Selasa, 25 November 2014

Anxiety disorder

Anxiety disorder. Awalnya aku tak tahu dengan kata itu, kata yang nampak asing bagiku kala itu. Namun semenjak aku kuliah di psikologi, kata itu menjadi semakin familiar di telingaku. Tak perlulah aku mengutip pendapat dari beberapa ahli untuk menjelaskan apa yang disebut dengan anxiety disorder. Jika kalian merasa butuh tahu, silakan memanfaatkan kepintaran google. Anxiety disorder dalam bahasa Indonesia berarti gangguan kecemasan, atau orang-orang sering menyebutnya panic atau perasaan was-was bahwa sesuatu yang tidak diinginkan akan terjadi pada dirinya, sesuatu yang dimaksud adalah hal-hal yang buruk akan menimpa dirinya.

Saya juga tidak akan berpendapat banyak hal mengenai anxiety disorder atau gangguan kecemasan ini, saya bukanlah seorang ahli, awalnya aku hanya sekedar mengenal sebatas teori hafalan yang aku hafalkan ketika akan ujian. Namun semenjak aku mulai mengerjakan skripsi, dan kecemasan sebagai salah satu tema yang ingin aku angkat, membuatku semakin rajin mencari referensi mengenai kecemasan dan seluk beluknya.

Awalnya aku hanya sekedar baca-baca, kutip sana kutip sini untuk menambah kajian teori dalam skripsiku, namun aku justru menyadari bahwa diriku adalah salah satu penderita gangguan kecemasan. Entah aku masih tergolong mengalami kecemasan rendah, sedang, tinggi, atau bahkan sudah masuk dalam level panic. Namun dari beberapa gejala yang aku alami mungkin aku masih tergolong kecemasan sedang. Mungkin!

Aku kini sadar bahwa diriku adalah seorang yang mengalami kecemasan, terkadang ada sesuatu yang mengganjal dalam pikiranku mmbuatku tak mampu lagi bekerja secara optimal, jadi tidak heran jika aku akan mengalami stress jika dalam satu waktu harus menyelesaikan beberapa beberapa pekerjaan dalam waktu yang mendesak. Sebagai mahasiswa psikologi seharusnya aku mampu mengatasi permasalahan ini. aku menyadari bahwa diriku mengalami kecemasan, namun aku tak tahu harus bagaimana dan harus berbuat apa agar aku bisa lepas dari kecemasan ini. Ibarat sebuah penyakit aku tahu bahwa aku menderita flu, namun aku tak tahu harus berbuat apa dan bagaimaan aku harus menjaga agar aku bisa sembuh.Terkadang aku merasakan keringat dingin ketika harus bertemu dengan banyak orang, dada ini terasa sesak, dan seringkali pikiranku juga tak menentu, sering diliputi rasa gelisah.

Mungki di luar sana ada juga yang mengalami hal yang sama dengan apa yag aku alami. Merasakan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi pada diri kita, namun pada akhirnya apa yang kita takutkan tak benar-benar terjadi. Bukan apa yang ada di luar sana yang membuat kita takut tapi pikiran-pikran kita terhadap dunia luar lah yang terlalu berlebihan. Aku masih tahap belajar untuk tidak memikirkan hal-hal yang sebenarnya tak perlu di pikirkan,meski terkadang harus menjadi orang yang sangat cuek dengan dunia luar.

Sebenanrnya kecemasan bisa juga menjadi hal yang positif jika tidak terlalu berlebihan, karena dengan begitu kita akan menjadi semakin berhati-hati dalam segala hal, meneyelesaikan pekerjaan dengan teliti, dan segera menyelesaikan pekerjaan mana yang harus segera di selesaikan agar tidak semakin menumpuk dan hanya akan membuat situasi menjadi kacau.

Aku juga merasa geli dengan diriku sendiri, aku mengangkat tema tentang kecemasan dalam skripsiku, namun sebelum sidang aku ternyata juga mengalami kecemasan, bukan pas sidang aku merasa cemas, namun justru hari-hari sebelum sidang aku merasakan cemas, berpikiran bahwa hal-hal buruk akan terjadi pada proses sidang skripsi saya. Meski pada akhirnya ketakutan-ketakutan pada diriku juga tidak benar-benar terjadi dan proses sidang bisa dibilang lancer.

