu-lampu kota yang nampak indah jika dilihat dari atas bukit. Suara alam begitu terdengar jelas di malam hari, gemuruh angin, dan sesekali ada suara bintang-binatang serangga seakan memecah kesunyian di tengah hutan  malam itu.

Setelah berjalan lumayan lama, kami tiba di pos II, kami istirahat sebentar di sana, ternyata ada pendaki lain yang sudah mendirikan tenda di sana, sedangkan kami, berencana untuk mendirikan tenda di pos 3, kata temanku di pos 3 ada tempat bagus untuk menikmati sunrise. Setelah istirahat sebentar kami melanjutkan perjalanan dengan memcah kesunyian hutan di malam hari. Medan menuju pos 3 lumayan terjal, karena tanah penuh debu membuat jalan setapak menjadi agak licin yang membuat kami terus berhati-hati dalam melakukan pijakan agar tidak terpleset.

Sekitar jam 02.00 pagi, kami tiba di pos 3, pos ini seperti lapangan yang lumayan luas di samping bukit. Saat tiba di pos 3 kami disambut dengan udara yang lumayan kencang, hingga membuat tubuh ini terus menggigil kedinginan. Udara terlalu dingin membuat tangan ini sudah kaku dan hampir mati rasa. Kami segera mendirikan tenda, kemudian memasukan barang-barang bawaan. Ada yang membuat kopi untuk sedikit menghangatkan tubuh ada juga yang sudah mulai kelaparan dan memasak mie instan. Dan baru sekitar pukul 04.00 kami semua memutuskan untuk tidur.

 Baru sekitar sejam tidur sekitar pukul 05.00 pagi, temanku membangunkan kami agar keluar sebentar untuk menikmati sunrise diatas bukit dekat perkemahan kami. Aku langsung bangun dan karena udara masih sangat dingin aku hanya bertayamum dan lwbih memilih sholat subuh di dalam tenda. Setelah itu, meski udara masih sangat dingin, mungkin tubuhku belum terbiasa dengan dinginnya udara di pegunungan. Dengan sedikit menggigil aku berjalan keatas bukit menanti keindahan sunrise diatas bukit. Udara yang terlalu dingin membuatku tak mampu lagi memegang Handphone untuk mengabadikan momen itu melalui kamera handphoneku. Selain bisa melihat sunrise diatas bukit tersebut juga bisa melihat betapa gagahnya gunung merapi jika dilihat diatas bukit tersebut. Padahal merapi yang begitu indah dilihat diatas bukit tersebut beberapa tahun silam mengeluarkan isi perutnya yang menyebabkan warga yang tinggal di sekitar merapi harus mengungsi.

Karena udara yang terlalu dingin, aku sudah tak mampu lagi berlama-lama diatas bukit itu. Aku segera masuk ke dalam tenda dan tidur lagi utuk memulihkan kembali energy yang sudah terkuras, karena hampir semalaman berjalan.

Sekitar pukul 08.00 kami semua sarapan, meski hanya sekedar mie instan suasana pegunungan membuat segalanya menjadi lebih baik, menikmati kopi dan bersenda gurau dengan teman-teman mampu membuat kami menjadi lebih menikmati perjalanan ini. Di perkemahan kami sedikit menghiraukan masalah kebersihan, kami tidak mandi, karena sulit mendapatkan sumber air, dan persediaan air yang kami bawa sangat terbatas. Dan yang membuatku merasa harus mengontrol makanku adalah jika buang air besar, aku yang tak tahu  harus buang air besar dimana. Semua adalah alam luas yang terbuka tak mungkin aku harus buang air besar ditempat terbuka, dan selama di sana aku hanya buang air kecil sekali, karena sudah tak mampu lagi untuk aku tahan.  Sedangkan urusan mandi sebelum tidur aku bersihkan tubuhku dengan tisu basah, karena dari bawah aku cukup banyak membawa tisu basah.

Kami bisa dibilang sangat santai sehingga tidak terikat waktu. Kami meninggalkan pos 3 menuju ke perkemahan selanjutnya sekitar pukul 14.00. kami berencana mendirikan tenda di pos terakhir sebelum puncak, yaitu Sabana 2. Meninggalkan pos 3 menuju Sabana 2, kami harus melewati bukit yang lumayan curam, yang mengharuskan kami mendaki dan sesekali harus merangkak. Tidak heran jika bukit itu dinamakan bukit frustrasi mengingat jalan yang harus dilalui lumayan berat. Setelah melewati bukit tersebut kami bersitirahat di sabana I. Ada bebrapa pendaki yang mendirikan tenda di sana, kami hanya numpang istirahat sebentar dan melanjutkan ke Sabana 2, tempat kami mendirikan tenda. Keluar dari sabana 1, ternyata harus melewati bukit lagi. Namun bukit yang kami lalui tidak seberat bukit setelah pos 3 menuju sabana 1.

