Rabu, 29 Oktober 2014

Puncak Lawu


Sejenak meninggalkan berita tentang pernikahan artis yang begitu megah, entah berapa Milyar uang habis dalam hajatan itu, bahkan ditayangkan secara live oleh salah satu stasiun telivisi swasta hampir sehari penuh. Meninggalkankan sejenak euforia masyarakat Indonesia karena adanya pelantikan Presiden terpilih dalam pemilu lalu, serta sedikit mengalihkan tentang profil menteri baru yang jadi buah bibir dalam media social. Kali ini aku sedikit bercerita tentang perjalananku beberapa hari yang lalu, yang belum sempat aku bagi melalui tulisan ini. Iya, setiap perjalanan punya cerita dan aku ingin berbagi dengan kalian. Sebenarnya perjalanan ini ingin segera aku tulis, namun pikiran sedang disibukan oleh hal-hal lain yang sulit bagiku untuk duduk dan berkonsentrasi sejenak di depan laptopku dan menuliskan ke dalam blog ini. Namun kali ini aku akan mencoba berbagi dengan kalian.

Perjalananku kali ini mengarah pada gunung yang terletak di perbatasan antara Jawa tengah dan Jawa timur, yaitu antara Kab. Karang anyar dan Magetan. Iya, gunung lawu, dengan ketinggian kurang lebih 3265 MDPL. Sebenarnya aku sudah memutuskan untuk tidak ikut naik, karena ada suatu hal serta keperluan yang sedikit mendesak. Namun persis satu jam sebelum berangkat, temanku datang ke kosku karena sebelumnya ia sudah mengirim pesan singkat melalui BBM, katanya ingin minta tolong. Namun pas di kos ia malah sedikit bercerita tentang banyak hal dan setelah beberapa saat kemudian, “okey Aku ikut”. Karena persiapan yang sangat mepet aku segera berkumpul dengan teman-teman yang lain, dan perlu diketahui aku hanya membawa tas kecil, beserta kantong plastic berisi pakaian ganti, itu saja. Dan melihat hal itu, temanku langsung tertawa sedikit  meledek, karena sebelumnya ketika perjalanan menuju ke merbabu, barang bawaanku hampir setengah tas carier besar, mungkin karena pengalaman ketika naik ke merbabu, jadi aku hanya membawa apa yang benar-benar diperlukan saja.

Sebelum keberangkatan dari solo ke basecamp, kami melakukan packing dan menjelaskan bahwa perjalanan menuju lawu akan dilakukan pada malam hari melalui cemoro kandang dan turun melalui cemoro sewu, double track. Iya, jalur pendakian lawu ada dua, yaitu melalui cemoro kandang dan semoro sewu, sebenarnya letaknya berdekatan, jalan kaki tidak kurang dari lima menit, namun track yang dilalui jauh berbeda 180 derajat. Kami hanya berenam, dengan komposisi lima orang cowok dan satu orang cewek. Dan perjalanan ini adalah perjalanan kali keduaku menuju puncak gunung, setelah hampir satu bulan yang lalu berhasil sampai puncak gunung merbabu.  

Sekitar pukul 17.00 kami berangkat dari solo dengan menggunakan sepeda motor, dan sampai di basecamp kurang lebih sekitar pukul 19.00, barang-barang langsung di bawa ke basecamp cemoro kandang, sedangkan motornya di parkir di basecamp cemoro sewu, kemudian dari basecamp cemoro sewu ke cemoro kandang, kami jalan kaki, meski sudah berbeda provinsi namun karena terletak di perbatasan, jadi jalan kaki hanya memerlukan kurang lebih 5 menit. Sesampai di basecamp kami langsung sholat magrib sekaligus isya, karena di perjalanan tadi kami belum sempat sholat magrib, kemudian makan malam. Makan malam tepat sebelum naik, ternyata bukanlah hal yang tepat, apalagi makan malamnya soto dan nasi goreng yang pedas, belum ada satu jam berjalan, perut sudah terasa panas, dan hal inilah yang menjadi keluhan kami selama perjalanan, sebelum perut kami sudah benar-benar beradaptasi.