Mungkin dengan menghadapi situasi-situasi yang membuat kita cemas, akan bisa membantu mengatasi kecemasan yang kita alami, karena dengan begitu kita akan banyak belajar merespon hal-hal yang awalnya membuat kita merasa cemas. Dan selanjutnya kita tidak akan cemas lagi jika menghadapi situasi yang sama, yang awalnya membuat kita merasa cemas.

Kecemasan itu terkadang juga dibutuhkan namun jika terlalu cemas juga tidak baik bagi kita, pahami diri kita, apa yang membuat kita cemas, dan cobalah untuk berani menghadapi situasi yang membuat kita cemas.


Sekian
Read more ...

Senin, 24 November 2014

SKRIPSI

SKRIPSI, mahasiswa strata 1 pasti akan menemui tugas suci itu, karena mau tidak mau hanya untuk sekedar menaruh gelar kesarjanaan tepat di belakang nama, skripsi harus (segera) diselesaikan. Entah mengapa skripsi yang (hanya) berupa kumpulan lembaran kertas yang berisi karya ilmiah itu begitu menyita banyak waktu, tenaga dan pikiran. Padahal untuk mengerjakan tugas-tugas setiap mata kuliah mahasiswa mampu menyelesaikan dalam semalam. Namun kenapa untuk menyelesaiakan skripsi butuh waktu yang cukup lama, saya sendiri menyelesaikan skripsi hampir satu tahun lebih. Dan Alhamdulillah aku sudah bisa mengakhiri masa-masa itu, masa dimana aku harus rela berjam-jam duduk di depan layar komputer untuk menyelesaikan proposal. Masa dimana aku harus rela di PHP berulang kali karena kesibukan dosen yang tak bisa diduga. Masa dimana aku harus menjadi orang yang sangat sensitive ketika ada orang yang dengan songonnya mengatakan “bagaimana skripsimu?” Dan baru setelah aku menyelesaikan skripsi aku baru berani menuliskan tuisan tentang skripsi ini. Bagi kalian yang masih berjuang untuk lulus, jangan pernah patah semangat. hahahaha

Skripsi, prosesmu tak sesimpel dengan namamu, makhluk yang tak bernyawa ini malah menjadi seperti monster yang tak kasat mata, tumbuh di dalam diri setiap mahasiswa tingkat akhir. Kata skripsi yang awalnya nampak biasa-biasa saja, namun bias berubah kata yang sangat sensitive didengar di telinga. Kata skripsi sudah menjadi seperti sebuah sensor yang ketika kata itu muncul, maka itu sama dengan tombol sensitive itu sudah on, apa yang terjadi? Mau marah tidak enak sama temen sendiri, dan jurus terakhirnya adalah mengalihkan topic pembicaraan atau diam seribu bahasa. Namun demikian skripsi juga dirindukan (beberapa) mahasiswa yang sudah ingin segera menyelesaikan skripsi dengan harapan bias segera lulus. Tidak sedikit pula yang masih bingung dengan tema apa yang akan diambil untuk tugas suci bernama skripsi itu.

Saya belajar banyak hal mengenai proses skripsi, karena banyak sekali pelajaran tentang hidup ini yang tidak bisa didapatkan hanya melalui kelas-kelas mata kuliah, meski saya kuliah di psikologi, namun semua masalah yang aku pelajari di kelas masih di dominasi oleh teori-teori, padahal studi mengenai fenomena-fenomena social di sekitar kita sangat menarik untuk di ulas melalui sudut padangan keilmuwan psikologi.

Proses skripsi mengajarkanku bahwa terkadang segala sesuatu berjalan tidak sesuai rencana, target lulus yang sering mundur karena ada kendala dengan skripsi misalnya. Skripsi adalah sebuah perjuangan yang berawal dari diri sendiri, banyak kendala yang sebenarnya muncul bukan dari dosen pembimbing, namun justru berasal dari dalam diri sendiri. Ketika rasa malas yang tak berkesudahan, kendala dalam proses skripsi yang tidak segera di selesaikan dan malah menghindari dengan segala aktifitas yang membuat skripsi semakin kabur dan enggan untuk segea di selesaikan.

