Rabu, 05 November 2014

Keterbatasanya adalah kelebihannya

Siang ini sepulang dari kampus, sengaja aku memilih jalan pulang yang berbeda dari biasanya. Aku lebih memilih jalan yang berputar sehingga terasa lebih jauh. Aku memang sengaja memilih jalan pulang yang lebih jauh, meski cuaca siang hari di solo lagi terik-teriknya, biarlah sesekali aku menikmati panasnya udara solo di siang hari, pikirku.

Ketika aku melintasi sebuah rel kereta api, sengaja aku menurunkan laju motorku, kulihat ada seorang laki-laki yang nampak masih muda, kira-kira seumuran dengan kakakku, sedang berjalan di tepi jalan dengan langkah yang pasti, meski ia menggunakan sebuah tongkat. Tongkat itu tidak ia gunakan untuk membantu agar tetap menjaga keseimbangan ketika sedang berjalan, namun ia gunakan untuk memastikan bahwa tidak ada sesuatu di depannya. Iya, lelaki itu oleh Allah di cabut penglihatannya. Aku tidak tahu pasti apakah itu bawaan sejak lahir atau tidak, karena aku tak sempat berhenti dan mengajaknya mengobrol banyak hal tentang dirinya.

Lelaki itu meski sudah dicabut penglihatannya oleh Allah, namun ia tetap bisa berjalan seperti halnya orang-orang pada umumnya, ia tidak menabrak pejalan kaki lainnya, tidak tersandung oleh batu atau kerikil. Dan ia juga tahu jalan pulang ketika ia sedang bepergian padahal ia pergi seorang diri. Ia juga nampak sudah tahu betul jalan mana yang akan ia lalui, meski banyak gang di  kanan kirinya.

Mungkin bagi kita yang sejak lahir diberi kenikmatan kelengkapan indera dalam tubuh kita, dan suatu ketika Allah mencabut salah satu nikmat Indera yang ada dalam tubuh kita, hal itu semacam cobaan hidup yang teramat berat bagi kita. Jangankan dicabut penglihatan kita, tiba-tiba mati lampu di malam hari saja, sudah membuat kita tak mampu berjalan dengan baik. Bagaimana jika tiba-tiba mata ini tak bisa melihat dunia dan yang ia lihat hanya gelap?

Bertemu dengan laki-laki tuna netra itu membuatku berpikir, bisa jadi bagi kita yang diberi kelengkapan indera, menganggapnya bahwa terlahir sebagai tuna netra adalah kekurangan baginya, namun pernahkah kita berpikir bahwa ia juga memiliki kelebihan yang bagi orang yang terlahir dengan mata normal seperti kita mengganggapnya sebagai kekurangan? Coba saja tutup mata kalian, kemudian berjalan lah dengan tongkat apakah kamu bisa berjalan dengan baik seperti mereka yang terlahir tuna netra? Tidak bukan? Dan ketika ada nikmat yang dicabut oleh Allah, maka di sisi lain sebenarnya Allah melebihkan nikmat yang lain. Karena mereka yang terlahir buta, mereka tidak lagi berjalan dengan mata dan kaki mereka, namun mereka berjalan dengan kaki dan beberapa indera yang oleh Allah dilebihkan fungsinya dari orang normal lainnya. Sehingga tidak jarang orang yang terlahir buta, memiliki indera penciuman yang lebih tajam, indera pendengaran yang lebih tajam, atau indera peraba yang lebih tajam dari orang-orang yang terlahir dengan kelengkapan indera seperti kita.

Mereka yang dicabut penglihatannya oleh Allah, tetap bisa hidup layaknya manusia normal, bahkan ada salah satu motivator kebetulan Ia juga terlahir tuna netra, silakan cari di google Ramaditya Adikara. Meski ia seorang tuna netra namun ia masih bisa  tetap berbagi melalui pengalaman hdupnya. Dan ia juga bisa mengoperasikan komputer dengan bantuan semacam aplikasi pada komputernya, jadi tidak heran jika ia juga mampu menulis beberapa buku.

Tuhan telah menunjukan keadilannya, mereka yang di cabut salah satu nikmatnya, maka sebenarnya ada nikmat lain yang Allah lebihkan. Jadi mash menganggap bahwa mereka yang terlahir berbeda sebagai sebuah kekurangan?


Salam