Seperti perjalanan gunung-gunung lainnya, perjalanan di malam hari membuat nafas sedikit ngos-ngosan, selain jumlah kadar oksigen yang sedikit menipis tubuh juga belum menyesuaikan dengan suhu sekitar, sehingga terkadang kami harus bersitirahat untuk mengatur nafas. Udara yang awalnya dingin, sedikit demi sedikit tidak lagi terasa dinginnya. Keringat dari tubuh juga terus bercucuran, perjalanan malam hari tidak begitu ramai, jadi sepanjang perjalanan kami jarang bertemu dengan pendaki lainnya.

Jalur pendakian melalui cemoro kandang tidak begitu menanjak, malah cinderung landai, namun memerlukan waktu yang lebih lama, karena jalurnya hanya berputar-putar. Sesampai di pos I kami istirahat sebentar serta membuat segelas kopi yang kami bagi bersama, menikmati cemilan dan baru melanjutkan perjalanan. Jarak pos I dan II tidak begitu jauh, namun jarak antara Pos II dan POS III lah yang membuat kami sedikit kesal dan hampir frustrasi karena tak kunjung sampai. Sempat di PHP oleh pos bayangan antara POS II dan POS III, namun akhirnya kami tiba di pos III sekitar pukul 02.00 dini hari. Di pos III kami putuskan untuk mendirikan tenda, meski pada awalnya kami berencana untuk mendirikan tenda di pos IV, namun udara dingin dan rasa lelah membuat kami semua merasa mengantuk. Kami bagi tugas ada yang mendirikan tenda ada juga yang menyiapkan makanan dan minuman hangat, barulah sekitar pukul 03.00 kami tidur. Udara di pegunungan lawu memang terkenal dingin dan berembun, kami semua melepas lelah dan tidur di tenda meski masih ada hawa dingin yang menyelimuti.

Sekitar pukul 05.00 kami bangun dan sholat shubuh, namun ada yang mengganjal dalam diriku, entah karena makan malamku yang sedikit agak pedas membuat perut tak lagi bersahabat, segera aku mencari spot yang nyaman untuk menandai lokasi atau meninggalkan jejak (baca BAB). Setelah perut sudah mulai lega, aku tak kuasa lagi menahan dingin dan memutuskan untuk berada di dalam tenda dan menikmati kopi serta cemilan. Kami baru akan memulai perjalanan lagi sekitar pukul 09.00, namun karena harus sarapan dan packing lagi perjalan sempat molor, namun masih dalam batas toleransi. Dan diperkirakan kami akan sampai puncak sekitar pukul 12.00

Perjalanan kami lanjutkan, ada salah satu temanku yang sudah mulai merasakan keanehan pada kakinya, segera temanku yang satunya lagi mengganti tasnya dengan muatan yang lebih ringan. Perjalanan selangkah demi selangkah di pegunungan terkadang berjalan tepat di bibir jurang, sehingga kami harus sedikit lebih berhati-hati. Kami hanya berjalan selangkah demi selangkah tak pernah berpikir untuk berlari, namun hanya melalui langkah kecil itu kami percaya bahwa hanya dengan kesabaran dengan langkah kecil yang konsisten inilah kami dapat menaklukan lawu.

Tidak terasa perjalanan dari langkah-langkah kecil kami yang selalui beriringan, dan sesekali harus berhenti untuk mengatur nafas serta sedikit tegukan air untuk membasi tenggorokan yang sudah mulai kering. Perjalanan yang terkadang turun kabut membuat udara tidak begitu panas, hingga kami sampai di pos IV. Di pos IV kami tidak memutuskan untuk istirahat, namun langsung melanjutkan perjalanan, dan saling menyapa sesama pendaki yang sedang berkemas untuk melanjutkan perjalanan hingga puncak. Selama perjalanan menuju pos V yaitu pos terakhir sebelum puncak, nampaknya lutut kaki kanan temanku sudah tidak kuat dan merasa nyeri untuk dijadikan tumpuan. Hal ini sering terjadi pada pendaki pemula karena lutut belum terbiasa. sehingga kami menyuruhnya untuk tidak membawa beban, dan hanya membawa minum.