Harus aku akui, diriku juga seperti mahasiswa tingkat akhirnya, ada kalanya aku menjadi bersemangat, hingga merelakan sedikit jam tidur bekurang untuk menyelesaikan proposal agar segera bisa maju ke dosen pembimbing, namun terkadang juga aku menjadi tak peduli lagi dengan skripsi, karena masih banyak di luar sana aktifitas yang lebih menyenangkan daripada duduk berlama-lama di depan layar komputer dan menatap ms word untuk mengerjakan skripsi. Kebiasaan menulis blog juga membuatku sedikit susah untuk memulai menulis kata demi kata dalam skripsiku, maklum lah blogku bukan berisi tulisan-tulisan ilmiah, karena  saya terbiasa menulis dengan gaya freewriting.

Sujud syukur akhrnya aku bisa mengakhiri masa-masa skripsi, di tengah rasa malas yang terus menghampiri, di tengahh kegiatan-kegiatan lain yang jauh lebih menyenangkan, serta di tengah pekerjaan sambilan yang bisa menghasilkan pundi-pundi uang jajan. Lulus kuliah bukan berarti perjuangan sudah selesai, di depan masih ada hal yang lebih besar untuk aku hadapi, tentu saja mencari pekerjaan. Beginilah mahasiswa, ketika belum lulus sering galau karena skripsi tak kunjung selesai sedangkan teman-teman seangkatan sudah banyak yang bekerja, ada juga yang sudah menikah. Dan setelah lulus malah bingung karena pengalaman yang minim membuat kami fresh graduate susah mencari pekerjaan.

Mengeluh bukanlah solusi, terus berusaha dengan melakukan yang terbaik adalah jalan yang harus ditempuh. Semoga kami para sarjana baru (mau) di wisuda terus bisa survive di tengah tuntutan segera menikah, eh maksudnya di tengah tuntutan untuk segera mendapatkan penghasilan sendiri, sehingga bisa buat modal untuk menikah. Hahahaha ujung-ujungnya nikah juga J

Salam



Read more ...

Sabtu, 22 November 2014

Diam-diam Mendoakan

Kepada yang diam-diam mendoakan
Teruslah berdoa untuk orang yang kalian cintai, meski hingga detik ini dia belum sadar, bahwa ada seseorang di luar sana yang mencintainya dengan tulus. Teruslah berdoa untuk kesehatannya, untuk keselamatannya, untuk kelancaran rizkinya dan solusi atas segala permasalahan yang sedang ia alami

Kepada yang diam-diam mendoakan
Teruslah berdoa untuk orang yang kalian cintai, dan jangan sampai ada yang tahu, kecuali dirimu sendiri dan tentu Tuhan yang maha mengetahui segala isi hati manusia, teruslah berdoa dengan suara yang lirih hingga tak ada orang di sekitarmu mendengarkan bahwa ada seseorang yang diam-diam kau doakan.

Kepada yang diam-diam mendoakan
Teruslah berdoa, meski cinta bukanlah hal yang mudah untuk di pendam.  Meski engkau tak tahu apakah pada akhirnya orang yang selama ini kau sebut dalam setiap doamu akan menjadi teman hidupmu atau tidak. Dan yakinlah tak ada yang sia-sia dengan segala doamu, Tuhan maha tahu apa yang terbaik bagimu

Kepada yang diam-diam mendoakan
Teruslah berdoa untuk dirinya yang engkau cintai, karena hanya dengan mendoakan lah segala rindu dapat terobati. Terusah berdoa untuk dirinya yang selama ini kau harapkan untuk menjadi teman hidupmu. Karena sadar atau tidak, kamu telah mampu menjaga dirimu sendiri dan orang yang kau cintai untuk tidak melakukan hal-hal yang belum pantas kalian lakukan. Teruslah berdoa dalam diammu, karena sebenarnya kamu tidak sedang menunggu (pasif), namun kamu sedang memperbaiki dirimu hingga kamu (merasa) pantas untuk menjadikannya ia sebagai kekasih yang halal untukmu.

Kepada yang diam-diam mendoakan
Teruslah berdoa untuknya yang selama ini kau cintai. Karena  cinta dalam diam bukan hanya sebatas sikap, namun juga hati yang senantiasa berdoa untuknya. Teruslah berdoa dalam sikap diammu, karena berdoa dalam diammu bukanlah sikap pengecut seorang lelaki, namun keberhasilanmu dalam mengelola bukan hanya dirimu namun juga kesabaran dan segala perasaanmu. Teruslah berdoa dalam diammu, karena berdoa dalam diam sekali lagi tidak serta merta menjadikan dirimu seolah-olah seperti seorang pengecut, namun menunjukan bahwa betapa tulusnya cintamu kepadanya, hingga dalam hal ini kau libatkan Tuhan untuk mengatur segalanya. Berdoa dalam diammu menunjukan bahwa dirimu adalah orang yang pemberani, yaitu orang yang berani menunda kenikmatan semu, dan memilih untuk bersikap diam hingga kamu siap dan menjadikan dirinya halal untukmu.