Sekitar pukul 16.00 kami sampai di Sabana 2, di sana kami mendirikan tenda dan berharap kami bisa langsung istirahat karena kami harus mendaki pukul 04.00 pagi agar bisa melihat sunrise dari puncak merbabu, yaitu “kenteng songo”. Kami bagi tugas, ada yang mendirikan tenda, ada juga yang memasak air untuk membuat kopi serta merebus mie instan. Semakin sore udara di sabana 2, yang letaknya di kelilingi oleh bukit menjadi semakin dingin. Setelah sholat ashar aku langsung masuk tenda, membersihan badan kemudian masuk ke dalam sleeping bag, karena sudah tidak kuat dengan dinginnya. Tidak terasa aku tertidur lumayan lama. Sekitar pukul 21.00 aku baru bangun, segera aku tayamum dan sholat magrib sekaligus sholat isya. Udara yang begitu dingin membuatku enggan keluar dari tenda dan lebih meilih sholat di dalam tenda. Setelah sholat aku lebih memilih untuk kembali tidur lagi agar aku memiliki energy yang lebih untuk mendaki ke puncak keseokan harinya.

Sekitar pukul 03.00 terdengar tenda sebelah sudah mulai berisik, membangunkan teman-temannya agar tubuh mereka meyesuaikan diri dengan dinginnya udara pagi. Sedangkan kami, masih enggan untuk keluar dari tenda. Tak ada yang bangun dan beranjak keluar dari tenda. Baru sekitar pukul 04.30 kami bangun dan segera aku sholat shubuh. Namun karena belum sarapan kami urungkan utuk mendaki pagi, kami putuskan menikmati sunrise di bukit dekat sabana 2. Menikmati sunrise bukit di sabana 2 tidak sedingin di pos 3 jadi kami lebih leluasa untuk mengabadikan momen itu dengan kamera handphoneku.

Setelah itu kami langsung sarapan dengan seadanya, yaitu mie instan serta mempersipakan bekal untuk pendakian ke puncak. Kami berangkat menuju puncak tepat pukul 06.00 pagi. Keluar dari sabana 2, kami sudah disambut dengan lembah edelwise, kemudian ada bukit yang harus kami lalui sebelum ke puncak. Perjalanan lumayan jauh dan mendaki, sehingga membuat kami cepat lelah dan sebentar-sebentar harus istirahat, selain itu debu juga sangat tebal membuat kami harus menggunakan masker sepanjang perjalanan menuju puncak.

Perjalanan yang terus mendaki, tidak ada bonus jalanan yang landai membuat kamu harus memotong jalan, jadi kami potong jalan langsung menuju puncak merbabu, atau disebut juga dengan kenteng songo, dengan ketinggian 3142MBPL, kami berdiri di sana sekitar pukul 08.15. Kami langsung istirahat minum dan menikmati cemilan yang kami bawa dari bawah. Barulah kami berpose untuk berfoto-foto untuk mengabadikan bahwa kami sudah sampai puncak. Ada sesuatu yang membuatku berkesan mengingat hal ini adalah pengalaman pertamaku sampai dan bisa sampai ke puncak. Aku menemui ada beberapa yang mengurungkan niatnya sampai ke puncak karena beberapa alasan seperti fisik yang sudah mulai lelah, kaki kram dll. Sedangkan aku, kali pertama mendaki dan bisa sampai puncak. Semua lelah terbayar sudah ketika kami sudah sampai di puncak, melihat keindahan dunia diatas puncak merbabu. Merbabu yang memiliki ketinggian 3142MDPL kini lebih tinggi dari mata kakiku. Teringat dengan kata seorang pendaki yang sedang berpapasan denganku bahwa tidak ada gunung yang lebih tinggi dari mata kaki selama masih ada orang yang mau berusaha mendaki hingga ke puncak.

“Tidak ada gunung yang lebih tinggi dari mata kaki selama masih ada orang yang mau berusaha mendaki hingga ke puncak”

Puas berfoto-foto dan melihat keindahan dunia, melihat gunung lawu yang nampak menjulang tinggi, melihat gagahnya gunung merapi, melihat gunung kembar sindoro-sumbing serta gunung slamet dari puncak merbabu, serta bukit-bukit yang mengelilingi gunung merbabu. Kami segera memutuskan untuk kembali turun, menuju ke perkemahan serta istirahat dan berkemas-kemas untuk pulang, karena panas matahari pun sudah mulai menyengat membakar kulit.

Perjalanan yang sangat berkesan, serta membuat ketagihan tentunya. Tak ada rasa penyesalan ketika aku harus berjalan kaki hampir delapan jam, naik turun bukit, serta  jalanan yang penuh dengan debu. Rasanya lelah itu terbayar ketika kami sudah berada di puncak. Terima kasih kepada teman-teman yang sudah mengizinkanku untuk mengikuti perjalanan ini. teman-teman yang sudah mengsuport dengan memberi pinjaman barang-barang untuk keperluan naik gunung. Serta untuk orangtuaku, maaf jika aku tidak meminta izin, tapi aku tahu betul bahwa engkau selalu mendoakan untuk kebaikanku, dan bisa selamat sampai rumah, aku yakin juga atas doa kalian.


Sekali lagi terima kasih kepada teman-teman yang sudah berbaik hati selama perjalanan dua hari tiga malam itu. Terima kasih buat Nanda, Tomy, Seta, Anjar, Citra, Icha, Rizka dan Pepep, Bilal, dan semua pendaki lain yang sangat ramah dengan sesama pendaki. 


Mari kita kemana lagi?? hehehehe :-)