Setelah keluar dari pos IV rombongan kami terpecah, aku dan salah satu temanku berada paling belakang sedangkan yang lainnya sudah berada jauh di depan. Namun semua sudah kami bagi artinya setiap rombongan sudah membawa air, pikirku kami semua akan bertemu di puncak. Perjalanan menuju pos V memiliki jalur yang landai namun penuh dengan batu. Ketika kami berdua sedang berjalan, kami menemukan jalan, yang harusnya lurus, kami ambil kanan. Nampaknya jalanannya agak mendaki, kami berspekulasi potong kompas hingga pada akhirnya spekulasi yang berawal dari keraguan itu semakin ke atas menunjukan adanya tanda-tanda bahwa puncak sudah sedikit terlihat. Meski jalanan bebatuan yang sedikit menanjak, namun kami malah berhasil sampai puncak lebih dahulu dari pada rombongan yang lainnya. Sampai di puncak Hargo dumilah, aku langsung segera istirahat dan menikmati cemilan bersama angin yang sepoi-sepoi dan ada sedikit embun yang menyapu.



Satu-persatu rombongan kami sampai di puncak, namun mash ada satu yang masih tertinggal, yaitu temanku yang kakinya cidera, segera aku turun lagi menuju pos V, karena pikirku ia masih menungguku di pos V, sedangkan aku memotong kompas menuju puncak tanpa melalui pos V. Setelah berjalan turun beberapa menit dan sambil berterika memanggil-manggil namanya, akhirnya aku menemukan sedang berusaha berjalan menuju puncak, aku segera memastikan bahwa dirinya masih mampu terus berjalan. Kami pun berjalan bersama-sama menuju puncak dan berkumpul bersama di puncak lawu, hargo dumilah dengan ketinggian 3265 MDPL.

Di puncak kami juga bertemu dengan teman kami yang awalnya ingin berangkat bersama, namun karena perbedaan pendapat mengenai keberangkatan kami memutuskan untuk tetap melakukan perjalanan malam, sedangkan mereka memilih berangkat pagi. Entahlah ini sebuah kebetulan atau tidak, namun kami dipertemukan di puncak, meski kami berangkat pada waktu yang berbeda. Mungkin ini yang disebut dengan takdir, bahwa niatan awal kami yang ingin berangkat bersama batal, namun kami semua dipertemukan di puncak lawu, tempat di mana menjadi tujuan kita bersama, seperti inilah hidup terkadang berawal dari hal yang berbeda namun dapat bersatu karena kita memiliki tujuan yang sama.


Setelah hampir satu jam lebih puas menikmati pemandangan dari atas puncak lawu, kami semua turun,  kami turun melalui jalur cemoro sewu. Jalur cemoro sewu jauh berbeda dengan jalur cemoro kandang yang relative lebih landai dan track yang berupa tanah jalan setapak dengan sedikit bebatuan. Sedangkan jalur cemoro sewu jalur track didominasi jalanan bebatuan yang sedikit terjal. Selangkah demi selangkah kami terus bersabar untuk tetap berjalan, karena hari akan semakin gelap dan sesegera mungkin agar kami bisa sampai basecamp sebelum langit berubah menjadi gelap. Perjalanan kami awalnya kami pecah menjadi dua, dua orang di depan dan empat orang di belakang bersama teman kami yang sedang cidera. Namun kondisi teman kami yang kakinya mengalami kelelahan membuat perjalanan rombongan kami berempat menjadi sedikit melamban, kami semua bisa memaklumi hal itu, namun salah satu teman kami segera mengambil keputusan, di meminta aku dan seorang temanku berjalan dengan membawa air yang cukup serta ia juga meminta lampu senter karena perjalanan dimungkinkan hingga larut malam. hal ini bukan tanpa alasan, karena terlalu berhenti membuat diriku menjadi semakin kedingingan karena aku tidak kuat dingin sedangkan udara semakin malam menjadi jauh lebih dingin.