Kepada yang diam-diam mendoakan
Teruslah mencintainya dalam diammu,
Karena diammu menyimpan kebaikan,
Karena diammu menyimpan ketulusan.


Salam
Read more ...

Selasa, 18 November 2014

PUISI

            Hujan

Sinar datang membawa kehangatan
Malam datang membawa kesunyian

Sedangkan hujan?
Hujan datang dengan membawa harapan

Harapan akan adanya  kehidupan
Harapan akan adanya keindahan pelangi

Banyak yang mengharapkan kedatangannya
Tak sedikit pula yang membencinya

Tapi hujan tetap saja turun, karena masih ada yang mengharapkannya
Hujan tetap saja turun meski masih ada yang tak mengharapkannya

Itulah kenapa aku sangat suka dengan hujan,
Ia datang untuk orang yang mengharapkannya,
Tak peduli ada yang membencinya


*Puisi Hujan terinspirasi ketika aku sedang asyik membaca tulisan “Hujan” karya Kurniawan Gunadi dalam buku Hujan Matahari
Read more ...

Perahu

Jika dirimu sudah puas bermain-main. Aku akan mengajakmu. Bukan mengunjungi ke suatu tempat yang sebelumnya belum pernah kamu dan aku (Kita) kunjungi. Namun aku akan mengajakmu membuat sebuah perahu. Perahu yang tidak hanya dibuat dengan segala material yang digunakan untuk membuat perahu, tapi ada hal lain selain itu yang lebih skaral, yaitu cinta. Dengan perahu kita akan bersama-sama mengarungi samudera yang luas. Perahu yang akan membawa kita, bukan hanya pulau-pulau yang indah, namun pulau-pulau yang sebelumnya tak pernah kita pikirkan bahwa pulau itu akan kita kunjugi.

Perahu yang akan membawa kita bersama mengarungi samudera yang luas. Dan di perahu tersebut juga lah segala sesuatu akan kita hadapi bersama. Karena bukan hanya air yang tenang yang akan kita lalui bersama, namun terkadang kita dihadapkan pada angin yang besar atau badai yang tak menentu, gelombang tinggi serta teriknya matahari di kala panas. Dan di saat seperti itulah kita sedang diuji bersama. Dan kamu tak perlu takut dengan segala hal yang akan terjadi pada perahu kita, karena segala ritangan akan kita hadapi bersama.

Kamu dan aku bukan hanya akan belajar banyak dari setiap tahapan atau proses perjalanan ini. Aku juga akan selalu berusaha menjaga perahu ini, agar perahu ini tidak berlubang sekecil apapun, karena bisa jadi lubang kecil yang terus dibiarkan itulah yang semakin lama akan semakin membesar, dan bukan tidak mungkin jika perahu kita akan tenggelam. Aku tidak ingin hal itu terjadi, jadi mau kah kamu bersama-bersama menjaga perahu ini agar tidak tenggelam?

Dan perlu diketahui bahwa bukan hanya badai yang menggunjang perahu kita, bukan hanya gelombang air yang tinggi yang membuat perahu kita oling atau kehilangan keseimbangan, serta bukan karena menabrak karang yang membuat perahu kita bisa hancur. Namun keindahan-keindahan semu yang membuat mata tertutup hingga salah satu diantara kita lebih memilih meninggalkan perahu yang sudah lama kita bangun, hanya karena ego dan ambisi dengan harapan bisa mendapatkan kenyamanan dengan mengorbankan perahu yang sudah lama kita bangun bersama. Aku harap hal ini tidak akan terjadi pada perahu kita.


Jadi mau kah kamu bersamaku membuat sebuah perahu? Perahu yang akan membawa kita mengarungi samudera kehidupan dengan segala ketidakpastiaannya. 
Read more ...

Sabtu, 15 November 2014

PUISI

            Hujan di Musim Kemarau

Hujan di musim kemarau
Datang membawa sejuta harapan
Membasahi bumi yang sudah mulai mengering
Menyegarkan tanaman yang sudah mulai layu

Hujan di musim kemarau
Datang membawa keindahan
Bagi mereka yang rindu akan hadirnya pelangi
Yang melukiskan langit dengan aneka warna

Hujan di musim kemarau
Datang membawa kesejukan
Bagi mereka yang sudah mulai merasakan teriknya sinar
Bagi mereka yang rindu akan datangnya hujan

Hujan di musim kemarau
Yang datangnya selalu dinanti
Seperti hadirnya dirimu

Yang selalu ku nanti 
Read more ...

Rabu, 12 November 2014

Karena Setiap Perjalanan Punya Banyak Cerita

Sekali-kali aku akan melakukan suatu perjalanan seorang diri. Iya, sendirian! Ketempat yang dulunya tak pernah aku kunjungi sekalipun. Tanpa ada koneksi internet yang hanya akan mengganggu perjalananku karena aku harus sesekali mengintip sejenak apa yang sedang terjadi di media sosial melalui smartphoneku.

Pergi seorang diri bukan berarti aku merayakan kesendirianku. Bukan berarti pula aku adalah orang yang egois, yang merasa bisa hidup seorang diri tanpa orang lain. Aku masih sadar, bahkan sangat sadar bahwa sebagai manusia aku tak bisa hidup seorang diri, karena manusia adalah makhluk sosial. Aku rasa semua orang sependapat mengenai hal itu.

Perjalanan seorang diri juga bukan berarti untuk menunjukan ambisiku tentang kemandirianku yang menurut orang lain tidak masuk akal. Bukan! Tapi dengan pergi seorang diri, aku percaya, bahwa aku akan menemukan orang-orang baru yang sebelumnya aku tak mengenalinya. Aku bisa belajar banyak hal melalui orang-orang baru itu. Belajar dari orang-orang yang memiliki latar belakang yang berbeda, baik itu budaya, agama, bahasa dan sudut pandang yang berbeda pula tentunya.

Perjalanan seorang diri yang akan membawaku kepada kesadaran bahwa tak selamanya aku bisa melakukan perjalanan seorang diri. Karena bagaimana pun juga, aku akan butuh teman untuk mengisi kebosananku selama perjalanan. Seorang teman yang akan terus menjaga kesabaranku di kala aku sudah lelah menunggu. Seorang teman yang tidak hanya menemaniku selama perjalananku tapi lebih dari itu, sebagai teman dalam perjalanan hidupku.

Sepanjang perjalanan di atas kereta, 12 November 2014

Read more ...

Jumat, 07 November 2014

Marathon

Aku adalah seorang pelari marathon. Bersama beberapa pelari lainya sedang mengikuti sebuah peerlombaan, yang menurutku tak pernah aku menganggapnya sebagai perlombaan. Memulai perlombaan dengan beberapa orang yang sudah bersiap di garis star.  Dan ia, iya, ia adalah orang yang awalnya tak pernah aku rencanakan tiba-tiba saja menarik perhatianku diantara pelari-pelari lainnya

Semua bersama-sama berlari dari start, aku tahu betul, kala itu ia langsung berlari sprint ketika star baru dimulai, padahal ini adalah lari marathon, bukanlah lari sprint. Entah apa yang ada dalam pikirannya hingga ia memilih berlari jauh lebih cepat dari yang lainnya. Pikirku ia akan sampai di garis finish paling awal. Atau setidaknya lebih dulu sampai pada garis finish daripada aku. Aku tahu betul tentang kemampuanku, aku tak mungkin berlari cepat hingga berada di garis depan setelah start baru saja dimulai. Karena aku tahu, aku akan kehabisan energy dan aku sendiri malah sanksi dengan diriku apakah bisa sampai garis finish atau tidak, karena terlalu memaksakan. Aku mengikuti langkahnya dari belakang. Mungkin ia tak pernah smenyadari, bahwa ada seseorang yang dibelakangnya. Iya, ada aku yang terus mencoba berlari meski dengan langkah yang sudah tak lagi tegap,  agar bisa terus mengikuti langkah kakinya, namun langkah kakiku tak mampu  melewati atau sekedar membersamainya.