Kami pun terpecah menjadi dua lagi, aku jalan duluan dan sempat hampir kehabisan air, kemudian bertemu kawan kami dari solo juga dan meminta airnya. Sempat aku berpikiran menunggu temanku yang di belakang, karena bagaimana pun kita berangkat bersama, sampai puncak bersama, turun pun kami harus bersama, namun sambil menunggu aku menunaikan sholat dhuhur yang aku jamak dengan sholat ashar, namun temanku tak kunjung datang, hingga semakin lama tubuhku menjadi semakin kedinginan, kami pun memutuskan melanjutkan perjalanan, melalui pos demi pos hingga sekitar pukul 18.30 kami dengan langkah zombie tiba di basecamp, nampaknya kawan kami dari solo sudah beristirahat, dan teman satu rombonganku pun sudah nampak melepas lelah di basecamp.


Meski sampai di basecamp pikiranku pun belum tenang, aku tunggu hingga pukul 20.00 namun temanku juga belum datang, aku menunggu di depan gerbang pendakian, sembari menanyakan posisi mereka pada pendaki lain yang baru sampai. Akhirnya kami mendapat informasi bahwa kawan kami yang kakinya cidera masih di atas pos I, aku dan temanku dari jogja segera menyusulnya dengan membawa motor hingga pos bayangan sebelum pos I, namun tak kunjung datang. Temanku berencana menyusulnya ke atas lagi, takut ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi pada mereka. Aku segera kembali ke basecamp mengambil tas yang berisi tentang obat-obatan yang sekiranya dibutuhkan untuk pertolongan pertama, air dan lampu senter. Namun karena lampu senter yang ada sudah habis baterainya aku membawa seadanyanya, yaitu handphone yang ada senternya dan lampu senter yang ada di powerbank. Segera aku menyusulnya, hingga pos I. di atas pos I aku berteriak memanggil-manggil naman temanku dan ada jawaban dari atas, aku segera menemuinya, dan ternyata kedua kaki temanku sudah kelelahan, hal itu yang membuat mengapa langkah mereka sangat pelan. Segera aku meminta tas carier pada temanku agar bergantian, dan temanku yang dari jogja membopong temanku yang kakinya sudah mulai lelah.

Terus berjalan meski dengan langkah pelan, bahkan sangat pelan, begitu seterusnya dan penuh dengan kesabaran kami semua sudah lengkap berkumpul di basecamp untuk beristirahat. Karena sudah tak memungkinkan untuk langsung turun ke solo, kami pun bermalam lagi di basecamp, dan paginya setelah sarapan pagi kami segera beres-beres untuk segera turun ke solo.

Perjalanan yang menyenangkan, meski tidak bisa dipungkuri bahwa rasa lelah itu pasti ada, namun semua lelah itu terbayar dengan sebuah pencapaian, bukan hanya sampai puncak yang menjadi tujuan kami, namun kebersamaan itu lah yang membuatku merasa bahwa kami adalah satu, apa yang terjadi pada salah satu dari kami adalah hal yang harus kami hadapi bersama. Senang bisa melakukan perjalanan ini dengan kalian semua, Nanda, Tomi, Aris “Python”, Ista, dan kawanku pada kloter pertama Johan, Cupa, Mahen dan satu lagi (enggak tahu namanya), meski kita tidak berangkat bersama, namun kita bisa dipertemukan di puncak. Dan melalui tulisan ini juga saya minta maaf kepada kawan kami, sekaligus adik tingkat kami (Tri Oktanto), karena tidak bisa turut melayat karena kondisi kami yang belum memungkinkan untuk segera kembali ke solo, namun percayalah ada doa kami untuk kebaikan Alm Ibumu.


Dan salam dari puncak lawu, next time kita kemana lagi guys, hahaha :-D