Jalur lari masih panjang, ia masih berada jauh didepanku, dan semakin lama  malah jauh dari penglihatanku. Aku pikir ia akan jauh meninggalkanku dan sampai di finish terlebih dahulu. Aku terus berlari, namun kini sudah tak ada punggungnya lagi yang mampu aku lihat ketika aku terus berlari menatap kedepan. Mencoba terus berlari dan sesekali aku harus berhenti dan hanya melangkah dengan langkah pendek serta berusaha untuk berjalan hingga garis finish. Entah kapan sampainya, karena aku sudah tak mungkin untuk menjadi orang pertama yang sampai digaris finish. Aku hanya ingin terus berlari sampai finish, meski hanya akan menjadi orang yang terakhir menyentuh garis finish. Yang terpenting bagiku adalah garis finish, karena dari awal tujuanku adalah garis finish, sedangkan menjadi orang pertama yang menyentuh garis finish sudah bukan lagi menjadi ambisiku. Dan dari awal aku juga tidak pernah menganggapnya sebagai perlombaan.

Sekian lama aku berlari, melihat kabar dan kemeriahan tentang pelari lain yang sudah sampai di garis finish. Mungkin mereka yang sudah berada di garis finish sudah duduk santai, ada yang focus pada lomba marathon selanjutnya, ada juga yang sudah lelah berlari dan masih terlalu nyaman beristirahat.  

Aku yang sudah mulai lelah berlari, dan mencoba bertahan agar bisa sampai di finish, hingga aku lalai, bahwa ia yang selalu aku lihat didepanku, malah kini tanpa kusadari malah sudah berada dibelakangku. Entah kenapa ia bisa aku lewati padahal dulu aku tahu betul bahwa kamu mampu jauh berada di depanku untuk melwati garis finish. Ingin rasanya aku tahu kenapa ia bisa tertinggal olehku. Namun lagi-lagi aku enggan untuk belari kebelakang atau sekedar memperlambat langkah. Karena ketika aku melihat ke belakang dirimu seperti sedang berhenti dan sedikit menghiraukan garis finish. Entah kenyamanan apa yang membuatnya enggan untuk melanjutkan hingga sampai finish, mungkin kakimu sudah tak kuat lagi untuk melanjutkan langkah hingga finish. Harus aku akui, aku juga pernah mengalami apa yang kau alami saat itu. Ketika berlari dan memutuskan untuk beristirahat, namun malah menjadi lena dan rasanya-rasanya garis finish yang menjadi tujuan akhir dari marathon ini seakan kabur dari penglihatan. Namun aku mencoba untuk membuka mata dan meyakinkan bahwa garis finish sudah dekat dan aku harus segera sampai entah bagaimana pun caranya, meski hanya dengan langkah yang sangat pelan, setidaknya aku berusaha untuk mendekati garis finish.

Akhirnya aku sampai pada garis finish, sedangan ia? Aku tak tahu dimana posisinya saat itu. Setelah melepas lelah, aku mencoba untuk menengoknya dan berlari ke belakang, aku hanya ingin memastikan bahwa dirinya masih berusaha untuk berlari hingga garis finish. Dan ketika aku coba untuk melihat keadaannya, sepertinya ia sedang beristirahat dan menurunkan langkah kakinya. Aku pikir ia sudah benar-benar lelah. Di saat itulah aku beranikan diriku untuk memberi semangat kepadanya dan meyakinkan bahwa ia bisa sampai garis finish.

Entah kehadiran yang kurang tepat hingga niat baikku seakan ia terjemahkan lain, padahal aku tulus untuk memberi semangat kepadanya, meski aku masih enggan untuk mengulurkan tanganku untuk menuntun hingga garis finish, karena aku tahu ia akan menghiraukan uluran tanganku. Saat aku coba mengingatkan bahwa ia harus terus berlari meski hanya dengan langkah kecil. Namun entah kenapa ia justru seakan tak pernah menghiraukanku. Iya, harus aku akui aku salah, aku tidak berusaha untuk memahami kondisinya.

Sekarang aku bukan tidak peduli lagi dengan dirinya, namun cukuplah aku memperhatikannya dari jauh. Dan sesekali memastikan bahwa dirinya masih ingin terus berlari atau berjalan hingga garis finish. Senang ketika dirinya sekarang sudah berusaha terus melangkahkan kaki hingga ke finish, karena tujuan dari perlombaan ini adalah sampai garis finish.


Sedangkan aku? Tak apalah aku hanya sebagai penonton kali ini, ikut merayakan setiap pencapaiannya, meski ia tak menyadari keberadaanku.  Itulah mengapa aku tak pernah menganggap bahwa marathon ini bukanlah sebuah perlombaan karena perlombaan hanya akan menghasilkan pemenang, yang hanya akan menumbuhkan kesombongan atas pencapaian diri, bukan kepedulian kepada sesama.
Read more ...

Rabu, 05 November 2014

Keterbatasanya adalah kelebihannya

Siang ini sepulang dari kampus, sengaja aku memilih jalan pulang yang berbeda dari biasanya. Aku lebih memilih jalan yang berputar sehingga terasa lebih jauh. Aku memang sengaja memilih jalan pulang yang lebih jauh, meski cuaca siang hari di solo lagi terik-teriknya, biarlah sesekali aku menikmati panasnya udara solo di siang hari, pikirku.

Ketika aku melintasi sebuah rel kereta api, sengaja aku menurunkan laju motorku, kulihat ada seorang laki-laki yang nampak masih muda, kira-kira seumuran dengan kakakku, sedang berjalan di tepi jalan dengan langkah yang pasti, meski ia menggunakan sebuah tongkat. Tongkat itu tidak ia gunakan untuk membantu agar tetap menjaga keseimbangan ketika sedang berjalan, namun ia gunakan untuk memastikan bahwa tidak ada sesuatu di depannya. Iya, lelaki itu oleh Allah di cabut penglihatannya. Aku tidak tahu pasti apakah itu bawaan sejak lahir atau tidak, karena aku tak sempat berhenti dan mengajaknya mengobrol banyak hal tentang dirinya.

Lelaki itu meski sudah dicabut penglihatannya oleh Allah, namun ia tetap bisa berjalan seperti halnya orang-orang pada umumnya, ia tidak menabrak pejalan kaki lainnya, tidak tersandung oleh batu atau kerikil. Dan ia juga tahu jalan pulang ketika ia sedang bepergian padahal ia pergi seorang diri. Ia juga nampak sudah tahu betul jalan mana yang akan ia lalui, meski banyak gang di  kanan kirinya.

Mungkin bagi kita yang sejak lahir diberi kenikmatan kelengkapan indera dalam tubuh kita, dan suatu ketika Allah mencabut salah satu nikmat Indera yang ada dalam tubuh kita, hal itu semacam cobaan hidup yang teramat berat bagi kita. Jangankan dicabut penglihatan kita, tiba-tiba mati lampu di malam hari saja, sudah membuat kita tak mampu berjalan dengan baik. Bagaimana jika tiba-tiba mata ini tak bisa melihat dunia dan yang ia lihat hanya gelap?

Bertemu dengan laki-laki tuna netra itu membuatku berpikir, bisa jadi bagi kita yang diberi kelengkapan indera, menganggapnya bahwa terlahir sebagai tuna netra adalah kekurangan baginya, namun pernahkah kita berpikir bahwa ia juga memiliki kelebihan yang bagi orang yang terlahir dengan mata normal seperti kita mengganggapnya sebagai kekurangan? Coba saja tutup mata kalian, kemudian berjalan lah dengan tongkat apakah kamu bisa berjalan dengan baik seperti mereka yang terlahir tuna netra? Tidak bukan? Dan ketika ada nikmat yang dicabut oleh Allah, maka di sisi lain sebenarnya Allah melebihkan nikmat yang lain. Karena mereka yang terlahir buta, mereka tidak lagi berjalan dengan mata dan kaki mereka, namun mereka berjalan dengan kaki dan beberapa indera yang oleh Allah dilebihkan fungsinya dari orang normal lainnya. Sehingga tidak jarang orang yang terlahir buta, memiliki indera penciuman yang lebih tajam, indera pendengaran yang lebih tajam, atau indera peraba yang lebih tajam dari orang-orang yang terlahir dengan kelengkapan indera seperti kita.

Mereka yang dicabut penglihatannya oleh Allah, tetap bisa hidup layaknya manusia normal, bahkan ada salah satu motivator kebetulan Ia juga terlahir tuna netra, silakan cari di google Ramaditya Adikara. Meski ia seorang tuna netra namun ia masih bisa  tetap berbagi melalui pengalaman hdupnya. Dan ia juga bisa mengoperasikan komputer dengan bantuan semacam aplikasi pada komputernya, jadi tidak heran jika ia juga mampu menulis beberapa buku.

Tuhan telah menunjukan keadilannya, mereka yang di cabut salah satu nikmatnya, maka sebenarnya ada nikmat lain yang Allah lebihkan. Jadi mash menganggap bahwa mereka yang terlahir berbeda sebagai sebuah kekurangan?


Salam 
Read more ...